Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Kedatangan Sepupu


__ADS_3

Bunga memandangi tubuhnya yang terpantul. pada cermin di kamar mandi. Jejak yang dibuat Kendra bertebaran hampir di seluruh tubuhnya. Dan yang paling parah di dadanya. Bunga tersenyum, meski tubuhnya terasa remuk karena Kendra benar benar menghabisinya semalam. Pria itu bagai tak mengenal lelah. Lima kali ia mengeksekusi Bunga.


"Bunga cepetan donk mandinya. Keburu subuh!" ucap Kendra dari luar kamar mandi.


"Iya, Mas!" Bunga segera menyelesaikan ritual mandi besarnya lalu keluar dengan membungkus tubuhnya menggunakan handuk.


Kendra menatap tubuh istrinya.


"Eh, badanmu kenapa? Kamu berubah jadi harimau tutul betina ya!" ledek Kendra.


"Oh ini. Ini buah karya suamiku yang perkasa." Bunga menjawab sambil mengerlingkan matanya menggoda Kendra.


"Hei.. belum kapok rupanya ha!" Kendra merengkuh tubuh Bunga dan menghujani dengan ciuman.


"Mas! Sudah.. tadi katanya takut subuh keburu datang. Ini malah.." Bunga mendorong tubuh Kendra.


"Iya... aku mandi dulu. Habis subuh kita lanjut lagi!" Kendra mencolek hidung Bunga lalu masuk ke kamar mandi.


Bunga membuka almari dan menyiapkan baju Kendra. Ia kemudian mengambil baju untuknya dan mulai mengenakan baju itu.


Ia duduk di atas ranjang menunggu Kendra selesai mandi.


Kendra keluar dan segera memakai bajunya.


"Sudah adzan. Kita sholat dulu!"


"Aku wudhu dulu." Bunga masuk kamar mandi lagi. Kendra keluar menuju ruangan yang biasa mereka pakai untuk sholat.


Mereka berjamaah. Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, mereka kembali ke kamar.


Kendra langsung memeluk Bunga.


"Kita lanjut yang tadi ya!"


"Mas.Kalau aku bilang lelah, apa mas akan marah lagi?" tanya Bunga.


"Apa kamu lelah?"


"Semalam mas Kendra sudah menghabisiku sebanyak lima kali dengan durasi waktu hampir satu jam tiap main. Keperkasaanmu membuatku bahagia, puas tapi juga lelah." Bunga sengaja memuji suaminya agar dia tidak tersinggung dan marah lagi.


Benar saja. Kendra tersenyum mendengar pujian Bunga. "Baiklah sayang. Mas nggak akan minta pagi ini." Kendra hanya mengecup kening Bunga dan membaringkan tubuhnya ke ranjang.


Ponsel Bunga berdering. Bunga meliriknya dan melihat kalau yang menghubunginya adalah nomor yang tidak ia kenal.


"Kenapa nggak diangkag?"


"Nggak kenal juga."


"Boleh ku angkat?" tanya Kendra.


Bunga mengangguk.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam. Benar ini nomor mbak Bunga."

__ADS_1


"Benar Ini saya suaminya. Anda siapa?"


"Oh. Saya Riana. Sepupu mbak Bunga."


Kendra menggerakan alisnya menanyakan kebenaran apa yang dikatakan wanita dalam ponsel itu. Bunga mengangguk. Kendra menyerahkan ponsel Bunga. Bunga memencet tombol loud


"Hallo Ri, bagaimana kabarmu?"


"Alhamdulillah baik mbak. Mbak, Riana telpon mau minta tolong."


"Minta tolong apa?"


"Begini mbak. Riana kan sudah lulus kuliah dan kebetulan diterima kerja di perusahaan yang ada di Jakarta. Apa Riana bisa tinggal sementara di rumah mbak sampai Riana mampu menyewa rumah nanti? Lagi pula Riana belum begitu paham Jakarta mbak. Budhe yang mengusulkan agar aku tinggal bersama mbak Bunga."


Bunga menatap Kendra meminta persetujuan. Kendra mengangguk.


"Boleh. Kapan kamu ke Jakarta?"


"Hari ini mbak. Naik kereta api."


"Baiklah. Nanti hubungi mbak ya. Biar mbak jemput."


"Terima kasih mbak. Maaf kalau pagi-pagi mengganggu mbak Bunga. Riana tutup dulu mbak. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


"Mas. Ini bagaimana?"


"Kenapa?" tanya Kendra. Tangannya melingkar ke perut Bunga.


"Ya nggak papa. Kita tinggal menjelaskan saja. Beres kan!" Selesai berkata Kendra mulai menciumi tengkuk Bunga.


"Mas."


"Hemm." Kendra hanya bergumam karena masih asik dengan aktivitasnya.


"Ahh." Bunga mulai mendesah. "Mas. Kita carikan Riana kontrakan saja bagaimana?" kata Bunga sambil di selain desahan lirih karena ulah Kendra yang mulai bermain dengan benda kembar miliknya.


"Kenapa?" bisik Kendra.


"Akun khawatir. Dia masih muda dan cantik."


"Terus?"


"Mas.. kamu .. ah!" Tubuh Bunga sudah ditarik dari belakang dan dibaringkan oleh Kendra. Kendra menatap dengan senyuman penuh hasrat. Tanpa aba-aba ia segera mengeksekusi Bunga lagi.


"Dasar mulut pria nggak bisa dipercaya!" gerutu Bunga sambil kelelahan.


Kendra terkekeh.


Bunga beringsut meninggalkan ranjang.


"Mau kemana?"


"Ke dapur. Kalau di sini aku pasti kau makan lagi. Aku lapar. Mau masak." Bunga segera berlari ke kamar mandi. Ia mandi untuk kedua kalinya. Ia keluar sudah dengan pakaian lengkap.

__ADS_1


"Mas, mau dimasakin apa?"


"Apa saja. Kalau kamu yang masak pasti mas makan."


Bunga tersenyum lalu keluar.


Sore harinya, Bunga menjemput Riana di stasiun.


"Kak!" seorang gadis cantik berlari sambil menggeret koper menuju Bunga.


Mereka berpelukan. "Kamu cantik!"


"Mbak juga makin cantik!" Mereka lalu tertawa bersama sambil berjalan keluar stasiun.


"Silahkan masuk!" kata Bunga saat mereka tiba di rumahnya.


"Bagus banget rumah mbak!Mas Gerry mana?"


"Ehm, Ri! Mbak sudah bercerai dengan bang Gerry."


"Oh. Kenapa mbak?"


"Ceritanya panjang."


"Terus yang mengangkat telpon tadi pagi itu?"


"Dia mas Kendra, suami mbak. Jadi mbak mohon jangan lagi menyebut nama Gerry di rumah ini apalagi di depan mas Kendra. Apa kamu mengerti?"


Riana mengangguk.


"Ayo. Aku antar ke kamarmu!"


"Ini kamarmu!" kata Bunga sambil membuka pintu kamar. "Semoga kau suka."


"Suka mbak. Kamarnya bagus. Terima kasih sudah menerimaku."


"Istirahatlah. Kamu pasti capek. Mbak mau membantu bibi menyiapkan makan malam. Oh iya. Nanti aku kenalin sama Zidan. Anak mbak."


"Mbak! Apa budhe tahu kalau mbak sudah menikah lagi?"


Bunga menggeleng. "Mbak belum punya waktu buat pulang. Mbak dan mas Kendra baru saja melewati hari-hati yang sulit. Nanti jika semua sudah membaik, mbak akan membawa mas Kendra dan Zidan pulang."


"Kalau mas Gerry sekarang bagaimana mbak?"


"Dia sudah dijodohkan dan sebentar lagi akan menikah."


"Ooh. Mbak! Apa mas Kendra setampan mas Gerry?"


Bunga hanya tersenyum tidak menjawab. Sikap Bunga itu membuat seseorang yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka dari luar merasa sangat kesal dan marah.


Kendra yang sudah pulang kerja dan bermaksud menyapa saudari istrinya itu terdiam di depan pintu kamar Riana dan mendengarkan pembicaraan keduanya.


Jadi dia tidak mau menjawab. Apa dia mengakui kalau Gerry lebih tampan dari aku. Bukan, bukan Gerry. Faldi. Karena dia melihat Faldi pada diri Gerry. Dasar wanita munafik. Bilang mencintaiku, tapi pikiran dan hatinya masih tertuju pada Faldi. Baiklah Bunga, tidak apa aku tidak mendapatkan hatimu. Tapi aku sudah mendapatkan tubuhmu yang tidak bisa dimiliki Faldi.


Kendra meninggalkan tempat itu dengan bersungut-sungut. Ia masuk ke kamarnya dan membanting tas kerjanya ke atas ranjang. Ia juga membuang begitu saja sepatu, kaos kaki dan jasnya. Kendra yang sudah dipenuhi amarah itu, masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower.

__ADS_1


__ADS_2