Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Menyadarkan Kendra


__ADS_3

Kendra mengguyur tubuhnya di bawah shower. Tangannya memukuli dinding kamar mandi melampiaskan kemarahannya.


"Argghhh!!! Kendra berteriak keras dan kembali menghantamkan tinjunya ke dinding. Tangannya mulai berdarah. Ia benar-benar menyesali kebodohannya karena bisa terpedaya oleh wanita yang bahkan tidak dikenalnya.


"Apa ini karma karena aku telah melukai Bunga?" gumam Kendra. Ia lalu tertawa miris mengejek nasibnya. "Aku telah menghinanya bahkan ia pergi pun aku tidak memperdulikannya." Kendra kembali tertawa menyedihkan.


Kendra keluar dari kamar mandi dengan wajah sedikit pucat karena terlalu lama tersiram air. Ia lalu mengeringkan rambutnya dan berpakaian. Setelah selesai ia turun.


"Tuan tidak sarapan? Saya sudah menyiapkannya." kata pembantunya saat Kendra turun.


"Tidak bi. Aku sarapan di luar saja. Bibi makan saja." Kendra lalu keluar.


"Tuan!" panggil pembantunya, "Ini." menyerahkan amplop."Surat nyonya."


Kendra dengan cepat meraih amplop putih itu. Ia menaruh tas kerjanya di sofa kemudian membuka surat dan membacanya.


Mas Kendra, suamiku.


Saat kau baca surat ini, aku sudah meninggalkan rumah ini. Maaf jika aku pergi tanpa pamit.


Mas, aku tahu berat bagimu menerima keadaanku yang sekarang. Meski semua terjadi tanpa aku sadari, tapi tetap aku minta maaf karena tidak bisa menjaga kehormatanku sebagai seorang istri.


Aku pergi bukan karena ingin meninggalkanmu. Aku pergi agar mas punya waktu untuk berpikir dan memutuskan yang terbaik buat keluarga kita. Mas, mungkin Faldi memang cinta pertama buatku dan jujur sulit bagiku menganggapnya seperti tidak pernah terjadi apapun diantara kami. Dan untuk ini aku juga minta maaf. Tapi selama menjadi istrimu, aku benar-benar menerimamu sepenuh hatiku. Kamu punya tempat tersendiri di dalam hatiku.


Perasaanku padamu lebih dari sekedar cinta mas. Aku menerima pernikahan kita dan menjalaninya dengan sungguh sungguh. Aku bertekad akan hidup bersamamu selamanya.


Tapi aku tidak bisa memaksamu jika mas sudah tidak lagi menginginkanku. Mas, aku menunggu keputusanmu. Jika memang ini harus berakhir, segera bebaskan aku. Agar kita bisa menggapai masa depan kita masing-masing. Namun jika mas masih punya keinginan untuk memperbaiki semuanya, aku bersedia mencobanya.


Bunga


Kendra meremas kertas itu. Hatinya teriris. Ia sangat menyesal selama ini telah meragukan ketulusan hati Bunga. Bahkan sempat berpaling pada Riana.

__ADS_1


"Ternyata akulah yang brengsek dan menjijikan. Bukan kau." desah Kendra, "Masih pantas kah aku mengharapkanmu kembali setelah apa yang kulakukan. Akankah kamu menerimaku lagi jika kamu tahu apa yang telah terjadi. Aku sudah menghianatimu." Kendra tergugu.


"Tuan, belum terlambat jika ingin memperbaiki semuanya. Tuan harus ingan bahwa pernikahan itu suci. Apa yang telah disatukan oleh Allah jangan diceraikan oleh manusia, Tuan." kata pembantu Kendra bijak. Selama ini Bi Mira selalu mengamati perilaku Kendra. Sejak jauh dari Bunga pria ini menjadi orang lain. Bukan tuannya yang dulu.


"Terima kasih nasehatnya Bi." Kendra lalu meninggalkan rumahnya untuk berangkat ke kantor.


Setibanya di kantor, sang sekretaris menyambutnya. "Pak ada tamu menunggu di ruangan bapak!"


Kendra masuk dan melihat Faldi sudah duduk di sofa menunggunya.


"Kau? Apa ada yang penting hingga pagi-pagi sudah menemuiku?" tanya Kendra heran. Ia menaruh tas kerjanya di meja kemudian duduk di kursinya.


"Sangat penting." Faldi berdiri mendekat ke meja Kendra.


pluk


Ia melempar amplop coklat ke atas meja Kendra.


"Ini apa?" Tangan Kendra terulur mengambil dan membuka amplop itu. Matanya melotot tak percaya saat melihat isi amplop coklat itu. Foto dirinya dalam keadaan yang tak semestinya bersama seorang wanita.


"Seseorang mengantarkan ke mansion tadi pagi-pagi sekali. Mungkin ia berniat merusak citra bang Kendra di mataku." Dusta Faldi. "Jelaskan apa yang terjadi bang! Siapa wanita itu?"


"Ini tidak seperti dugaanmu dan tidak seperti kelihatannya. Foto-foto ini pasukan dusta. Aku tidak mengenal wanita itu. Ini pasti rekayasa." bantah Kendra sambil berdiri, tangannya terkepal.


"Kalau yang ini?" Faldi menunjukkan rekaman video saat wanita semalam berusaha menguasai tubuh Kendra. Kendra membuang mukanya karena jijik melihat adegan di video itu. "Kenapa bang? Tidak berani melihatnya?" Faldi tersenyum penuh kemenangan saat melihat Kendra terduduk lemas di kursinya.


"Aku tidak sadar saat itu. Aku telah dibius dengan obat." Lemah suara Kendra.


"Dan itu juga yang terjadi padaku dan Bunga bang. Sekarang bang Kendra bisa merasakan bagaimana sakitnya saat kita harus dihukum untuk perbuatan yang bahkan kita sendiri tidak sadar saat melakukannya. Bang, Kira-kira apa tanggapan Bunga saat ia menerima foto dan video ini?"


Kendra memandang Faldi dengan wajah pucat. "Dia akan sangat jijik padaku." Kendra berkata lirih.

__ADS_1


"Sama seperti saat bang Kendra merasa jijik pada Bunga kan?" Faldi menatap tajam Kendra yang sedang mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan.


"Bang. Aku lama mengenal abang. Aku sudah menganggap abang seperti kakakku sendiri. Di banding bang Gerry, aku lebih mengagumi abang. Bagaimanapun beratnya masalah, dulu bang Kendra selalu bisa mengatasinya dengan bijaksana. Tidak terbawa emosi. Kenapa sekarang beda? Kemana bang Kendra yang dulu?" Kata-kata Faldi menghujam ke lubuk hati Kendra. Kendra ingat, dulu ia memang selalu bisa menyelesaikan masalah apapun yang dibebankan padanya, tapi itu masalah kerjaan. Ia tidak pernah mengalami masalah yang berhubungan dengan hati. Bunga adalah wanita pertama yang masuk ke dalam hati dan kehidupannya.


"Abang masih.encingai Bunga?" Kendra mendongak memandang Faldi saat mendengar pertanyaan itu.


"Apa aku masih pantas mengharapkan nya?"


"Tanyakan itu pada diri abang sendiri. Jika abang merasa masih pantas, berjuanglah dan bawa Bunga kembali. Namun jika bang Kendra merasa jika abang tidak lagi pantas buat Bunga, lepaskan dia bang. Jangan abang sakiti lagi dirinya. Dia sudah cukup menderita." Faldi menepuk pundak Kendra.


"Kau menyuruhku mengejar Bunga. Bukankah kau mencintainya? Seharusnya kau senang saat kami berpisah. Karena dengan begitu kamu ada kesempatan." Kendra menatap lekat Faldi.


"Aku memang mencintainya, dan sekarangpun masih mencintainya. Tapi aku punya keyakinan sendiri. Takdir." kata Faldi lalu meninggalkan ruangan Kendra.


Takdir. Jika Bunga memang takdirku, pasti kami akan bersatu. batin Faldi.


Kendra menatap kepergian Faldi. Kemudian ia mengambil amplop berisi foto fotonya itu lalu membawanya ke rooftop dan membakarnya di sana.


Aku akan memantaskan diriku sebelum menjumpaimu Bunga. Semoga kau masih menungguku.


Pada saat bersamaan, Bunga yang sedang makan bersama Martin tiba-tiba tersedak.


"Ini minum!" Martin menyodorkan gelas berisi air. Bunga mengambil gelas itu dan langsung meminumnya.


"Apa ya g kau pikirkan hingga bisa tersedak?" Martin mengambilkan Bunga tisu. Bunga membersihkan mulutnya dengan tisu itu.


"Tidak ada yang kupikirkan. Hanya saja seperti ada yang memanggilku dan merindukanku." gumam Bunga lirih. Ingatnya melayang pada suaminya.


"Pasti suamimu. Sebentar lagi dia akan datang menyusulmu."


Bunga termenung mendengar ucapan Martin. Apa yang dikatakan. artinya sejatinya adalah keinginannya. Ia berharap Kendra datang menjemputnya. Namun sampai sekarang suaminya itu bahkan tidak pernah menghubunginya sama sekali.

__ADS_1


*Kau sedang apa mas.Aku kangen. rintih hati Bunga.


...🌹🌹🌹*...


__ADS_2