Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Kenangan Bunga dan tragedi Zidan


__ADS_3

"Bunga! Jadi ikut ibu ke pasar?" tanya Bu Reta begitu Bunga sampai di di rumah.


"Jadi Bu. Mas aku mengantar ibu ke pasar dulu ya?" Bunga meminta ijin pada Kendra.


"Ya!" jawab Kendra lalu masuk ke kamar untuk menemani Zidan yang tengah tidur.


Bunga pergi ke pasar bersama ibunya.


Di kamar, Kendra melihat-lihat isi kamar. Ia mendekat pada meja, melihat foto Bunga saat masih gadis terpasang di atas meja. Kendra tersenyum sambil mengelus foto itu.


"Kau begitu cantik." Kendra lalu membuka laci meja. Ia melihat ada album foto di sana. Kendra membuka dan dengan bibir menyunggingkan senyum ia melihat satu persatu foto Bunga. Tiba-tiba ada sesuatu jatuh dari dalam album. Selembar foto jatuh dalam kondisi tengkurap. Ada tulisan di baliknya. Kendra memungut dan membaca tulisan itu.


"My Fist Love. Aku sangat mencintaimu dan selamanya akan mencintaimu. Faldi untuk Bunga dan Bunga hanya akan menjadi milik Faldi."


Tangan Kendra bergetar saat memegang foto itu. Perlahan ia membaliknya dan melihat kemesraan antara Bunga dan Faldi dalam foto itu.



Dengan memakai baju yang warnanya senada, pasangan Bunga dan Faldi sangat serasi. Tidak tampak perbedaan usia mereka yang terpaut lima tahun. Kendra meletakkan foto itu kembali ke dalam album. Ia mencari kira-kira di mana tadi letak foto itu di dalam album. Karena tidak menemukannya, Kendra menaruhnya di sembarang tempat di album itu. Ia lalu membuka laci hendak. mengembalikan album ke tempatnya. Matanya tertuju pada sebuah kotak. Kendra mengambil kotak itu dan membukanya. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk bunga. Ada secarik kertas dalam kotak kalung itu.


Tanda cintamu selalu menemaniku, tapi dimana dirimu. Aku melepaskan kalung ini dan menunggumu memakaikannya lagi. Sudah setahun kau pergi tanpa kabar. Faldi kembalilah. Aku merindukanmu.


Ada kesedihan dan kerinduan dalam tulisan itu. Kendra menaruh kalung dan secarik kertas ke dalam kotaknya lagi. Ia menjadi penasaran dan mencari di dalam laci mungkin masih ada benda lain yang menjadi saksi perjalanan cinta Bunga dan Faldi.


Kendra menemukan kotak ponsel. Ia mengambil dan membukanya. Di dalamnya ia juga menemukan secarik. kertas.


Hanya nomormu yang aku simpan dalam ponsel ini. Hatiku sangat bahagia saat ponsel ini bersuara, karena itu tandanya kamu menghubungiku. Faldi, hampir dua tahun ponsel ini tak lagi bersuara. Aku merindukan bunyi deringnya. Setiap hari aku menunggu berharap ia berdering lagi. Namun ia bagai orang mati yang tidak akan bangun lagi. Faldi.... kamu dimana?

__ADS_1


Hati Kendra sakit bukan karena cemburu. Ia bisa merasakan hari-hari menyedihkan yang dilewati Bunga selama tiga tahun saat Faldi menghilang.


"Kau begitu mencintainya tapi malah tidak bisa bersamanya." Kendra tersenyum pilu. Ia mencoba menyalakan ponsel itu. Ponsel itu masih bisa dioperasikan. Kendra kemudian melihat apa yang ada dalam ponsel itu. Banyak sekali foto Bunga dan Faldi. Panggilan telepon dan pesan mesra mereka masih tersimpan semua tanpa di hapus oleh Bunga.


Bahkan pesan-pesan Bunga yang melukiskan kerinduannya selama di tinggal Faldi tersimpan rapi. Hampir tiap hari Bunga mengirim pesan rindunya namun tidak ada jawaban sama sekali.


"Pasti dia sangat sedih. Apa benar dia sudah melupakan Faldi? Selama tiga tahun ia menunggu dengan penuh harapan. Tidak mungkin ia bisa menghapus perasaannya begitu saja. Bunga.. benarkah kau bahagia hidup sebagai istriku ataukah kebahagiaanmu itu semu. Dan kau memendam segala penderitaan sendirian." gumam Kendra resah. Kendra memasukan semua barang kenangan Bunga ke dalam laci meja. Ia lalu merebahkan tubuhnya di sisi Zidan. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar.


Cinta Bunga sangat besar untuk Faldi . Jika saat itu ia tidak bertemu Gerry, aku yakin ia masih akan menunggu Faldi. Begitupun Faldi. Sampai sekarang ia bergeming, tidak menerima wanita manapun sebagai kekasihnya. Aku yakin hubungannya dengan Riana hanya rekayasa untuk menyadarkanku. Lalu aku? Aku selalu menggaungkan kata cinta saat bersama Bunga. Tapi begitu aku kecewa dengan mudahnya aku berpaling. Dengan mudahnya hatiku tergoda wanita lain. Cintaku yang dangkal ini apakah pantas dibandingkan dengan Faldi. Apakah bisa membuat Bunga bahagia seutuhnya? Bahkan belakangan ia selalu memintaku menikahi Riana. Dia tahu aku menyukai Riana. Jika dia rela berbagi dengan perempuan lain, apakah masih ada rasa di hatinya untukku? Kelembutan, senyum dan pelayanannya bisa jadi hanya wujud dari baktinya sebagai istri yang memang harus menjalankan kewajibannya. Bunga apa yang harus aku lakukan agar bisa membuatmu bahagia sedangkan hatiku saja telah terbagi.


"Sama seperti usaha Bunga untuk menyatukan aku dan Riana, apakah aku harus menyatukannya dengan Faldi" gumam Kendra.


Lamunan Kendra terhenti saat Zidan bangun dan memanggilnya.


"Papa!"


"Eh anak papa sudah bangun." Kendra memiringkan tubuhnya memandang Zidan. Wajah Zidan makin besar makin mirip Faldi. Wajah Zidan tirus seperti Faldi bukan seperti Gerry yang sedikit tampak lebih bulat.


"Papa, mau tulun." ucap Zidan yang masih cedal.


Kendra menurunkan Zidan dari ranjang. Kaki kecil balita itu langsung berlari. Ia memanggil-manggil mamanya.


"Zidan jangan berlarian!" Kendra berteriak memanggil Zidan sambil berjalan mengejarnya. Zidan yang berlari dengan cepat keluar dari rumah ke halaman. Saat keluar pagar ada sepeda motor yang melaju dengan kencang dan brak, tubuh Zidan terpental beberapa meter dan terjatuh menabrak tembok pagar.


"Zidaaannn!!! " teriakan Kendra menggema. Pengendara sepeda motor yang ketakutan, kabur dengan cepat.


Kendra meraih tubuh Zidan yang berlumuran darah. Ia menggendongnya ke dalam. Mengambil kunci mobil dan memasukan Zidan ke dalam mobil. Kendra mengendarai mobilnya ke rumah Pak Amir minta untuk di antar ke rumah sakit. Bersama Pak Amir, Kendra membawa Zidan ke rumah sakit yang letaknya cukup jauh dari kampung Bunga. Sampai di rumah sakit, Zidan langsung mendapat penanganan. Dokter dan perawat tampak hilir mudik sibuk menangani Zidan. Kendra dengan gelisah menunggu ditemani Pak Amir.

__ADS_1


"Sabar nak. Berdoa saja!" Pak Amir menenangkan Kendra.


"Terima kasih pak."


Aku harus menghubungi Tuan Firmandana. Aku sudah berjanji padanya jika akan memberitahu apapun yang berhubungan dengan cucunya.


Kendra lalu mengirim pesan ke pada Tuan Firmandana.


Pada saat yang sama, Tuan Firmandana yang sedang meeting bersama staf dan juga Faldi, terkejut menerima kabar tetang kecelakaan Zidan.


"Meeting hari ini kita akhiri sampai di sini. Kita lanjut lain hari. Ada hal penting yang harus aku urus." kata Tuan Firmandana tiba-tiba menghentikan meeting dan bergegas keluar. Faldi mengejar papanya.


"Ada apa pa? Kenapa papa cemas?"


"Zidan kecelakaan. Mereka sedang berada di kampung halaman Bunga sekarang. Papa akan kesana!"


"Faldi ikut Pa!"


"Bersiaplah. Papa akan menjemput mama. Minta asistenmu menyiapkan jet pribadi keluarga kita." perintah Tuan Firmandana. Beliau lalu menelpon Nyonya Dea agar bersiap berangkat ke. kampung halaman Bunga.


Faldi bergegas ke ruangannya. Ia berpapasan dengan Riana dan memberitahu Riana jika Zidan kecelakaan. Faldi juga mengatakan kalau dirinya akan ke kampung halaman Bunga.


"Boleh saya ikut pak?" tanya Riana.


"Boleh. Bersiaplah!" Riana berlari ruangannya untuk mengambil tas. Kemudian ia kembali ke tempat Faldi. Mereka berdua keluar menuju bandara.


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


**Semoga Zidan selamat 😭😭😭😭


Jangan lupa jejaknya**


__ADS_2