
Bunga menggeliat. Matanya mengerjab. Ia bangun dan duduk. Bunga menatap ke samping. Dia tidak melihat Kendra.
Bunga meraba kasur di sampingnya
Dingin. Berarti semalam mas Kendra tidak tidur di kamar ini.
Bunga bangkit lalu beranjak ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian ia keluar dan berganti pakaian lalu menuju ke ruang kerja Kendra.
Pelan-pelan Bunga membuka pintu ruang kerja Kendra. Ia melihat suaminya itu berbaring di ranjang kecil yang ada di ruangan itu.
"Mas! Bangun. Sudah mau subuh!" Bunga menggoyang tubuh Kendra dengan perlahan. Kendra menggeliat saat merasakan tidurnya terganggu. Ia membuka mata dan melihat Bunga duduk di sampingnya.
"Bangun, mas! Sudah hampir subuh!"
Kendra mendudukkan tubuhnya.
"Aku tunggu di tempat sholat ya!" kata Bunga. Ia berdiri dan bersiap meninggalkan ruang kerja Kendra.
"Kamu sholat duluan saja!"
"Kenapa mas? Bukankah kita selalu sholat bersama."
"Tidak untuk kali ini." kata Kendra sambil berdiri meninggalkan Bunga.
Dia masih marah. Sebenarnya apa yang membuatnya marah.
Bunga mengikuti kemauan Kendra. Ia melaksanakan sholat subuh sendirian. Setelah sholat, Bunga berjalan menuju dapur.
"Kau sudah bangun Ri? Sudah sholat?" tanya Bunga saat melihat Riana di dapur.
"Sudah mbak. Tadi di kamar." jawab Bunga.
"Kamu sedang apa?"
"Merebus air mbak. Mau bikin teh hangat. Mbak Bunga mau sekalian dibuatin?"
"Boleh." Bunga lalu mengambil cangkir. Ia menakar kopi dan gula. "Sekalian nanti kopi ini kamu kasih air panas ya! Buat mas Kendra."
Bunga lalu menuju kamar Zidan. Melihat putranya itu yang masih terlelap.
"Bu!" sapa baby siter Zidan.
Bunga tersenyum sambil mengangguk. Dia duduk di sisi tempat tidur Zidan. Tiba tiba anak itu membuka matanya.
"Ma!" suara lucunya memanggil Bunga. Bunga mengangkat Zidan dan menggendongnya keluar.
"Bilang apa tadi? Coba panggil lagi. Mama." Bunga berbicara sambil menciumi perut Zidan. Balita itu tertawa.
"Kamu sudah bersiap sepagi ini mas?" tanya Bunga saat masuk ke kamar dan melihat Kendra sudah berpakaian rapi. Bersiap maju ke kantor.
Bunga meletakkan Zidan di atas ranjang lalu mencarikan dasi Kendra. Saat Bunga bermaksud memasangkan dasi Kendra seperti biasanya, Kendra menepis tangan Bunga hingga dasi yang Bunga pegang jatuh. Kendra lalu mengambil dasi yang lain dan memakainya sendiri.
"Mas. Kenapa kamu marah? Apa salahku? Kalau aku ada salah, mas bilang. Jangan diam dan marah-marah. Kita suami istri mas. Kita harus saling terbuka."
__ADS_1
"Terbuka ya?!" kata Kendra sinis. Ia lalu berjalan dan mengambil ponsel Bunga yang tergeletak di nakas. "Ini yang namanya terbuka?" bentak Kendra sambil menunjukan pesan semalam.
Bunga terkejut melihat pesan itu di ponselnya.
"Mas. Ini tidak benar. Ini fitnah. Aku tidak pernah berbalas pesan dengan Faldi. Lagipula ini bukan no Faldi."
"Kau bilang, kau tidak pernah berbalas pesan. Tapi kau hafal nomernya. Dasar pendusta." kata Kendra sinis.
"Bukan begitu. Ini no baru. Aku tidak kenal no ini. Mas, bisa jadi ini ulah seseorang untuk merusak rumah tangga kita."
"Siapa Bunga? Siapa?" teriak Kendra marah. "Siapa yang ingin merusak rumah tangga kita? Kau pikir kita ini siapa?"
"Ya.. mungkin ada yang tidak senang melihat kebahagiaan kita mas. Dan ingin merusaknya. Ingin melihat aku dan mas Kendra pisah."
"Hahahaha." Kendra tertawa miris, " Kau pikir kau siapa? Artis yang jadi rebutan? Kau pikir kau sangat cantik hingga banyak pria yang menginginkan tubuhmu?" kata Kendra kasar sambil mencengkeram dagu Bunga lalu menghempaskannya.
"Mas Kendra kok ngomong begitu?" Suara Bunga bergetar menahan isak tangis. " Mas. Aku sadar diri siapa diriku ini. Tapi mas jangan lupa. Kebersamaan kita melukai beberapa hati yang lain. Apa mereka sudah memaafkan kita atau belum, kita tidak tahu. Aku bilang begini bukan karena aku merasa diriku ini didambakan banyak pria. Aku hanya berusaha berpikir logis. Asal mas Kendra tahu. Aku tulus padamu. Dan selama menjadi istrimu, aku tidak pernah dekat dengan pria mana pun. Mas catat itu!" Bunga berkata dengan jelas meski bergetar. Ia menahan marah dan juga tangis.
Bunga lalu mengambil dan menggendong Zidan keluar kamar meninggalkan Kendra yang tengah termenung mencerna semua perkataan Bunga.
Kendra duduk dengan lesu di ranjang. Ia berpikir keras. Merangkai semua kejadian yang belakangan terjadi. Kendra menghela nafas.
Apa benar yang Bunga katakan. Ini kerjaan orang yang ingin merusak kebahagiaanku dengan memanfaatkan masa lalu Bunga dan Faldi. Siapa orang itu? Gerry ataukah Faldi.
Lama Kendra berpikir. Ia urung berangkat ke kantor pagi pagi sekali. Ia akan berangkat kerja pada jam normal.
Saat jam makan pagi, Kendra keluar dari kamar dan duduk di ruang makan. Seorang gadis sudah ada di sana.
"Kak!" sapa gadis itu padanya.
"Tidak apa-apa, kak!" Riana menunduk tidak berani menatap Kendra.
Suami mbak Bunga menakutkan sekali. Sebenarnya ia tampan meski masih tampan mas Gerry. Tapi wajahnya dingin tanpa senyum. batin Riana.
Bunga datang. Ia segera mengambilkan nasi dan lauk untuk Kendra. Kemudian duduk di sebelah suaminya.
"Mas. Aku mau minta ijin ke dokter anak hari ini. Zidan sudah waktunya imunisasi. Mbak Ira yang akan menemaniku ke dokter" kata Bunga lembut seperti tidak pernah terjadi pertengkaran sebelumnya.
"Jam berapa?"
"Jam sepuluh pagi."
"Aku akan mengantarmu. Jangan berangkat sebelum aku datang."
"Iya!"
Selesai makan Kendra berangkat ke kantor. Bunga mengantarnya sampai ke mobil.
Bunga mencium tangan Kendra saat pria itu akan masuk ke mobil. Kendra mengelus kepala Bunga lalu mengecup keningnya.
"Maafkan sikap mas ya! Mungkin kau benar. Ada orang yang iri dengan kebahagiaan kita. Ke depannya mas akan berusaha untuk tidak terpengaruh. Mas cemburu Bunga!" kata Kendra sambil membelai rambut Bunga.
"Iya mas. Bunga sudah memaafkan mas Kendra. Kalau ada apa-apa, mas jangan mendiamkan Bunga. Bicara sama Bunga."
__ADS_1
Kendra mengangguk. Ia lalu mendekap Bunga erat.
"Sudah. Sana nanti terlambat!"
"Aku bosnya. Nggak papa telat."
Bunga mencubit perut Kendra. "Justru bos harus memberi contoh yang baik!" Kendra tersenyum.
"Sayang! Apa belum ada tanda-tanda?" tanya Kendra sambil meraba perut datar Bunga. Bunga menggeleng.
"Kamu tidak mengonsumsi pil penunda kehamilan kan?"
"Nggak mas. Buat apa."
"Syukurlah. Siapa tahu kamu tidak mau mengandung benihku."
"Tuh kan. Mulai lagi. Suamiku sayang. Berapapun anakmu yang kau ingin aku lahirkan, aku bersedia melahirkannya."
"Serius?!" kata Kendra. Ia menaruh tas kerjanya ke dalam mobil lalu menutup pintu mobil itu. Kendra kemudian mengangkat tubuh Bunga.
"Mas! Kau mau apa?"
"Mengisj rahimmu!" jawab Kendra.
"Mas. Aku tidak bisa. Aku baru dapat!"
"Jangan bohong. Tadi kau sholat subuh."
"Aku dapatnya habis sholat. Mas aku tidak bohong."
Kendra menurunkan tubuh Bunga dengan lesu.
"Puasa donk!"
Bunga mengangguk sambil tersenyum.
"Sana berangkat!" Bunga mendorong tubuh Kendra lembut. Pria itu lalu masuk ke mobil. Bunga melambaikan tangan saat suaminya meninggalkan rumah.
"Ehem!" Riana yang melihat kemesraan kakak sepupunya dengan sang suami, berdehem menggoda Bunga., "Cie.. yang sudah baikan!"
"Hush. Anak kecil tahu apa." balas Bunga sambil tersenyum.
"Tadi kok digendong. Mau dibawa kemana? Mau main dakon ya?" ledek Riana.
"Hish." Bunga merona karena malu. "Kamu mau berangkat? Naik apa? Kenapa tadi nggak bareng sama mas Kendra?"
"Mbak. Aku nasehatin nih ya! Jangan sekali-kali menyuruh perempuan nebeng di mobil suamimu jika mereka hanya berdua. Ingat itu!" kata Riana sok bijak.
Bunga tersenyum. Ia bukannya tidak tahu, ia hanya basa-basi saja. Untung Riana tahu akan hal itu.
......🌹🌹🌹......
Tuh kan Kendra sudah baik lagi.
__ADS_1
Memang kadang rasa cemburu bisa membuat otak konslet hehehe.