
Keesokan harinya, dengan diantar Kendra, Bunga menemui teman Fadil. Ia tertarik dengan tawaran Fadil untuk bekerja kembali sebagai manager toko. Meski mini market yang ada di kota itu tidak sebesar supermarket yang pernah ia pimpin di Jakarta, tapi itu sudah cukup bagi Bunga untuk biaya hidup dirinya dan anaknya kelak.
Seperti sebelumnya, untuk melindungi Bunga, Kendra mengenalkan dirinya sebagai suami Bunga. Teman Fadil yang bernama Ricko, menerima Bunga sebagai manager di mini marketnya. Ia meminta Bunga untuk datang keesokan harinya ke mini market dan akan diperkenalkan kepada para karyawan.
Sepulang dari pertemuan dengan Ricko, Kendra mengajak Bunga ke toko perhiasan.
"Buat apa kita ke sini Mas?"
"Beli cincin nikah!"
"Apa Mas?"
"Kamu nggak pakai cincin nikah. Nanti orang orang curiga kalau pernikahan kita palsu." kata Kendra.
Bunga diam. Ia memang meninggalkan cicin nikahnya dengan Gerry di kamarnya yang ada di mansion Gerry.
Kendra memilih cincin yang sesuai sebagai cincin nikah.
"Mas yang itu saja. Sederhana tapi manis!"
Kendra meminta pelayanan toko mengambil cincin yang ditunjuk Bunga.
"Sepasang pak?"
"Oh tidak. Untuk istri saya saja. Saya nggak memakai perhiasan dari emas."
"Lha, nanti orang orang nggak percaya kalau kita nikah Mas. Kalau mas Kendra nggak memakai cincin juga?"
"Nggak Bunga. Laki-laki nggak boleh memakai perhiasan yang terbuat dari emas."
"Kami ada koleksi cincin pernikahan yang tidak terbuat dari emas." Pelayanan itu lalu mengeluarkan barang yang ia maksud.
"Bagus Mas. Inj saja."
"Ini dari bahan apa? Benar sama sekali nggak ada ada campuran emas di dalamnya?" Kendra memastikan.
"Dijamin Pak. Kami juga paham bahwa muslim pria dilarang menggunakan perhiasan dari emas. Oleh sebab itu toko kami menyiapkan khusus cicin perkawinan buat pasangan muslim. Ini adari titanium. Meski orang sering menyebutnya emas putih, tapi sama sekali nggak ada unsur emas di dalamnya."
__ADS_1
Kendra dan Bunga mencoba cincin itu di jari manis mereka.
"Baiklah. Kami ambil yang inj."
"Bayar cash pak?"
"Iya cash saja."
"Mas Kendra sekarang lebih suka belanja pakai uang cash ya?"
"Aku takut Gerry melacak rekeningku."
"Emang bisa?"
"Kamu nggak tahu kekuasaan dan kemampuan keluarga Firmandana Bunga."
"Terus kedepannya bagaimana? Apa semua uang tabungan Mas Kendra dicairkan semua?"
"Enggak juga. Nanti aku pikirkan bagaimana caranya agar tidak terlacak. Kau tenang saja."
Setelah membayar belanjaannya. Kendra dan Bunga kembali ke rumah mereka.
Di tempat lain.
Gerry duduk dengan lesu di kursinya. Sudah seminggu Bunga pergi dan pencariannya tidak membuahkan hasil apa-apa. Bunga seolah olah menghilang dari muka bumi. Dan anehnya Kendra juga nggak bisa dilacak.
"Mereka benar benar pergi bersama. Apa mereka berdua sudah merencanakannya sejak awal? Apa Kendra menyimpan perasaan pada Bunga?" berbagai kemungkinan akan Kendra dan Bunga berkecamuk dalam pikiran Gerry.
Gerry kembali ingat, dua hari setelah kepergian Bunga, orang tuanya datang. Mereka sebenarnya datang untuk melihat Faldi yang berhasil ditemukan. Namun mereka marah saat tahu apa yang terjadi antara Faldi, Gerry dan Bunga. Mereka juga tidak menyalahkan Bunga memilih pergi meninggalkan keduanya.
Flashback on
"Kenapa kau jadi tidak rasional Gerry? Kau tahu dengan jelas bahwa Bunga tersesat dengan pikirannya akan dirimu. Kenapa kau tidak meluruskannya?" kata papanya marah.
"Pa, awalnya aku hanya kasihan. Bagaimana hancurnya dia jika tahu pria yang ia cintai nggak diketahui kabarnya. Aku hanya ingin menghiburnya. Tapi lama lama aku mencintainya pa. Dialah semangatku untuk memulai hidup baru lagi. Menjalankan terapi agar bisa berjalan lagi. Aku ingin membahagiakannya pa."
"Dana kau terus membohonginya. Cintamu benar benar buta Bang!" geram Faldi.
__ADS_1
Ny Dea mengelus putra bungsunya itu. Ia sangat kasihan melihatnya.
"Kau tahu bang. Aku juga berjuang untuk bisa sembuh dari luka lukaku. Bahkan aku operasi plastik karena wajahku rusak. Semua agar aku bisa bertemu lagi dengannya Bang. Kau menghancurkan kami Bang. Bukan cuma aku, tapi juga Bunga."
"Maaf. Aku tahu aku salah. Tapi aku tidak bisa melepaskan Bunga. Aku yakin sekarang dia sedang mengandung anakku!"
Plak.
Tamparan Tuan Firmandana mendarat di pipi Gerry.
"Apa yang sudah kau lakukan?!!! Bagaimana Bunga bisa hamil?"
"Kami sudah menikah pa. Secara agama."
"Apa?!! Kau tahu apa akibat dari perbuatanmu ini pada anakmu nanti? Jika kalian tidak memiliki surat nikah. Namamu tidak akan bisa dicantumkan di akta kelahiran anakmu. Seumur umur dia akan dianggap anak yang nggak memiliki ayah. Anak di luar nikah. Kau paham hukum di negara ini nggak sih."
"Kalian menikah diam diam tanpa memberitahu kami? Bukankah kami sudah mengatur pernikahanmu Bang." Ny Dea terisak. Dia sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa keluarganya.
"Kapan kalian menikah?"
"Sehari setelah aku mendengar kabar kalau Faldi ketemu, Pa?"
Mendengar itu Faldi tersenyum miris. Kepalanya terus menggeleng, ia tidak percaya Gerry yang ia kenal sangat menyayangi dirinya mampu berbuat seperti ini. Benarkah cintanya pada Bunga mampu merubah sikapnya.
"Kau tahu adikmu ketemu. Mestinya kau jujur saat itu pada Bunga. Mengapa malah menikahinya?"
"Aku tidak bisa melepasnya pa. Tidak untuk siapapun. Bahkan tidak untuk Faldi."
"Dan apa yang kau dapat sekarang? Kau tidak hanya kehilangan fisiknya, kau juga kehilangan kepercayaannya dan mungkin sekarang ia sangat membencimu."
Faldi sudah tidak ingin mendengarkan semua alasan Gerry, ia bangkit dari duduknya.
"Kau mau kemana?" tanya Tuan Firmandana.
"Aku akan mencari Bunga, pa?"
"Tidak. Tugas mencari Bunga berikan pada yang menyebabkan masalah ini terjadi. Kau ikut papa. Kau harus meneruskan pendidikanmu."
__ADS_1
"Ma, kita balik sekarang! Faldi kemasi barangmu! Dan kau, dalam waktu tiga tahun. Jika kau tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Namamu papa coret dari ahli waris papa!"
Tuan Firmandana lalu keluar menuju mobil yang menunggunya di depan diikuti Ny Dea dan Faldi. Mereka pergi meninggalkan Gerry sendirian.