
Setelah menyadari semua kesalahannya, Kendra bertekad memperbaiki diri. Ia ingin saat bertemu Bunga nanti dirinya sudah pantas untuk mendapatkan maaf dan istrinya itu. Kendra tidak lagi memikirkan Riana, bayangan gadis itu ia buang jauh.
Sehari-hari yang ia lakukan hanyalah bekerja. Perlahan Kendra menjadi dirinya lagi. Ia kembali menjalankan kebiasaan lamanya. Bahkan sekarang ia rajin bersujud di sepertiga malam untuk memohon ampun atas semua khilaf nya yang telah berbuat tidak pantas pada Riana. Kendra selalu terisak penuh penyesalan saat mengingat peristiwa di malam itu. Jika saat itu Riana tidak terus membandingkan dirinya dengan mantannya, pasti ia sudah melakukan hal terkutuk itu. Dan jika itu terjadi, ia pasti tidak akan sanggup menatap wajah Bunga.
Sebulan telah berlalu. Kendra masih belum punya keberanian untuk menghubungi Bunga padahal Riana sudah memberikan no ponsel Bunga yang baru padanya. Riana melihat perubahan dan kesungguhan hati Kendra hingga akhirnya ia memberikan no Bunga. setiap malam sebenarnya Kendra selalu berniat untuk mengontak Bunga, namun ia urungkan. Ia bingung apa yang harus ia sampaikan kepada Bunga. ia sadar kalau luka yang ia torehkan di hati Bunga sangat dalam. Ia bahkan sempat memandang hina dan jijik istrinya itu
Sementara itu, Bunga yang selalu menunggu Kendra makin lama makin mengikis harapannya. Tenggang waktu tiga bulan yang ia buat sudah berkurang sebulan. Dan dalam waktu satu bulan itu, ia sama sekali tidak mendapatkan tanda tanda jika Kendra akan mencari dan menemuinya.
"Pagi-pagi dah bengong!" Martin mengagetkan Bunga saat dirinya masuk ke ruangan Bunga.
"Kebiasaan deh. Nggak bisa ketuk pintu gitu, main nyelonong saja." Bunga mengomel kesal karena dikagetkan Martin.
"Halooo. Aku sudah tiga kali mengetuk pintu dan memberi salam. Situnya saja yang bengong sampai nggak mendengar." celoteh Martin, "Mikirin apa sih? Suamimu lagi? Gini ya, aku kasih saran. Aku seorang pria jadi aku tahu kalau pria itu kebanyakan akan susah bahkan gengsi buat minta maaf meskipun mereka salah. Jadi kalau kamu masih ingin mempertahankan rumah tanggamu, mending kamu yang mengalah."
"Masalahnya bukan mengalah apa tidak Martin. Aku tidak menunggu ia minta maaf. Aku hanya menunggu dia menjemputku dan menerimaku kembali. Dengan menerimaku itu tandanya dia sudah mengakui kalau dirinya salah. Tidak perlu minta maaf." Bunga menjelaskan.
"Sebenarnya diantara kalian ada masalah apa sih? Apa begitu rumit hingga kamu kabur jauh-jauh ke sini?"
"Maaf aku tidak bisa cerita." jawab Bunga. Ia memang tidak suka menceritakan masalah keluarganya pada orang lain apalagi pada pria. Kalau toh ia terpaksa bercerita, ia akan memilih bercerita dengan sesama wanita yang ia percaya.
"It'a ok. Aku hanya ingin membantumu tapi kalau kamu tidak mau cerita ya tidak masalah." Bunga bisa melihat kekesalan dalam nada suara Martin.
"Maaf. Aku bukan tidak percaya padamu. Aku hanya tidak suka mengumbar aib keluargaku pada orang lain. Kumohon mengertilah!"
"Iya. Aku mengerti. Tapi sampai kapan kamu akan seperti ini. Kenapa nggak balik saja ke Indonesia dan melihat kenyataan?"
"Kenyataan apa?"
"Ya mungkin suamimu memang sudah melupakanmu. Atau apalah. Daripada kamu menunggu dengan sia-sia disini. Tubuhmu memang jauh darinya tapi tiap saat hatimu ada padanya. Selalu memikirkannya. Itu namanya menyiksa diri."
"Aku ingin dia bisa berpikir dengan tenang tanpa terpengaruh kehadiranku."
"Percayalah padaku Bunga. Penantianmu ini nanti hanya akan sia-sia. Pulanglah dan temui dia. Siapa tahu dia sebenarnya ingin menemuimu tapi enggan. Mungkin karena dia malu atau bahkan gengsi."
__ADS_1
Bunga mencerna setiap perkataan Martin.
"Pulanglah. Selesaikan masalah kalian. Baru kembali lagi ke sini sebagai orang yang baru. Menjalani hidup baru tanpa beban lagi." Martin berhenti sejenak. Ia menatap Bunga. "Aku akan menemanimu jika kamu ragu dan butuh teman."
"Baiklah. Mungkin kau benar. Aku akan minta sepupuku mencarikan kontrakan agar saat aku tiba di Jakarta aku punya tujuan. Selama ini aku hidup ikut suami. Aku tidak punya siapa-siapa di sana."
"Kenapa harus ngontrak? Aku ada apartemen di Jakarta. Kau bisa tinggal di sana."
"Tidak. Aku tidak mau menambah masalah. Kalau suamiku tahu aku tinggal di apartemen pria lain, ia akan salah paham. Lebih baik aku ngontrak saja."
"Terserah kamu lah."
Mereka menyudahi obrolan tentang masalah Bunga dan beralih keurusan pekerjaan.
Malam harinya Bunga mengabari Riana kalau dirinya akan kembali ke Indonesia. Dia meminta bantuan Riana mencarikan kontrakan.
Riana sangat senang karena dengan kepulangan Bunga ia akan ada teman. Riana bertekad untuk keluar dari hotel tempatnya tinggal selama ini.
"Ah tidak. Aku tidak boleh tinggal. bersama mbak Bunga. Itu lebih baik agar jika kak Kendra mengunjunginya, aku tidak perlu melihat mereka." gumamnya sambil menekan rasa sakit yang muncul dalam hatinya.
Riana sedang berkeliling mendatangi tiap alamat yang ia catat saat Faldi menelponnya. Faldi menanyakan keberadaan Riana dan alasan kenapa ia sampai ijin tidak masuk kerja. Riana menjelaskan kepada Faldi bahwa ia sedang mencarikan rumah untuk Bunga.
"Tetap di tempatmu sekarang! Aku akan menyusulmu!" Faldi berkata kemudian memutuskan pembicaraan.
Riana menunggunya. Tak lama kemudian ia melihat mobil Faldi mendekatinya. Riana masuk begitu pintu mobil terbuka.
"Kenapa tidak mengatakan dari awal? Malah pergi sendiri."
"Saya tidak mau merepotkan bapak." balsa Riana.
Faldi diam. Ia tahu pasti Bunga yang melarangnya. Faldi membawa Riana ke sebuah komplek perumahan yang sangat asri.
"Pak, kalau mencari di sini pasti mahal." kata Riana.
__ADS_1
"Nggak juga. Gratis malah. Sebagai sekretaris seharusnya kamu tahu siapa pengembang perumahan ini."
Faldi menghentikan mobilnya di depan salah satu rumah. Ukurannya tidak besar tapi sangat cantik. Ia lalu turun dan menghubungi seseorang. Tampak seorang pria paruh baya keluar dan membukakan gerbang rumah itu.
"Selamat siang tuan muda." sapa pria itu.
"Siang mang Asep. Kenalkan ini Riana."
"Oh.. mang Asep." Pria yang bernama Asep itu mengangguk hormat pada Riana, "Apa ini calon nona muda, tuan?" tanyanya.
"Bukan mang. Saya Sekretaris beliau." jawab Riana cepat sebelum pria itu semakin salah paham.
"Ah begitu. Mari masuk tuan, nona!"Faldi mengayun langkahnya memasuki rumah itu. Riana menatap interior rumah yang sangat unik.
"Bagus sekali." desis Riana.
"Kamu suka?" tanya Faldi yang mendapat anggukan Riana.
"Kalau kamu suka pasti Bunga juga suka." Faldi lalu mendekat ke mang Asep, "Mang, beberapa hari lagi penghuni rumah ini akan datang. Jadi siapkan semua. Ada anak balita juga. Mang Asep nanti lengkapi taman belakang dengan wahana bermain anak ya!"
"Iya tuan muda."
"Kirim saja daftar barang yang ingin mang Asep beli, nanti aku akan menyuruh orang mencarikannya."
"Baik tuan muda."
Riana memandang kagum Faldi.
Pria ini sangat mencintai mbak Bunga. Cintanya tulus dan nggak menuntut balasan. Dia mencintai dengan caranya sendiri. Aku harus bisa seperti dia, mencintai dengan caraku sendiri. Dengan membiarkan orang yang aku cintai bahagia meski tidak bersamaku.
Riana menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kesedihan namun juga ada keikhlasan.
...🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya...