
"Bunga tunggu!"
Kendra mengejar Bunga ke mobil. Bunga mencoba membuka pintu mobil namun masih terkunci.
"Bunga apa maksud ucapanmu tadi?" tanya Kendra saat ia sampai di tempat Bunga.
"Ya aku kan belum. menolak lamaran Mas Kendra."
"Apa itu artinya kamu menerima lamaranku? Apa kamu mau membuat pernikahan kita ini nyata dan bukan pura-pura?" tanya Kendra penuh harap.
Bunga bisa melihat harapan Kendra itu melalui matanya yang bersinar.
Bunga mengangguk pelan. Setelah itu pipinya langsung merona karena malu.
Kendra langsung memeluk Bunga saking gembiranya. Ia mengangkat tubuh Bunga dan memutarnya.
"Mas turunkan. Malu dilihat orang." kata Bunga.
Kendra lalu menurunkan Bunga, kemudian membuka kunci pintu mobil. Mereka lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah sakit.
*
*
*
"Masih bengkak?" tanya Kendra.
"Sudah mendingan setelah aku kompres air hangat."
"Nih!" Kendra menyerahkan alat pompa asi. "Kata dokter kan asinya harus sering dikeluarkan. Kamu bisa memompanya dan menaruhnya di botol botol ini. Biar tidak bengkak lagi."
Bunga mengangguk.
"Bunga, kapan kita akan menikah?"
"Bukankah mas Kendra bilang menunggu masa nifasku berakhir."
"Ah iya, kenapa aku bisa lupa. Apa itu masih lama?"
"Kita kira tiga mingguan lagi."
__ADS_1
"Oh masih lama ya." gumam Kendra. Ia menatap Bunga tajam.
"Mas Kendra kenapa sih?" tanya Bunga heran.
"Aku pria normal Bunga. Dan aku sudah beberapa kali melihat tubuhmu jadi... " Kendra belum sempat melanjutkan ucapannya, Bunga sudah melemparkan bantal sofa ke arahnya.
"Mas Kendra mesum!" teriak Bunga sambil berlari ke kamarnya.
Apa yang salah dengan perkataanku? Kamu bahkan belum mendengarkannya sampai habis sudah bilang aku mesum. Batin Kendra.
Tiga minggu kemudian, setelah masa nifas Bunga habis, Bunga dan Kendra melakukan ijab qobul disaksikan para tetangga di sekitar rumahnya. Kendra beralasan kalau itu adalah ulang tahun perkawinannya yang pertama dan ingin "mbangun nikah" atau mengucap ijab qobul lagi.
Karena "mbangun nikah" bukan hal yang asing bagi warga sekitar, jadi merekapun tidak mencurigai kedua pasangan pengantin itu.
Kendra menggelar acara pernikahannya dengan sederhana namun penuh makna. Kendra menyewa katering terkenal di wilayah itu untuk menyajikan makanan bagi tamunya yang terdiri dari para tetangga dan rekan bisnis nya juga teman teman Bunga di minimarket.
"Sabar dulu lo Nak Kendra, meski istri sudah selesai masa nifas, jangan langsung tancap gas." goda Pak Imam yang disambut tawa para bapak bapak yang lain.
Kendra hanya tersenyum padahal otaknya sudah membayangkan apa yang akan ia lakukan nanti malam bersama Bunga.
"Bener lo nak. Apalagi masih ada bayi yang menyusu ke ibunya. Kasihan nanti anaknya." kata Pak Ibnu, tetangga Kendra yang lain.
"Kenapa kasihan Pak?" tanya Kendra.
"Kalau kata ibu saya dulu, nanti air susu ibunya jadi tidak sehat buat si bayi. Makanya saya selalu puasa selama enam bulan setiap istri saya habis melahirkan." jawab Pak Halim, salah satu tetangga yang juga ikut hadir di situ.
Apa? Puasa selama enam bulan? Lalu apa gunanya menikah sekarang jika aku masih harus menahannya lagi. batin Kendra.
Raut wajah Kendra berubah serius. Ia tampak sedang berpikir.
Perubahan raut wajah Kendra itu membuat bapak bapak semakin gencar menggodanya. Sepertinya mereka sudah sepakat hari ini akan mengerjai pasangan muda yang baru pertama kali punya anak itu. Karena mereka yakin, Kendra belum ada pengalaman sama sekali.
"Benar itu Pak Halim! Dulu ibu mertua saya bahkan memisahkan saya dari istri, ia selalu tidur menemani istri saya karena khawatir saya melakukannya. Ibu mertua saya bilang tidak ingin cucunya kekurangan gizi." kata Pak Imam
Kendra menatap bingung ke arah bapak bapak itu.
"Maksudnya kekurangan gizi?" tanya Kendra polos.
Pak Imam tertawa dalam hati.
"Ya karena harus berbagi dengan ayahnya. Sang ayah lebih kuat dari anaknya, jadi kemungkinan jatah ayah kan lebih banyak. Anaknya tentu saja dapat jatah sedikit. Jadinya si anak nggak sehat." Pak Imam menjelaskan asal asalan.
__ADS_1
Mereka terus bercakap-cakap sampai waktu yang ditentukan untuk acara itu habis.
Malam harinya, Bunga sedang tidur sambil menyusui Zidan.
Kendra masuk kamar Bunga. Kendra berbaring di belakang Bunga dan memeluk wanita yang sekarang sudah sah sebagai istrinya itu
Kendra mencium rambut Bunga. Ia sangat suka wangi rambut Bunga. Lalu ciumannya beralih ke telinganya dan leher Bunga.
Bunga melenguh saat merasakan geli di lehernya yang sedang diciumi Kendra.
"Mas aku masih menyusui Zidan." kata Bunga lembut.
Kendra lalu mengangkat kepala nya dan menaruh di bahu Bunga. Ia mengamati Zidan yang sedang menyusu. Bunga memegang payudaranya yang sedang dihisap Zidan.
Tangan Kendra yang ada di perut Bunga beralih ke dada Bunga. Ia ikut memegang apa yang dipegang Bunga sambil mengelusnya membuat tubuh Bunga meremang.
"Mas.. " setengah mendesah Bunga memanggil Kendra
"Yaa.. " Kendra juga menjawab dengan sedikit mendesah. Tangannya beralih ke dada Bunga yang sebelah kanan. Ia meremasnya. Kendra membuka kancing atas baju Bunga agar ia bisa mengeluarkan benda kenyal itu. Setelah itu ia mengarahkan kepalanya dan hendak melakukan seperti apa yang dilakukan Zidan. Bunga memejamkan matanya. Nafasnya sudah sangat tidak teratur.
Tiba tiba Kendra menghentikan aktivitasnya itu. Ia ingat perkataan bapak bapak tadi siang. Kendra lalu menjauhkan wajahnya dari dada Bunga. Bahkan ia menjauhkan dirinya dari tubuh Bunga. Kendra lalu bangkit meninggalkan kamar itu.
Bunga bingung dengan sikap Kendra.
Apa mas Kendra tidak mau menyentuhku? batin Bunga sedih.
Sementara itu Kendra kembali ke kamar lamanya. Ia tidur terlentang sambil memikirkan omongan bapak bapak tadi.
Jika ini untuk kebaikan Zidan, aku rela menunggu sampai enam bulan. Asal anak itu sehat dan tumbuh dengan baik. Masih banyak waktu. Aku tidak mau karena keegoisanku berdampak buruk bagi kesehatan dan tumbuh kembang Zidan. batin Kendra.
Lama kelamaan Kendra terlelap.
Setelah selesai menyusui Zidan, Bunga keluar dari kamarnya mencari Kendra.
Ia tertegun saat melihat Kendra yang tengah tidur di dalam kamar yang selama ini ia gunakan.
Kenapa mas? Kenapa kau menjauh dariku. Bukankah ini malam yang kita tunggu bersama.
Bunga lalu kembali ke kamarnya dengan sedih. Impian akan indahnya malam ini bersama Kendra hilang. Ia kemudian merebahkan diri di samping Zidan dan tidur.
(Bunga jangan salahkan Kendra, salahkan keusilan bapak bapak tetanggamu itu! Dan Mas Kendra, kenapa langsung percaya sih...googling aja Mas. Tanya sama mbah google)
__ADS_1
...💐💐💐💐...
Tinggalin jejak ya readersku..... nuhun. 😍😍😍😍