
"Kita kembali ke rumah bang Kendra?" tanya Faldi setelah merasa kalau Lisa sudah mampu menerima kenyataan bersatunya kembali Kendra dan Bunga. "Kita harus memberi ucapan selamat kepada mereka sebagian bukti kalau kita ikhlas melepas harapan kita."
Mata Lisa menatap sendu wajah Faldi.
"Terbuat dari apa hatimu om? Kau begitu baik." puji Lisa tulus.
"Aku bukan orang sebaik itu. Aku hanya berusaha untuk menerima kenyataan agar bisa bahagia. Berdamai dengan penderitaan supaya mampu melewatinya, bukan menentang atau menghindarinya."
"Ayo!" Lisa berdiri.
"Kemana?" Faldi bertanya bingung melihat perubahan sikap Lisa. Gadis itu sudah kembali ceria.
"Memberi selamat kepada mereka. Ayo kita lakukan bersama!" Lisa mengulurkan tangannya. Faldi tersenyum menyambut tangan Lisa lalu menggenggamnya. Mereka saling menatap.
"Lisa, ayo kita menikah!" Faldi berkata sambil menarik Lisa hingga gadis itu kembali duduk.
Mata Lisa membola mendengar lamaran mendadak yang sama sekali tidak romantis itu.
"Lisa dengarkan aku. Setelah ini bang Kendra pasti akan tinggal bersama Bunga di rumahnya. Terus kamu, setiap hari akan melihat mereka. Apa kau sanggup? Lebih baik kau ikut aku ke Indonesia. Dan agar aku bisa membawamu, maka kau harus menjadi istriku." Faldi menjelaskan alasannya mengajak Lisa menikah.
"Tapi, ini terlalu mendadak om. Aku.. " Lisa menghentikan ucapannya saat melihat Faldi tertawa.
"Tadi kamu dengan beraninya mengutarakan isi hatimu, sekarang saat aku mengajakmu menikah kau malah ragu. Dasar gadis aneh." Faldi menowel ujung hidung Lisa. Lisa merona. Faldi merasa gemas dan mencubit pipi Lisa yang merah.
"Om.. ih sakit tau." Lisa mengelus bekas cubitan Faldi. "Om, kamu kan tidak mencintaiku. Bagaimana kamu akan menikahiku jika tidak ada cinta dihatimu."
"Manusia hidup tidak boleh serakah Lisa. Jika aku tidak bisa memberikan cintaku padamu, aku bisa menyayangimu sebagai istriku. Apa itu tidak cukup?"
"Cukup om. Itu sudah cukup bagiku." desah Lisa. "Aku mau menikah denganmu om."
Faldi membelai rambut panjang Lisa. "Yakinlah. Kita akan menciptakan dunia kita sendiri yang penuh kebahagiaan. Syaratnya hanya jangan serakah. Cukup nikmati apa yang kita miliki dan jangan mengharap lebih." bisik Faldi.
Lisa mengangguk, "Aku akan belajar Om."
Faldi melihat kesungguhan di mata Lisa. Ia tersenyum lalu mendekatkan wajahnya mencium kening Lisa.
__ADS_1
"Selamat datang di duniaku. Calon istri kecilku." bisik Faldi setelah melepas kecupannya di kening Lisa.
"Terimakasih om suami." balas Lisa dengan mimik lucu.
Mereka tertawa bersama. "Kita ke rumah pamanmu?"
Lisa. mengangguk. Dengan bergandengan mereka keluar dari coffee shop dan berjalan menuju rumah Kendra.
Sementara itu di rumah Kendra Bunga tampal bingung saat melihat Lisa berlari sambil menangis.
"Mas!" Bunga memanggil Kendra meminta penjelasan.
"Duduklah dan dengarkan baik-baik. Kalian semua, aku akan bercerita dari awal samai akhir." Kendra mengawali ceritanya dengan meminta Bunga, Riana dan Martin duduk dan mendengarkan.
"Jadi saat itu setelah check ini aku mununggu di boarding room. Disanalah aku bertemu papa dan mamanya Lisa yang masih sepupuku, meski bukan sepupu kandung karena papa Lisa adalah anak angkat dari pamanmu. Hubungan kami tidak begitu baik sebenarnya karena masalah harta warisan kakek. Tapi siapa sangka, papa Lisa ternyata bukan orang yang serakah. Ia mengembalikan apa yang menjadi hakku. Saat kami diminta naik ke pesawat, sekretaris ku menelpon dan meminta kita pulang karena ada hal genting yang menimpa perusahaan. Aku tidak jadi terbang, melainkan keluar dari bandara menemui sekretarisku. Dan sebelum aku keluar pesawat, papa Lisa sempat menitipkan Lisa padaku. Ia memberiku alamat apartemen Lisa. Jadi ketika. kabar kecelakaan pesawat, aku menjemputnya dan membawanya ke bandara untuk konfirmasi keadaan keluarganya dan juga keadaanku. Di bandara aku melihat Faldi yang begitu terpukul dengan kepergianku. Saat itu aku berpikir bahwa aku begitu jahat padanya. Dia begitu baik sedang aku malah mengambil satu satunya wanita yang bisa membuatnya bahagia. Jadi itulah sebabnya aku memutuskan untuk membiarkan berita meninggalnya aku dan melanjutkan hidup di Jepang bersama Lisa." Panjang lebar Kendra menceritakan kisahnya kepada mereka bertiga.
"Dan Lisa? Karena ia tahu kalau mas bukan paman kandungnya akhirnya jatuh cinta sama mas Kendra?" tebak Bunga.
Kendra mengangguk.
"Oh. Pantas. Ia pasti sangat terluka. Aku sudah menyakiti dua hati sekaligus." desis Bunga penuh penyesalan.
"Riana benar. Dan kau tidak perlu khawatir berlebihan tetang Lisa. Karena selain aku, ada pria lain yang telah masuk ke hatinya. Om kesayangannya." kata Kendra sambil tersenyum.
"Om?! Jadi dia masih punya om?"
"Bukan om sebenarnya. Om yang kumaksud adalah pria yang Lisa temui di bandara saat kecelakaan ayahnya. Pria asing yang ia panggil om."
Bunga mengerutkan alisnya. Ia ingat sejak pertama bertemu, Lisa selalu memanggil Faldi dengan sebutan Om.
"Faldi?!"
"Iya. Lisa pernah bilang ia tidak akan menikah selain denganku atau Faldi. Jadi jangan terlalu menghawatirkan Lisa. Dia gadis yang tangguh, sama sepertimu sayang." Kendra menyentil hidung Bunga sambil tersenyum lebar.
"Bang.. selamat datang kembali ya! Semoga kalian langgeng. Dan jangan pura-pura mati lagi. Menyusahkan, tahu!" kata Martin sambil mengulurkan tangannya. Kendra menyambut ukuran tangan Martin.
"Aku belum sempat berterimakasih karena telah menemani Bunga saat di Filipina." ucap Kendra.
__ADS_1
Mereka berdua saling melempar senyum.
Baik karena semua sudah kembali ke tempatnya masing-masing, kami berdua juga mohon pamit. Mau istirahat. Anak, kami sudah lelah dan tertidur di mobil."
"Zidan?" tanya Bunga.
"Biar sementara Zidan bersama kami. mbak. Kalian silahkan menikmati waktu bersama. Sudah terlalu lama kalian terpisah." kata Riana penuh arti.
Kendra melirik Bunga yang saat itu tersipu mendengar perkataan Riana.
"Biar sopirku yang mengantar kalian!" kata Kendra lalu memberi perintah pada sopir pribadinya. Martin dan Riana kembali ke hotel tempat mereka menginap.
Setelah kepergian Martin dan Riana, Faldi dan Lisa tiba di rumah Kendra. Mereka masuk dan melihat ruang tamu sepi.
"Paman!" Lisa berteriak memanggil Kendra. Kendra yang saat itu berada di kamar dan sedang bermesraan dengan Bunga terkejut.
"Mas!" kata Bunga sambil merapikan pakaiannya yang sudah dibuat berantakan oleh Kendra.
"Mengganggu saja!" keluh Kendra lalu bangkit mengambil kaos dan memakainya. Ia keluar dari kamar.
"Paman disini." kata Kendra keluar dari kamar.
"Maaf kalau kami mengganggu." kata Faldi sambil menekan perih di hatinya.
"Ah tidak. Kami baru saja masuk untuk istirahat. Riana dan Martin sudah kembali ke. hotel."
"Paman. Lisa mengucapkan selamat atas bersatunya kembali paman dan istri paman. Dan Lisa ingin memberitahu berita bahagia pada paman. Lisa minta restu paman karena Lisa dan Om sudah memutuskan untuk menikah." kata Lisa dengan senyum manisnya.
Kendra kaget. Kalau Lisa ia bisa mengerti jika gadis itu bisa langsung menerima Faldi, tapi Faldi? Kendra tahu yang Faldi cintai adalah Bunga. Kendra menatap tajam Faldi.
"Fal. Bisa kita bicara berdua?!" Kendra berdiri menuju ruang kerjanya.
Lisa memandang Faldi. Wajahnya cemas. "Om!" desisnya.
"Tenanglah! Tidak akan terjadi apa-apa. Kamu tunggu di sini saja." Faldi menyusul Kendra.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
.