
Dengan lesu Bunga kembali ke rumah. Ia membuka pintu dan masuk. Bunga menyandarkan tubuhnya pada pintu sambil. memejamkan mata.
"Faldi sudah pulang?" suara Kendra mengagetkan Bunga. Bunga langsuang membuka matanya dan bersikap biasa seolah tidak ada yang terjadi.
"Sudah." Jawabnya pendek.
"Kamu tidak apa-apa?"
Bunga menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Ini kenapa?" Kendra meraba bibir Bunga yang terluka karena gigitan Faldi.
"Oh.. ini tadi aku bicara terlalu cepat hingga menggigit bibirku sendiri." jawab Bunga terbata-bata.
"Apakah sakit?" Kendra mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Bunga lembut. Bunga memejamkan mata menikmati bibir dingin dan kenyal Kendra. Namun yang muncul dalam benaknya justru ciuman Faldi barusan. Bunga mendorong lembut dada Kendra.
"Mas, nanti dilihat Riana dan anak-anak. " elak Bunga,
"Apa sudah mendingan?" Kendra kembali mengelus luka di bibir Bunga.
"Ini tidak sakit mas!" balas Bunga dengan lembut.
"Baiklah. Aku percaya. Istirahatlah. Aku ingin keluar sebentar melihat perusahaan ku dan menemui Martin serta sekretarisku dulu."
"Mas. Tapi mereka kan tahunya mas Kendra sudah meninggal."
"Sekretarisku tahu kalau aku masih hidup. Satu satunya orang yang tahu selain Lisa adalah dirinya. Karena saat pesawat dikabarkan hilang, aku sedang bersamanya. Bukankah aku sudah cerita."
"Oh iya. Aku lupa." jawab Bunga.
"Ya sudah. Masuklah! Riana dan anak-anak masih di ruang keluarga." Kendra mengecup. kening Bunga sebelum. keluar dari rumah. Bunga melangkah menuju Ruang keluarga.
Ia duduk dengan gontai di sofa.
"Ada apa lagi mbak?" Riana bertanya saat melihat wajah kuyu Bunga.
"Ri! Aku sangat jahat ya? Aku melukai Faldi sangat dalam."
Riana tersenyum.
"Beginilah cinta. Deritanya tiada akhir." kata Riana mengutip ucapan yang ada dalam sebuah film.
Bunga melirik kesal karena kata-kata Riana seolah mengejeknya.
"Kamu malah mengejekku, Ri!" dengus Bunga.
Riana terkekeh, "Maaf mbak. Aku hanya ingat ucapan pat kai saja. Karena aku pikir ucapannya benar. Kalau derita karena cinta itu tiada akhir sampai kita menemukan cinta baru."
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Mbak nggak salah. Mbak nggak bisa menerima mereka berdua juga kan? Mungkin dengan kehadiran Lisa, Faldi akan mendapatkan cinta baru dan bisa melupakan cinta lamanya."
"Melupakan cinta lamanya? Melupakan aku maksudmu?"
Riana mengangguk.
"Bisakah dia melupakan aku Ri? Sedangkan aku saja meski sudah memiliki perasaan pada mas Kendra, namun Faldi masih bisa mempengaruhiku." desis Bunga.
"Semoga mbak. Karena jika tidak, maka kalian hanya akan saling tersakiti setiap berjumpa. Kecuali kalian memutuskan bersama. Apa mbak Bunga ada keinginan bersama Faldi?" Riana bertanya menyelidik. Ia ingin tahu isi hati Bunga yang sebenarnya.
"Kau gila. Aku sudah bersuami, Ri." sergah Bunga.
"Mbak. Saat mas Kendra dikabarkan meninggal, kenapa mbak Bunga tidak menerima Faldi?Bukankah saat itu kesempatan kalian bersama?"
"Karena aku merasa tidak pantas Ri. Aku janda dari dua orang pria, dia masih lajang. Aku benar-benar merasa tidak pantas."
"Dan saat bertemu mas Kendra di Jepang, bukankah dia menyamar? Kenapa mbak malah membongkar samarannya? Dan kenapa mbak menerimanya kembali dengan mudah?"
"Karena dia suamiku Ri. Karena mas Kendra suamiku."
"Karena mbak merindukannya kan?"
Bunga mengangguk, "Ya.. aku merindukannya. Kepergiannya yang tiba-tiba, membuatku tidak tenang. Aku merasa sangat bersalah saat itu. Karena aku yakin, perubahan sikapnya saat di kampung adalah karena dia menemukan barang-barang kenanganku dengan Faldi."
"Mbak... sadarkah mbak kalau mbak sudah sangat mencintai mas Kendra hingga saat bertemu dengannya lagi mbak langsung menerimanya tanpa memperdulikan perasaan Faldi." Bunga diam. mencerna semua omongan Riana.
Sementara itu Kendra sudah sampai di perusahaannya. Ia. langsung masuk. Banyak karyawan yang kaget melihatnya. Mereka berbisik di belakang Kendra.
"Assalamualaikum!" sapa Kendra saat membuka ruangannya. Ia kaget saat melihat Tuan Firmandana ada di dalam.
"Masuk.bang!" kata Martin.
"Kamu Ken?" sapa tuan Firmandana, "Bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah, baik tuan."
Tuana Firmandana tidak terlalu banyak bertanya karena Faldi sudah menceritakan segalanya.
"Ku dengar kalian kembali bersama, apa. kalian sudah menikah lagi?" tanya tuan Firmandana.
"Kami suami istri. Kenapa harus menikah tuan?"
"Jadi kamu belum. menikahi Bunga lagi, dan kalian sudah tinggal bersama selama satu bulan?! Kendra! Batas pria wmeninggalkan istrinya tanpa kabar dan tanpa nafkah itu tiga bulan. Kamu lima tahun meninggalkan Bunga tanpa kabar. Sebaiknya kalian mengucapkan janji pernikahan lagi. Kau nikahilah Bunga lagi."
Kendra tercenung, ia tidak pernah berfikir ke arah itu.
"Nanti saat pernikahan Faldi, kamu juga ikutan menikah lagi. Aku akan memberitahu penghulunya." kata Tuan Firmandana.
Kendra menuruti perkataan pria yang sudah seperti ayahnya itu Mereka kemudian membicarakan urusan pekerjaan.
__ADS_1
Menjelang sore hari, Kendra baru pulang. Saat malam tiba, Kendra sengaja tidur terpisah dari Bunga.
"Mas. Kenapa kau tidur di sini?" tanya Bunga heran saat Kendra memilih tidur di kamar tamu.
"Bunga. Tadi aku ketemu tuan Fiandana di. kantor. Beliau menyarankan agar kita kembali menikah. Jadi sebelum pernikahan kita terjadi, aku tidak akan tidur denganmu dulu ya!" Kendra menjelaskan.
Bunga tersenyum. "Baiklah Aku mengerti. Selamat beristirahat, Mas! " Bunga lalu meninggalkan Kendra. Ia menuju kamar Zidan dan tidur bersama putranya itu.
Hari yang ditunggu pun tiba. Akad nikah antara Faldi dan Lisa serta Kendra dan Bunga digelar di sebuah hotel.
Faldi dan Kendra sama-sama menggunakan tuxedo hitam.
Bunga dan Lisa sedang dirias di kamar mereka.
Penghulu tiba. Faldi dan Kendra di panggil ke tempat ijab qobul untuk. mendengarkan ceramah sebelum prosesi ijab qobul. Setakah selesai ceramah, penghulu bertanya. "Siapa dulu?"
Kendra yang menjawab, "Dia dulu pak. Karena hari ini sejatinya adalah hari pernikahannya.
"Baiklah Saudara Faldi Firmandana, saya yang akan jadi wali nikah istri anda."
Wali nikah segera menjabat tangan Faldi dan mengucapkan ijab qobul yang langsung dijawab Faldi dengan tegas.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu.
"Sah!" kawan yang hadir selain Kendra. Pria itu terpaku. Tubuhnya mematung. Matanya berkaca-kaca, "Ini tidak benar. Pernikahan ini tidak sah!" kata Kendra dengan suara keras.
"Kenapa anda berkata demikian?"
"Dia menikahi wanita yang salah. Calon istrinya bernama Lisa bukan Bunga. Bunga adalah istri saya."
"Tidak mungkin. Jelas-jelas dalam berkas ini tertulis nama Bunga dan dia adalah seorang janda . Bagaimana bisa salah."
Kendra merebuy mao berisi berkas pernikahan Faldi. Dia melihat KTP, KK dan foto Bunga disana. Dalam KTP dan KK tertera jika sumi Bunga sudah meninggal.
"Tidak mungkin. Inj tidak mungkin. Fal. kau tahu jika ini salah kan.?"
Faldi diam. Hatinya sedang berperang antara membenarkan ucapan Kendra atau membiarkan kesalahan inj terjadi sehingga ia bisa bersama Bunga.
"Fal! Apakah ini semua rencanamu? Tapi kamu bukan orang yang seperti itu, Fal!"
Saat itulah Gerry datang, "Sudahlah Ken. Mungkin ini takdir untuk menyatukan mereka kembali. Bukankah sejak awal. mereka adalah pasangan. Kita hanyalah orang yang menghalangi cinta mereka. Relakanlah seperti aku merelakannya.Lagipula kau sudah mati selama lima tahun, untuk apa kau kembali?"
Kini Kendra sadar hanya ada satu orang yang sanggup melakukan ini, dan orang itu sekarang ada dihadapannya.
"Fal. Ku harap kau bisa memutuskan hal yang benar." Kendra lalu meninggalkan hotel itu.
...🌹🌹🌹🌹...
??
__ADS_1