
Dua minggu kemudian.
Bunga yang sudah hilang kesabarannya menghadapi sikap Faldi bermaksud mengajak Faldi bicara. Malam ini ia sengaja menunggu Faldi pulang dari kantor.. Saat mendengar suara mobil memasuki halaman, Bunga segera keluar dari kamarnya.
Faldi yang masuk sedikit terkejut melihat Bunga belum tidur. Biasanya jika ia pulang kerja, Bunga pasti sedang berada di kamarnya
"Aku mau bicara!" kata Bunga.
Faldi meliriknya. "Aku mau mandi dulu lalu makan malam. Setelah itu baru kita bicara." jawab Faldi sambil melangkah ke kamar Zidan
Bunga terkesiap mendengar jawaban Faldi. Ia merasa bersalah. Seharusnya saat suaminya pulang yang harus ia lakukan adalah menanyakan apakah ia sudah makan malam atau belum, bukan langsung menodongnya seperti yang barusan ia lakukan.
Istri macam apa aku ini. batin Bunga menyesal.
Bunga lalu pergi ke dapur memanaskan makanan untuk Faldi. Kemudian ia menyiapkan makanan itu di meja makan. Bunga duduk di sana sambil menunggu Faldi keluar dari kamar.
Tak berapa lama kemudian, Faldi keluar menuju meja makan. Tanpa banyak bicara ia langsung mengambil makanan yang ada di meja dan menikmatinya.
"Apa kamu mau kubuatkan kopi?" tanya Bunga. Ia tahu Faldi suka minum kopi sehabis makan malam.
"Jika tidak merepotkanmu." jawab Faldi datar. Bunga bangkit dari duduknya, berjalan ke dapur untuk merebus air. Ia memandangi Faldi yang sedang menikmati makan malamnya dari dapur.
Fal! Sebenarnya apa maumu? Kamu menikahiku lalu tidak mengacukanku. Apa kau ingin membalas dendam karena aku telah berkali-kali melukaimu.
Bunga termenung sambil terus menatap Faldi. Faldi menoleh, Bunga kaget dan langsung mengalihkan pandangannya. Bibir Faldi melengkung tipis.
Faldi sudah menyelesaikan makannya. Ia beranjak dan duduk di ruang tengah sambil membaca buku,
"Ini!" kata Bunga sambil menaruh kopi di meja depan Faldi. Ia lalu duduk di sofa depan Faldi.
"Bicaralah!" kata Faldi tanpa ekspresi.
Bunga menelan ludah untuk membuang kegugupannya.
"Aku hanya ingin bertanya. Tolong kamu jawab dengan jujur!"
"Hm." Faldi mengiyakan dengan deheman.
"Mengapa kamu menikahiku?" tanya Bunga.
Faldi tidak langsung menjawab. Ia menatap mata Bunga. Mata mereka saling mengunci untuk waktu yang cukup lama. Faldi lalu kembali mengalihkan pandangannya ke buku yang sedang ia baca tanpa menjawab pertanyaan Bunga.
"Fal! Aku bertanya padamu." Bunga kesal karena pertanyaannya tidak dijawab Faldi.
"Apakah masih perlu aku jawab jika kau sendiri sudah tahu jawabannya."
"Maksudmu kamu menikahiku karena masih mencintaiku dan ingin hidup bersama denganku?"
Faldi masih konsentrasi dengan bacaannya. Bunga benar-benar kesal.
"Faldi!!! Sebenarnya apa mau kamu? Kamu menikahiku tapi sikapmu seperti ini. Apa kamu sengaja ingin menyiksaku?" Bunga mengeluarkan semua uneg-unegnya.
"Tidak. Aku hanya mengabulkan keinginanmu saja. Bukankah di awal pernikahan kamulah yang bersikap dingin?"
Bunga terdiam. Jawaban Faldi membuatnya mengingat kembali perilakunya di hari pertama pernikahan mereka. Bagaimana kasarnya perkataannya pada Faldi. Dan ia bersikap seolah Faldi tidak ada. Jadi dulu saat ia mengabaikan Faldi, perasaan sakit seperti ini yang ia rasakan. Aku berkali-kali melukainya.
"Jika sudah tidak ada yang ingin kau bicarakan, aku akan tidur." Faldi berdiri dan akan melangkah ke kamar namun kakinya berhenti bergerak.
"Maaf!" desis Bunga lirih namun sukses membuat Faldi berdiri mematung.
__ADS_1
"Maafkan aku. Aku bersalah padamu. Sejak awal semua gara-gara aku. Aku tidak bisa mengenali Gery sehingga salah menganggapnya sebagai dirimu. Lalu aku melarikan diri dan justru menikah dengan mas Kendra hanya demi melindungi nama baikku dan masa depan anak yang ku kandung. Aku tidak pernah memikirkan perasaanmu. Aku egois. Aku hanya memikirkan diriku sendiri." Bunga terisak.
Faldi menelan ludah. Ingin rasanya ia berbalik dan merengkuh Bunga dalam pelukannya. Namun ia tidak mau melakukan itu. Ia takut tidak akan bisa mengendalikan dirinya sebelum semuanya jelas. Faldi sedang menantikan sesuatu terjadi. Jika perkiraannya benar, ia akan menerima takdir itu dengan ikhlas.
"Tidurlah Bunga. Sudah malam. Aku tidak pernah menyalahkanmu dan aku sudah memaafkanmu." balas Faldi sebelum ia kembali mengayun kakinya ke dalam kamar Zidan.
Bunga masih terisak. Ia bisa memahami betapa sakit hatinya Faldi.
Aku akan menerima semua sikapmu dengan sabar jika itu bisa menghapus luka yang selama ini kutorehkan di hatimu Faldi.
Bunga lalu melangkah ke kamarnya.
Pagi ini Bunga sengaja tidak kembali tidur setelah menjalankan sholat subuh. Ia buru-buru pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Saat keluar dari kamar, Ia melihat sesosok pria sudah berada di dapur. Ia tahu pria itu adalah Faldi.
Bunga mendekat, "Biar aku yang memasak."
Faldi menoleh. Ia lalu melepaskan celemek yang ia pakai dan menaruhnya ke atas meja dapur. Faldi meninggalkan Bunga. Bunga meneruskan masakan Faldi. Dua jam kemudian, makanan sudah tertata rapi di meja makan.
Faldi keluar bersama Zidan menuju meja makan.
"Mama masak kesukaan Zidan ya?" kata Zidan berseri saat melihat makanan kesukaannya.
"Iya, sayank. Ayo di makan!" Bunga lalu mengambilkan makanan untuk Zidan. Ia ingin mengambilkan makanan juga untuk Faldi, namun pria itu sudah melayani dirinya sendiri.
Bunga tersenyum sedih. Ia lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Baru tiga suap ia memasukan makanan ke mulutnya, tiba-tiba ia merasakan mual yang sangat.
"Huek..Huek." Bungan menutup mulutnya lalu berlari ke dalam kamar mandi di dekat dapur.
Akhirnya. batin Faldi.
"Zidan, lanjutkan makanmu! Papa ingin melihat mama dulu." Faldi berdiri dan berjalan ke kamar mandi.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Faldi saat melihat Bunga membasuh mulutnya stelah muntah. Bunga mengangguk.
"Fal aku hanya masuk angin. Tidak perlu ke dokter."
"Harus!!" kata Faldi tegas. "Ganti baju! Aku menunggumu. Kita antar Zidan dulu baru ke dokter!" Faldi kemudian meninggalkan Bunga.
Setelah mengganti pakaiannya, Bunga menemui Faldi di ruang makan.
"Zidan ayo berangkat!" ajak Faldi saat Bunga sudah siap.
"Kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Bunga heran saat mobil Faldi berhenti di depan tempat praktek dokter kandungan.
"Turunlah. Kamu harus memeriksakan dirimu. Siapa tahu kamu hamil." balas Faldi.
"Aku tidak mungkin hamil Faldi!" Bunga bersikukuh.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?"
"Kamu saja tidak pernah menyentuhku bagaimana mungkin aku hamil." balas Bunga dengan muka merona. Ia menunduk.
Faldi sedikit gugup. Pembicaraan yang menjurus begini menimbulkan gelenyar aneh dalam dirinya.
"Hem." Faldi mendehem menghilangkan kegugupannya. "Maksudku siapa tahu kamu mengandung anak Bang Kendra."
"Tidak! Saat pertama tiba di Indonesia, aku sedang dalam keadaan haid. Dan selama di Indonesia kami tidak pernah melakukannya karena papamu meminta kami pisah kamar. Beliau bilang kami tidak boleh melakukannya hingga kami menikah lagi. Jadi aku yakin kalau aku sedang tidak mengandung anak Mas Kendra." Bunga menjelaskan.
"Lalu kenapa kamu muntah-muntah?"
__ADS_1
"Fal! Tidak semua orang muntah itu hamil. Belakangan memang aku merasakan tidak nyaman pada perutku. Mungkin asam lambungku naik karena terlalu banyak hal yang mengganggu pikiranku belakangan ini."
"Tapi tak ada salahnya di periksa kan? Sudah sampai di sini juga. Ayo turun!" Faldi membuka pitu mobil. Ia turun dan melangkah masuk diikuti Bunga.
Bunga berbaring di kasur. Dokter mengoleskan gel ke perutnya lalu melakukan USG. Mata Bunga dan Faldi melihat ke layar monitor.
"Tidak ada apa-apa. Istri tuan tidak sedang mengandung." kata dokter sambil menarik alat USGnya dari perut Bunga. Bunga menutup bagian perutnya lalu bangkit dan kembali duduk di kursi depan si dokter.
"Tuan harus bersabar. Mungkin belum waktunya kalian diberi momongan." sang dokter berkata demikian dengan maksud menghibur Faldi yang ia sangka kecewa karena istrinya ternyata tidak sedang hamil. Ia melirik wajah Faldi yang saat itu tampak cerah dengan senyum lembar menghiasinya.
Pria ini sungguh berlapang dada. Ia tidak mau menampilkan kekecewaannya di hadapan istrinya. Ia malah memasang wajah seceria itu. Salut padamu tuan. batin sang dokter.
Lain pikiran dokter, lain lagi dengan apa yang dipikirkan Faldi,
Sepertinya aku bisa mengakhiri akting cuekku sekarang.
Ya Faldi memperlihatkan sikap cuek kepada Bunga semata-mata sebagai tameng agar ia tidak tergoda untuk menyentuh Bunga. Ia takut Bunga sedang mengandung anak Kendra. Jadi ia akan menunggu kepastian apakah Bunga hamil atau tidak dengan menjaga sikapnya dan tidak menyentuh Bunga sama sekali.
"Terima kasih Dokter. Kami permisi!" Faldi menjabat tangan si dokter. Ia lalu meraih tangan Bunga dan menggandengnya keluar ruangan tempat praktek dokter.
Bunga mengikuti langkah Faldi dengan perasaan heran melihat perubahan sikap Faldi yang menjadi hangat.
"Kamu tadi kan tidak jadi sarapan, sekarang aku akan membawamu makan pagi. Kau ingin makan apa?" kata Faldi dengan mesra seperti dulu-dulu.
"Fal, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Bunga heran.
"Kenapa, Aku hanya ingin memanjakan istriku, apa itu salah?"
"Tidak. Itu tidak salah. Hanya saja sedikit aneh." Bunga memandang Faldi dengan tatapan bingung. Faldi terkekeh, ia lalu mengacak rambut Bunga.
"Otakmu ini sangat kecil. Jadi jangan kebanyakan berpikir. Bisa konslet." Faldi kembali tertawa, Ia membukakan pintu mobil untuk Bunga. Setelah Bunga masuk, Faldi lalu ikut masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Fal!"
"Ya?"
"Apa kamu sudah tidak membenciku lagi? Apa kamu sudah memaafkanku?"
Faldi yang bersiap menyalakan mesin mobil, menoleh. Ia mengambil tangan Bunga lalu mengecupnya."Aku tidak pernah membencimu Bunga. Sikapku selama ini bukan karena rasa benci. Tapi justru karena aku mencintaimu. Aku rela menunggu sampai kepastian yang aku tunggu datang."
"Kepastian tentang apa?"
"Tentang kehamilanmu. Bagaimanapun sebelum menikah denganku, kamu bersama bang Kendra. Aku takut kamu mengandung anaknya. Aku berjanji pada diriku sendiri, jika kamu memang mengandung anaknya, maka aku tidak akan menyentuhmu sampai bayi itu lahir." Faldi kembali mengecup tangan Bunga.
"Dan sekarang, kepastian itu sudah kudapatkan. Kamu tidak hamil." Faldi menatap mata Bunga dengan senyum manis menghiasi bibirnya.
Jantung Bunga berdebar dengan kencang. Tatapan itu...membuat tubuh Bunga meremang.
Apakah itu artinya dia akan meminta haknya. batin Bunga
Bunga menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang hampir kering.
"Fal. Antar aku pulang saja ya! Aku bisa makan pagi dengan masakan yang ada di rumah. Kamu juga harus ke kantor kan?"
"Baiklah kita pulang." Faldi lalu melajukan mobilnya menuju rumah mereka. Senyum kelegaan selalu menghiasi bibirnya.
Bunga duduk di sampingnya sambil menunduk. Hatinya berdebar-debar memikirkan apa yang akan Faldi lakukan nanti.
...💞💞💞💞...
__ADS_1
**Alhamdulillah bisa up sedikit panjang.
Jangan lupa dukungannya ya**....