
Keesokan harinya, Kendra menunggu Riana di dapur. Ia tahu kebiasaan gadis itu kalau pagi akan membuat teh hangat. Lama Kendra menunggu, tapi Riana tidak juga ke dapur.
Bahkan saat sarapanpun Riana tidak ada.
Bunga yang sudah bisa beraktifitas seperti biasa, menemani Kendra sarapan.
"Bi, apa Riana sudah sarapan?" tanya Bunga pada pembantunya.
"Dari pagi saya tidak melihat neng Riana, Nya."
"Lihatlah ke kamarnya. Barangkali ia sakit!" perintah Kendra.
Bunga ke kamar Riana. Riana tidak ada di kamar. Bunga terkesiap melihat kamar Riana yang sangat rapi.
"Apa Riana tidak banyak membawa barang, kenapa dimeja rias tidak ada alat riasnya sama sekali. Kamar ini nyaris kosong seperti tak berpenghuni." batin Bunga.
"Ri, tidak ada di kamarnya mas. Mungkin ia sudah berangkat pagi-pagi sekali."
Mendengar itu Kendra menghentikan makannya. Ia lalu bangkit.
"Aku sudah kenyang. Aku berangkat dulu."
Bunga berdiri hendak mengantar Kendra.
"Kau tidak perlu mengantarku, habiskan saja sarapanmu."
Bunga tersenyum. Ia akan mengambil tangan Kendra untuk ia cium seperti bisanya. Tapi Kendra pura-pura tidak melihatnya. Ia bergegas meninggalkan Bunga.
Sesampainya di mobil, Kendra berusaha menghubungi Riana. Tapi tidak bisa. Riana tidak mengangkat panggilan Kendra.
Ri, kenapa kau mengabaikan panggilanku
Sikap Riana yang menjauh, membuat Kendra semakin penasaran. Ia merasa seperti tertantang untuk mendapatkan Riana.
Sementara itu, Riana yang keluar dari rumah Kendra pagi-pagi sekali itu sekarang sedang sarapan di sebuah rumah makan. Hari ini ia berencana mencari rumah kontrakan atau sekedar kamar kos-kosan.
Sambil sarapan, Riana browsing mencari rumah kontrakan di dekat tempatnya bekerja. Ia melihat ada beberapa tempat. Riana menulis alamatnya.
Riana mendatangi satu demi satu rumah kontrakan sesuai dengan yang ia catat dari internet. Tapi tak satupun yang cocok . Kalau bukan harga, ya kondisi lingkungannya.
"Maaf, mbak. Sedang mencari kontrakan ya?" seorang ibu paruh baya menghampiri Riana.
"Eh, iya bu."
"Kebetulan. Saya ada satu unit kamar di sebuah apartemen. Apa mbak berminat?"
"Bisa saya melihatnya bu?" tanya Riana.
Ibu itu membawa Riana ke apartemennya. Riana langsung menyukai tempat itu. Setelah harga yang ditawarkan cocok, Riana menyewa apartement itu langsung untuk dua tahun.
Ibu paruh baya itu lalu meninggalkan Riana. Di luar kamar Riana, ia menghubungi seseorang.
"Beres tuan Nona itu sudah ada di apartemen."
__ADS_1
Lalu ia menutup ponselnya.
Kendra dan Bunga masih belum menyadari kalau Riana pergi dari rumah hingga saat makan malam tiba.
"Riana tidak makan malam?" tanya Kendra pada Bunga.
"Sepertinya ia belum pulang mas." jawab Bunga. Ia akan mengambil piring Kendra untuk diisi nasi. Tapi Kendra sudah melakukannya sendiri.
"Mas?" Bunga heran dengan sikap Kendra.
"Kenapa? Oh ini, nggak papa. Mulai sekarang apa yang aku bisa lakukan sendiri, aku akan melakukannya. Aku tidak akan membiarkan dirimu melayaniku. Demi kesehatanmu." Kendra berdalih.
"Sebenarnya tidak apa-apa mas. Itu sudah tugasku sebagai istrimu."
Biasanya hati Kendra akan senang mendengar kata-kata manis Bunga. Tapi kali ini beda. Ia justru risih.
Kendra mempercepat makannya, lalu beranjak ke ruang kerja.
"Mas mau aku buatkan kopi?" tanya Bunga.
"Tidak usah. Nanti kalau ingin kopi, aku bisa membuatnya sendiri."
Bunga merapikan meja makan dibantu oleh pembantu nya. Ia kemudian ke atas untuk menengok Zidan. Anaknya itu sudah lelap. Bunga mengecup kening Zidan.
Kendra turun ke lantai satu. Ia keluar ke teras menunggu Riana pulang. Namun hingga tengah malam, Riana tak juga pulang.
Kendra masuk ke dalam rumah dan memberanikan diri untuk ke kamar Riana.
Kopernya masih ada. Ia tidak mungkin kabur tanpa membawa koper kan.
Dia kabur rupanya.
Kendra menutup pintu lemari dengan keras karena kesal.
Apa karena ucapanku kemarin malam sehingga ia pergi dari rumah ini.
Kendra kembali berusaha menghubungi Riana tapi gadis itu tetap mengabaikan panggilannya.
Sial.
Dengan frustasi Kendra masuk ke ruang kerjanya dan membaringkan tubuhnya di ranjang yang ada di ruangan itu.
Keesokan harinya, Kendra memutuskan untuk mencari Riana. Tempat pertama yang ia datangi adalah perusahaan Gerry.
Sejak pagi Kendra sudah memarkir mobilnya di depan perusahaan Gerry menunggu Riana datang.
Saat melihat gadis itu turun dari taksi, Kendra langsung menyamperinya dan menarik tangannya.
"Kak!" Riana kaget.
Kendra menarik Riana untuk mengikutinya ke mobil.
Bug
__ADS_1
Kendra membanting pintu mobilnya setelah Riana masuk sampai membuat gadis itu kaget
"Kenapa pergi dari rumah?" tanya Kendra saat sudah duduk di samping Riana.
"Maaf. Tapi aku tidak mau menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kalian."
Kendra terkekeh
"Kau tidak bisa menghindar. Karena kau sudah menjadi orang ketiga."
"Tidak. Apa maksud kakak?"
"Dalam hatiku, kau sudah menjadi orang ke dua dalam hatiku. Aku sudah menduakan hatiku. Apa kau paham maksudku? Jadi sekalipun kau pergi dari rumah, semua itu tidak akan memperbaiki hubunganku dengan Bunga. Bukan kau yang merusak hubungan kami.
Riana tertunduk diam. Dalam hati ia sangat kasihan pada Bunga. Ia ingin mendukung dan menemani Bunga melewati masa-masa sulitnya. Tapi ia tidak bisa Sikap Kendra yang membuatnya tidak bisa melakukan itu.
" Dimana kau tinggal?"
"Maaf aku tidak bisa memberitahumu."
"Kau pikir dengan tidak memberitahuku, aku tidak akan pernah tahu?"
Riana diam. Ia sadar Kendra bisa saja mengikutinya saat pulang kerja tanpa sepengetahuan dirinya.
Tapi kenapa juga takut ia tahu tempatku tinggal. Selama aku tidak membiarkannya masuk, bukankah akan tetap aman bagiku.
Riana berusaha membuka pintu mobil. Tapi Kendra menguncinya.
"Kau tidak akan bisa keluar sebelum mengatakan dimana kau tinggal."
"Terserah. Kalau aku tidak kerja tanpa ijin, paling aku akan di pecat. Setelah itu aku bisa kembali ke kotaku lagi." kata Riana tidak mau kalah. Ia malah duduk bersedekap dengan tenang.
Tidak. Aku tidak boleh kelihatan memaksa. Ia akan semakin takut dan menjauh. Aku harus sabar dan lembut.
"Baiklah. Keluarlah."
Mendapat kesempatan keluar, Riana segera membuka pintu dan keluar dari mobil Kendra. Tanpa menoleh ia berlari masuk ke perusahaan.
Kendra menatap kepergian Riana sampai bayangan gadis itu hilang. Ia lalu melajukan mobilnya menuju tempatnya bekerja.
"Pak. Ada surat buat bapak." Seorang satpam menyerahkan amplop coklat pada Kendra saat dirinya masuk ke lobi perusahaannya.
"Dari siapa?" tanya Kendra karena ia tidak melihat alamat pengirimnya.
"Saya juga tidak tahu pak. Tadi ada kurir yang membawanya kemarin dan bilang ini buat bapak."
Kendra meninggalkan lobi. Ia masuk ke ruang kerjanya dan langsung membuka amplop yang ia terima. Ada surat dan sebuah keycard. Dalam surat tertulis alamat sebuah apartemen. Juga ada pesan singkat yang berbunyi kekasih hatimu berada di alamat ini.
Kendra mencari petunjuk pengirim surat tapi tidak ia temukan.
*Aku tahu ini jebakan. Tapi jika jebakan ini menuntunku ke kehidupan yang lebih tenang, aku akan dengan rela masuk ke dalamnya. Aku sudah lelah. Aku ingin hidup dengan tenang.
...🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1
Kabuurr dulu ah... takut dibully hehehe*.