
Kendra masuk ke kamarnya. Selama ini ia tidak pernah memikirkan kepergian Bunga karena pikirannya tercurah pada Riana. Malam ini ia merasa sepi. Kendra membuka almari dan memandang pakaian Bunga yang masih tersimpan rapi di sana. Tangannya meraba pakaian pakaian itu. Pandangannya terpaku pada lingerie yang biasa dipakai Bunga saat bersamanya. Ia membelai lingerie itu. Bayangan Bunga saat mengenakannya menari-nari di pelupuk matanya. Kendra mengambil lingerie itu dan hendak menciumnya namun urung karena ia teringat kejadian di hotel itu.
Kendra melempar lingerie itu dengan kesal kemudian menutup pintu lemari dengan keras.
"Menjijikan. Kalian para wanita yang serakah. Tidak cukup dengan satu pria."
Kendra berbalik dan melihat bayangan Bunga yang sedang berbaring dengan posisi menggoda di ranjang. Dalam ilusi Kendra, Bunga menggerakkan jarinya meminta Kendra mendekat. Kendra melangkah ke arah Bunga. Saat ingin menyentuhnya, bayangan Bunga hilang.
"Aaah. Aku pasti sudah gila. Kamar ini penuh dengan bayangannya. Benar-benar membuatku gila."
Kendra meninggalkan kamarnya dan masuk ke ruang kerja. Di sana ia juga melihat bayangan saat bermesraan dengan Bunga di ranjang kecil di ruangan itu.
"Aku tidak bisa begini terus. Aku harus melupakan mereka berdua. Harus!!"
Kendra menyambar kunci mobilnya. Tak berapa lama kemudian ia sudah berada di jalan raya mengitari kota untuk lari dari bayangan Bunga. Kendra tidak sadar jika ada orang yang mengikutinya. Saat melihat kafe, Kendra berbelok.
Ia masuk dan memesan minuman lalu duduk di sudut kafe itu. Seorang wanita mendekat.
"Kosong mas?" tanya wanita itu sambil. menunjuk kursi di depan Kendra. " Boleh duduk di sini?"
"Silahkan." kata Kendra tak acuh.
"Sepertinya masnya lagi patah hati ya? Kita sama mas. Pria itu memang serakah. Tidak cukup dengan satu wanita." kata wanita itu memulai obrolan dengan Kendra yang masih cuek dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Mas tahu, di kafe ini menyediakan minuman yang bisa melupakan masalah lo. Mas mau coba? Saya pesankan ya!" Tanpa menunggu persetujuan Kendra, wanita itu memesan dua gelas minuman yang ia maksud.
"Silahkan di coba!" Wanita itu mengangkat gelasnya ke arah Kendra.
"Saya tidak minum alkohol." balas Kendra.
"Ini bukan alkohol. Bahkan tidak mengandung alkohol sama sekali. Tapi rasanya yang unik bisa mengalihkan pikiran kita dari masalah yang kita hadapi. Mas bisa meminumnya sebanyak yang mas mampu tanpa takut mabuk. Paling hanya kembung. " wanita itu terkekeh lalu menegak minumannya.
Kendra menatap ragu-ragu gelas di hadapannya. Ia membau minuman itu. Setelah memastikan tidak mengandung alkohol, Kendra meminumnya sampai habis. Si wanita menyunggingkan senyum tipis dan jahat.
"Rasanya unik." gumam Kendra. Wanita itu memandangi Kendra seolah menunggu sesuatu terjadi. Mata Kendra meredup. Pandangannya buram.
"Kau apa yang kau campurkan di minuman itu? Siapa kau?" tanya Kendra sebelum tubuhnya lemas dan tidak sadarkan diri.
Faldi dan Riana datang. Mereka melihat tubuh Kendra yang sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Bawa ke hotel!" perintah Faldi. Dua orang pria pengawal Faldi langsung memapah tubuh Kendra dan membawanya ke mobil Faldi. Mereka meluncur ke hotel.
"Lakukan tugas kalian!" Faldi memberi perintah pada si wanita dan kedua pria pengawalnya.
"Ri! Kau tunjukkan pada mereka bagaimana posisiku dan Bunga saat bang Kendra melihat kami!"
"Iya Pak."
Riana menjelaskan kepada kedua orang itu yang segera melakukan sesuai petunjuk Riana. Mereka membuka pakaian Kendra. Menyisakan celana panjang saja. Mereka mengatur persis seperti kondisi Faldi saat itu.
Lalu si wanita membuka bajunya. Kemudian berbaring di kasur dan menarik tangan Kendra agar memeluk badannya. Persis seperti Faldi dan Bunga.
Setelah posisinya pas, Riana mengambil gambar mereka.
Riana mengambil dari beberapa sudut dan meminta si wanita untuk berakting lebih intim.
"Sudah cukup! Kau tetap di sini sampai ia sadar. Setelah itu kau harus pura-pura kalau kalian telah melakukannya!" perintah Faldi.
Si wanita itu mengangguk
Faldi dan yang lain meninggalkan hotel itu.
Ia lalu membalik tubuh Kendra dan mulai melakukan aksinya menikmati tubuh kekar Kendra.
Kendra sedikit mendapatkan kesadarannya saat merasakan ada yang menciumi dan mengelus tubuhnya. Bahkan ia merasakan bagian intinya di pegang.
Apa ini mimpi. Kenapa tubuhku lemas sekali.
Setengah sadar Kendra merasakan rangsangan pada tubuhnya. Tubuh Kendra mulai bereaksi. Bagian intinya mengeras. Si wanita tersenyum puas melihat usahanya berhasil. Ia segera naik ke atas Kendra dan bermaksud menyatukan tubuh mereka saat pintu kamarnya di gedor dari luar dengan kasar.
Semula ia bergeming, namun gedoran di luar semakin keras dan ia mulai terganggu.
"Sial!" ia turun dan menyambar kimononya.
"Apa?! Mengganggu saja." Dengusnya kesal saat membuka pintu dan melihat ternyata rekan prianya yang menggedor gedor pintunya.
"Apa yang kau coba lakukan ha?! Kau bisa menghancurkan kita? Tuan hanya memerintahkan buat pura-pura. Bukan beneran?!" cerca si pria.
Wajah wanita itu pucat. "Bagaimana kalian tahu?"
__ADS_1
"Tuan yang memberitahuku dan menyuruhku menghentikan aksi gilamu. Dia memasang kamera di kamar ini. Kau sungguh bodoh." Pria itu mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapahnya pada si wanita.
"Matilah aku. Tuan pasti akan menghukumku." Semakin pucat wajahnya.
"Cepat kembali ke dalam. Dan laksanakan sesuai rencana. Hentikan kegilaanmu. Aku akan mengawasimu!"
Dengan langkah lesu, si wanita kembali ke kamar dan membuka kimononya lalu berbaring di sisi Kendra yang kembali tak sadarkan diri.
Keesokan paginya, Kendra mulai sadar. Ia merasa sedikit aneh saat tangannya memegang benda yang halus dan kenyal. Kendra membuka mata dan melihat kalau dia tengah memeluk seorang wanita. Tangannya berpegangan pada benda kenyal milik wanita itu.
Kendra menarik tangannya dengan cepat. Ia lalu melihat ke bawah. Celananya terbuka dan itu, juniornya ada di luar.
Apa yang terjadi.
Lamat lamat Kendra mengingat saat wanita di sampingnya ini mencumbunya semalam.
"Arrghh." Kendra frustasi. Ia lalu bangkit sambil memegang kepalanya yang pusing. Kendra memungut pakaiannya yang berserakan kemudian bergegas ke kamar mandi.
Saat ia keluar dari kamar mandi, si wanita sudah bangun dan duduk sambil. menatapnya dengan senyuman.
"Selamat pagi!" ucapnya menggoda.
Kendra mendekat.
"Kamu pasti sudah menaruh sesuatu pada minuman ku. Siapa yang menyuruhmu?!" Kendra mencengkeram dagu wanita itu dan menatapnya dengan pandangan mengancam.
Si wanita malah tersenyum. Melihat senyuman di bibir wanita itu Kendra merasa muak, ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
"Tidak ada yang menyuruhku. Aku hanya tertarik dan ingin menikmati tubuhmu. Sekarang aku sudah merasakannya dan sudah cukup puas. Bagaimana denganmu? Kalau masih kurang, kita bisa mengulanginya. Mumpung masih pagi."
"Cih! Aku tidak sudi menyentuh wanita menjijikan macam dirimu!"
"Jangan sok suci. Semalam kita sudah menyatu. Kalau aku menjijikkan, artinya kamu juga."
Kata-kata wanita itu menampar Kendra. Ya dia sekarang juga menjijikan. Dia telah melakukan hal yang menjijikan.
Kendra lalu teringat Bunga. Penyesalan karena telah menghina Bunga menyusup ke dalam hatinya. Tanpa kata, Kendra keluar dari kamar hotel itu.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
Rekam jejaknya ya....