Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Tipu Daya Riana.


__ADS_3

Riana mematut dirinya di depan cermin. Pikirannya bimbang antara pergi atau tidak.


Bagaimanapun aku harus membuat kak Kendra berhenti mengejarku dan kembali menyadari bahwa dirinya sangat mencintai mbak Bunga. Aku harus memberi kesan kalau aku adalah wanita yang lebih menjijikan daripada anggapannya terhadap mbak Bunga.


Riana lalu mengambil pensil alis waterproffnya. Ia membuat sebuah tato di dada sebelah kiri. Tato nama seorang pria.


Semoga ini bisa membantu. Tulisan ini tidak akan hilang ataupun luntur dengan mudah.


Selesai berdandan Riana lalu meninggalkan kamar hotel tempatnya tinggal.


Dengan menggunakan taksi online ia berangkat ke rumah Kendra.


"Akhirnya kau datang juga." Kendra membuka pintu dan langsung merangkul pinggang Riana membawanya masuk.


"Kak.. nggak takut dilihat mbak Bunga?" tanya Riana menyelidik.


"Justru itu tujuanku. Biar dia merasakan apa yang aku rasakan." kata Kendra lalu memeluk Riana.


*Jadi dia belum sadar kalau mbak Bunga sudah kabur. Dan sepertinya b*enar dugaanku. Di dalam hatinya masih ada mbak Bunga. Dia hanya sangat marah dan kecewa hingga tersesat seperti ini.


"Kak! Nanti pembantu melihat kita." tolak Riana lembut. Ia lalu menjauh dan berdiri membelakangi Kendra.


"Jadi kamu mau kita langsung ke kamar?" Kendra mendekat dan kembali memeluk Riana dari belakang. Ia mengendus wangi rambut Riana.


Aku ingin tahu reaksinya saat sadar mbak Bunga kabur.


"Kak tunggu dulu! Aku ingin menyapa mbak Bunga dulu, boleh?"


Kendra melepaskan pelukannya. Ia merasa tidak suka dengan permintaan Riana.


"Baiklah. Dia mungkin di kamar Zidan. Sudah empat hari ini aku tidak melihatnya di kamar. Pergilah kau ke kamar Zidan. Aku menunggumu di kamarku." Kendra lalu naik menuju kamarnya.


Riana menelan ludah. Ia ikut naik namun tujuannya ke kamar Zidan. Beberapa saat kemudian, Riana pura-pura panik datang ke Kendra.


"Kak! Mbak Bunga tidak ada di kamar Zidan. Zidan juga tidak ada!" kata Riana dengan memasang wajah cemas saat masuk ke kamar Kendra.

__ADS_1


Kendra yang semula rebahan di kasur langsung bangkit. Ia menuju almari dan memeriksa berkas penting milik Bunga.


"Dia pergi rupanya." gumam Kendra saat mendapati tidak ada satupun berkas Bunga di sana.


"Apa kak? Mbak Bunga pergi? Tapi dia pergi kemana?" tanya Riana masih dengan aktingnya. Dia berharap Kendra akan panik dan mengajaknya mencari Bunga.


Tapi Kendra justru tenang.


"Jangan khawatirkan dia. Paling dia pulang ke orang tuanya. Aku akan menjemputnya nanti. Sekarang penuhi dulu janjimu." Kendra berjalan ke arah pintu dan menguncinya.


Riana merasakan tubuhnya gemetar.


Tenang Ri. Misimu harus berhasil. Buat dia jijik dan membuang semua keinginan gilanya itu batin Riana.


Kendra mendekat dan meraih tubuh Riana ke dalam pelukannya.


"Kau tahu Ri? Sejak melihatmu di kamarmu waktu itu, aku selalu membayangkan saat-saat seperti ini." Kendra mengelus punggung Riana. Tangannya mencari ujung resleting blus Riana lalu menariknya dengan perlahan. Ia menyentuh kulit punggung Riana kemudian menarik blus Riana ke samping hingga bahu Riana terbuka.


Riana berusaha menguasai dirinya agar tidak nampak gugup.


Riana sengaja mengeluarkan desahan menggoda saat bibir Kendra mulai menelusuri bahu lalu ke lehernya. Ia semakin menarik baju Riana hingga bagian dadanya terbuka. Mata Kendra sedikit melebar saat melihat tato nama pria di dada Riana. Ia mengangkat wajahnya.


"Siapa pria ini?" tanya Kendra dengan nada penuh rasa tidak suka.


"Oh kau melihatnya beib." jawab Riana sengaja mengganti sebutannya pada Kendra. "Ini nama cinta pertamaku. Dan juga orang pertama yang merenggut kesucianku."


Apa?!! Dia sudah tidak suci. batin Kendra terkejut.


"Aku tidak bisa melupakannya hingga menulis namanya di sini. Dia yang memberiku pengalaman indahnya bercinta. Dia begitu perkasa. Tapi sayang takdir memisahkan kami." Riana memasang wajah sendu. "Sejak kepergiannya, aku yang sudah terlanjur candu dengan pengalaman itu, berusaha mencari sosoknya pada pria-pria lain. Tapi siapa sangka, dari pria pria yang pernah tidur denganku, tak satupun yang sehebat dia."


Jleb.


Penjelasan Riana menikam hati Kendra.Ia menggelengkan kepalanya.


"Kau bohong. Kau nampak lugu dan polos. Tidak mungkin kau wanita seperti itu." Kendra yang tidak mudah percaya dengan bualan Riana kembali memeluk dan langsung mendaratkan ciumannya di bibir Riana.

__ADS_1


"Beib.. aku senang kamu tidak mempermasalahkan masa laluku. Selama ini aku menahan hanya karena kamu suami mbak Bunga. Tapi sekarang dia sudah pergi. Nggak akan ada yang menghalangi kita lagi. Ayo... beri aku kepuasan!" goda Riana dengan suara khas orang merayu saat bibir mereka saling menjauh.


Kendra mengangkat Riana dan menghempaskannya ke atas ranjang. Ia kemudian merangkak ke atasnya.


"Aw!" Riana berpura-pura memekik saat Kendra menggigit lehernya. 'Jangan begitu beib. Dia tidak pernah memberi tanda kepemilikan dengan menyakitiku. Dia sangat lembut meski hisapannya kuat. Kalau kamu seperti ini, kamu sama saja dengan yang lain. Nggak akan bisa mengimbanginya, beib."


Kendra kesal dengan ucapan Riana. Namun ia tidak memperdulikannya. Tanganya menaik blus Riana hingga lepas.


"Eeh bukan begitu caranya. Ia akan mengelusnya dulu. Tidak langsung menyecapnya begitu. Kau membuat moodku turun. Ah ternyata kau sama saja." omel Riana dengan susah payah menahan gairah yang mulai muncul akibat sentuhan dan ciuman Kendra.


Kendra semakin kesal karena apapun yang ia lakukan, Riana akan membandingkannya dengan kekasih pertamanya itu.


Kendra sudah tidak bisa sabar. Tangannya mulai bergerak ke bawah.


"Aahh... jangan pake tangan. Dia tidak pernah pake tangannya. Dia selalu menggunakan lidahnya. Beib kamu mengecewakan aku."


"Cukup!!!" teriak Kendra. Harga dirinya terluka. Gairahnya langsung turun. Ia bangkit dari atas tubuh Riana. Riana tersenyum penuh kemenangan. Namun ia masih berpura-pura.


"Kenapa sayang?" Ia merangkul Kendra dari belakang sambil menempelkan dadanya ke punggung polos Kendra."Kau sudah tidak menginginkanku. Kau menyesal? Dari awal aku sudah bilang. Aku tidak sebaik yang kau kira. Selama ini aku hanya berpura-pura. Ya.. aku harus nampak polos agar mendapat perhatian pria kan? Pria nggak akan mau dengan gadis binal. Kalaupun ada pasti pria itu brengsek. Aku nggak mau pria brengsek. Aku maunya pria baik-baik macam kamu beib." Riana mengecup punggung Kendra.


Kendra berdiri. Ia mengambil blus Riana dan melemparkannya kepada gadis itu.


"Eh... sudah selesai ya? Ah ternyata kau lebih payah dari yang lain. Belum juga mulai sudah game over." ejek Riana sambil memasang kembali bajunya.


"Keluar!" kata Kendra tegas.


Riana tidak lagi berpura-pura. Mumpung ada kesempatan, dengan cepat ia meninggalkan kamar dan juga rumah Kendra.


Semoga usahaku berhasil. Ibu maafkan Riana. Riana terpaksa.


Sesampainya di hotel, Riana langsung masuk ke kamar mandi untuk. membersihkan aroma Kendra yang menempel di tubuhnya. Ia melihat ada bekas merah merah di leher dan dadanya. Riana memandangi pantulan dirinya di cermin. Matanya mulai kabur. Setetes air meluncur dari kelopak matanya yang indah.


"Maafkan aku kak!" gumam Riana lirih.


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


Kenapa kamu minta maaf Ri?"


__ADS_2