
"Taksi!"panggil Kendra pada taksi yang lewat. Ia membuka pintu dan mempersilahkan Bunga masuk.
"Terima kasih." ucap Bunga sebelum ia masuk ke dalam taksi. Kendra ikut masuk dan duduk di sebelah Bunga. Ia berbicara dengan bahasa Jepang pada sopir taksi.
Bunga memijit kening dan pelipisnya.
"Anda tidak apa-apa?"
"Tidak. Hanya sedikit pusing." jawab Bunga masih dengan memijit pelipisnya.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Kendra khawatir.
Bunga menatap Kendra, "Mm.. bolehkah saya pinjam pangkuan tuan untuk merebahkan kepala saya sebentar?"
Kendra menelan ludah. Hatinya bergetar hebat. Ia mengangguk pelan.
Bunga merebahkan tubuhnya dan menaruh kepalanya di pangkuan Kendra.
"Bisa mampir apotek!" pinta Bunga. Kendra lalu memberitahu sopir taksi untuk berhenti saat melihat apotek. Bunga memejamkan matanya. Tanpa sadar, tangan Kendra mengelus rambut Bunga.
Tidak apa-apa kalau kau tidak mau mengaku mas. Aku akan membuatmu tidak bisa lagi lari dariku. Aku tahu niatmu menyatukan aku dan Faldi. Tapi aku istrimu mas. Aku bukan barang yang bisa kau pindahtangankan sesukamu meski alasanmu adalah demi kebahagiaanku. Kebahagiaanku adalah bersamamu. batin Bunga.
Taksi berhenti di sebuah apotek.
"Nyonya, kita sudah sampai di apotek." Kendra membangunkan Bunga.
Bunga yang memang tidak tidur itu segera bangun. Ia membuka pintu dan hendak keluar.
" Tunggu! Biar saya yang beli. Obat apa yang anda butuhkan?" tanya Kendra menawarkan bantuan.
"Tidak tuan. Ini obat khusus wanita. Saya malu jika tuan yang membelinya. Tuan tunggu saja di sini. Saya akan segera kembali." Bunga keluar dari taksi dan melangkah ke dalam apotek. Beberapa menit kemudian ia keluar dan kembali masuk ke dalam taksi.
Kendra kemudian menyuruh sopir taksi itu untuk jalan.
Mereka sampai di hotel. Kendra membayar ongkos taksi
"Nyonya silahkan masuk!" kata Kendra pada Bunga.
"Tuan tidak ingin mengantar saya ke dalam?" tanya Bunga. Kendra diam. "Temani saya minum di resto sebentar saja tuan!" pinta Bunga.
"Baiklah. Mari!" Beriringan mereka menuju resto hotel. Saat masuk, Bunga melirik etalase yang ada di dekat pintu.
"Anda mau makan apa?" tanya Kendra sambil melihat buku menu.
"Saya masih kenyang. Saya hanya ingin minuman dan camilan saja. Apa saja yang penting halal dan hangat." jawab Bunga.
Kendra segera memesan minuman kesukaan Bunga. Dan ia juga memesan minuman untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Setalah pesanan mereka datang, Bunga melihat minuman untuknya sambil tersenyum dalam hati.
Kau masih ingat minuman kesukaanku mas.
"Terimakasih telah memesankan minuman kesukaan saya. Kenapa Anda hanya minum jus?"
"Saya suka jus." jawab Kendra.
"Tuan. Bisakah tuan menolong saya sebentar!" pinta Bunga pada Kendra.
"Iya?"
"Tadi saat masuk, saya lihat di dekat pintu ada etalase. Apa benda di dalam etalase itu di jual? Jika iya, saya ingin membeli mainan yang berbentuk bunga sakura. Tadi ada di sana."
"Baiklah. Saya akan membelinya untuk anda." Kendra berdiri dan berjalan menuju pintu resto. Bunga menggunakan kesempatan itu untuk memasukan sesuatu ke dalam minuman Kendra. Kendra berbicara dengan pegawai resto. Pegawai itu lalu membuka pintu etalase dan mengambil miniatur tanaman bunga sakura. Kendra membelinya kemudian ia kembali ke meja tempat Bunga berada dan menyerahkan miniatur itu kepada Bunga.
"Ini indah. Berapa? Biar saya ganti uang anda!" kata Bunga sambil membuka tasnya.
"Tidak perlu anggap itu kenangan dari saya." Kendra berkata sambil menegak minumannya. Bunga memperhatikan Kendra.
"Tuan sudah lama tinggal di negara ini?" Bunga mencoba berbasa basi sambil. menunggu efek dari obat yang Kendra minum.
"Cukup lama. Sejak sepupu saya meninggal, saya menggantikannya mengurus perusahaan." jawab Kendra. Ia kembali meneguk jus yang ada di depannya karena mulai merasakan tubuhnya memanas. Wajahnya memerah dan ia sedikit gelisah.
"Tuan, saya sedikit pusing. Bisa antar saya sampai ke kamar!" pinta Bunga sambil memegang pelipisnya.
Kendra kaget. Ia segera menarik tangannya lagi. Bunga bangun dan langsung memeluk Kendra.
"Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku lagi!" desis Bunga. Ia sengaja menempelkan tubuhnya dengan kuat ke tubuh Kendra.
Nafas Kendra memburu, ia berusaha keras menekan gairahnya yang ingin meledak butuh pelampiasan.
"Panas!" Bunga mendesis lalu membuka bajunya."Kenapa panas sekali!" tangan Bunga terus melucuti pakaiannya.
Kendra memejamkan matanya.
Kenapa Bunga bersikap seperti ini. Apakah dia di bawah pengaruh obat. Aku juga sepertinya telah minum obat. Siapa yang mengerjai kami. batin Kendra.
"Tuan.. tolong saya!" Bunga menarik tangan Kendra. Kendra masih memejamkan matanya. Bunga bangkit dan duduk di pangkuan Kendra. Ia mencium bibir Kendra dengan buas. Kendra melenguh. Ia tidak bisa lagi menahannya. Kendra mendekap dan membalas ciuman Bunga. Tangannya menyusuri setiap inci tubuh Bunga yang sudah polos itu.
Kendra lalu mengangkat Bunga, membaringkannya di ranjang dan menindihnya. Bibirnya terus menciumi wajah Bunga, lalu turun ke lehernya dan ke dada Bunga membuat Bunga mengeluarkan desahan penuh kenikmatan. Bunga menarik kaos Kendra. Mereka lalu bergumul melepaskan kerinduan.
Bunga terlelap dalam dekapan Kendra. Kendra sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.
Apa yang sudah aku lakukan. Bagaimana aku akan menghadapi Bunga setelah ini. Jika aku lari, dia akan mengutukku sebagai pria yang tidak bertanggung jawab. Haruskah aku mengaku jika aku sebenarnya adalah Kendra, suaminya.
Kendra masih terus berpikir apa yang harus ia lakukan. Saat ia sibuk berpikir, Bunga bangun. Bunga pura-pura terkejut mendapati tubuhnya polos dan berada dalam pelukan Arcandra. Ia menarik tubuhnya dan memekik.
__ADS_1
"Apa yang telah kita lakukan, tuan? Kenapa kita bisa di kamar berdua? Dan kenapa saya tidak memakai sehelai benangpun? Dan anda juga?" Bunga menutup wajahnya. Ia menangis.
"Nyonya maaf. Sepertinya kita dijebak. Maaf. Saya melakukannya tanpa sadar. Saya ada dibawah pengaruh obat. Dan anda juga. Jadi kita berdua sudah melakukannya tanpa sadar."
"Lalu bagaimana? Apa anda akan menganggap hal ini tidak pernah terjadi dan pergi begitu saja?"
"Saya.. saya.."
"Anda tidak akan bertanggung jawab? Saya memang sudah bukan gadis lagi. Tapi bagaimana jika hubungan kita ini
membuahkan hasil? Bagaimana kalau saya hamil?" Bunga kembali tergugu.
Kendra semakin bingung.
"Anda harus menikahi saya!" kata Bunga disela isaknya.
Kendra diam. Ia melihat Bunga yang sedang menangis.
"Benarkah anda ingin saya bertanggung jawab?" tanya Kendra. Bunga mengangguk.
"Baiklah! Sekarang lihat saya!"
Bunga membuka tangan yang menutupi wajahnya. Ia memandang ke arah Kendra.
Perlahan Kendra mengangkat tangannya dan menarik rambut palsu yang ia kenakan. Kini Bunga bisa melihat rambut cepak khas Kendra. Kendra ingin melepas kumis dan jambangnya namun dihentikan oleh Bunga.
"Biar aku yang melakukannya!" Dengan lembut Bunga menarik kumis dan jambang palsu Kendra. Kini ia bisa melihat wajah yang selama lima tahun ini ia rindukan.
Bunga menangis. Kali ini tangisnya bukan pura-pura lagi. Ia benar-benar menangis karena bahagia. Ia menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Kendra. Tangannya memukul bahu Kendra.
"Kau jahat! Kau tega!Kau suami paling jahat di dunia." racau Bunga sambil. menangis.
Kendra mendekap erat Bunga, "Maaf!"
"Kau pikir dengan mati, kau bisa membuatku kembali pada Faldi? Mas, hatiku sudah aku berikan padamu. Apa melupakanmu kau pikir mudah? Aku sudah memberikan tubuhku. Tiap malam kita selalu bersama. Kau minta aku melupakanmu begitu saja dan menerima pria lain sebagai penggantimu? Apa kau sanggup menerima wanita lain menggantikan aku?" Bunga masih mengomel dalam tangisnya sambil. memeluk dan memukuli Kendra.
"Maaf. Aku minta maaf. Aku kira kamu masih belum bisa lepas dari masa lalumu. Aku tidak mau membuatmu tersiksa karena terpaksa mempertahankan pernikahan kita."
"Semula aku juga berpikir begitu. Tapi setelah kepergianmu, aku baru sadar. Bahwa aku tidak lagi bisa kembali kepada Faldi. Aku sayang dia, tapi tidak untuk jadi suami. Ia melamarku, tapi entah mengapa aku tidak bisa menerimanya. Ada keraguan di hatiku. Mas.. aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." Bunga menciumi wajah Kendra. Kendra kembali menyerangnya dan mereka melepaskan kerinduannya lagi untuk kedua kalinya.
Di tempatnya berada, Faldi merasakan nyeri di hatinya. Ia membayangkan apa yang akan Bunga lakukan untuk memaksa Kendra membuka kedoknya. Meski sedih, ada perasaan lega dihati Faldi.
"Dor! Melamun saja kerjaan Om. Awas kesambet!" Lisa mengagetkan Faldi dengan senyum cantiknya. Faldi membalas senyuman Lisa dan mengacak rambut gadis itu. Keceriaan dan kecentilan Lisa perlahan membuat rasa sedihnya berkurang.
...🌹🌹🌹...
Semoga terhibur.
__ADS_1