
"Martin ada Ri?" tanya Bunga pada Riana saat ia tiba di rumahnya.
"Di kantor lah mbak. Tapi kalau mbak Bunga perlu, aku bisa menghubunginya." jawab Riana sambil. mengeluarkan perut buncit nya.
Bunga ikutan mengelus perut Riana, "Kapan lahiran?"
"Perkiraan dokter sih dua minggu lagi. Mbak Bunga kapan nih ngasih adik untuk Zidan? Mbak nggak sedang menundanya kan?"
"Boro-bork menunda, kami aja belum. pernah... " Bunga tidak melanjutkan ucapannya.
"Masak sih mbak? Dah hampir dua bulan lho kalian menikah?" ucap Riana nggak percaya.
"Mau bagaimana lagi." jawab Bunga enteng.
"Apa ada masalah diantara kalian? Bukankah Faldi sangat mencintaimu mbak?"
"Nggak ada masalah Ri, dia nggak mau menyentuhku karena khawatir aku mengandung anak mas Kendra. Setelah tahu aku tidak hamil, kami berdua hampir saja melakukannya eh tamuku datang." ucap Bunga jujur.
Riana tertawa geli. "Kasihan Faldi."
"Iya sih. Tapi mau bagaimana lagi." Bunga mengulang ucapannya.
"Ri, apa Martin nggak pernah menyinggung soal perusahaan Faldi padamu?"
"Enggak tuh mbak. Emang ada masalah ya?"
"Sepertinya begitu. Tapi dia nggak mau cerita. Jadi maksudku datang kesini mau bertanya pada Martin. Kali aja dia tahu. Secara Faldi suka curhat ke Martin."
"Aku telpon saja dia ya mbak."
"Jangan Ri, aku saja yang ke kantornya." jawab Bunga. "Beritahu saja dia kalau aku mau datang." kata Bunga lalu berpamitan.
"Jadi apa kamu tahu masalah yang dihadapi Faldi, Tin?" tanya Bunga penuh harap.
Martin diam. Tentu saja dirinya tahu. Tapi kalau Faldi saja tidak ingin Bunga tahu, apa bijak jika dirinya menceritakan pada Bunga.
"Ayolah Tin. Aku yakin kamu tahu. Tolong cerita padaku? Aku janji nggak akan bilang ke Faldi. Aku hanya ingin membantunya. Aku nggak bisa melihatnya menanggung beban sendiri."
"Baiklah. Tapi tepati janjimu!"
Bunga mengangguk.
"Perusahaan Faldi beberapa bukan ini sedang merugi. Produknya banyak yang gagal di pasaran karena kalah bersaing dengan produk dari Jepang. Jadi dia sedang dalam kesulitan keuangan. "
"Tapi mana mungkin. Perusahaan Firmandana adalah perusahaan besar Tin."
"Iya. Tapi kan ada beberapa bidang Bunga. Kebetulan yang dipegang Faldi sedang mengalami krisis."
__ADS_1
"Apa papa tidak membantunya?"
"Paman mungkin tahu. Tapi ia ingin Faldi berusaha mengatasinya sendiri." jawab Martin. "Kamu ingat saat kita ke Jepang. Saat itu Faldi ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan Lisa. Ia ingin menjadi perusahaan yang memegang hak edar produk dari perusahaan Lisa. Ya karena produk asing masih sangat di gemari di negeri ini."
"Terus?"
"Faldi memutuskan tidak melanjutkannya. Ia tidak bisa menerima kenyataan kamu kembali kepada Kendra."
"Oh!"
"Apalagi sekarang, kamu menjadi istrinya. Dan perusahaan Lisa dipegang Kendra. Itu menjadi hal yang sangat tidak mungkin lagi bagi keduanya untuk bekerjasama."
"Jadi semua ini aku penyebabnya?"
"Inilah yang Faldi nggak mau. Kamu pasti akan menyalahkan dirimu sendiri. Makanya ia tidak memberitahumu."
"Martin, coba kau jelaskan lebih detik tentang perusahaan Faldi dan para pesaingnya. Aku ingin mempelajarinya."
Martin lalu menjelaskan apapun yang Bunga tanyakan.
"Terima kasih atas bantuanmu, Tin. Aku akan mempelajarinya dan berusaha mencari cara menolong Faldi. Dan kedepannya aku masih butuh bantuanmu lagi, apa kau bersedia?"
"Tentu. Demi saudaraku, apapun akan aku lakukan."
"Terima kasih Tin. Aku balik dulu." pamit Bunga
Saat ia melihat seorang pembeli mengambil produk milik Firmandana grup, Bunga mendekatinya dan bertanya.
Dari pembeli itu ia memperoleh informasi yang bagus. Ia juga bertanya kepada pembeli lain yang lebih memilih produk darin perusahaan lain. Ia mendapat info kelebihan barang itu di banding milik perusahaan Faldi.
Begitu terus yang Bunga lakukan hingga ia mengantongi banyak info.
"Aku akan membuat rencana pemasaran dengan info yang aku dapatkan. Lalu aku diskusikan dengan Riana dan Martin. Biar Martin yang mengajukannya ke Faldi." gumam Bunga semangat.
Ia pulang dengan segudang ide di kepalanya.
"Aku tidak akan membiarkanmu menanggung ini semua sendiri. Kali ini ijinkan aku berbuat sesuatu untukmu. Selama ini aku tidak pernah memberi dan hanya menerima kebaikanmu." batin Bunga.
Faldi kembali pilang larut. Bunga menyambutnya dengan senyum manis.
"Mandi ya.. aku dah siapkan air hangat. Apa kau sudah makan malam?Kalau belum aku siapkan? Habis mandi bisa langsung makan malam." kata Bunga sambil membantu Faldi melepas jasnya.
"Nyonya perhatian sekali malam ini. Apa ada maunya, ha?" tanya Faldi sambil. memeluk dan mengecup kening Bunga.
"Mandi dulu. Bau." Bunga mendorong pelan tubuh tegap itu. Faldi terkekeh lalu masuk ke kamar mandi.
"Tuan Faldi, kau makan malam apa nggak?" teriak Bunga dari luar pintu kamar mandi. Faldi membukanya dan menjawab sambil melongokkan kepalanya yang penuh sampo keluar.
__ADS_1
"Mau.. tapi bukan makan nasi." Ia kembali menutup pintu sambil tersenyum.
Nggak mau nasi. Apa ia ingin makan roti? Ah lebih baik kubuatkan roti bakar saja.
"Tuan Faldi, silahkan!" Bunga membawa roti bakar ke kamar dan menaruhnya si meja. Faldi yang sedang mengganti pakaiannya melirik.
"Roti bakar?"
"Iya. Kau bilang tidak mau makan nasi. Jadi aku buatkan roti bakar." kata Bunga sambil tersenyum.
Faldi mendekatinya, "Nyonya kau salah. Aku nggak mau makan roti bakar. "
"Terus kamu mau makan apa?"
Faldi terus mendekat hingga Bunga terdorong mundur ke ranjang dan duduk di sana.
"Aku mau kamu, nyonya." Faldi terus mendekat membuat Bunga rebah di ranjang. Ia lalu menindih dan menciumnya. Ciuman yang sangat menuntut.
"Fak.. aku masih.. "
"Aku tahu. Aku tidak akan menyentuh bagian itu. Masih ada yang lain kan." Faldi mulai mengeksplor tubuh Bunga mengambil kehangatan dari tubuh istrinya itu. Bunga tahu apa yang harus ia lakukan. Ia mulai memberi sentuhannya pada Faldi. Memenuhi keinginan terpendam Faldi. Bunga sangat pandaianjakan Faldi hingga pikiran kalutnya karena masalah perusahaan, hilang saat ia menerima sentuhan Bunga.
"Argghh." tubuh Faldi menegang setelah cukup lama Bunga berjuang. Dada Bunga langsung basah.
"Terima kasih sayang." Faldi mencium bibir Bunga sebelum rebah kelelahan disisinya.
Baru kali ini aku melakukan hal semacam ini. Tapi aku senang melihatnya puas. batin Bunga.
"Mau kemana?" Faldi memegang tangan Bunga saat ia hendak turun dari ranjang.
"Tidakkah kau lihat tubuhku basah? Aku ingin ke kamar mandi." jawab Bunga. Faldi tertawa. Ia melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Bunga.
Faldi terlentang sambil memejamkan mata. Bibirnya tersenyum membayangkan kenikmatan yang barusan ia reguk.
Lumayan. Sambil. menunggu jalan resminya di buka. batin Faldi.
Selesai membersihkan tubuhnya, Bunga ganti baju dan kembali ke ranjang. Ia melihat Faldi terlelap sambil tersenyum.
Bunga membelai wajahnya, "Aku lega kau bisa tidur dengan tersenyum."
Bunga lalu pergi ke kamar Zidan. Ia mulai bekerja dengan rencana-rencananya. Ia sengaja melakukannya di kamar Zidan agar Faldi tidak mengetahuinya.
"Bagus. Besok tinggal aku konsultasikan dengan Riana dan Martin." Bunga melihat hasil. kerjanya dengan tersenyum puas. "Semoga berhasil." Ia menutup notebook nya dan melihat ke arah Zidan. Ia mencium kening anaknya itu lalu keluar kembali ke kamarnya."
**Semoga berhasil ya Bunga... semangat...
jangan lupa tinggalin jejak**.
__ADS_1