Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Saling Mengobati


__ADS_3

"Kemasi barangmu. Ikut ke rumahku!" Kendra berkata sambil membenahi pakaiannya.


"Kamu nggak mandi dulu, Mas?"


"Nanti saja di rumah. Ayo aku bantu berkemas!" Kendra menarik koper Bunga. Mengeluarkan baju Bunga yang ada di almari kamar hotel dan memasukkannya ke dalam koper.


"Kalau mereka mencariku?"


"Aku akan meminta Lisa membawa mereka ke rumahku sepulang jalan-jalan."


Bunga bangkit dari ranjang dan memakai pakaiannya. Setelah selesai, Kendra menggandengnya keluar. Sopir Kendra sudah menunggu di luar hotel.


Kendra memerintahkan sopirnya untuk memasukan koper Bunga ke dalam mobil. Sopir itu lalu membuka pintu mobil bagian belakang, Bunga masuk diikuti Kendra.


Mobil melaju membelah lalu lintas kota Tokyo menuju rumah Kendra.


Di dalam mobil, Kendra memeluk erat Bunga. Ia menarik tubuh Bunga hingga merapat ke tubuhnya. Kendra menciumi rambut Bunga. Tangannya kembali menjelajahi tubuh Bunga.


"Mas. Malu dilihati sopirmu!" bisik Bunga. Kendra lalu menekan tombol yang ada di depannya. Seketika ada sekat turun dan menjadi pembatas antara tempat duduk mereka dan sopir.


"Kalau begini, dia tidak bisa melihat kan?" Kendra lalu ******* bibir Bunga. Seperti tidak pernah merasa puas, Kendra terus menyalurkan rasa rindunya yang lama terpendam itu. Sempitnya kursi mobil tidak menghalangi keduanya kembali mengarungi indahnya surga dunia. Saat mobil berhenti di depan rumah Kendra, sopir tidak berani membuka pintu belakang. Meski samar ia bisa mendengar desahan Bunga.


Sopir itu turun dan menjauh dari mobil. Ia membiarkan tuannya menyelesaikan aktifitasnya.


"Mas sepertinya kita sudah sampai. Mobil sudah berhenti." bisik Bunga.


"Iya. Sebentar lagi. Nanggung." balas Kendra.


Saat mereka selesai, Kendra langsung merapikan pakaiannya lalu membantu Bunga. Ia tersenyum puas saat melihat banyak bekas kemerahan yang ia ciptakan di tubuh Bunga.


"Kenapa kamu tersenyum? Apa yang membuatmu sesenang itu mas?" tanya Bunga.


"Nanti kamu juga akan tahu. Sudah selesai? Aku akan membuka pintu."


Bunga mengangguk. Kendra membuka pintu, ia keluar lalu mengulurkan tangannya membantu Bunga turun.


"Ini rumahmu mas? Indah sekali." kata Bunga takjub melihat rumah mungil Kendra yang cantik karena dihiasi dengan taman bunga. Ada bunga sakura juga di taman itu yang sekarang sedang mekar.


"Ya. Dan sekarang jadi rumahmu juga. Ayo masuk!" Kendra membimbing Bunga masuk. "Kau tahu, saat mendesainnya aku ingat kamu. Aku ingat kamu suka tipe rumah mungil penuh dengan bunga. jadi aku membuat rumah seperti kesukaanmu, berharap suatu saat kamu akan datang dan tinggal di sini bersamaku." Kendra membuka pintu rumahnya. Interior dalam rumahnya juga merupakan kesukaan Bunga.


Mata Bunga bersinar bahagia dan kagum melihat setiap detail interior dalam rumah Kendra. Ada sentuhan Jepang dan Indonesia. "Mas ini sangat cantik!"


"Rumah yang cantik untuk perempuan cantik, bukankah itu pantas?" Kendra memeluk Bunga dari belakang. Bibirnya kembali menciumi leher jenjang Bunga.


"Mas!" Bunga mendesah geli.


"Mari aku tunjukan istana pribadi kita!" Masih dengan memeluk Bunga, Kendra membimbing istrinya itu ke dalam kamarnya.


"Bagaimana?!" tanya Kendra. Ia meletakan dagunya di bahu Bunga.


"Ini.. luar biasa. Apa tiap malam kamu selalu tidur sambil menatap langit, mas?!" tanya Bunga saat ia melihat langit-langit kamarnya yang transparan sehingga mereka bisa menatap indahnya langit malam.

__ADS_1


Kendra terkekeh. "Itu bukan langit betulan." Kendra melepaskan pelukan nya. Ia mengambil remot dan menekan tombol. Seketika pemandangan di langit kamar dan dinding kamar berubah. "Kamu mau tidur di mana? Laut apa hutan?"


"Mmm laut!" jawab Bunga. Kendra mengaturnya dengan remote yang ada di tangannya.


"Wow!!" Bunga terpesona. Kamar mereka berubah menjadi seperti di tengah lautan. Bahkan ada suara ombak juga. Lantai yang Bunga pijak berubah menjadi hamparan pasir putih yang indah.


Kendra berjalan dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia membuka kancing atas bajunya.



"Kesinilah sayang!" kata Kendra mesra dan lembut. Bunga bagai dihipnotis oleh pose sensual suaminya itu. Ia mendekat dan Kendra menariknya ke dalam pelukannya, lalu merebahkan Bunga di sisinya.


"Kita bagai pengantin baru ya?!" Kendra terkekeh. "Rasanya seperti di awal-awal kita menikah. Aku ingin selalu di dekatmu."


"Aku juga merasakan hal yang sama mas. Rasanya tidak cukup puas waktu kebersamaan kita." balas Bunga menatap mesra Kendra.


"Jadi kalau aku melakukannya lagi, tidak apa-apa kan?" Kendra tidak menunggu jawaban Bunga. Ia segera melancarkan aksinya. Bunga menerima dengan sukarela. Karena ia pun menginginkannya. Menginginkan kehangatan Kendra yang selama lima tahun hilang dari hidupnya.


Lisa yang sedang membawa berkeliling Faldi dan keluarga Riana, mendapat pesan dari Kendra untuk membawa Faldi dan yang lain ke rumahnya jika acara mereka sudah selesai.


"Kenapa paman meminta kita ke rumahnya? Bukankah ia tadi mengantar mbak Bunga ke hotel?" gumam Riana. Faldi yang mendengar ucapan Riana mengerti kalau Bunga sudah berhasil membuka penyamaran Kendra.


"Ayo! Kita ke rumah pamanmu. Aku juga sudah lelah. Ingin beristirahat." jawab Faldi.


"Tapi rumah paman mana cukup buat kalian menginap?"


"Siapa yang akan menginap di rumah pamanmu! Kami hanya akan berkunjung. Kami tetap menginap di hotel."


Saat mereka tiba, Bunga menyambutnya. Ia sudah berpakaian rapi. Mengenakan T-Shirt berkrah tinggi untuk menutupi lehernya yang penuh kissmark Kendra. Faldi mendekat "Bagaimana?" bisiknya.


Bunga mengangguk. Wajahnya sumringah. Faldi menepuk bahu Bunga. "Selamat!" ucapnya tulus.


"Trimakasih, Fal dan maaf." ucap Bunga pelan agar tidak di dengar yang lain.


Faldi tersenyum. Ia lalu masuk dan bergabung dengan yang lain di ruang tamu.


"Paman dimana? Kenapa ia tidak keluar?" tanya Lisa.


"Pamanmu masih mandi." jawab Bunga lalu duduk di kursi.


Lisa gelisah. Mengapa paman bisa berdua dengan istrinya ini di rumahnya? Apa ia sudah mengaku pada istrinya ini? Lisa terus gelisah, ia duduk dengan tidak tenang. Sebentar-sebentar mengubah posisinya. Faldi bisa merasakan kegelisahan Lisa. Ia tahu gadis itu juga terluka hatinya.


"Maaf membuat kalian menunggu!" Kendra keluar. Kali ini ia keluar sebagai Kendra bukan Arcandra.


"Paman!!" pekik Lisa Matanya berkaca-kaca. Ia bangkit dan berlari keluar.


"Lisa!" Kendra hendak mengejarnya tapi ditahan oleh Faldi.


"Biar aku bang! Ia tidak akan mau mendengarkanmu saat ini."


Faldi keluar menyusul Lisa.

__ADS_1


"Lisa tunggu!" panggil Faldi melihat Lisa berlari menjauh. Faldi mempercepat langkahnya dan berhasil menyusul Lisa. Ia menarik tangan Lisa hingga gadis itu menghentikan langkahnya. Lisa tidak berani menatap Faldi. Bahunya bergetar menahan tangis. Faldi meraih tubuh Lisa dan memeluknya.


"Menangislah! Jangan ditahan."


Lisa membenamkan wajahnya di dada Faldi dan menangis. "Kenapa mereka tega Om. Apa mereka tidak tahu kalau kebersamaan mereka akan melukaiku, Om."


"Lisa. Bukan hanya kau yang terluka. Aku juga. Tapi mereka suami istri. Kita tidak. boleh memisahkan pasangan suami istri."


"Tapi aku yang berada di sisi paman selama lima tahun ini om. Aku sudah menunggunya selama lima tahun " Lisa masih menangis.


"Penantianmu belum seberapa dibanding aku Lisa. Aku mengharapkan Bunga hampir sepuluh tahun." desah Faldi dengan suara serak menahan luka di hatinya. Lisa mengangkat wajahnya. Ia memandang Faldi. Matanya membulat saat melihat titik bening keluar dari sudut mata Faldi. Lisa mengusapnya. Faldi menangkap tangan Lisa.


"Luka yang kita rasakan, lama-lama juga akan sembuh. Tapi jika kita memisahkan mereka, kita akan terus dihantui penyesalan. Aku tahu kamu gadis baik. Kamu pasti tidak mau merusak rumah tangga orang lain kan?"


Lisa mengangguk sambil terisak.


"Ayo kita cari tempat yang enak buat bicara. Kalau di sini, kita akan jadi tontonan orang yang lewat." Faldi menggandeng Lisa menuju sebuah coffe shop di seberang jalan.


"Aku akan bercerita padamu tentang kisahku dan Bunga. Mungkin kau bisa mengambil pelajaran dari ceritaku bahwa tak selamanya apa yang kita mau bisa kita dapatkan." Faldi kemudian menceritakan perjalanan cintanya pada Bunga dari awal hingga akhir.


Wajah Lisa berubah ubah saat mendengar kisah Faldi. Timbul rasa iba dan kagum dihatinya pada Faldi.


"Om.. kau pasti sangat menderita." Lisa menggenggam tangan Faldi memberi kekuatan. Faldi tersenyum dan membalas genggaman Lisa.


"Iya. Aku memang menderita. Tapi aku nggak pernah menyesal. Karena Bunga juga pernah memberiku kebahagiaan. Mengenalkanku pada indahnya cinta. Meski ia juga yang membuatku merasakan pahitnya putus cinta."


"Om!" Lisa tidak bisa berkata-kata mendengar penderitaan Faldi. Ia merasa bahwa apa yang ia rasakan tidak ada apa-apa nya dibanding yang Faldi rasakan.


Faldi menarik nafas panjang, "Mereka sudah kembali bersama. Kini saatnya buat kamu dan aku melanjutkan hidup kita masing-masing. Menata kembali hidup kita. Aku tidak memintamu melupakan bang Kendra, karena itu mustahil. Tapi tempatkan bang Kendra disisi lain hatimu dan berusahalah menerima pria lain masuk ke dalam hatimu. Aku yakin kau akan menemukan kebahagiaan." Faldi menasehati Lisa dan dirinya sendiri.


"Om! Aku pernah berkata pada paman, kalau aku tidak akan menikah selain dengan dua pria."


"Baguslah kalau kamu sudah punya tambatan lain. Jadi tunggu apa lagi. Kau bisa memulai hidup baru dengan pria itu."


"Om tahu siapa pria itu? Pria itu adalah om. Sejak aku bertemu om di bandara saat itu, aku selalu mengingat om. Seperti yang om bilang, sisi hatiku ada wajahmu."


Pengakuan Lisa membuat Faldi terkesima. Gadis muda dihadapannya ini ternyata sangat berani. Gadis yang terdidik dengan pendidikan modern yang lebih terbuka menyampaikan isi hatinya.


"Om!" panggilan Lisa menyadarkan Faldi dari lamunannya.


Mungkin ada baiknya jika aku mencoba hubungan dengan gadis ini. Sama-sama terluka dan saling mengobati. Semoga berhasil. batin Faldi.


Faldi meraih tangan Lisa. "Kalau kau mau, kita akan mencobanya. Mari saling mengobati luka masing-masing. Aku tidak akan memaksamu melupakan bang Kendra begitu pula sebaliknya. Jangan memaksaku melupakan Bunga. Biarkan waktu yang menyembuhkan hati kita. Kita hanya berusaha saling mengisi dan memberi perhatian. Biarkan semua berjalan alami." kata Faldi. Lisa mengangguk dan tersenyum.


"Kamu tahu Lisa, senyummu itu sangat cantik. Jadi seringlah tersenyum." pujian pertama Faldi sukses membuat wajah Lisa merona.


"Ternyata om pandai menggombal juga." Lisa terkekeh. Faldi ikut tertawa lirih. Rasa sakit di hati mereka sedikit berkurang.


...🌹🌹🌹...


Semoga menghibur

__ADS_1


__ADS_2