Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Dia Kekasihku


__ADS_3

Kendra tidak begitu saja percaya dengan Riana. Ia memutuskan untuk memata matai Riana.


Tanpa Riana ketahui, Kendra sering berada di lobi perusahaan Gerry. Ia bahkan duduk di kantin sambil melihat tingkah Riana.


Sudah empat hari berlalu, namun Kendra tidak bisa menemukan bukti jika Riana adalah perempuan jalang yang menjijikan. Tekadnya untuk mengejar Riana kembali tumbuh.


Siang itu saat senggang, ia kembali ke perusahaan tempat Riana bekerja. Ia duduk di lobi.


Tak berapa lama kemudian, Kendra melihat Riana keluar bersama Faldi. Kendra mengikuti mereka berdua.


Faldi dan Riana berhenti di depan lobi menunggu mobil Faldi tiba. Riana tiba-tiba merasa pusing. Ia memijit kepalanya, tubuhnya terhuyung. Faldi langsung menangkapnya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Faldi cemas.


"Tidak pak. Hanya sedikit pusing."


Mobil tiba. Faldi membimbing Riana masuak ke mobil. Lalu mobil itu beranjak pergi.


Kendra segera berlari ke mobilnya dan mengikuti mobil Faldi.


"Beneran kamu nggak papa?" tanya Faldi lagi.


"Iya pak." kata Riana. Ia memejamkan matanya. Bibirnya mendesis menahan sakit di kepalanya.


"Jangan memaksakan diri." kata Faldi lalu menelpon dan membatalkan janji meetingnya.


"Pak, kenapa dibatalkan?" tanya Riana.


"Kesehatanmu lebih penting. Kamu tinggal di mana? Biara aku antar pulang."


Riana menyebutkan alamat hotel tempatnya tinggal.


"Jadi kamu tinggal di hotel." kata Faldi.


"Iya. Tuan Firmandana yang menyuruh saya tinggal di sana."


Jadi ini campur tangan papa.


Mereka sampai di hotel. Dengan dipapah Faldi, Riana turun dari mobil. Riana berjalan dengan pelan sambil memegang kepalanya.


"Masih kuat jalan?" tanya Faldi. Riana mengangguk. Tiba-tiba Faldi menundukan tubuhnya dan menggendong Riana.


Kendra yang melihat pemandangan itu mengepalkan tangannya.


"Pak!" pekik Riana kaget.


"Diamlah. Kamarmu no berapa?"


"Lantai 1 No 002."


Faldi membawa Riana dalam gendongannya ke kamar. Kendra mengikuti hingga mereka masuk ke dalam kamar. Kendra lalu berhenti di depan kamar Riana. Tangannya memegang handle pintu yang belum tertutup sempurna itu. Ia teringat bagaimana saat masuk kamar hotel dan melihat Bunga dengan Faldi.

__ADS_1


Sedangkan di dalam kamar, Faldi dengan perlahan membaringkan tubuh Riana di atas ranjang. Saat ia akan bangun, rambut Riana yang panjang nyangkut di jepitan dasinya. Gadis itu memekik karena rambutnya ke tarik.


"Maaf!" Faldi berusaha melepaskannya. Posisi tubuhnya tepat di atas tubuh Riana. Pada saat itu pintu kamar tiba-tiba dibuka dan Kendra masuk.


"Ternyata kau benar-benar wanita jalang!" teriak Kendra melihat Faldi dan Riana berada di atas ranjang dengan tangan Faldi yang sibuk berusaha melepas dasinya.


"Bang, kau.."


Faldi tidak meneruskan ucapannya karena Riana mencium bibirnya. Mata Faldi membulat terkejut dengan tingkah sekretarisnya itu.


Riana lalu melepas ciumannya.


"Kak. Keluarlah. Kakak menganggu kami." kata Riana sinis.


Kendra menatap tajam ke arah Faldi. Ia menarik tubuh Faldi dari Riana. Namun Riana memeluk tubuh pemuda itu.


"Kak, lepaskan kekasihku!" teriak Riana.


"Kekasih? Pria ini kekasihmu? Sejak kapan kalian memadu kasih ha? Kenapa aku tidak tahu?" teriak Kendra murka.


"Apa perlunya kakak tahu. Kakak bukan siapa-siapa bagiku. Apalagi kakak adalah pria beristri. Kalau ada yang lajang, kenapa aku harus memilih yang beristri." semakin jahat saja kata-kata Riana.


Faldi diam mempelajari keadaan. Ia membiarkan saja Riana terus memeluk nya. Faldi bahkan membalas pelukan itu. Ia mulai mengerti jika Riana sedang bersandiwara.


"Faldi! Setelah apa yang kau lakukan pada Bunga, kau masih berani mendekati sepupunya?"


"Bang! Aku sudah bilang. Aku tidak melakukannya dengan Bunga meski saat itu aku terpengaruh obat. Dan soal Riana. Kami saling suka. Aku sudah merelakan Bunga, jadi tidak salahkan kalau aku mengejar gadis lain?" kata Faldi sambil mempererat pelukannya.


Kendra menatap nanar kedua orang yang ada di hadapannya itu.


"Kak. Tolong keluarlah. Waktu kami sempit. Jangan ganggu kami!" kata Riana. Tangannya mulai bergerak melepas dasi Faldi, lalu melucuti kancing kemejanya.


"Riana!!! " suara Kendra mengelegar membentak Riana.


"Kenapa? Kakak tidak mau keluar juga. Kalau begitu lihat saja. Karena aku sudah tidak tahan. Jadi jangan salahkan aku." Riana laku mengusap dada Faldi dan menciumnya. Faldi memejamkan matanya. Mulutnya mendesis.


"Kalian menjijikan!" umpat Kendra lalu keluar.


"Huf!" Riana bernafas lega lalu membaringkan tubuhnya. Tangannya meminta kepalanya yang terasa semakin sakit akibat harus menghadapi Kendra.


"Kenapa berhenti? Teruskan!" kata Faldi sambil mendekatkan wajahnya ke Riana.


Kali ini Riana yang terbelalak. Perasaan takut mulai menyusup ke hatinya.


"Pak!" desahnya lirih.


Melihat wajah takut Riana, Faldi tertawa.


"Aku hanya bercanda." Faldi menyentil kening Riana. Ia lalu bangkit dan merapikan pakaiannya.


"Apa kamu tidak menyimpan obat sakit kepala di sini?"

__ADS_1


Riana menggeleng.


"Apa perlu ke dokter?"


"Tidak usah pak. Nanti juga akan baikan."


Faldi lantas memerintahkan supirnya untuk membelikan Riana obat sakit kepala. Dia lalu duduk di pinggir ranjang Riana.


"Ri! Kenapa kau berbuat seperti tadi?"


"Oh itu. Maaf Pak kalau saya sudah kurang ajar. Saya melakukannya agar kak Kendra menjauhi saya pak."


"Apa Bang Kendra menyukaimu?"


"Katanya sih begitu Sejak kami melihat kalian di kamar waktu itu, sikapnya berubah. Ia mengabaikan mbak Bunga dan mulai mengejar saya. Ia sudah jijik dengan mbak Bunga."


Rahang Faldi mengeras."Semua ini karena saya kan?"


"Saya tidak menyalahkan bapak. Karena kalian berdua sama sama korban. Saya hanya ingin menyadarkan kak Kendra kalau sebenarnya ia masih mencintai mbak Bunga. Dia hanya sedang marah dan merasa harga dirinya terluka."


"Apa rencanamu?"


"Saya ingin membuat citra saya buruk di mata kak Kendra. Agar ia memandang saya dengan jijik. Lebih jijik dari saat melihat mbak Bunga."


"Mm jadi itu alasan perilaku agresif seperti tadi." Faldi menatap Riana sambil tersenyum.


"Iya pak." jawab Riana lirih. Mukanya merah karena malu.


"Baiklah. Aku akan membantumu. Lagi pula aku juga punya andil dalam masalah ini. Lalu Bunga bagaimana?"


"Dia sudah pergi. Tuan Firmandana yang membawanya pergi."


"Apa dia punya keinginan bercerai dengan bang Kendra?"


"Mbak Bunga masih memberi kesempatan Kak Kendra untuk berubah. Dia masih menunggunya."


"Ya. Dia wanita baik dan sangat mencintai suaminya." kata Faldi.


Pintu kamar hotel Riana di ketuk. Faldi berjalan dan membukanya. Sopir Faldi datang sambil memberikan obat sakit kepala.


"Minum Ri!" Faldi memberikan obat itu dan segelas air. Riana meminumnya. Ia lalu kembali berbaring.


"Kalau begitu aku kembali ke kantor dulu."


"Terima kasih pak!" jawab Riana.


...🌹🌹🌹🌹...


Terkadang tekanan batin bisa membuat seseorang berubah sikap dan hanya hati yang seluas samudera yang mampu memberi maaf.


Jangan lupa jejaknya.

__ADS_1


__ADS_2