
Karena sudah tiga bulan tinggal di kampung itu, Kendra pun berbaur dengan masyarakat dan kegiatan di sekitar tempat tinggalnya.
Malam itu seperti biasa, Kendra akan mengikuti kegiatan pengajian di salah satu rumah warga. Tetangga dekatnya yang bernama Pak Imam menjemput Kendra.
"Ayo nak Kendra, kita berangkat bersama."
"Baik Pak. Sayang, mas berangkat dulu ya!" pamit Kendra kepada Bunga.
Bunga tersenyum. Ia tahu kenapa Kendra memanggilnya sayang, karena ada Pak Imam.
Dalam perjalanan
"Berapa usia kehamilan istrimu nak?"
"Sudah tiga bulan pak!"
"Oh, waktunya upacara telonan nak."
"Telonan pak?"
"Iya upacara adat untuk usia kandungan 3 bulan. Memang nak Kendra tidak tahu?"
"Iya Pak. Kendra tidak tahu soal upacara itu."
"Nak Kendra tidak usah khawatir. Nanti saya dan istri saya akan membantu kalian."
"Apa itu harus pak?"
"Tidak juga sih. Itu kebiasaan atau adat saja. Tapi nggak ada salahnya juga. Acaranya diisi dengan pengajian dan doa doa mohon keselamatan untuk ibu dan bayinya. Saat kehamilan usia 3 bulan, itu saatnya roh ditiupkan kepada bayi yang ada dalam kandungan. Artinya pada usia ini si bayi sudah memiliki nyawa. Doa doa yang dipanjatkan agar si bayi yang telah memiliki kehidupan itu kelak menjadi anak yang sholeh, baik dan berbakti."
Kendra manggut manggut.
"Nanti akan saya bicarakan dengan istri saya pak."
Obrolan mereka berakhir saat tiba di tempat pengajian.
"Bunga, tadi Pak Imam bicara tentang upacara telonan. Menurutmu bagaimana?" kata Kendra sepulang dari pengajian.
"Saya ikut Mas Kendra saja, bagaimana baiknya."
"Ya kita hidup bermasyarakat, dan jika itu kebiasaan di kampung ini, lebih baik kita ikuti saja. Toh kegiatannya juga bagus. Pengajian dan doa doa. Sekalian kita bisa bersedekah membagikan makanan."
Bunga mengangguk.
"Kalau begitu, aku akan ke Pak Imam. Meminta bantuan beliau dan istrinya. Karena kita memang buta akan hal itu kan."
__ADS_1
"Besok saja mas. Ini sudah malam. Mereka juga sudah istirahat."
"Baiklah. Aku istirahat dulu ya, besok aku harus mengirim barang ke kota sebelah."
"Menginap?"
"Enggak. Kalau selesai ya langsung pulang."
"Syukurlah." Bunga bernafas lega.
"Memang kenapa?"
"Nggak papa mas, hanya saja sendirian di rumah sebesar ini rasanya nggak nyaman."
Kendra tersenyum.
"Tidurlah. Besok kamu harus kerja juga kan."
Bunga mengangguk lalu melangkah ke kamarnya. Ia mengambil jaket Kendra dan memakainya. Lalu Bunga terlelap.
Bunga sedang berjalan di area pertokoan. Ia masuk ke salah satu toko yang menjual perlengkapan bayi. Saat ia memilih milih perlengkapan bayi, tiba tiba sebuah tangan mencengkeram bahunya.
"Akhirnya aku menemukanmu!"
Bunga gemetar. Ia sangat hafal dengan suara itu. Suara dari orang yang ia jauhi. Bunga memejamkan matanya, ja tidak berani berbalik ataupun menoleh. Ia takut melihat wajah pria itu. Ia takut melihat wajah bengis Gerry.
"Tidak, jangan. Mas Kendra tidak bersalah. Dia hanya menolongku." Bunga memberanikan diri memutar tubuhnya. Namun matanya masih terpejam.
"Bunga kenapa kamu memejamkan matamu? Ini aku Faldi. Apa kamu tidak ingin melihatku? Apa kamu tidak merindukanku? Aku tidak bersalah kepadamu, tapi kenapa kamu juga menghukumku?"
Suara itu berubah melembutkan dan cengkraman dibahu Bunga juga mengendur. Bunga memberanikan diri membuka matanya.
Ia terbelalak, bukan Faldi yang dihadapannya, namun Wajah Gerry dengan seringaian kejamnya.
"Tidakk.. lepaskan aku.. aku benci padamu!!"
Bunga berteriak dalam tidurnya. Kepalanya menggeleng, tubuhnya penuh keringat.
"Bunga bangun!"" Kendra menggoyang tubuh Bunga berusaha membangunkan wanita itu dari mimpi buruk nya.
Bunga tersadar. Ia bangkit lalu memeluk Kendra.
"Mas aku takut. Dia datang. Dia menemukanku. Dia akan menghukumku!"Bunga menegeratkan pelukannya. Tubuhnya gemetar ketakutan.
"Ssstt.. tenanglah. Itu hanya mimpi. Tidak ada Gerry di sini. Itu hanya mimpi!" Kendra menenangkan Bunga. Dia mengusap punggung Bunga.
__ADS_1
Bunga melepaskan pelukannya.
"Maaf mas." kata Bunga dengan wajah merona.
"Nggak papa. Tadi aku dengar teriakanmu, jadi aku masuk. Rupanya kau bermimoi."
Kendra menatap Bunga.
Dia masih suka memakai jaketku saat tidur. Apa keinginannya untuk mencium bau tubuhku masih ada? batin Kendra. Bibirnya mengulas senyum tipis.
Bunga yang menyadari tatapan Kendra berkata.
"Sudah jadi kebiasaan. Kalau tidur tanpa memakai jaket ini rasanya kurang."
"Bunga, apa kamu tidak pernah punya keinginan untuk memperjelas hubunganmu dengan Gerry?"
"Maksud Mas Ken?"
"Maaf, aku bukan menyarankan jadi tolong jangan salah paham. Maksudku, apa kamu selamanya akan sembunyi? Apa kamu tidak ingin hidup bebas tanpa rasa takut ketahuan Gerry?"
"Siapa yang ingin hidup seperti ini kak. Ku juga tidak mau."
Bunga menjawab dengan muka sedih. Kendra membelai kepala Bunga.
"Tidur lah lagi. Hari masih malam."
Bunga lalu membaringkan tubuhnya. Setelah Bunga terlelap, Kendra meninggalkan kamar Bunga.
Keesokan paginya, sehabis makan pagi, Bunga bertanya pada Kendra tentang ucapannya semalam.
"Mas Ken, soal ucapanmu semalam. Maksud mas Ken apa?"
"Maksudku, kenapa kamu nggak menggugat cerai Gerry saja!" jawab Kendra.
Bunga terkejut dengan jawaban Kendra. Ia memang belum kepikiran sampai ke arah itu. Ia hanya ingin bebas dari keluarga Gerry.
Mungkin mas Ken benar. Kalau aku ingin benar benar bebas. Aku harus meminta mas Gerry menceraikan ku. Apalagi pernikahan kami belum tercatat di KUA, pasti akan lebih mudah.
"Kamu benar mas Ken. Tapi bagaimana caranya dan bagaimana kalau Gerry tidak mau menceraikan aku?"
"Nanti kita tanya kepada yang lebih mengerti. Sekarang, Mas Ken berangkat dulu ya. Assalamualaikum.."
"Mas boleh nebeng sampai tempat kerja Bunga? "
"Boleh. Ayo berangkat! "
__ADS_1
Bunga mengambil tasnya lalu berangkat naik. mobil Kendra.