Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Interogasi Gerry


__ADS_3

Bunga sedang bermain dengan Zidan saat mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya. Bunga menoleh dan melihat ternyata Faldi yang datang.


"Papa datang." Zidane berlari meninggalkan Bunga dan menyongsong Faldi ke depan.


"Tumben pulang agak siang." Bunga mencium tangan Faldi lalu mengambil tasnya dan membawa ke dalam.


"Tunggu. Kemarikan tasku." Faldi mengulurkan tangannya mengambil tasnya ya ditenteng Bunga. Ia lalu membuka tas itu dan mengambil sesuatu di dalamnya.


"Nih." Faldi menyodorkan benda itu pada Bunga.


"Ini apa?" Bunga menerima benda itu dan memperhatikannya, "Undangan pernikahan? Mas Kendra. Dia akan menikah?"


Faldi mengangguk. "Dia mengundang kita untuk datang."


Bunga terdiam menatap undangan pernikahan yang ada di tangannya.


"Apa kita harus datang?" gumamnya lirih.


"Kalau kau nggak mau aku nggak akan memaksa." Faldi melirik Bunga, "Tapi beri aku alasan kenapa kau nggak mau?"


Bunga melangkah dan duduk di dekat Faldi.


"Karena aku merasa bersalah." jawab Bunga sambil menaruh kepalanya di bahu Faldi. "Aku adalah wanita dari masa lalunya. Sebaiknya aku dan istrinya tidak usah bertemu. Aku tidak mau membayangi kehidupan mereka. Lebih baik tidak usah saling kenal."


"Menurutmu begitu?"


Bunga mengangguk.


"Nggak ada yang lain?"


"Suamiku tidak percaya padaku?" Bunga mengangkat kepalanya, "Apa perlu aku membuktikannya?"


"Bagaimana caramu membuktikannya?" Faldi menantang Bunga.


"Dengan ini." Bunga menunjukkan sesuatu kepada Faldi. Faldi mengambil benda itu dari tangan Bunga.


"Ini apa?" Faldi bingung.


"Itu namanya testpack." Bunga menjawab sambil menahan senyum geli.


"Testpack. Untuk apa?"


Bunga tidak menjawab. Ia memberikan bungkus testpack pada Faldi, "Baca saja jika ingin tahu fungsinya."


Faldi menatap Bunga heran sambil mengambil bungkus test pack dari tangan Bunga. Ia membacanya. Lalu melihat testpack yang tadi Bunga berikan padanya.


"Ini.. ini.. maksudnya ini?" Faldi memandang Bunga dengan penuh pertanyaan.


Bunga mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


Faldi langsung memeluk Bunga erat. Bunga membalasnya.


"Papa aku juga mau dipeluk." Zidan yang mereka lupakan menyela.


Faldi tertawa. Ia melepas pelukan pada Bunga dan meraih Zidan.


"Zidan akan punya adik sayang." kata Faldi bahagia. Ia berdiri dan mengangkat tubuh Zidan lalu memutarnya di udara.


"Horeee... Zidan punya adik." Zidan berseru kegirangan. Ia tertawa senang karena diputar oleh Faldi. Serasa dirinya terbang.


"Pa, sudah. Nanti Zidan nya pusing." Bunga menghentikan Faldi dengan memegang lengannya. Faldi langsung menoleh mendengar Bunga memanggilnya pa.


"Tadi kamu memanggilku apa?" Faldi menurunkan Zidan. Pandangannya tertuju pada Bunga.


"Papa.. kan bentar lagi kita punya anak." Bunga tersipu.


Faldi kembali memeluknya. Ia sangat bersyukur akhirnya buah cinta mereka hadir juga.


"Jadi bagaimana?" tanya Bunga, "Sudah percaya." Faldi mengangguk.


"Aku akan datang sendiri saja. Nggak enak jika nggak datang. Martin dan Riana juga diundang. Dan Martin bilang, Riana juga nggak bisa ikut. Anaknya masih terlalu kecil buat diajak bepergian jauh."


"Ya. Pergilah bareng Martin. Sampaikan doaku buat kebahagiaan mereka."


"Ya. Aku akan bilang kalau kau sedang hamil muda. Jadi tidak bisa ke mana-mana." Ada rasa bangga dalam hati Faldi saat mengucapkan kalimat itu. Ia ingat Bunga dan Kendra meski hampir dua tahun menikah tapi tidak memiliki anak.


Seminggu kemudian, Bunga dan Riana mengantar suami mereka ke bandara. Faldi dan Martin akan bertolak ke Jepang untuk menghadiri pernikahan Kendra.


"Iya sayang. Jangan khawatir." Bunga menjawab lalu memeluk Faldi. Faldi mengecup keningnya.


Bunga dan Riana melambaikan tangan saat suami mereka melakukan check-in.


"Ayo mbak. Kita pulang." ajak Riana. Dia mendorong stroler bayinya. "Nginap di rumah kan?"


"Iya. Aku sudah janji. pada suamiku kan."


"Akhirnya kita sampai juga." ucap Martin saat pesawat mereka mendarat.


Mereka turun. Saat akan keluar dari bandara, mata Faldi melihat kakaknya.


"Martin itu bang Gerry. Sepertinya ia juga diundang." Faldi menunjuk ke arah Gerry. Ia lalu mengambil ponsel dan menelepon Gerry. Saat telpon tersambung, Faldi mengatakan kalau dia melihat Gerry di bandara. Gerry memutar pandangannya sampai akhirnya ia melihat Faldi yang sedang melambaikan tangan sambil berjalan ke arahnya.


"Apa kabar Bang?" Faldi memeluk Gerry. Di susul Martin.


"Baik. Hanya berdua?"


"Iya, bang. Anak kami masih terlalu kecil untuk diajak bepergian jauh." Martin menjelaskan.


"Kalau kamu?"

__ADS_1


"Istriku sedang hamil muda. Lebih baik tidak bepergian dulu." jawab Faldi.


"Selamat. Kakak senang mendengarnya. Ayo. Kendra pasti sudah menunggu kita."


Tanpa mereka duga orang yang barusan di sebut Gerry datang menjemput.


"Selamat datang." Kendra mengangetkan tiga pria itu. Mereka berpelukan.


"Selamat Bang." kata Faldi sambil memeluk Kendra.


"Pernikahannya baru besok, kamu memberi selamat nya sekarang." kata Kendra tertawa. Faldi bisa melihat kebahagiaan di wajah Kendra. Ia bersyukur akan hal itu.


"Kok hanya bertiga? Mana istri-istri kalian."


"Istriku nggak bisa meninggalkan anak kami masih kecil kak." jawab Martin.


"Bunga, ia sedang hamil muda." Faldi menjawab dengan ragu. Ia takut membuat Kendra sakit hati.


Kendra tersenyum, "Selamat! Do'akan semoga aku nanti juga cepat dikasih momongan." balas Kendra tulus.


Faldi berbinar. Ia bahagia Kendra bisa menerima kehamilan Bunga. Kini ia benar-benar yakin kalau Kendra sudah bisa melanjutkan hidupnya tanpa bayang bayang Bunga.


"Ayo, aku traktir makan dulu sebelum aku antar ke hotel. Lama kita tidak berkumpul." ajak Kendra yang langsung di setujui oleh ketiganya.


"Cerita donk Bang. Bagaimana bisa bertemu calon istrimu." kata Faldi.


"Mungkin ini yang namanya jodoh Fal. Tanpa aku cari, dia datang sendiri. Kami bertemu saat perusahaanku bekerjasama dengan perusahaannya. Ya karena kerjasama itu, kami sering bertemu. Lama-lama terbiasa lalu tumbuhlah cinta." jawab Kendra yang mendapat seruan godaan baik dari Faldi maupun Martin. Maklum, mereka berdua usianya lebih muda dari Kendra dan Gerry. Jadi tingkahnya juga beda.


"Dia orang Indonesia?" tanya Gerry.


"Ya. Tapi keluarganya tinggal di sini. Mereka bekerja di kedutaan Indonesia di sini."


"Masih muda?"


"Lima tahun di bawahku." jawab Kendra lagi.


"Apanya yang membuatmu tertarik?" kembali Gerry bertanya seperti sedang menginterogasi Kendra. Ya, Gerry tidak percaya begitu saja Kendra bisa secepat itu move on dari Bunga. Dirinya saja hingga sekarang masih belum bisa sepenuhnya lepas dari bayang-bayang Bunga.


"Dia mandiri, sabar dan sederhana." jawab Kendra. Ada mendung melintas di wajah Kendra. Ia ingat kalau dulu dirinya jatuh cinta pada Bunga juga karena tiga sifat itu. Selain kecantikan Bunga juga.


Gerry mengulas senyum tipis. Ia yakin sekarang, Kendra sama dengan dirinya. Mencari sosok Bunga pada wanita lain. Gerry menepuk bahu Kendra, "Semoga kau bahagia."


Kendra memandangnya. Mereka berdua saling menatap penuh arti dan sama-sama tersenyum dengan senyum yang sulit diartikan.


Faldi dan Martin sedari tadi hanya mendengarkan mereka berdua sambil. menikmati hidangannya.


"Kalian ngobrol terus. Lihatlah! Makanan kami sudah tandas." kata Martin.


"Mm." sambung Faldi sambil menunjuk piringnya juga.

__ADS_1


Ia sadar apa tujuan Gerry menginterogasi Kendra. Ia sengaja menyibukkan diri dengan makan agar kedua orang itu tidak canggung. Faldi tahu, Kendra melihat Bunga dalam diri calon istrinya.


...💕💕💕...


__ADS_2