Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Canggung.


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Kendra memasuki pelataran rumah yang luas. Ciri rumah di wilayah pedesaan, memiliki halaman yang luas.


"Ini rumah teman mas?"


"Ya. Rumah peninggalan orang tuanya."


Kendra dan Bunga turun dari mobil. Dari dalam rumah keluar dua orang pria dan wanita.


"Hai Ken, apa kabar?" Si Pria langsung memeluk Kendra. Mereka berpelukan beberapa saat.


"Ternyata kau lebih tampan dari foto foto yang ku lihat di akun sosialmu."


"Ya jelaslah. Bagaimanapun yang asli selalu lebih baik." jawab Kendra narsis.


Bunga ikutan tersenyum. Ternyata Kendra yang selama ini selalu serius itu bisa juga bercanda.


"Oh ya kenalin. Ini istriku, Tania!"


Wanita yang disebutkan teman Kendra menjulurkan tangannya, "Tania."


"Kendra!"


"Ini pasti Bunga ya?"


"Oh sampai lupa, Bunga kenalin ini temanku, Fadil."


Deh. Jantung Bunga bergetar. Nama pria ini mengingatkannya pada Faldi.


"Fadil."


"Bunga."


"Mas, ajak temannya masuk. Masa tamu disambut di luar?" kata Tania.


Fadil tertawa kemudian mengajak Kendra dan Bunga masuk.


***


"Jadi kalian berdua bisa tinggal di sini. Rumah ini kosong, meski begitu tetap dirawat karena ada yang menjaganya. Namanya Pak Amin. Dia tinggal di kampung ini juga. Biasanya akan ke rumah ini sore hari. Nanti aku kenalkan."


"Terimakasih, Dil. Aku sangat menghargai pertolonganmu ini."

__ADS_1


"Rencanamu selanjutnya apa, Ken?"


"Aku akan bukan usaha. Tapi sebelumnya mau survei dulu daerah sekitar sini. Kira kira usaha apa yang cocok."


"Kalau Bunga? Kudengar dari Ken kau pernah menjabat manager di sebuah supermarket. Kalau kau mau, aku bisa mengenalkanmu pada temanku. Kebetulan dia sedang mencari seorang manager untuk menghandle Minimal marketnya. Karena dia ingin fokus di supermarketnya yang ada di Surabaya."


"Boleh juga Mas."


"Ya sudah. Kalian istirahat saja dulu. Kalian biasa menggunakan kamar utama."


"Tapi kami... " Bunga ingin bilang kalau mereka tidak bisa tinggal sekamar.


"Iya Dil. Makasih." Kendra menyela ucapan Bunga.


"Aku tinggal dulu. Nanti sore akau jenguk lagi."


"Maaf Bunga. Aku bilang ke Fadil kalau kamu istriku."


"Bagaimana bisa mas?"


"Bunga, ini di kampung. Mereka tidak akan membiarkan kita tinggal bersama tanpa ikatan yang jelas. Lagipula kamu sedang hamil. Pasti akan jadi pergunjingan nanti. Maaf, aku hanya berusaha melindungimu."


"Tapi kita tidak sekamar kan mas?"


"Mas!"


"Ya?!"


"Nanti sore, bisa antar aku belanja pakaian. Kau lihat aku nggak membawa banyak pakaian."


"Ya, sekalian kita belanja keperluan kita sehari hari. Sekarang istirahatlah.


Sore hari Kendra dan Bunga pergi ke pusat kota. mereka belanja pakaian dan kebutuhan hidup lainnya.


"Mas sekalian beli makanan buat makan malam ya!"


"Iya. Kamu mau makan apa?"


"Kita lihat nanti. Aku belum kepikiran pengen makan apa.


Mereka lalau berkeliling kota. Saat melewati sebuah kedai yang bertuliskan "Kedai Mie", Bunga minta berhenti.

__ADS_1


"Kamu mau makan mie? Tapi mie lebih enakan dimakan langsung. Nggak bisa dibungkus buat makan malam, Bunga!"


"Aku nggak mau mbungkus mas. Aku mau makan sekarang. Ayo mas, aku sudah pengen banget."


"Ah iya. Aku lupa kamu tengah hamil."


Kendra lalu menepikan mobilnya. Mereka turun dan berjalan ke arah kedai mie.


"Wah semua berbahan mie... " decak Bunga.


"Duduklah. Kamu mau pesan apa?"


"Mie seafood saja mas, tapi pedas. Bisa nggak kalau dibuat pedas?" tanya Bunga penuh harap.


Kendra menatap mata Bunga. Mata bening yang penuh harap. Kendra jadi ingat kucing. Mata Bunga mirip dengan mata kucing saat ia memelas. Kendra tersenyum


"Kok! senyum senyum? Memang ada yang salah dengan wajahku ya, mas?" Bunga berkata sambil mengusap wajahnya takut ada noda atau kotoran apa sehingga Kendra jadi senyum saat menatapnya.


"Enggak ada. Wajahmu baik-baik saja. Aku hanya ingat kucing di rumah. Matanya mirip dengan matamu." Kendra kembali tersenyum.


"Mas sering seringlah senyum. Karena mas Kendra ganteng kalau senyum." puji Bunga tulus.


Deh.


Jantung Kendra berdebar mendapat pujian dari Bunga.


Senyum dibibirnya langsung hilang.


"Kok dihapus senyumnya? Coba senyum lagi." Bunga mengulurkan tangannya ke ujung bibir Kendra dan menarik kedua ujung bibir itu sehingga membentuk senyuman.


Kendra memegang tangan Bunga, mereka saling menatap. Sekejab kemudian Bunga menarik tangannya dan mengalihkan pandangannya.


"Mas sudah ditulis belum pesanannya?"


"Oh. Iya ni aku tulis."


Setelah menulis pesanan, Kendra menyerahkan kertas itu ke pelayan kedai.


Mereka tidak saling bicara saat menunggu makanan datang. Karena kejadian tadi, ada kecanggungan diantara keduanya, terutama Kendra.


Jantungnya menjadi lebih cepat detaknya tiap kali ia bersitatap dengan Bunga. Dan itu membuatnya sangat tersiksa mengingat Bunga adalah istri dari mantan tuan mudanya.

__ADS_1


Ironis sekali hidup ini. Faldi yang pertama kali menemukan Bunga dan membuatnya jatuh cinta namun Gerry yang memetik hasilnya. Menikahi Bunga bahkan membuat Bunga hamil. Dan sekarang, aku yang menemani hari hari Bunga. Meski statusku hanya sebagai temannya. Batin Kendra.


Kendra menghela nafas, mengusir kepenatan dan kegelisahan di hatinya.


__ADS_2