
Karena sejak kemarin pagi tidak melihat Riana, Bunga pun menghubungi sepupunya itu.
"Ri, kamu dimana?" tanya Bunga saat Riana mengangkat telponnya.
"Ri kerja mbak."
"Maksud mbak, kenapa kamu nggak ada di rumah?"
"Maafkan Ri mbak. Ri nggak bisa lagi tinggal di rumah mbak. Ri sekarang ngontrak mbak."
"Kenapa kamu nggak pamit sama mbak?"
"Karena kalau pamit mbak pasti akan menghalangi Riana kan? Makanya Riana sengaja nggak pamit. Maaf ya mbak."
"Ri, apa terjadi sesuatu?"
"Nggak mbak Ri hanya ingin berusaha mandiri Bukankah sejak awal Ri bilang hanya sebentar tinggal di rumah mbak sampai Ri dapat kontrakan? Jadi sekarang sudah saatnya Ri tinggal sendiri mbak."
"Baiklah kalau itu maumu. Sering-sering main ke sini ya. Mbak butuh teman." balas Bunga.
Maafkan aku mbak Aku tidak bisa menemani mbak Bunga lagi. Tapi aku janji mbak. Aku tak akan membiarkan rumah tangga mbak rusak.
Malam ini Kendra pulang kerja sangat larut. Saat ia masuk rumah, ia melihat Bunga tertidur di sofa karena menunggu kepulangannya.
Kendra memandang iba wanita itu. Ia duduk di sisi Bunga dan bermaksud menggendong Bunga. Namun saat tangannya terjulur, bayangan Bunga dalam pelukan Faldi kembali berkelebat. Kendra menarik kembali tangannya. Ia terduduk lemas di sisi sofa. Kendra menangis. Ia tampak sangat menderita.
"Mas!" Bunga yang merasakan pergerakan di sofa terbangun. Ia kaget melihat Kendra menangis.
"Maafkan aku. Aku sudah berusaha. Tapi aku lemah." Kendra terus menangis.
"Mas, kenapa?" tanya Bunga mulai cemas.
"Aku... aku tak bisa membuang bayangan itu Bunga. Bayangan itu selalu hadir saat aku melihatmu. Aku ingin menghapusnya, tapi aku tak bisa. Aku sakit Bunga. Sangat sakit." Kendra menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya bergetar.
Bunga mengelus punggungnya namun reflek Kendra beringsut menjauh.
__ADS_1
"Mas!! Kau... kau tak mau ku sentuh? Kau.. jijik padaku?" Suara Bunga bergetar.
"Maafkan aku. Aku sudah berusaha. Aku tak bisa."
"Aku mengerti mas. Aku paham. Aku juga tidak akan memaksa jika mas Kendra tidak bisa melakukannya." suara Bunga parau. "Bunga tahu, tubuh Bunga sudah kotor mas. Bunga tidak menyalahkan mas Kendra. Ini pasti sulit buat mas menerima Bunga lagi. Bunga rela jika mas memilih untuk meninggalkan Bunga." dengan tangisan yang sudah pecah, Bunga lari ke kamarnya. Bunga memasukkan barang-barang penting miliknya ke dalam koper. Ia juga membawa barang-batang Zidan.
Bunga lalu menghubungi Riana. Ia minta alamat Riana. Bunga menceritakan secara singkat apa yang terjadi.
Malam itu juga tanpa Kendra tahu, Bunga meninggalkan rumah bersama Zidan. Bunga menitipkan surat pada pembantunya untuk diberikan kepada Kendra esok pagi saat tuannya mencari Bunga. Namun jika tuannya tidak menanyakan keberadaan Bunga, surat itu tak perlu diberikan.
Dengan menggunakan taksi online, Bunga menuju apartement Riana.
Bunga menggendong Zidan sambil menyeret kopernya menuju unit Riana. Setelah sampai, Bunga terpaku saat melihat apa yang ada di hadapannya. Ia melihat Kendra masih dengan pakaian kerjanya berdiri di depan pintu apartemen sambil memohon agar Riana membukakan pintu.
"Riana, bukalah! Aku hanya ingin bicara. Aku membutuhkanmu Ri!" suara Kendra memelas.
Mata Bunga nanar. Pandangannya kabur tertutup air mata.
Jadi ini penyebab Riana pergi dari rumah. Mas Kendra menyukai Riana.
Kaki Bunga melangkah mundur. Ia begitu terpukul. Tak pernah terpikir kalau Kendra bisa berpaling. Ia sangat percaya jika suaminya mencintainya. Ia sangat yakin jika cinta Kendra padanya sangat dalam. Selama ini Kendra selalu manis dan memanjakannya.
Setelah Kendra menghilang, Bunga menuju apartement Riana. Ia ingin meminta penjelasan atas apa yang ia lihat pada Riana.
Kembali bel berbunyi. Riana yang mengira itu Kendra tetap bergeming tak membukakan pintu.
Bunga lalu menelpon Riana dan bilang jika dirinyalah yang ada di depan pintu. Riana buru-buru membuka pintu apartemennya.
"Mbak!" Riana membantu Bunga menyeret kopernya. "Tidur kan Zidan di kamar mbak!"
Bunga lalu menidurkan Zidan di kamar Riana.
"Minum dulu mbak!" Riana memberikan segelas air putih pada Riana.
"Tadi mas Kendra ke sini ya Ri?" tanya Bunga yang membuat Riana kaget. Ia merasa bersalah.
__ADS_1
"Maafkan Riana mbak. Riana nggak ada maksud untuk menggoda suami mbak."
"Jadi itu sebabnya kamu pergi dari rumah kami?" tanya Bunga sambil memandang Riana.
Riana mengangguk, "Riana tidak mau jadi orang ketiga dalam rumah tangga mbak dan kak Kendra."
"Ada tidak ada dirimu. Rumah tangga ku sulit disatukan lagi Ri. Bagaimana kami masih bisa bersama jika mas Kendra saja sekarang jijik padaku Ri. Ia tidak mau lagi ku sentuh. Ia menghindariku." Bunga menangis. Riana memeluk Bunga. Hatinya sakit melihat sepupunya menderita seperti itu.
"Tapi mbak ikhlas jika kamu yang menggantikan mbak. Sejatinya mas Kendra pria baik, ia hanya lemah. Ia tidak bisa menerima tekanan seberat ini. Mbak paham, harga diri seorang pria akan terluka saat istrinya dijamah pria lain."
"Tapi mbak Bunga tidak salah."
"Ini bukan masalah salah atau benar, Ri. Mbak bisa membayangkan, jika mbak yang ada di posisi mas Kendra. Mbak melihat dia dalam keadaan yang sama seperti mbak. Dengan wanita lain. Mbak juga akan susah melupakannya Ri." kata Bunga sambil terus menangis. "Setiap kali ia mencium mbak, mbak akan ingat jika bibirnya bekas mencium wanita lain. Itu juga yang dialami mas Kendra. Mbak bisa mengerti Ri." lanjut Bunga sambil tergugu.
"Iya mbak Mbak tenang ya. Mbak tidur dulu saja. Masalah ini kita bicarakan besok saja." Riana berusaha menenangkan Bunga.
"Ri, apa kau juga menyukai mas Kendra?" tanya Bunga mengagetkan Riana. Riana tertegun. Ia sempat mengagumi Kendra. Itu karena Kendra mau menerima Bunga apa adanya dan menyayanginya serta Zidan. Sikap Kendra yang selalu baik dan manis pada Bunga membuat dirinya ingin memperoleh suami seperti Kendra.
"Tidak mbak." jawab Riana setelah diam beberapa saat lamanya.
Kau menyukainya Ri. Jika tidak kau tidak akan butuh waktu untuk menjawabnya. Kau pasti akan spontan bilang tidak. Kau menyukainya hanya tak mau mengakuinya. batin Bunga.
"Ri, kamu bisa bantu mbak untuk mendapatkan tiket kereta? Mbak ingin pulang."
"Mbak? Apa mbak sudah memikirkan akibatnya?"
"Mas Kendra sudah menyerah Ri, mbak juga akan menyerah." kata Bunga penuh keputusasaan.
Riana memeluk Bunga dengan erat. Ia menangis.
"Ri akan menemanimu mbak. Ria akan keluar dari pekerjaan Ri. Ri akan ikut mbak Bunga pulang."
Mereka lalu berpelukan sambil menangis.
Malam itu juga Riana booking tiket kereta secara online. Ia langsung membeli tiga buah tiket untuk dirinya, Bunga dan Zidan. Besok sebelum subuh, mereka harus sudah berada di stasiun.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
Tuh kan kabur semua.... bang Kendra sendirian jadinya....