
Bunga terus memikirkan perkataan Kendra. Karena lelah akhirnya Bunga tertidur di sofa.
Gerry yang telah menyelesaikan meeting dengan kolega bisnis dan para pemegang saham masuk ke ruangannya. Begitu membuka pintu, pandangannya langsung
tertumpu pada sosok yang terbaring di sofa. Gerry menjalankan kursi rodanya ke arah Bunga. Dibelai nya rambut gadis itu. Gerry menunduk mengecup kening Bunga.
Merasa ada sentuhan di tubuhnya, Bunga terjaga.
"Kau sudah selesai meeting?"
Gerry mengangguk. "Maaf membuatmu menunggu lama. Kita pulang yuk!"
Bunga berdiri dari sofa. Ia bermaksud membantu mendorong kursi roda Gerry, namun kakinya tersandung kaki sofa sehingga Bunga kehilangan keseimbangan tubuhnya. Gerry menangkap tubuh Bunga yang hampir jatuh ke lantai dan menariknya hingga Bunga terduduk di pangkuannya. Mereka saling menatap, lalu Gerry mencium bibir Bunga
Tok Tok Tok
Ketikan di pintu mengagetkan Gerry dan Bunga. Bunga meloncat dari pangkuan Gerry.
"Kalian masih ingin di sini apa mau pulang. " Kendra masuk. Melihat kecanggungan antara Bunga dan Gerry, Kendra paham apa yang barusan terjadi.
"Aku mau pulang saja. Aku lelah." Bunga lalu mendorong kursi roda Gerry.
__ADS_1
"Ken, buatkan janji bertemu dengan dokter. Aku ingin membicarakan masalah terapiku." Gerry memberi perintah pada Kendra.
Kendra tidak percaya apa yang ia dengar. Selama hampir tiga tahun tidak ada yang mampu membujuk Gerry untuk mengikuti terapi, kenapa tiba-tiba ia ingin terapi. Sebegitu besarkah cintanya pada Bunga. Kendra merasa bahagia dan juga sedih. Ia tidak bisa membayangkan jika Bunga tahu bahwa Gerry bukanlah Faldi, bagaimana nasib mereka nanti.
Saat sampai di mansion, mereka dikagetkan dengan kedatangan orang tua Gerry.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" Ny. Dea mamanya Gerry memeluk anaknya. Lalu pandangannya berpindah pada Bunga yang berdiri di belakang Gerry.
"Ini pasti Bunga. Cantik." Ia lalu memeluk Bunga. "Makasih sayang karena kau, anak tante mau menjalani terapi. Makasih sudah membangkitkan semangat Gerry lagi. Terus temanilah Gerry. Dia sangat mencintaimu!" kata Ny. Dea
"Iya tante." Bunga tersenyum.
"Gerry, kapan rencanamu membawa kami kepada keluarga Bunga?" tanya Tuan Firmandana, papa Gerry.
"Sudah." Bunga menjawab pendek.
"Bagus kalau begitu, kita tinggal menyiapkan apa yang harus di bawa saja. Serahkan semuanya pada mama ya!" kata Nyonya Dea antusias.
Ia begitu bahagia karena pewarisnya sudah mulai bangkit dari keterpurukannya. Wajah bahagianya pelan pelan memudar saat ia mengingat putra bungsunya yang sampai saat ini belum diketahui kabarnya.
Bagaimana keadaanmu sayang? Apakah kau masih hidup? Jika kau masih hidup, pulanglah. Mama rindu. Batin Nyonya Dea sambil menyeka air mata yang mulai menitik.
__ADS_1
"Ma, Pa. Gerry ke kamar dulu."
"Iya, nak. Istirahatlah. Bunga bantu calon suamimu! " kata Nyonya Dea.
Bunga kembali mendorong kursi roda Gerry.
Sesampainya di kamar, Bunga membantu Gerry berganti pakaian.
"Bang, tadi di kantor mas Kendra menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang Bang Gerry tanyakan tadi pagi."
Gery yang sedang memeriksa email yang masuk ke ponselnya, mengalihkan pandangannya ke Bunga.
"Kamu jawab apa? " Gerry penasaran.
Bunga menghela nafas.
"Aku tidak tahu. Yang aku tahu sekarang aku ingin bersamamu. Aku tidak bisa memikirkan yang lain. Aku hanya berpikir bagaimana agar kamu sembuh dan bisa berjalan lagi. Dan aku akan membantumu."
"Apa kau kasihan padaku."
"Tidak. Bang Gerry bukan orang yang pantas dikasihani. Aku hanya merasa punya kewajiban untuk membantumu. Mungkin karena bantuanmu dulu kepada orang tuaku."
__ADS_1
Gerry diam, Bunga juga diam. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.