
Gerry mendekatkan wajahnya ke wajah Bunga. Entah mengapa melihat wajah cantik itu, ia tidak bisa menahan perasaannya. Wajah Gerry makin dekat, Bunga memejamkan matanya. Bibir kenyal Gerry menyentuh bibir Bunga. Gerry ******* bibir manis itu, semakin lama semakin dalam. Namun tiba-tiba ia tersentak dan menghentikan ciumannya. Gerry langsung menarik tangannya dari wajah Bunga.
"Kenapa? " tanya Bunga melihat perubahan pada Gerry.
Gerry gugup.
'Tidak apa apa." Kemudian Gerry memutar kursi rodanya. Bunga berdiri dan membantu mendorong kursi roda Gerry.
"Kamu mau ke taman? Pagi pagi udara taman pasti segar. Bagus buat kesehatan."
Gerry hanya mengangguk.
Bunga mendorong kursi roda Gerry menuju taman.
Sesampainya di taman, Bunga menghentikan kursi roda Gerry dan menguncinya. Ia lalu duduk di bangku taman samping kursi roda Gerry.
"Kamu tahu Faldi, selama tiga tahun ini hidupku terasa hampa. Aku ingat pesanmu, bahwa kau tidak suka kalau aku berdekatan dengan Mas Ilham. Kau ingat polisi yang menjemputku saat pulang kuliah. Namanya Ilham. Dia sempat melamarku, tapi aku menolaknya. Kau tahu kenapa? "
"Karena kau menungguku. " jawab Gerry.
Bunga mengangguk.
"Lebih tepatnya aku tidak mau menghianati perasaanmu padaku. Aku selalu menghibur diriku bahwa suatu saat aku akan bertemu lagi denganmu. Dan penantianku tidak sia sia. Aku menemukanmu." Bunga menggenggam tangan Gerry.
Gerry menatap Bunga. Ia merasa sangat bersalah karena tidak jujur pada gadis itu. Tapi apakah gadis itu akan kuat menerima kenyataan bahwa pria yang ia cintai dan yang ia tunggu sampai sekarang belum diketahui kabarnya.
Gerry ingat kejadian tiga tahun lalu. Saat dirinya menjemput adiknya ke kota tempat adiknya belajar. Saat itu adiknya menolak ikut Gerry. Tapi Gerry memaksanya. Ia menipu adiknya sehingga Faldi mau mengikutinya. Namun di tengah perjalanan Faldi mengetahui rencana Gerry. Akhirnya mereka berdebat hingga Gerry kehilangan konsentrasi. Mobil yang mereka tumpangi menabrak pembatas jalan dengan jurang yang ada di pinggir tebing. Tubuh Gerry terpental dari mobil. Namun Faldi masih di dalam mobil dan ikut meluncur turun ke dasar jurang.
"Faldi!" Bunga menyentuh lengan Gerry saat melihat pria itu melamun. "Apa yang kau pikirkan?"
"Nggak. Nggak ada."
"Faldi kenapa kamu tidak mau terapi? Mas Kendra bilang kakimu bisa sembuh asal kamu mau menerima terapi dari dokter."
"Untuk apa Bunga. Kesembuhan kakiku tidak akan membawanya kembali." Gerry menunduk.
"Dia yang kau maksud adalah adikmu? Mas Kendra sudah bercerita padaku."
"Apa yang Kendra ceritakan?"
"Ia bilang saat kecelakaan kamu berdua dengan adikmu. Dan sampai sekarang adikmu belum diketemukan."
"Apa Kendra juga memberitahumu siapa nama adikku?"
__ADS_1
Bunga menggeleng. Ia lalu berdiri dari duduknya, berjalan ke belakang kursi roda Gerry. Ia memeluk Gerry dari belakang, "Faldi! Jika aku yang memintamu terapi, apa kau bersedia?"
Jantung Gerry berpacu. Posisi mereka sangat dekat. Dia bisa mencium aroma tubuh Bunga. Harum vanila. Bunga menaruh dagunya di pucuk kepala Gerry. Tubuh Gerry bergetar. Ada perasaan aneh menjalar di hatinya. Dia tidak tahu harus berkata apa.
Bunga lalu berpindah ke depan Gerry. Ia memutar kursi roda Gerry. Bunga duduk di bangku dan berhadapan dengan Gerry.
Mereka saling menatap.
"Demi aku, maukah kau terapi?" kembali Bunga mengulang pertanyaannya.
Gerry masih diam. Ia memandangi wajah cantik Bunga. Tangannya terulur mengusap pipi Bunga.
"Iya, demi kamu. Demi kebahagiaanmu. Aku akan terapi."
Bunga girang. Ia langsung memeluk Gerry yang membalasnya dengan dekapan erat.
"Jika nanti akau sembuh, apakah kau masih akan ada di sisiku?" bisik Gerry di telinganya Bunga.
"Ya, aku tidak akan kemana-mana. Kecuali kau sudah tidak mau bersama dengan wanita tua ini." Bunga semakin mengeratkan pelukannya.
"Bunga, maukah kamu memanggilku Gerry, seperti yang lain? Di sini orang orang mengenalku dengan Gerry."
"Iya, Gerry."
Bunga melepas pelukannya. Ia tersenyum lucu.
"Aku lebih tua lho."
"Terus kenapa? Apa nanti jika kita menikah kamu tetap tidak mau memanggilmu abang?"
"Baik, Bang Gerry sayang."
Bunga mencubit pipi Gerry gemas. Gerry memegang tangan Bunga yang sedang mencubitnya. Ia membawa tangan itu ke mulutnya dan mengecupnya. Lalu ia meraih tengkuk Bunga, mendekatkan wajahnya dan ******* bibir gadis itu. Ciuman mereka berakhir saat mereka sama sama kehabisan nafas.
"Jadi kapan Bang Gerry mulai terapinya?"
"Aku akan meminta Kendra mengurusnya. Bunga, antar aku ke mansion!"
Bunga membawa Gerry ke mansion.
"Kata Kendra kau seorang manager. Apa tidak akan ada masalah kau meninggalkan pekerjaanmu seperti ini?"
"Mas Kendra bilang, aku bisa datang ke sini saat kerjaanku longgar. Jadi nggak akan ada masalah."
__ADS_1
"Kau tinggal di mana?"
"Aku tinggal di apartemen. Tapi tadi Mas Kendra bilang, aku bisa tinggal di sini agar aku lebih mudah merawatmu."
Gerry tersenyum. Dalam hati ia mengakui bahwa Kendra memang yang terbaik.
"Kau tinggalah di kamar dekat kamarku. Jadi kalau aku butuh apa apa, kau bisa cepat datang. Oh, ya. Jangan pernah masuk ke kamar yang ada di tengah. Itu kamar adikku. Orang tuaku tidak mengijinkan siapapun memasukinya. Kecuali pelayan khusus untuk membersihkannya."
Bunga mengangguk.
"Antar aku ke kamar. Aku mau istirahat."
Bunga mengantar Gerry ke kamarnya. Kemudian ia membantu Gerry turun dari kursi roda dan naik ke ranjangnya.
"Terima kasih. Ke depannya aku akan terus merepotkanmu."
"Jangan sungkan. Ini bagian dari tugasku. Jika kau akan istirahat, sebaiknya aku kembali ke kantor dulu sekalian aku mau mengambil pakaianku."
Gerry mengangguk lalu ia memejamkan matanya.
Bunga telah sampai di kantornya. Sekretarisnya mengabarkan kalau tadi ada Nauval mencarinya. Katanya ia mencoba menghubungi Bunga tapi tidak dijawab.
Bunga mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia menemukan lebih dari dua puluh panggilan tak terjawab, semuanya dari Nauval. Senyum tipis tersungging di bibir Bunga.
Benar benar pria yang gigih. Andai hatiku bukan milik Faldi, mungkin aku akan jatuh cinta padamu. Tapi sayangnya hatiku yang kecil ini sudah penuh dengan cinta Faldi.
Bunga bersandar di kursinya. Ia sangat bahagia karena telah bersatu lagi dengan kekasih hatinya.
Ponsel Bunga berkedip, ada pesan masuk. Dari nomor yang tak dikenal.
Sudah nyampai kantor?
Dari pertanyaannya, Bunga tahu bahwa itu adalah Gerry.
Bunga : Sudah. Bang Gerry nggak jadi tidur?
Gerry: Setelah memastikan kau sampai dengan selamat, baru aku bisa tidur.
Ohh manisnya. batin Bunga bahagia.
Dari dulu pria kecilnya selalu bersikap manis terhadapnya. Selalu memanjakannya meski kadang posesifnya keterlaluan.
Bunga memejamkan mata sambil mengingat kenangan indahnya bersama Faldi tiga tahun yang lalu. Meski sebentar, namun kenangan itu terpatri kuat dalam memorinya. Faldi, cowok putih abu abu yang sudah merebut hatinya.
__ADS_1