
Kendra mengendarai mobilnya dengan cepat. Ia ingin segera bertemu Bunga. Ia sudah merasa siap apapun nanti keputusan Bunga.
Mobil Kendra berhenti dengan mengeluarkan bunyi berdecit. Bunga yang sedang berada di dalam rumah beranjak keluar saat mendengarnya. Ia ingin melihat siapa yang datang. Bunga terpaku memandang sosok yang turun dari dalam mobil.
"Mas Kendra!" desis bibir Bunga.
Kendra yang juga melihat Bunga segera mengayun langkahnya dengan mantap ke arah istrinya itu.
Kendra meraih tubuh Bunga dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Bunga.Istriku!" bisik Kendra di telinga Bunga. "Maaf! Maafkan suamimu yang bodoh ini!" Kendra makin mempererat pelukannya bulir bening penyesalan meluncur dari kelopak matanya membasahi bahu Bunga. Sejenak tubuh Bunga kaku karena syok, namun sejurus kemudian ia membalas pelukan Kendra.
"Aku juga minta maaf mas, telah pergi tanpa ijin." balas Bunga. Air mata Bunga berjatuhan. Lama mereka berpelukan.
"Masuk mas! Nggak enak kalau dilihat tetangga." Masih dengan berangkulan mereka masuk ke rumah dan duduk berdampingan di sofa panjang.
Kendra memandangi Bunga penuh kerinduan. Tangannya membelai wajah Bunga.
"Kamu kurusan." kata Kendra.
"Mas juga. Pasti makannya nggak teratur ya?" Bunga juga menelusuri rahang Kendra dengan jari telunjuknya.
"Bukan hanya tidak teratur. Aku bahkan nggak nafsu makan." Kendra berkata sambil menunduk. Tangannya memainkan tangan Bunga yang ada dalam genggamannya.
"Aku egois ya?Aku jahat. Maafkan aku. Aku sejenak tersesat. Aku begitu sakit hati, marah dan kecewa saat itu. Tapi sesungguhnya bukan padamu. Aku marah pada kelemahanku yang tidak mampu menjagamu. Saat itu aku tidak tahu harus melampiaskan kemarahan dan kekecewaan ini pada siapa. Setiap. kali aku melihatmu, aku teringat kebodohanku yang mudah terpedaya. Dan akhirnya aku melampiaskan semuanya padamu. Maafkan aku. Aku... " Kendra tidak bisa meneruskan ucapannya karena telunjuk Bunga berada di bibirnya.
"Aku mengerti! Jangan diungkit lagi." kata Bunga. Kendra mengecup telunjuk Bunga lalu menarik tubuh Bunga hingga berpindah kepangkuannya.
"Ah!" Bunga kaget.
"Aku merindukamu!" Kendra lalu mencium bibir Bunga dengan lembut. Namun makin lama ciuman mereka makin menuntut Tangan Kendra sudah mulai bergerak mengabsen bagian tubuh Bunga terutama bagian favoritnya.
Riana yang keluar dari dapur, menghentikan langkahnya saat melihat mereka berdua dalam keadaan seperti itu. Ia mundur dan menyandarkan tubuhnya di dinding dapur Riana menaruh tangannya di dadanya yang mulai merasakan sakit. Air mata membasahi pipinya. Melihat Kendra sedang mencumbu Bunga, ia teringat kejadian malam saat Kendra ingin memilikinya. Riana memejamkan matanya. Ia bisa merasakan kembali setiap sentuhan Kendra di tubuhnya.
*Jika saja malam itu aku benar-benar menyerahkan diriku padamu, akankah sekarang kamu jadi milikku. batin Riana.
Tidak. Aku tidak boleh punya pikiran seperti ini. Dia milik mbak Bunga. Aku tidak boleh memikirkan untuk memilikinya. Ooh kenapa perasaan ini tumbuh tanpa aku sadari. Rasa kagum ku telah berubah menjadi cinta*.
Tubuh Riana terasa lemas. Ia merosot dan terduduk di lantai dapur. Riana duduk sambil memeluk kedua lututnya. Ia menyembunyikan wajahnya di antara ke dua lututnya. Ia menangis.
"Mas!" panggil Bunga setelah ciuman mereka berakhir. Kini ia duduk di pangkuan Kendra sambil menyandarkan tubuhnya di dada Kendra.
__ADS_1
"Hmm" jawab Kendra.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
Kendra mengangguk. Tangannya mengelus tubuh Bunga.
"Mas Kendra suka pada Riana ya?"
Bukan hanya Kendra yang terkejut dengan pertanyaan Bunga, tapi Riana yang mendengarnya dari dapur juga mengalami hal yang sama.
"Itu.. itu.. Bunga bukankah aku sudah bilang. Aku tersesat sesaat." jawab Kendra.
"Tapi mas menyukainya kan?"
Kendra diam. Dia bingung harus menjawab apa.
"Aku sempat mengira kalau aku menyukainya. Namun ternyata aku hanya terobsesi padanya saja."
Karena melihat kemolekan tubuhnya. batin Kendra.
Semakin pedih hati Riana mendengar jawaban Kendra.
"Aku bisa memahaminya. Namun jika mas Kendra masih memiliki perasaan pada Riana, aku ikhlas berbagi suami dengannya."
"Jangan aneh-aneh!" dengus Kendra tidak suka.
"Bunga nggak aneh-aneh, mas. Bunga hanya ingin realistis. Coba mas bayangkan, kita sudah setahun menikah namun juga belum memiliki momongan. Siapa tahu dengan Riana, mas Kendra cepat memiliki anak."
"Kenapa kamu berpikir begitu? Pernikahan kita baru juga setahun. Jangan putus asa dulu. Anak adalah rejeki. Apa kata yang di atas. Belum tentu juga aku tidak bisa memiliki anak darimu"
Bunga memainkan tangannya di dada Kendra.
"Mas tahu pasangan selebriti dunia Tom Cruise. Ia lama tidak memiliki anak dengan Nicole Kidman. Namun setelah mereka bercerai dan menikah dengan pasangan barunya, masing-masing bisa punya anak"
"Terus hubungan kisah mereka dengan kita apa?"
"Mungkin dengan Riana, mas bisa cepat punya anak."
"Pikiranmu kacau Bunga. Kita baru saja bertemu dan berkumpul lagi setelah berpisah. Kau bukannya membahas masa depan kita. Malah membahas hal yang nggak penting."
Jleb...
__ADS_1
Kata kata Kendra menghujam ke dalam hati Riana. Sakiiit.
"Ini penting mas. Mas Kendra pikirkan usulku ini ya!"
. "Tidak perlu. Sekarang ataupun nanti jawabanku tetap sama. Tidak. Bagiku istriku hanya kamu. Aku tidak akan berbagi hati." kata Kendra tegas. Ia jadi teringat pertanyaannya pada Riana di taman saat mereka membahas novel yang Riana baca.
Apa Bunga mengetahuinya? Kenapa tiba-tiba ia mengusulkan ide gila semacam ini. Padahal kami baru bertemu. Apa ia sudah lama menyimpan idenya ini?
Riana bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah wastafel yang ada di dapur. Ia menyalakan kran dan mencuci wajahnya untuk menghapus bekas tangisnya.
Bunga mendengar gemericik air dari dapur.
"Riana!" gumam Bunga sambil turun dari pangkuan Kendra.
"Apa? Riana ada di sini?" tanya Kendra.
"Iya Aku lupa. Ia ada di dapur." Bunga lalu duduk dan merapikan pakaian serta rambutnya. "Mas bagaimana kalau dia mendengar percakapan kita?" Bunga berbisik.
Kendra tidak menjawab. Ia hanya diam. Bunga berdiri lalu ke dapur.
"Ri!" Bunga memanggil. Riana yang sedang berdiri memandangi wajahnya di kaca wastafel.
"Iya mbak!" Jawab Riana sambil. membersihkan air diwajahnya dengan tisu.
"Kau... apa kau..?" tanya Bunga ragu-ragu.
Riana berbalik. Ia tersenyum.
"Mbak tenang saja. Iya, Riana tak sengaja mendengar semua percakapan mbak dan kak Kendra. Riana nggak papa mbak. Seperti yang kak Kendra sampaikan, Ri juga tidak setuju dengan usul mbak. Ri punya orang yang Ri suka. Jadi tolong mbak, jangan lanjutkan ide mbak yang nggak masuk akal itu." Riana berjalan mendekat ke Bunga. Ia memeluk Bunga " Kak Kendra sudah datang, Ri sebaiknya kembali ke kantor." Riana melepas pelukannya.
"Siang Kak!" sapa Riana saat ia menjumpai Kendra di ruang tamu.
"Siang. Terima kasih ya Ri." jawab Kendra.
"Santai saja kak. Nikmati waktu kalian berdua. Riana mau kembali ke kantor dulu." Riana lalu mengucapkan salam dan pergi meninggalkan rumah Bunga
Ia melangkah menuju ujung gang rumah Bunga. Sesekali tangannya menyeka airmata yang kembali turun.
*Semoga kau bahagia kak. doa Riana tulus.
...🌹🌹🌹*...
__ADS_1
***Cinta terlarang itu memang menyakitkan.
jangan lupa jejaknya***.