
"Saya pasti ikut hanya saja ada beberapa hal yang harus saya urus dulu. Jadi saya akan berangkat belakangan." kata Kendra.
"Ri! Kau ikut mbak ya!" Bunga memohon pada Riana.
"Iya mbak. Aku akan menemani mbak sampai Kak Kendra tiba di sana. Karena bagaimanapun aku harus bekerja." jawab Riana.
"Kenapa Faldi lama sekali?" gumam Tuan Firmandana khawatir.
"Biar saya yang melihatnya tuan."Kendra beranjak ke ruang tempat Faldi melakukan donor darah.
"Fal!Kau tidak apa-apa?" Kendra mendekat ke Faldi yang terbaring lemah di ranjang.
"Sedikit pusing dan lemah saja bang."jawab Faldi. "Istirahat sebentar juga baikan."
"Sudah selesai?"
"Iya. Hanya diambil semampu tubuh saya bang. Tidak sebanyak kemarin. Sekarang sedang diproses sebelum di berikan ke Zidan. Sambil menunggu darah dari utd lain tiba." Kendra melihat ke meja sebelah Faldi. Ada susu, telur dan multivitamin penambah darah. Kendra mengambil susu dan menyerahkannya kepada Faldi. "Minumlah!"
Faldi mengangkat tubuh nya dari pembaringan. Dengan duduk bersandar pada dinding ia menerima dan meminum susu itu.
"Makan!" Kendra menyerahkan telur yang telah ia kupas. Faldi memakannya
"Makasih bang. Dari dulu abang selalu perhatian padaku. Lebih perhatian dari abang kandung ku."
"Fal. Terimakasih untuk semua yang kau lakukan bagi Bunga."
"Abang jangan salah paham Aku melakukannya untuk Zidan. Dia keponakanku bang. Darah yang mengalir dalam tubuh kami sama. Bunga hanya kebetulan saja sebagai mamanya. Aku juga akan melakukan hal yang sama untuk keponakanku yang lain."jawab Faldi.
"Lalu bagaimana? Apa kau juga akan ikut ke Singapura." tanya Kendra.
"Aku hanya akan mengantar kalian saja bang, sekalian ada yang harus aku urus di sana. Setelahnya aku akan kembali."
Faldi menggeliat, "Aahh.. aku akan beristirahat lagi bang. Tolong jangan beritahu Bunga tentang kondisiku. Aku tidak mau dia merasa tidak enak." Faldi kembali merebahkan tubuhnya dan mulai tidur.
__ADS_1
Malam harinya, dokter dari Singapura yang ditunggu Tuan Firmandana tiba. Ia dibawa menemui dokter yang merawat Zidan. Mereka berbincang dan diputuskan kalau besok Zidan akan dibawa berangkat ke Singapura.
Orang suruhan Tuan Firmandana telah menyiapkan segalanya. Termasuk mobil yang angkat membawa Zidan ke bandara. Dalam mobil sudah dilengkapi alat alat yang sama seperti yang dipakai Zidan di ruang ICU.
Dan disinilah mereka sekarang. Di bandara.
"Ri!" Martin berlari kecil menuju Riana, "Paspor mu." Menyerahkan paspor Riana. Ya, sehari sebelumnya Riana minta tolong Martin mengambilkan paspornya di hotel dan membawanya ke Surabaya.
"Terima kasih, Martin. Kau mau balik ke Filipina?" tanya Riana saat melihat Martin membawa ransel yang ia duga berisi pakaian.
Martin menggeleng. "Aku ingin menemani kalian. Bunga dan kau adalah temanku. Kalian berdua sedang dalam musibah, jadi aku akan menemani kalian."
Mereka lalu melangkah ke bagian imigrasi untuk dilakukan pengecekan.
Saat Bunga dan yang lain terbang ke Singapura, Kendra balik ke Jakarta.
Setibanya di Jakarta, ia langsung mengatur orang yang akan menangani perusahaannya selama ia tinggal. Kendra juga memenuhi janjinya pada Pak Amir. Ia menyuruh orang untuk membantu Pak Amir mewakili dirinya.
Empat hari sudah Zidan di rawat di Singapura. Selama empat hari, Tuan dan Nyonya Firmandana serta Martin bergantian menemani Bunga dan Riana. Kondisi Zidanpun berangsur membaik. Operasi rahangnya juga sudah dilakukan. Kini Zidan menunggu perkembangan dari hasil operasi. Anak itu sudah sadar.
"Sukurlah!" desah Bunga selesai menerima telepon Kendra.
"Kenapa mbak?"
"Mas Kendra akan datang. Barusan ia bilang sudah ada di bandara."
"Baguslah. Memang kak Kendra yang lebih tepat menemani mbak. Kalau ia datang, aku akan pulang."
"Ku temani pulang ya!" kata Martin. Riana mengangguk sambil tersenyum.
"Sejak kapan kamu nempel terus kayak perangko ke Riana, Tin?" tanya Bunga penasaran.
Martin nyengir sambil menggaruk kepalanya. "Namanya juga usaha. Bolehkan?"
__ADS_1
Jawaban Martin yang jenaka memancing senyum Bunga namun justru membuat Riana merona. Belakangan memang Riana sering bersama Martin sejak sebelum kecelakaan Zidan. Bahkan saat di kampung, Riana dan Martin selalu saling berbalas pesan.Keakraban diantara mereka telah menimbulkan kebiasaan baru bagi Riana. Hingga jika sehari saja nggak ada kabar dari Martin, Riana akan merasa ada yang kurang.
"Boleh.. toh sama sama lajang. Jadian juga nggak papa." jawab Bunga sambil. menyenggol Riana. Riana menunduk. Wajahnya merona.
Dia malu. Apakah di hatinya ada rasa untukku. batin Martin.
Bunga meninggalkan mereka berdua saat dirinya dipanggil untuk kembali ruangan Zidan.
"Ri!" panggil Martin dengan suara lembut. "Menurutmu bagaimana saran Bunga tadi?"
"Saran yang mana?"
"Soal kita jadian?" Martin menatap lekat wajah Riana. Riana tergagap ditatap dengan cara Martin menatap nya. Dia bisa melihat tatapan Martin penuh cinta. Hati Riana tiba-tiba berdebar. Martin menggeser duduknya dan memberanikan diri memegang tangan Riana.
"Ria. Aku menyukaimu. Aku tidak tahu sejak kapan. Mungkin sejak pertama kita bertemu, entahlah, yang jelas aku telah jatuh hati padamu. Ri. Maukah kamu menjadi pendamping ku. Menjadi calon istriku?"
Riana mendongak tak percaya. Martin tidak menembaknya. Dia melamarnya.
"Kamu melamarku?" Riana mencari kepastian atas pertanyaan Martin. Martin mengangguk mantap.
"Aku sudah yakin denganmu. Jadi buat apa kita menunda. Kalau kamu bersedia aku akan menikahimu. Aku tidak akan menjadikanmu kekasih, tapi istri."
Riana ingat nasehat ibunya, bahwa hanya pria baik dan bertanggungjawab yang berani langsung melamar. Mata Riana berkaca-kaca. Perlahan ia mengangguk.
Bukan main senangnya Martin. Ia langsung memeluk Riana.
"Martin. Malu dilihat orang." Riana mendorong tubuh Martin.
"Sepulang dari sini, kita langsung ke Filipina ya. Aku akan mengenalkanmu pada orang tuaku. Soal kerjaanmu. Aku akan bilang ke Faldi. Kurasa dia tidak akan keberatan."
Riana mengangguk. Ia merasa lega. Dengan menerima lamaran Martin, ia berharap bisa menghapus kekagumannya pada Kendra. Lagi pula ia merasakan sesuatu yang beda pada Martin.
...🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1
Jika terhibur dengan cerita ini jangan lupa kasih like dan komen ya...