Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Kena Cakar Kucing Binal


__ADS_3

"Kau akan tinggal disini atau pulang bersamaku?" Kendra bertanya sambil membelai rambut Bunga.


"Sebaiknya aku tinggal di sini dulu deh mas. Aku suka rumah ini. Nggak terlalu besar." balas Bunga.


"Kalau kau mau kita bisa pindah ke sini. Aku akan membeli rumah ini untukmu."


"Nggak perlu mas. Lagipula ini rumah properti kantor Riana. Nggak mungkin di juallah. Dan kita juga sudah ada rumah, buat apa beli lagi. Aku hanya ingin tinggal beberapa hari saja kok."


"Terserah kamu saja. Asal kamu senang." Kendra kembali memeluk Bunga.


"Mas.. !" Bunga merasa risih karena sejak pertama bertemu Kendra seolah nggak mau melepaskannya.


"Aku kangen." Kendra kembali menciumi wajah Bunga. "Ke kamar yuk!" ajaknya.


"Mau ngapain?"


"Ya.. suami istri kalau di kamar ngapain?" balas Kendra penuh makna. Tangannya sudah mulai bergerilya.


"Mas.. masih siang juga. Nggak enak ah. Lagi pula aku capek setelah perjalanan jauh."


"Aku pijitin kalau begitu. Biar capeknya hilang. Tapi pijitnya di kamar. Jangan di sini."


"Nggak mau ah. Pasti modus nih."


Kendra terkekeh gemas.


"Mas Kendra nggak lapar?" Bunga bertanya karena perutnya sudah mulai protes minta diisi.


"Kamu lapar? Mau makan keluar?"


"Enggak ah mas. Makan di rumah saja. Aku capek."


"Ya udah. Kita delivery saja. Mau makan apa? Biar mas yang pesan."


"Yang pedes pokoknya."


"Cabe?" Kendra bertanya.


"Ih kok cabe sih. Mau makan gurami bakar pedas."


"Nah gitu kan jelas. Kalau hanya pedas, cabe juga pedas." Kendra lalu mencari dan memesan makanan yang Bunga inginkan.


Bunga terkekeh mendengar jawaban suaminya yang lucu itu.


"Zidane dimana?"


"Tidur."


"Kamu sendirian di sini. Nggak ada orang lain yang menemanimu?" Kendra bertanya sambil mendekat ke Bunga.


"Ada."


"Siapa?"


"Mas Kendra."


"Bukan itu maksudku Bunga." Kendra menarik hidung mancung Bunga dengan gemas. Bunga mengaduh merasakan sakit di hidungnya.


"Selain aku?" tanya Kendra lagi.


Bunga menggeleng.


"Baguslah." ucap Kendra.


"Bagus apanya."


"Bagus karena nggak akan ada yang mengganggu." Kendra lalu berdiri dan mengangkat tubuh Bunga.


"Mas!" Bunga memekik.


"Aku kangen. Sangat kangen." Kendra membopong Bunga ke kamar. Dengan lembut ia meletakkan Bunga ke atas ranjang. Kendra lalu mulai menuntaskan hasratnya melepas kerinduan pada Bunga istrinya. Ketika mereka sedang mereguk kenikmatan, bel rumah berbunyi.

__ADS_1


"Mas.. itu pasti makanannya datang."


"Biarin. Tanggung!" Kendra tidak juga beranjak, ia mempercepat gerakannya hingga akhirnya mereka berdua mencapai puncak bersama. Kendra langsung meloncat lalu memakai celananya. Dan dengan bertelanjang dada, ia membuka pintu depan.


Seorang driver ojol mengantarkan pesanannya. Driver itu memandang aneh tubuh Kendra.


"Kenapa melihatnya begitu mas?" tanya Kendra.


"Oh nggak papa pak. Maaf, hanya saja apa barusan bapak kena cakar kucing ya?" kata driver itu sambil menunjuk pinggang Kendra.


Kendra melihat arah yang ditunjuk si driver ojol. Ia tersenyum.


"Iya. Ada kucing binal di dalam." Ia lalu mengambil makanan dan membayarnya. Si driver terkekeh mengerti apa yang di maksud Kendra.


"Maaf ya pak. Kalau tadi saya mengganggu. Saya tahu sekarang kenapa kok lama membuka pintunya." driver itu berlalu sambil tertawa.


Kendra menutup pintu.


"Sayang. Makanannya sudah datang. Makan yuk!" Kendra memanggil Bunga ke dalam kamar.


Karena kelelahan Bunga malah tertidur.


"Yah.Kok malah tidur sih. Sayang!" Kendra berusaha membangunkan Bunga. "Bangun! Katanya lapar. Makanannya sudah datang tuh. Nggak enak kalau dingin." Kendra menggoyang tubuh Bunga dengan lembut.


"Mmm.. aku ngantuk mas. Capek."


"Iya. Makan dulu. Nanti tidur lagi." Kendra menarik tangan Bunga hingga Bunga terduduk. Ia lalu menaruh bantal untuk mengganjal tubuh Bunga agar tegak.


"Aku suapin ya." Kendra mengambil makanan di depan dan membawanya ke kamar. Dengan telaten ia menyuapi Bunga.


"Kamu nggak makan mas?"


"Nanti saja. Tunggu kamu selesai."


Bunga mengambil makanan yang ada di piring kemudian menyuapkannya ke Kendra. "Kita makan bersama saja."


Kendra tersenyum bahagia. Mereka berdua saling suap.


"Huff akhirnya sampai juga di ruanganku." desis Riana dengan lega. Ia lalu duduk di kursinya dan mulai memeriksa tugas hang harus ia kerjakan sekarang.


Baru saja Riana duduk, telpon yang ada di mejanya berdering. Faldi memanggilnya. Riana beranjak ke ruangan Faldi.


Ia mengetuk pintu sebelum masuk.


"Iya pak?" Riana masuk. Ia kaget karena melihat Martin di ruangan Faldi.


Kenapa orang ini ada di sini? Bukankah tadi pak Faldi bilang akan mengantarnya pulang. batin Riana.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Faldi.


Riana menggeleng.


"Baguslah. Aku minta tolong temani Martin makan siang. Karena aku ada meeting mendadak." Faldi lalu berdiri meninggalkan mereka berdua.


"Tapi pak.." Riana urung melanjutkan ucapannya karena Faldi keburu menghilang.


"Ayo. Aku sudah lapar." ajak Martin.


"Kamu mau makan apa dan dimana?"


"Kamu biasanya makan dimana?" Martin balik bertanya.


"Di kantin." Riana menjawab dengan jujur.


"Ternyata kamu bisa bersikap manis juga." goda Martin. Riana yang masih merasakan kesedihan karena ucapan Kendra, tidak menanggapi gurauan Martin. Ia hanya tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan.


"Kalau begitu kita makan di kantin saja seperti kebiasaanmu."


"Baiklah." Riana berjalan ke arah kantin diikuti oleh Martin. Mereka berdua menjadi pusat perhatian saat di kantin. Para karyawan kasak kusuk mengira Martin adalah kekasih Riana.


"Kau dengar. Mereka mengira kita pasangan." Martin menggoda Riana. Ia memang sengaja memancing agar Riana marah. Ia sangat suka melihat ekspresi Riana saat marah-marah. Dalam pandangannya, Riana sangat lucu dan imut jika sedang marah.

__ADS_1


Martin kecewa karena ternyata Riana mengabaikan setiap godaannya. Ia mengamati wajah Riana dan melihat jika mata Riana sedikit bengkak.


Apa gadis ini habis menangis? Kenapa matanya bengkak? Kapan ia menangis? Bukankah saat tadi aku tinggalkan keadaannya baik-baik saja?


Martin penasaran engan perubahan sikap Riana yang tiba-tiba jadi pendiam.


"Bagaimana Bunga?"


"Kak Bunga baik-baik saja. Ia sedang bersama suaminya." Saat menyebut kata suaminya, Riana kembali teringat Kendra. Wajahnya langsung murung. Martin yang terus mandang Riana melihat kemurungan itu.


"Kamu kenapa? Kenapa murung? Bukankah seharusnya kamu bahagia karena suami Bunga telah kembali pada Bunga?"


Riana memalingkan wajahnya kearah lain.


"Kau menyukai suami Bunga?" tanya Martin setengah menebak.


"Nggaklah." Riana mencoba berkilah. Namun Martin tidak percaya.


Jelas jelas kamu menyukainya masih mengelak. Kenapa aku tidak senang ya kalau dia menyukai suami Bunga.


Martin ingin bertanya lagi tapi urung karena makanan mereka datang.


"Sudah makan saja. Jangan banyak bicara." kata Riana. Ia mulai menyibukkan diri dengan hidangan yang ada di depannya. Martin sesekali melirik wajah Riana sambil menikmati makanannya.


Dia tampak sedih. Kenapa aku ingin menghapus kesedihan di wajahnya? Kenapa aku tidak tenang melihatnya bersedih seperti itu?


Martin menyudahi makannya.


"Enak juga. Pantas kamu suka makan di sini." komentar Martin setelah selesai makan.


"Iya. Menghemat ongkos. Disini dekat dan murah. Sudah gitu enak." Saat bicara Riana tidak lagi menampakan wajah sedihnya.


"Hahaha ternyata kamu gadis ekonomis." seloroh Martin.


"Apa maksud mu? Aku murahan gitu?" Riana nampak kesal.


"Eh bukan. Jangan salah paham. Gadis ekonomis itu mm gadis yang apa ya.. kamu tahulah ilmu ekonomi, dengan pengeluaran sedikit, mendapatkan hasil yang banyak. Jadi semacam itulah."


"Kamu sih pakai istilah aneh. Yang ada paket ekonomis. Ini gadis ekonomis." Riana mengomel.


Teruslah mengomel. Aku suka melihatmu cerewet dan jutek daripada melihatmu muram dan sedih.


"RI! Bisakah kita berteman?"


Riana menatap Martin heran.


"Berteman?" ia mengulangi perkataan Martin.


"Iya. Berteman. Seperti aku dan Bunga. Di Filipina aku adalah teman baik Bunga. Ia sering curhat padaku. Kita juga bisa melakukan hal yang sama. Kau boleh berbagi masalahmu denganku nantinya." Martin mencoba menjelaskan definisi berteman versinya.


Riana diam berpikir. Mungkin ada baiknya punya teman. Riana lalu mengangguk.


"Great! Sekarang kita teman. Mana ponselmu?"


"Untuk apa?"


"Aku akan memasukkan nomorku ke ponselmu. nggak lucu kan kalau kita berteman tapi nggak tahu nomor kontak masing masing."


Riana menyerahkan ponselnya. Martin lalu menyimpan nomornya dalam ponsel Riana. Kemudian ia mengirim pesan ke nomornya sendiri dari ponsel Riana.


"Semoga pertemanan ini langgeng." doa Martin.


"Aamiin." balas Riana.


Mereka berdua lalu tertawa.


...🌹🌹🌹...


Orang yang paling berkesan adalah jika ia datang di saat yang tepat.


Jangan lupa jejaknya.. like.. koment dan vote 👍👍👍👍

__ADS_1


__ADS_2