Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Akang Sayang...


__ADS_3

Saat bersiap menjemput Zidan, Bunga menerima pesan dari Faldi. Faldi menulis agar Bunga tidak usah menjemput Zidan karena sudah dijemput Martin. Faldi meminta Bunga mempersiapkan pakaian karena ia ingin mengajak Bunga bepergian.


Mendadak sekali? Kenapa nggak semalam saja minta aku packing. batin Bunga


Meski menggerutu dalam hati, Bunga melakukan apa yang Faldi perintahkan.


Ponselnya kembali bergetar. Faldi kembali mengirim pesan bahwa sebentar lagi sopirnya akan menjemput Bunga.


Selesai bersiap, Bunga menunggu sopir yang dikirim Faldi. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumah Bunga. Tanpa menunggu waktu lebih lama, Bunga menyeret kopernya dan keluar. Ia melihat sopir Faldi masuk ke halaman.


"Biar saya yang membawanya nyonya." Sopir itu meminta koper Bunga. Ia kemudian memasukan koper itu ke bagasi mobil.


"Pak kita mau kemana?" tanya Bunga saat ia melihat kalau jalan yang mereka lalui bukan jalan ke kantor Faldi.


"Ke bandara nyonya. Tuan sudah menunggu di sana."


"Bandara? Memang Fal.. eh Suamiku mau mengajakku kemana pak?"


"Itu, saya tidak tahu nyonya. Saya hanya ditugasi menjemput dan mengantar nyonya ke bandara."


Faldi sudah menunggu di depan pintu masuk bandara. Senyumnya mengembang saat melihat Bunga berjalan ke arahnya.


Faldi memeluk Bunga sejenak.


"Kita mau kemana?" tanya Bunga yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran nya.


"Bulan madu." Faldi menjawab sambil. menarik tangan Bunga masuk untuk melakukan check in.


Dengan menggunakan jet pribadi milik ayahnya, Faldi dan Bunga terbang menuju tempat bulan madu mereka.


"Fal.. mmm. "


Faldi menempelkan jari telunjuknya ke bibir Bunga saat ia mendengar Bunga memanggil namanya.


"Masih memanggilku dengan namaku? Bukankah aku sudah bilang, ubah caramu memanggilku!" kata Faldi sambil. menatap lekat wajah Bunga.


"Tapi aku harus memanggilku apa?"


"Ya itu kau pikirkan sendiri. Yang jelas aku tidak mau kau ajak bicara jika kamu masih memanggilku dengan namaku."

__ADS_1


Bunga cemberut.


Faldi menggeliat merenggangkan otot-oti tubuhnya yang terasa kaku lalu mencari posisi ternyamannya dan memejamkan mata.


Malah tidur. batin Bunga kesal.


Bunga mendekatkan wajahnya dan berbiaik, "Kuya sayang."


Faldi tersenyum. Ia tahu arti kaya kuya. yaitu kakak.


*Aku bukan artis yang pandai sulap itu. Jangan panggil aku kuya." balas Faldi masih dengan mata terpejam.


"Kalau nggak suka kenapa tadi tersenyum?" Bunga memanyunkan bibirnya ke arah Faldi


"Karena aku ingat saja dengan si artis. Ia pasti tidak suka jika tahu kau menyebutku kuya juga."


"Nyebelin!" gerutu Bunga.


"Biar nyebelin tapi ngangenin dan yang jelas bisa muasin." jawaban Faldi yang berbau mesum membuat Bunga mati kutu. Ia ingat saat dirinya minta nafkah.


Bunga kembali diam berpikir.


"Iya Neng? Ada apa?" jawab Faldi. Ia membuka mata dan menatap Bunga sbil tersenyum.


"Kok Eneng sih?"


"Kalau kamu memanggilku akan, maka aku akan memanggilku Neng. Jadi pas kan. Tapa ngomong-ngomong aku suka panggilan akang." Faldi menowel dagu Bunga. "Sekarang biarkan aku tidur. Aku capek. Apa yang ingin kau bicarakan, katakan nanti saat kita sudah sampai di tempat tujuan kita, ya Nengku sayang." Faldi tersenyum lagi dan melanjutkan tidurnya.


Bunga menghela nafas, dan mencoba mengikuti Faldi. Tidur.


l mereka terjaga saat pesawat mengalami goncangan. Faldi membuka mata dan melihat keluar jendela.


"Sudah mendarat rupanya. " Ia bergumam dan kembali melakukan gerakan merenggangkan otot tubuhnya.


"Neng, bangun! Kita sudah sampai." Faldi membangunkan Bunga. Tapi karena lelah, Bunga tidak bangun. Faldi lalu membopongnya untuk turun dari pesawat. Saat melewati pintu, tanpa sengaja kepala Bunga terantuk.


"Aw!" Bunga memekik kaget karena tiba-tiba merasakan kepalanya sakit.


"Maaf! Kamu tidak apa-apa?" Faldi menurunkan Bunga lalu memeriksa pelipisnya. Ada memar di pelipis Bunga.

__ADS_1


"Sakit ya? Maaf!"


"Kenapa nggak membangun kan aku saja." gerutu Bunga sambil. menuruni tangga pesawat.


"Sudah. Tapi tidurmu sangat pulas. Nggak bangun-bangun."


Bunga berjalan sambil memegangi dan mengurut pelipisnya.


"Sakit ya?" Faldi mengulurkan tangannya mengusap pelipis Bunga.


"Nggak terlalu sih. Tapi masih sedikit nyeri." jawab Bunga.


"Kita ke klinik bandara dulu kalau begitu."


"Nggak usah. Jangan lebay deh. Ini nggak papa. Besok juga sembuh." omel Bunga.


"Ya sudah. Kita langsung ke hotel kalau begitu." Faldi membimbing Bunga keluar dari bandara.


"Ah... akhirnya." Bunga melemparkan tubuhnya yang pernat ke atas ranjang berukuran king size kasur yang super empuk.


Faldi mendekat dan berbaring di sisi Bunga dengan posisi tengkurap. Ia memandangi pelipis Bunga yang nampak membiru. Faldi mengelusnya.


"Beneran ini nggak papa?"


"Enggak akang. Beberapa hari lagi juga akan hilang memar nya." jawab Bunga dengan santai. "Oh ya, Kang! Setelah ini kita mau kemana? Tentu akang sudah punya rencana kan?"


Faldi mengangguk. "Ya. Tapi untuk hari ini kita nggak akan ke mana-mana. Kita stau di hotel saja."


"Kenapa?"


"Kita harus fokus pada permintaan Zidan kan?" Faldi mengulum senyum licik dan mulai melakukan serangan senja pada Bunga yang gelagapan menerima serbuan mendadak itu.


...🌿🌿🌿🌿...


Alhamdulillah


Mohon maaf up nya lama...


Banyak kesibukan dan orderan... πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

__ADS_1


Semoga menghibur...


__ADS_2