
Sepeninggal Faldi, Gerry melangkah ke kamarnya. Ia mengira Bunga ada di dalam. Gerry membuka pintu kamar. Ia masuk namun tidak melihat Bunga. Gerry menuju kamar mandi. Tidak ada tanda tanda jika Bunga ada di dalam. Gerry keluar dan pergi ke ruang baca. Ia masih tidak menemukan Bunga. Gerry mulai panik. Ia mencari ke setiap ruangan di mansion itu. Jangankan Bunga, jejaknya pun tidak ia temukan.
Gerry mencoba menghubungi ponsel Bunga. Tapi nomornya sudah tidak aktif.
Ia lalu menghubungi Kendra. Sama. Ponsel Kendra juga tidak bisa dihubungi.
Gerry lalu menelpon Faldi. Faldi yang sedang memacu motornya tidak mendengar panggilan Gerry.
Akhirnya Gerry mengirim pesan apada Faldi.
*Bunga pergi dari mansion*
Gerry lalu memanggil sopirnya dan mereka meluncur ke kantor perusahaan Gerry.
Gerry tertegun saat mendapati surat pengunduran diri Kendra tergeletak di mejanya.
Kenapa kebetulan sekali. Bunga pergi dan Kendra mengundurkan diri. Apa mereka pergi bersama? Apa selama ini ada hubungan tersembunyi di antara mereka?
Berbagai pikiran buruk yang berkecamuk dalam kepala Gerry membuat pria itu murka. Dia membanting benda apapun yang ada di mejanya. Kantornya sekarang berantakan.
"Kalian penghianat!!!!! " teriak Gerry menakutkan. Karyawan yang mendengar teriakan Gerry merasa takut.
__ADS_1
Gerry keluar dari kantornya dengan wajah yang menyeramkan.
Gerry memanggil pengawal pribadinya. "Sebar anak buahmu. Cari Kendra dan Bunga bagaimanapun caranya. Bawa kembali mereka kehadapanku!"
***
Faldi memacu motornya dengan kecepatan tinggi untuk mengusir kesedihannya. Ia terus melaju menuju daerah perbukitan di luar kota Jakarta. Faldi berhenti di tempat tinggi sambil melihat pemandangan di bawahnya. Faldi menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya dalam bentuk teriakan. Beberapa kali ia melakukan hal tersebut kemudian tubuhnya ambruk. Faldi kini terlenta h di atas rerumputan sambil menatap ke atas. Ia mengambil ponselnya bermaksud melihat foto Bunga. Namun ia terkejut saat membaca pesan dari Gerry.
Faldi bangkit dan kembali melajukan motornya menuju Jakarta.
Sementara itu Kendra dan Bunga memilih perjalanan darat untuk mencegah orang orang Gerry menemukan jejak mereka.
"Kita mau kemana mas?"
"Dimana itu"
"Di ujung selatan Jawa Timur. Sebuah kota kecil yang belum pernah kukunjungi sehingga Gerry tidak akan mengira kita ada di sana."
"Terus kita nanti tinggal dimana?"
"Aku punya teman di sana. Gerry tidak tahu kalau aku punya teman di kota itu. Dia bisa menolong kita. Aku sudah mengirim pesan kalau aku akan ke tempat nya." Kendra diam. "Bunga perjalanan kita jauh. Kau mungkin akan capek. Apa kau kuat?"
__ADS_1
"Mas Kendra tenang saja, aku bukan wanita lemah."
Mereka berdua lalu tertawa.
"Mas, hari sudah siang. Cari makan dulu yuk!" ajak Bunga.
"Kamu mau makan di mana?"
"Mending di kaki lima saja, aman."
Kendra paham apa yang dimaksud aman oleh Bunga. Mereka kemudian berhenti di sebuah warung seafood dan makan siang di situ.
Setelah selesai mereka melanjutkan perjalanan.Bunga bersandar di kursi, ia memandang keluar jendela.
"Semakin jauh kita meninggalkan Jakarta, pemandangannya semakin bagus ya Mas."
"Iya, di pinggiran kota yang masik asli alamnya pastilah bagus. "
Bunga tersenyum.
"Mas, kenapa Mas Kendra mengundurkan diri?"
__ADS_1
"Karena aku ngerasa bersalah atas apa yang terjadi pada kakak adik itu sekarang"