
Bunga sedang menyusui Zidan saat Kendra keluar dari kamar mandi.
"Hai anak papa," Kendra mencolek pipi Zidan. Setelah itu tangannya mengelus bagian tubuh Bunga yang sedang disedot Zidan.
"Mas, ih. Modus saja bawaannya," cerca Bunga karena kaget dengan perilaku Kendra.
Kendra yang hanya membalut tubuhnya dengan handuk itu lalu duduk di sisi Bunga.
"Apa masih lama Zidan menyusunya?" tanya Kendra. Matanya menatap Zidan.
"Bentar lagi juga kenyang dia," jawab Bunga.
Kendra mendekatkan kepalanya ke Zidan dan otomatis kepala. itu juga dekat ke dada Bunga.
"Zidan sayang! Cepetan ya. Papa juga haus nih," bisik Kendra ke Zidan. Kendra kemudian mengecup dada Bunga yang terbuka. Bunga memekik. Lagi-lagi ia dibuat terkejut oleh sikap Kendra.
Sudah lima menit Kendra menunggu, namun Zidan belum juga selesai menyusu. Saat Kendra menarik put*ng susu Bunga, Zidan malah menangis.
"Dia masih lapar mas," kata Bunga.
Kendra lalu berdiri, melepas handuk yang melingkar di pinggangnya dan menaruhnya di towel hanger yang ada di kamar mandi.
Ia kemudian kembali ke tempat Bunga. Kendra naik ke atas ranjang tapi bukan untuk tidur. Ia duduk di belakang Bunga. Kakinya terbuka hingga tubuh Bunga kini berada diantara dua papa Kendra.
Tangan Kendra melingkar di perut Bunga dan kepalanya bersandar di bahu Bunga. Ia masih memperhatikan Zidan sambil tangannya ikut memencet untuk mengeluarkan asi.
"Mas geli ah," gumam Bunga.
"Aku hanya ingin membantumu agar asinya keluar banyak dan Zidan cepat kenyang," dalih Kendra.
Tangan Kendra kini pindah ke bagian sebelah. Tangan itu masuk dan meremasnya. Bunga melenguh.
"Masss... Zidan masih menyusu nih."
"Aku tahu. Dan dia tidak terganggu kan?"
Kendra tidak menghiraukan protes Bunga. Ia masih menikmati meremas dada Bunga.
__ADS_1
Entah karena capek atau mengerti kondisi papanya, Zidan kemudian memejamkan mata dan tidur.
"Anak pintar," kata Kendra melihat Zidan tertidur, "taruh di tempatnya donk, sayang. Kan sekarang giliranku," kata Kendra saat melihat Bunga masih memangku Zidan.
"Iya, Mas. Ini juga mau berdiri."
Bunga berdiri dan berjalan menuju ranjang Zidan. Dengan perlahan dia meletakkan Zidan di ranjang itu kemudian menutup tirai ranjang.
Ia memutar tubuhnya dan melihat Kendra yang sudah terbaring dengan posisi seksi di atas ranjang. Dengan jari telunjuknya ia memberi isyarat agar Bunga mendekat.
"Kamu ini aneh mas. Biasanya yang membuat posisi menggoda itu kan istri, sekarang malah kamu mas," Bunga berkata sambil tertawa kecil.
Kendra tidak menghiraukan perkataan Bunga. Dia menarik tangan Bunga begitu wanita itu sudah dekat. Dengan sekali sentak tubuh Bunga jatuh menimpanya. Kendra median memutar tubuh itu ke samping sehingga posisi mereka kini merubah.
Kendra memandang mesra wajah Bunga yang kini berada dalam kungkungannya. Ia kemudian memulai aksinya dengan ******* bibir Bunga. Kemudian sasaran Kendra berpindah ke leher. Tangannya sudah mulai melucuti pakaian Bunga. Bunga hanya mendesah menikmati sentuhan suaminya.
Sudah lebih dua puluh menit mereka berpacu, namun belum ada tanda Kendra akan mengalami pelepasan. Bunga yang berada di bawah kendali Kendra sudah lemas karena telah beberapa kali merasakan nikmatnya pelepasan.
"Mass Kendra..," kembali Bunga mendesah meneriakkan nama Kendra membuat Kendra semakin bergairah.
Hentakan Kendra semakin lama semakin cepat dan tiba tiba tubuh Kendra menegang.
"Kau memang perkasa Mas," bisik Bunga di telinga Kendra membuat pria itu tersenyum puas.
"Seratus persen sayang." kata Kendra sambil mengecup kening Bunga, "terima kasih."
Kendra kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Bunga.
"Mas! Berat," kata Bunga.
Kendra kemudian memeluk Bunga dan memutar tubuh mereka berdua. Kini posisi Bunga berada di atas.
"Mas! Lepasin donk."
"Nggak! Aku ingin tidur dalam posisi begini."
"Ah!! Mas... " Bunga tidak sempat melanjutkan ucapannya. Kepalanya ditarik Kendra dan di rebahkan di dadanya.
__ADS_1
Tangan Kendra lalu menari selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Bunga akhirnya pasrah, menyerah pada keinginan suaminya.
Tengah malam, Bunga terjaga dan mendapati Kendra tidak berada di sampingnya. Bunga bangkit lalu menuju kamar mandi. Ia membersihkan diri.
Bunga melangkah keluar kamar mencari Kendra. Ia perginkenruang kerja suaminya. Perlahan ia membuka pintu.
Bunga melihat Kendra di dalam. Pria itu tidak sedang bekerja melainkan sedang khusuk berdoa setelah melaksanakan sholat malam.
Bunga melihat titik bening menetes dari kelopak mata Kendra. Entah apa yang pria itu panjatkan ke Allah hingga membuatnya menangis.
"Mas!" panggil Bunga saat melihat Kendra selesai dengan aktivitasnya.
"Kamu sudah bangun," kata Kendra sambil berdiri dan melihat sajadah.
Bunga masuk dan mendekati suaminya. Ia memeluk Kendra.
"Mas, apa yang mas mohon hingga menangis? Apa ada yang mas khawatirkan?"
Kendra mengelus punggung Bunga.
"mas sudah pasrahkan semua pada Allah. Biarlah Dia yang mengaturnya. Jadi mas sudah tidak khawatir lagi,"
"Apa ini tentang tawaran Gerry?"
"Iya"
"Mas sudah ambil. kepitisan?"
"Iya. Mas akan menerimanya. Karena kalau tidak diterima akibatnyabjuga tidak baik. Diterima pun mungkin juga ada hal yang kurang baik yang akan terjadi. Jadi Mas pasrahkan sama yang di atas saja."
"Mas aku akan membantumu," kata Bunga lalu melepas. pelukannya dari tubuh Kendra.
"Mau kemana?" tanya Kendra.
Bunga berbalik dan tersenyum.
__ADS_1
"Melakukan apa yang mas Kendra lakukan," kata Bunga lalu berbalik dan melangkah menuju kamarnya.
"Terima kasih sayang. Dengan kau selalu mendoakan mas. Mas yakin semua akan bai-baik saja," batin Kendra.