
Sembilan bulan kemudian.
"Sayang, sudah malam. Istirahatlah!" kata Bunga yang melihat Faldi masih sibuk di ruang kerjanya. Ia duduk di sofa depan Faldi sambil mengelus perutnya yang sudah besar.
Faldi melihat Bunga. Ia lantas menghentikan aktifitasnya dan menghampiri istrinya itu.
"Apa sakit?Kenapa kau mengelus nya?" ia bertanya sambil ikutan mengelus perut Bunga.
"Nggak sakit. Hanya sejak tadi bergeraknya sangat aktif. Menendang kesana kemari. Jadi aku elus biar mereka tenang." jawab Bunga.
Faldi mendekatkan kepalanya ke perut Bunga, "Hai anak-anak papa. Jangan tendangin perut mama ya. Kasihan mama. Cepat keluar nanti kita main bola bareng. Kalian bisa puas menendang kalau di luar." bisik Faldi.
Ajaib. Bayi kembar dalam perut Bunga langsung tenang seolah mengerti perkataan papanya.
"Eh.. mereka diam!" teriak Bunga. "Mereka mendengarkanmu."
Faldi mengelus perut Bunga, "Mungkin dia kangen aku." katanya sambil mengerling.
"Ah... itu sih kamu yang mau." semprot Bunga.
Faldi malah terkekeh. Tangannya yang semula mengelus perut Bunga, kini menyusup ke dalam dress Bunga.
"Fall.. " desah Bunga.
"Aku akan membukakan jalan buat mereka keluar. Biar nggak tersesat." bisik Faldi lalu mulai mencumbu Bunga.
...***...
Di sebuah rumah sakit.
Faldi berjalan modar mandir di depan sebuah ruangan.
"Bagaimana Fal?" tanya seorang wanita yang datang bersama suaminya. Mereka adalah Ny. Dea dan Tuan Firmandana. Kedua orang tua Faldi.
"Belum ada kabar, Ma." jawab Faldi tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya.
"Duduklah dan tenangkan dirimu. Papa yakin istri dan anak-anakmu akan baik-baik saja." Tuan Firmandana mencoba menenangkan Faldi.
Ny. Dea membimbing Faldi dan mengajaknya duduk.
"Dulu, saat mama melahirkan kalian, papa juga sama sepertimu. Panik." kata Nyonya Dea bercerita.
Faldi tersenyum
"Tapi pas sudah lahir, ia lupa semuanya."
"Nanti kamu juga akan begitu." kata Tuan Firmandana. "Tapi Fal, kenapa kamu tidak mendampingi Bunga di dalam?"
"Dia nggak mau pa. Katanya dia nggak ingin aku melihatnya kesakitan. Takut aku trauma." jawab Faldi.
"Papa paham. Dulu papa juga begitu. Saat melihat mamamu kesakitan ketika melahirkan Gerry, mama jadi enggan punya anak lagi. Kasihan sama mama. Nggak mau mama kesakitan lagi."
"Dan akhirnya mama juga enggan menyentuh mana, takut mama hamil. Iya kan Pa?" Ny. Dea meneruskan cerita suaminya. Tuan Firmandana hanya tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya.
"Jadi keputusan Bunga benar. Ia sangat memahamimu. Makanya ia tidak mau kamu melihatnya dalam keadaan seperti itu." kata Tuan Firmandana.
Penjelasan mama dan papanya tidak mangurangi kepanikan Faldi. Faksi baru tenang saat ada dua orang perawat keluar sambil menggendong ke dua bayinya.
Faldi langsung menyambut ke dua anaknya. Ia sangat bahagia sampai menitikkan airmata karena sekarang ia memiliki sepasang anak kembar.
"Bagaimana dengan istri saya, sus?" tanya Faldi.
__ADS_1
"Nyonya Bunga baik-baik saja. Beliau sedang dibersihkan. Bapak silahkan kalau mau mengadzani putra dan putrinya." kata sangat perawat. Faldi mengangguk. Ia kemudian mengadzani kedua anaknya secara bersamaan.
"Lucunya cucu nenek." seru Ny Dea gembira sambil mengambil bayi perempuan dari gendongan perawat. Sedangak Faldi mengge dong bayi laki-lakinya.
"Sepasang. Selamat Nak. Kau luar biasa." kata Tuan Firmandana menepuk bahu Faldi. "Kini papa bisa tenang. Ada dua penerus keluarga Firmandana. Andai Gerry bisa menambah anak lagi." gumam Tuan Firmandana.
"Kita Do'akan saja pa. Meski dokter memvonis kakak tidak akan bisa punya anak, keajaiban bisa saja terjadi untuk yang kedua kalinya." kata Faldi.
"Aamiin." Ny. Dea dan Tuan Firmandana mengamini doa Faldi.
"Tian, Nyonya, bayinya harus kami bawa ke ruang bayi." kata perawat meminta bayi Faldi. Faldi dan Ny Dea menyerahkan bayi itu ke tangan para perawat.
"Sus, apa saya bisa melihat istri saya?" tanya Faldi tidak sabar ingin melihat keadaan Bunga.
"Tunggu di sini saja Tuan. Setelah Nyonya selesai dibersihkan, akan kami pindahkan ke kamar perawatan."
Faldi mengangguk. Ia kembali duduk menunggu. Tak lama kemudian Bunga keluar dari ruang bersalin dengan memakai kursi roda.
"Sayang!" Faldi langsung menyongsong Bunga dan memeluk nya. Ia mencium kening Bunga lama. "Terima kasih. Terima kasih untuk si kembar." kata Faldi hari hingga sebulir air mata jatuh dipipinya.
Bunga mengangguk dan tersenyum.
"Ma.. Pa.. " sapa Bunga pada mertuanya.
"Selamat ya sayang." Nyonya Dea mencium kening Bunga juga. Tuan Firmandana hanya mengelus kepala Bunga.
"Ayo, kita ke kamar perawatan." kata Faldi lalu mendorong kursi roda Bunga.
"Anak kita?"
"Ada di kamar bayi. Nanti aku kan minta perawat mengantar ke kamar kita."
Berita kelahiran anak kembar Faldi tersebar ke semua relasi kerjanya. Banyak yang datang mengunjungi Bunga untuk memberikan ucapan selamat. Bahkan Gerry dan Kendra juga menyempatkan diri datang ke Indonesia sekedar untuk mengucapkan selamat dan melihat bayi kembar Faldi.
"Selamat Fal." Kendra memeluk Faldi. Sedangkan Melati memeluk Bunga.
"Terima kasih bang. Selamat juga buat Bang Kendra. Sebentar lagi akan menyusul kebahagiaanku." balas Faldi.
"Alhamdulillah." jawab Kendra sambil melepaskan pelukannya pada tubuh Faldi. Ia memandang sekilas ke arah Bunga dan memberikan senyumnya.
"Sudah berapa bulan?" tanya Bunga pada Melati.
"Baru lima bulan jalan." Melati mengelus perut buncit nya.
"Ngidam apa bang?" tanya Faldi pada Kendra.
Kendra dengan semangat menceritakan ngidamnya Melati dan bagaimana ia sampai pusing dibuatnya manakala Melati menginginkan makanan yang hanya ada di Indonesia. Faldi tertawa. Ia juga menceritakan pengalamannya menuruti ngidamnya Bunga.
"Mereka yang hamil, kita yang tersiksa. " kata Faldi dibalas tawa Kendra.
"Tersiksa ya?!" kata Bunga memandang tajam suaminya.
"Oh.. nggak kok sayang. Tersiksa yang bahagia." jawab Faldi sambil menggaruk kepalanya melihat raut wajah masam Bunga.
Kendra terkekeh.
"Coba saja berani bilang tersiksa lagi. Nggak usah bikin anak lagi kalau tersiksa." ancam Bunga.
"Jangan donk sayang. Ya tetap bikin tapi jangan dijadiin." Faldi menjawab asal.
Kendra dan Melati tergelak mendengar jawaban konyol Faldi. Bungapun tak kuasa menahan senyumnya mendengar ucapan suami kecilnya itu.
__ADS_1
"Seru banget. Ngobrolin apa?" Gerry yang datang langsung nimbrung.
"Bang!!" Faldi bersiri dan menyambut kedatangan kakaknya dengan pelukan. Di belakang Gerry, ada Zidan yang langsung berlari memeluk Bunga dan juga istri Gerry.
"Selamat Fal." Gerry memberi selamat pada Faldi.
"Ini adik Zidan, Ma!" tanya Zidan gembira sambil. melihat kedua adiknya yang berbaring di dalam box bayi.
"Iya sayang. Itu adik Zidan." jawab Bunga sambil. mengelus kepala Zidan.
"Selamat Bunga." kata Almira, istri Gerry.
"Terima kasih, mbak. Dan Terima kasih juga karena merawat Zidan dengan baik. Semoga Zidan tidak menyusahkan mbak."
Istri Gerry menggeleng. "Zidan anak baik dan mudah di atur. Jadi sama sekali nggak menyusahkan." jawab istri Gerry. Ia lalu mengernyit sambil memegang kepalanya.
"Mbak kenapa?" tanya Bunga cemas. Semua memandang ke arah istri Gerry saat mendengar pertanyaan Bunga.
Gerry bahkan bangkit dan mendekati istrinya itu, "Sayang kau kenapa?!"
"Entahlah. Sejak turun dari pesawat aku merasa pusing. Dan semakin lama semakin kuat rasa pusingku." jawab istri Gerry lalu tiba-tiba ia lemas dan tidak sadarkan diri. Untuk Gerry berada di dedaktnua sehingga dia bisa menangkap tubuh istrinya yang tiba-tiba limbung dan jatuh.
"Kak baringkan dia di sini!" Faldi meminta Gerry membaringkan istrinya di bed ekstra yang biasa ia pakai tidur di kamar perawatan Bunga. Sementara Gerry mengurus istrinya, Kendra keluar untuk memanggil dokter. Sebentar kemudian, Kendra datang bersama seorang dokter.
"Sayang!Bangun!" kata Gerry sambil menggosok tangan istrinya.
"Pi, mami kenapa?" tanya Zidan ikutan panik melihat maminya pinsang.
"Tian silahkan menepi dulu. Biar saya memeriksa Nyonya." kata dokter yang tiba bersama Kendra.
Gerry menjauh dari ranjang istrinya. Dokter memeriksa istri Gerry dengan seksama. Dia lalu tersenyum.
"Nyonya baik-baik saja." kata dokter.
"Baik-baik saja bagaimana?Ia pingsan begitu!" kata Gerry masih cemas karena istrinya tidak juga sadar.
"Tian tenang saja. Tuan seharusnya bahagia sekarang dan bukannya cemas." kata dokter itu sambil tersenyum.
"Bahagia?Bagaimana saya bisa bahagia jika istri saya sakit dok?" Gerry mulai sedikit emosi.
"Nyinya tidak sakit. Ia hanya sedang hamil." kata dokter. Semua yang mendengar mengucap syukur dengan gembira namun Gerry hanya diam. Ia tertegun karena tidak mengira jika ia akan di beri kesempatan memiliki anak lagi.
"Dokter tidak sedang bercanda kan?" tanya Gerry memastikan.
"Kalau tuan ingin lebih yakin. Silahkan besok nyonya bisa tes urine."
"Baik dok." kata Gerry gembira.
Dokter lalu memberi resep, "Beri dia obat ini untuk menguatkan kandungannya. Jaga dia baik-baik. Karena usia kehamilan yang masih muda itu rentan."
Gerry mengangguk mendengar nasehat dokter itu. Setelah selesai memeriksa istri Gerry, dokter itu lalu keluar dari kamar Bunga.
Setelah kepergian dokter, perhatian mereka kembali pada Almira.
"Sayang!"panggil Gerry saat melihat Almira mulai bergerak.
"Aku kenapa, Pi?" tanah Almira pada Gerry
"Kamu pingsan." jawab Gerry sambil tersenyum dan mengelus tangan Almira.
"Pi, kenapa kau bahagia sekali?" tanya Almira sambil menatap wajah Gerry.
__ADS_1
Gerry membelai wajah Almira. "Sayang kita akan punya baby." bisik Gerry.
Mata Almira membola. Ucapan syukur keluar dari bibirnya. Ia bahagia sebahagia semua orang yang ada di kamar itu.