
Faldi, Bunga, Riana dan Martin sudah siap, mereka duduk di. lobi hotel. menunggu kedatangan Lisa.
"Hai! Sudah siap ya? Ayo berangkat!"
Lisa datang dan langsung mengajak. mereka berangkat.
Sebuah mobil. mewah sudah menunggu mereka. "Silahkan!" Lisa dengan gaya centilnya mempersilahkan mereka masuk. Di belakang kemudian, Kendra duduk dengan tenang.
Saat Faldi akan duduk di samping Kendra, Lisa mencegahnya.
"Om! Duduk di belakang sama aku. Sekalian kita bisa berbincang masalah pekerjaan." kata Lisa. Faldi pun menurut.
Riana dan Martin beserta anaknya mengambil tempat paling belakang. Di kursi tengah Faldi, Lisa dan Zidan. Akhirnya Bunga duduk di depan.
Sepanjang perjalanan, tidak banyak yang berbicara. Hanya Lisa yang bergaya seperti pemandu menjelaskan apa saja yang mereka lewati.
Sesekali Kendra melirik ke arah Bunga. Jantungnya terus berdebar. Kendra tersenyum tipis.
Kenapa rasanya seperti saat pertama jatuh cinta. batin Kendra.
Bunga menikmati perjalanan. Matanya memandang kagum pemandangan yang ada di depannya.
"Sakura." desis Bunga saat melihat bunga sakura yang tengah mekar. "Indah."
Mendengar itu, Kendra memutar kemudinya dan membelokkan mobil ke taman yang banyak tanaman bunga sakura.
"Ini Taman Yayogi. Salah satu taman bunga sakura yang ada di Tokyo." kata Kendra setelah mobilnya berhenti. Bunga menoleh, mata mereka saling menatap sekejab sebelum kemudian mengalahkan pandangan ke bunga sakura.
"Ayo kita turun!" ajak Lisa.
Kendra membuka pintu mobil. Yang lain juga melakukan hal yang sama.
Zidane dan Marina, anak Riana, segera berlarian menangkap kelopak sakura yang berjatuhan.
"Zidane Hati-hati!" kata Bunga.
"Biar kami yang menjaganya mbak." Riana berkata pada Bunga. Matanya sekilas melihat ke arah Kendra. Ia dan Martin menyusul Zidan dan Marina.
"Untung kalian kemari pas musim semi. Jadi bisa melihat sakura mekar." kata Lisa. Matanya menatap Faldi.
Benar-benar tampan. batin Lisa.
"Meski di tengah kota, namun keadaan si sini sangat nyaman. Sehingga banyak digunakan untuk piknik bagi penduduk." Lisa menjelaskan.
"Iya bisa kulihat. Banyak orang sedang menikmati indahnya sakura di sini."
Bunga melangkah sambil menikmati sakura. Ia tidak sadar jika setiap gerak geriknya diabadikan Kendra dengan ponselnya.
Tangan Bunga menengadah menangkap bunga yang gugur, setelah penuh ia lempar ke udara sambil tersenyum.
Cantik. Makin dewasa dan cantik. batin Kendra.
Mata Kendra terus mengamati Bunga.
"Lisa! Pamanmu sepertinya menyukai Bunga." kata Faldi sambil menunjuk. Kendra dengan dagunya.
"Tidak mungkin. Pamanku itu pria terdingin yang pernah aku kenal. Aku sudah berusaha selama lima tahun mengambil hatinya Tapi tetap tidak bisa."
__ADS_1
"Lima tahun? Kenapa lima tahun? Apakah kalian baru bertemu?"
Lisa kaget. Ia keceplosan.
"Maksudku..lima tahun sejak aku beranjak dewasa. Sejak lulus SMA aku menyukai paman dan terus mengejarnya sampai sekarang tapi jangankan menerimaku, menoleh saja nggak." kata Lisa lirih.
"Mungkin dia punya wanita yang dicintainya." kata Faldi.
"Kau benar. Ia tidak bisa melupakan mantan istrinya. Eh...!" Lisa memekik saat menyadari kalau Bunga lah orang dalam foto yang ada di ponsel Kendra.
Lisa lalu memandang ke arah Kendra yang mengikuti Bunga dari jauh.
Jadi dia istrinya paman. Berarti Om ini yang paman maksud cinta pertama istrinya. Oh betapa beruntungnya wanita itu. Dicintai paman dan om sekaligus. batin Lisa iri.
"Om! Apa hubungan om dengan Bunga?" pertanyaan Lisa mengagetkan Faldi.
"Kami berteman. Dia bermaksud melebarkan bisnisnya, jadi aku ajak kemari sambil mecari rekan bisnis baru buat kerjasama."
"Hanya teman kan?"
"Iya. Hanya teman." jawab Faldi. Sejak melihat kesedihan Bunga kemarin saat pertama kali bertemu Arcandra, Faldi sudah berjanji dalam hati akan berhenti mengejar dan mengharap cinta Bunga lagi karena ia sadar, sudah ada Kendra yang menempati hati Bunga. Tidak ada lagi tempat untuknya.
Bunga masih tetap melangkahkan kakinya mengitari taman Ia berhenti saat melihat ada bagian taman yang seperti layu.
"Taman ini menyuguhkan keindahan empat musim." suara Kendra yang tiba tiba ada di sampingnya membuat Bunga menoleh.
"Sekarang musim semi. Bunga sakura yang bermekaran.Di musim gugur bunga mawar bermekaran, diikuti dengan perubahan warna daun maple, ginkgo, serta keyaki (zelkova Jepang) yang terlihat sangat cantik. Pada musim dingin, tepatnya sekitar tahun baru, bunga plum yang dicintai warga Jepang bermekaran." Kendra menjelaskan.
"Jadi tanaman ini?"
"Tanaman ini mirip denganku." kata Bunga sambil melirik Kendra.
"Maksud anda?"Kendra bertanya.
Mas, ini engkau kan? aku akan lihat ini kau atau bukan.
" Saat ini cintaku pada suamiku tampak layu, namun cinta itu tidak mati. Dia hanya menunggu saat yang tepat untuk mekar lagi." Bunga berkata sambil memandang lekat wajah Kendra. Ia bisa melihat raut wajah itu berubah. Namun Kendra sudah bisa menguasai perasaannya lagi, hingga rona diwajahnya sebentar kemudian memudar.
"Saya pikir anda dan tuan Faldi adalah pasangan." kata Kendra mengalihkan topik. pembicaraan.
"Kami berteman. Dia membantumu mengurus perusahaan suamiku sehingga kami jadi akrab."
"Tapi kemarin dia bilang kalau anda akan menjadi istrinya."
Bunga tertawa kecil, "Itu bisa-bisa nya dia saja. Dia sering menjadikan saya tameng untuk menghindari wanita wanita yang mengejarnya."
"Tapi dalam pandangan saya, tuan Faldi menyukai anda."
"Anda benar tuan Arcandra, dia bahkan mencintai saya. Tapi sayangnya, hati saya sudah ada yang punya." Bunga beranjak dari tempatnya berdiri dan kembali melangkah. Ia menuju arena olahraga yang ada di sisi lain taman.
Ia melihat banyak anak muda bermain basket. Pandangan Bunga berpindah ke sisi lain, ke arena tenis. Ia tidak menyadari jika ada bola melayang ke arahnya.
"Bunga awas!!!" Kendra berteriak. Bunga menoleh dan buk.. bola basket itu menghantam kepalanya. Bunga limbung dan jatuh. Kendra menangkap tubuhnya. Para pemuda Jepang yang sedang bermain basket mendekat, mereka minta maaf. Kendra menerima maaf mereka. Ia mengangkat tubuh Bunga dan membawanya ke tempat yang lebih teduh.
"Bunga... bangun!" Kendra menepuk pipi Bunga Bunga yang sebenarnya tidak pingsan itu diam saja, ia ingin tahu apa yang akan Arcandra lakukan.
Kendra terus berusaha menyadarkan Bunga, tapi Bunga masi bergeming. Kendra menjadi cemas. Tanpa ia sadari ia berucap, "Sayang. Kamu harus bangun. Jangan seperti ini." gumam Kendra lirih namun masih bisa didengar Bunga.
__ADS_1
Mas. Aku tahu ini kamu. batin Bunga.
Bunga membuka matanya.
"Nyonya! Anda sadar. Syukurlah!" Kendra kembali berpura-pura.
Sampai kapan kau mau berpura-pura, mas.
Bunga bangun lalu duduk. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Anda tidak apa-apa? Apa perlu kita ke dokter?" tanya Kendra cemas.
"Buat apa ke dokter tuan? Dokter hanya bisa mengobati luka di kepala saya. Tapi tidak di hati saya. Biarkan luka ini. Saya juga sudah tidak peduli." kata Bunga memancing sikap Kendra.
*Anda tidak boleh bicara begitu. Anda masih muda, hidup Anda masih panjang. Dan lagi Anda memiliki putra. Pikirkan dia juga."
"Putra saya punya kakek dan nenek yang sangat menyayanginya. Juga punya tante dan paman yang memperhatikannya. Dia tidak akan kekurangan kasih sayang. Apalagi ayah kandungnya juga sudah menerima keberadaannya. Hidup saya sudah sempurna. Jika sewaktu waktu saya harus pergi menyusul suami saya, maka saya akan pergi dengan ikhlas dan tanpa beban." Bunga menyelidik wajah Kendra. Raut wajah itu tampak gelap.
Maafkan aku Bunga.
"Tuan kita kembali ke hotel saja!" Bunga berdiri. Ia menghubungi Riana dan mengajaknya kembali ke hotel.
Bunga dan Kendra sudah tiba di tempat parkir. Mereka menunggu kedatangan Riana dan Faldi.
"Mama. Zidane masih ingin main!" rengek Zidan yang datang bareng Riana. Riana menatap Kendra lalu beralih ke Bunga.
"Bunga. Biar aku ajak Zidan jalan jalan. Nanti kami bisa pulang dengan taksi." kata Martin.
"Kalau begitu, biar aku saja yang ke hotel naik taksi. Kalian lanjutkan berkeliling."
Bunga berjalan meninggalkan mereka.
"Tunggu!" Kendra menghentikan langkah Bunga. "Saya akan mengantar anda."
"Jangan tuan. Bagaimana dengan mereka jika tuan mengantar saya."
"Tuan Martin bisa menggantikan saya mengemudikan mobil. Mereka juga sudah setuju jika saya mengantar anda."
"Bagaimana dengan nona Lisa?"
"Dia juga pasti setuju. Dia masih ingin mengajak tamunya berkeliling."
"Baiklah!" Bunga dan Kendra berjalan beriringan. Mereka menunggu taksi di tepi jalan. Ponsel Bunga bergetar. Ia mengambil dan mengusap layarnya ada pesan dari Faldi.
📩 Faldi
Manfaatkan waktumu! Aku yakin Arcandra adalah bang Kendra.
Bunga tersenyum
*Terimakasih Faldi.
...🌹🌹🌹*...
Bagaimana perjuangan Bunga untuk membuat Kendra menampakan jati dirinya akan author up di episode selanjutnya
jangan lupa dukungannya
__ADS_1