
Mas, kenapa Mas Kendra mengundurkan diri?"
"Karena aku ngerasa bersalah atas apa yang terjadi pada kakak adik itu sekarang"
Bunga diam.
Sama mas. Aku juga. Gara gara kebodohanki tidak bisa membedakan mana Faldi dan mana Gerry, semua jadi seperti ini. Hubungan kakak beradik jadi rusak. Dan aku.. aku malah menyerahkan tubuhku pada pria lain dan kehilangan orang yang aku cintai."
Bunga menitikkan air mata. Ia terus memandang ke luar jendela. Lama kelamaan Bunga terlelap.
"Bunga bangjn!" Kendra menggoyang bahu Bunga.
Bunga menggeliat dan membuka matanya.
"Kita dimana mas?"
"Di rumah teman mas. Kita istirahat di sini dulu. Besok pagi baru melanjutkan perjalanan lagi. Aku butuh tidur. Turunlah."
Bunga turun. Ia dan Kendra kemudian melangkah masuk ke rumah itu. Kendra membuka pintu.
"Kok sepi mas?"
"Orangnya lagi nggak ada. Tadi yang jaga rumah yang ngasih kunci."
"Apa nggak papa kita nginap tanpa ada yang punya rumah?"
"Nggak. Mas sudah minta ijin kok. Kau bisa tidur di kamar tamu. Mas akan tidur di depan TV saja. Ada sofa yang bisa dijadikan ranjang di sana. Masuklah ke kamarmu dan istirahatlah!"
Bunga mengangguk lalu masuk ke kamar.
Kendra membersihkan dirinya kemudian tidur di sofa depan TV.
Tengah malam Bunga bangun karena haus. Ia keluar kamar dan berjalan mencari dapur. Ia melewati ruang keluarga. Dia melihat Kendra terlelap bertelanjang dada. Bunga membuang pandangannya. Mukanya merah. Ia meneruskan langkahnya menuju dapur.
Saat membuka pintu kulkas tiba tiba ada yang menarik tangannya dan menguncinya di belakang tubuhnya.
"Siapa kamu?!! " orang yang menguncinya membentak.
"Mas, ini aku." Bunga menjawab sambil menahan sakit di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Bunga. Kau sedang apa malam malam di dapur."
"Aku haus mas. Jadi mengambil minum."
"Kenapa nggak menyalakan lampu?"
"Nggak tahu tempat saklarnya."
Kendra lalu berjalan ke arah saklar dan menyalakan lampu.
Ketika lampu menyala, Bunga bisa melihat tubuh kekar Kendra., karena Kendra tidak berbaju.
Bunga langsung menunduk. Kendra mendekatinya.
"Sudah minumnya? Apa kau lapar juga?"
"Sudah mas. Nggak, aku nggak lapar. Aku ke kamar dulu ya mas."
Bunga bergegas ke kamarnya. Sedangkan Kendra masih di dapur. Ia mengambil air minum kemudian meneguknya.
Keesokan harinya, Kendra dan Bunga pagi pagi sudah meninggalkan rumah itu. Kunci rumah mereka kembalikan ke penjaga.
"Iya mas."
Kendra menjalankan mobilnya perlahan sambil mencari rumah makan yang buka. Setelah menemukannya, Kendra membelokkan setir mobilnya.
"Kita makan di sini saja ya?"
Bunga mengangguk. Ia mengernyitkan alisnya sambil memijit pelipisnya.
"Kamu kenapa?"
"Nggak tahu mas. Tiba-tiba pusing."
Tiba-tiba Bunga menutup mulutnya. Ia menahan keinginan untuk muntah. Perutnya sangat mual.
"Oek."
Bunga cepat keluar dari mobil dan mencari tempat untuk mengeluarkan isi perutnya.
__ADS_1
"Kamu masuk angin ya?" Kendra datang sambil menyerahkan tisu.
Bunga menggeleng.
"Nggak mas. Sudah beberapa hari aku mengalami ini. Sepertinya aku hamil." balas Bunga yang mengejutkan Kendra.
"Kalau begitu, nanti kita mampir klinik buat periksa ya!"
Bunga mengangguk.
Ia meraba perutnya dengan sedih.
Mereka lalu sarapan bersama. Selesai sarapan, Kendra mencari klinik terdekat dan membawa Bunga ke sana.
"Selamat ya. Anda sedang hamil. Usia kandungan anda sudah lima minggu."
"Untuk wanita hamil, bepergian naik mobil apa aman dok?" tanya Kendra. Ia khawatir karena perjalanan masih jauh.
"Kalau melihat kondisi kehamilan istri Anda, saya rasa tidak apa apa. Tapi kurangi goncangan saja. Jangan terlalu cepat mengemudinya."
Kendra mengangguk. Bunga hanya diam saja.
"Ini saya beri resep untuk mengatasi rasa mualnya dan ada vitamin juga. Semoga bayi Anda tumbuh dengan sehat dan kuat."
"Terima kasih dokter."
Mereka lalu keluar. Setelah menebus obat, Kendra dan Bunga melanjutkan perjalanan.
"Apa Gerry tahu tentang kehamilanmu?"
"Aku rasa tidak. Dia memang pernah menebak kalau aku hamil. Tapi saat itu aku belum periksa. Hanya menebak saja."
"Sekarang bagaimana? Kau masih ingin pergi apa kembali?"
"Terus saja mas."
"Lalu anakmu?"
"Aku yakin bisa membesarkannya dengan baik meski tanpa papanya."
__ADS_1
Mobil mereka terus melaju semakin jauh meninggalkan Jakarta.