
Acara lamaran ke rumah Bunga berjalan lancar. Hari dan tanggal pernikahan sudah ditentukan. Bunga juga sudah resign dari kantornya. Sekarang ia membantu pekerjaan Gerry.
Hari ini hari pertama Gerry menjalani terapi. Dia ke rumah sakit diantar Bunga.
"Semangat ya Bang!" Bunga memberi Gerry semangat saat Gerry akan memasuki ruang terapi. Ia melihat sudah ada dokter dan seorang perawat pria.
Selama satu jam, Gerry menjalankan terapi.
"Bagus Tuan Gerry. Jika anda terus bersemangat, anda pasti akan cepat pulih!" kata Dokter memberi semangat.
"Terima kasih dokter. Kalau begitu kami permisi dulu." Gerry pamit. Bunga kembali mendorong kursi rodanya. Mereka berjalan di lorong rumah sakit.
"Bagaimana Bang?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Ya terapinya? Apa ada perubahan yang abang rasakan."
"Belum banyak. Hanya kakiku sudah tidak sekaku biasanya."
"Syukurlah. Itu pertanda baik." Bunga tersenyum.
Obrolan terhenti saat mereka sampai di mobil. Bunga membantu Gerry naik ke mobil.
"Bunga apa kau tidak malu bersama orang cacat seperti aku?" tanya Gerry saat mereka sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1
Bunga menggeleng.
"Masih ada kesempatan jika kau ingin membatalkan pernikahan kita." kata Gerry.
"Kenapa abang bicara begitu?"
"Aku hanya takut kalau kakiku tidak bisa disembuhkan. Maka aku akan menjadi bebanmu selamanya."
Bunga memegang tangan Gerry.
"Bang, percayalah. Abang akan sembuh. Dan soal pernikahan, aku akan tetap menikahimu bagaimanapun keadaannya. Aku mencintaimu, bang!"
Mereka saling menatap. Tangan kiri Gerry yang menggenggam tangan Bunga berpindah ke pinggang gadis itu. Ia menarik Bunga sehingga merapat ke tubuhnya. Diangkatnya dagu Bunga. Gerry menundukkan wajahnya hendak mencium Bunga ketika ponselnya berdering.
"Hallo.Kalau nggak penting aku akan menghukummu. Mengganggu saja!" kata Gerry galak. Wajah galak Gerry tiba-tiba berubah menjadi pucat. Ia melepaskan tangannya dari pinggang Bunga. Gerry menjadi gelisah. Ia sian sampai mobil itu tiba di mansion.
Gerry langsung minta diantar ke kamar.
"Bang! Abang kenapa? Mas Kendra bilang apa, kok Bang Gerry nampak cemas?"
"Bukan apa-apa, hanya urusan kantor. " kata Gerry datar. "Bunga, aku ingin istirahat. Tinggalkan aku sendiri! Nanti aku akan memanggilmu jika aku membutuhkanmu!"
"Bang Gerry yakin nggak mau Bunga temani?"
"Apa kamu mau menemaniku?"
__ADS_1
Bunga mengangguk.
"Tidak akan menyesal?"
Bunga bingung dengan pertanyaan Gerry
"Kenapa aku harus menyesal?" ia balik bertanya.
"Baiklah bantu aku naik ke ranjang!"
Bunga mendekati Gerry. Gerry meraih bahu Bunga, ia berdiri dengan bertumpu pada tubuh Bunga. Saat Gerry menjatuhkan tubuhnya di ranjang ia mearik Bunga hingga gadis itu jatuh di atas tubuhnya. Gerry langsung membalik posisi mereka. Kini Bunga yang ada di bawah tubuh Gerry. Gerry langsung membenamkan bibirnya ke bibir Bunga. Tubuhnya menindih Bunga. Tangan Gerry bergerak liar di tubuh Bunga.
Maafkan aku Faldi. Mungkin kau yang pertama bertemu Bunga. Tapi aku juga mencintai Bunga. Dan aku ingin memilikinya seutuhnya. batin Gerry.
Bunga mendorong tubuh Gerry.
"Jangan Bang! Kita belum sah!"
Gerry menjatuhkan tubuhnya di samping Bunga.
"Maaf. Aku lepas kendali." kata Gerry.
Gerry benar benar gelisah. Kabar yang disampaikan Kendra membuat pikirannya kacau. Ia ingin cepat-cepat memiliki Bunga agar gadis itu tidak meninggalkannya.
Lebih baik aku mempercepat pernikahan .
__ADS_1