Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Akting


__ADS_3

Sudah seminggu Bunga dan Faldi berumah tangga. Namun kondisinya masih saja sama. Bunga dengan gengsinya dan Faldi dengan kesabarannya.


Setiap pagi Bunga akan sengaja keluar kamar agak siang untuk menghindari bertemu dengan Faldi. Bukan benci, tapi ia selalu canggung apalagi Faldi mendadak jadi pendiam dan cuek, seolah menganggap Bunga nggak ada.


Pagi ini pun sama. Bunga justru berlama lama di atas kasur. Hari minggu Faldi pasti tidak kerja. Jadi Bunga hanya akan keluar jika ada perlu saja. Bunga berada di dalam kamarnya sambil membaca novel online di ponselnya. Persis emak emak cantik yang lagi baca novel 😄😄😄.


Keasikan Bunga terusik. oleh suara anak-anak yang riuh bermain di taman rumahnya.


Sejak kapan banyak anak anak di komplek ini? batin Bunga.


Ia membuka tirai jendela dan mengintip. keluar. Bunga melihat Zidan beain dengan Marina dan tiga anak lainnya.


Siapa mereka. Apa Riana datang ke sini.


Bunga beranjak dari tempatnya. Ia membuka pintu kmar dan keluar.


"Sayank. Ke sini!" Faldi tersenyum. ke arahnya sambil melambaikan tangan.


Sayank? Apakah dia memanggilku. batin Bunga bingung.


Bunga menoleh ke kanan dan kirinya. Tidak ada orang lain selain dirinya. Faldi tersenyum. melihat tidur tingkah Bunga. Ia tahu pasti Bunga bingung dengan sikap mesranya yang mendadak.


"Dia istrimu Fal?" seorang wanita berhijab datang dan mendekati Faldi.


Cantiknya. batin Bunga.


"Iya. Namanya Bunga." jawab Faldi. "Sayank. Ayo. ke sini. Kenalin nih sepupu aku. Ia baru pulang dari Dubai."


Martin yang juga berada si tempat itu merasa lucu dengan pasangan baru itu. Ia tahu bagaimana hubungan mereka sebenarnya karena dirinya menjadi tempat curhat Faldi.


Di panggil sayank untuk kedua kalinya, Bunga menjadi yakin jika dirinyalah yang Faldi maksud.


Bunga mendekat ke Faldi. Tangan Faldi langsung melingkar di pinggang Bunga.


Mumpung ada kesempatan. Batin Faldi


"Kak Asni, kenalkan ini Bunga. Istri kesayanganku." ih lebaynya cara si Faldi memperkenalkan Bunga.


Bunga gugup. Bukan hanya karena Asni yang sangat cantik dan anggun tapi juga karena tangan yang ada di pinggangnya itu nggak mau diam. Mengelus elus pinggang rampingnya.


"Asni!" wanita itu mengulurkan tanganya.

__ADS_1


"Bunga." suara Bunga bergetar membuat Faldi mengulum senyum.


"Mama!" salah satu dari ketiga anak yang tadi Bunga lihat, tiba dan memeluk Asni.


"Iya sayank. Kenapa?" Asni berjongkok mensejajarkan dirinya dengan anak itu. Pria kecil berwajah Arab itu berbisik ke telinga Asni. Wanita iyi tersenyum.


"Maaf, dimana ya kamar kecilnya?"


"Oh.. mari kuantar!" Bunga lega karena punya alasan melepaskan diri dari tangan usil Faldi


Bunga membawa Asni dan anaknya masuk. ke dalam rumah.


"Silahkan!" Bunga menyilahkan Asni menggunakan kamar kecil yang ada di ruang tengah dekat dapur.


"Masuklah nak. Mama tunggu di sini."


Asni menunggu di ruang tengah dengan di temani Bunga.


"Kalian baru punya anak satu ya? Anakmu sangat mirip Faldi." Asni membuka percakapan. Bunga hanya tersenyum tipis.


"Kalau hanya satu itu kurang rame. Tambah lagi!" Asni menatap Bunga dengan senyum jenaka. "Lihatlah aku. Dengan tiga anak. Wuih Rame sekali rumahku."


"Tiga? Dimana mereka sekarang?"


"Anakmu adalah tiga anak laki-laki yang tadi bermain dengan Zidan?!" tanya Bunga tak percaya.


Bukankah mereka beda-beda. Yang satu seperti keturunan China, yang satunya keturunan Bule dan yang paling kecil seperti orang Arab. batin Bunga.


"Kenapa? Kaget? karena tampang mereka berbeda. Mereka berbeda karena ayahnya juga beda."


"Apa?!? Kau menikah sebanyak tiga kali juga?"


Bunga mengatakan juga karena dirinya juga telah menikah sebanyak-banyaknya tiga kali.


"Kalau dengan suami yang sekarang, empat kali." Asni menjawab sambil tersenyum. "Dan sekarang aku sedang mengandung anak keempatku."


Bunga diam. Mulutnya ternganga tanpa ia sadari.


"Asni. Apa kau tidak merasa maaf menjadi wanita murah karena berkali kali. menikah? Maaf jangan tersinggung karena sejujurnya aku merasa demikian. Faldi adalah suami ketigaku, yaaa.. meskipun pernikahan kami bisa dibilang ajaib sih. Aku di talak pas di hati pernikahanku."


Asni tersenyum.

__ADS_1


"Bunga jika ditanya akupun ingin hanya sekali menikah. Tapi apa daya takdir mengharuskan aku menjalani semua ini. Suami pertama meninggal karena kecelakaan. Saat itu usia kandunganku baru lima bulan. Sahabat baik suamiku merasa kasihan. Dia membantu dan menemaniku. Setalah aku melaitkan dan masa nifasku habis, ia menyatakan perasaannya dan berkeinginan menikahiiku. Bunga, menjadi janda itu sulit. Hidup penuh dengan fitnah. Kadi aku menerima pinangannya. Kamipun menikah hingga dikaruniai seorang anak. Tapi takdir kembali bicara. Seorang gadis tiba tiba datang kerumah dan mengaku tengah mengandung anak dari suamiku. Bisa kau bayangkan betapa hancurnya duniaku. Aku meminta suamiku memilih diantara kami. Dia memilih gadis itu karena jasanya dan jasa kedua orangtuanya terhadap bisnis suamiku. Kamipun berpisah. Aku pergi ke Dubai membawa dua orang anak. Di sana aku bertemu dengan kawan lama almarhum suami pertamaku. Ia seorang duda tanpa anak. Aku kembali menikah dengannya. Darinya aku dikarunia seorang anak. Tapi ternyata ujianku belum selesai sampai di situ. Lagi-lagi Allah mengambilnya dari sisiku. Setalh kepergiannya aku bertekad membesarkan sendiri anak-anak ku. Tapi kau tahu Bunga, seperti yang kukatakan di awal. Menjadi janda itu tidak mudah. Aku bersyukur dikaruniai wajah cantik, tapi justru wajah cantikku juga yang mendatangkan banyak ujian. Aku pernah hampir dilecehkan oleh bosku, dilabrak istri rekan kerja karena cemburu sudah nggak kehitung." Asni menjeda ceritanya karena ai bungsu keluar dari kamar mandi.


"Sudah selesai nak?"


Pria kecil berwajah Arab itu mengangguk sambil tersenyum. Ia lalu berlari keluar untuk kembali bermain.


"Terus suamimu yang sekarang?"


"Dia anak dari pasienku."


"Kau seorang dokter?"


Asni menggeleng. "Aku lulusan akademi. keperawatan, tapi aku tidak pernah menjadi perawat, hehehe." Asni tertawa lirih.


"Karena sering ada masalah di tempat kerja, aku mengundurkan diri dan melamar kerja di sebuah rumah besar sebagai perawat pribadi. Aku merawat seorang wanita tua yang stroke. Keluarga mereka sangat baik. Aku dan ketiga anakku diinginkan tinggal di paviliun mereka. Mungkin karena setiap hari ketemu akhirnya anak dari wanita itu menyukaiku. Ia laku melamarku dan kami menikah."


"Asni, suami pertama, kedua dan ketigamu kan berteman. Apa kamu tidak pernah punya perasaan atau fikiran kalau dirimu digilir oleh teman teman suamimu?"


"Hahahahaha" Asni tertawa hingga matanya berair. Bunga bengong. "Kau lucu. Kau sungguh lucu. Pertanyaanmu yang lucu." Asni berkata masih dengan tawanya.


"Tunggu. Apa sebenarnya kamu yang merasa demikian?" tanya Asni saat tawanya berhenti. Bunga kaget.


"Aaa... melihat ekspresimu aku yakin tebakanku benar. Jauhkan pikiran iti dari. otak kecilmu ini kalau kau ingin bahagia. Kebahagiaanmu ada di tanganmu, bukan dianggaoan orang." Asni menyentil kening Bunga. "Manusia hanya menjalani Bunga. Semua sudah ada skenarionya. Terima saja dengan iklasy. Maka kau akan bahagia" kata Asni bijak.


"Kak ayo kita pulang! Riana sudah menunggu untuk makan siang." Martin masuk.


"Baiklah. Bunga aku pamit dulu. Senang sekali. bisa mengenalmu. Ajak Faldi ke Dubai. Di sana indah lo.. kamu pasti suka."


"Kalau dia mau, jangankan Dubai, menjelajah duniapun akan aku lakukan kak." Faldi yang baru masuk dan mendengar perkataan Asni menimpali.


"Raja gombal." ledek Asni. "Kamu nggak. ikut kita makan siang bareng?"


"Nggak kak. Aku ingin makan di rumah saja dengan keluarga kecilku." jawab Faldi yang membuat jantung Bunga berdesir.


Setelah Asni dan Martin pulang, sikap Faldi kembali ke asal.


*Oh jadi tadi dia hanya berakting di depan saudaranya. Menyebalkan. batin Bunga kesal.


...💞💞💞*...


***Alhamdulillah bisa up juga

__ADS_1


boleh dong intio karya author yang lain


ditunggu jejaknya***


__ADS_2