Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Bunga Aku Datang!


__ADS_3

Bunga tiba di bandara. Ia kembali ke Jakarta ditemani Martin dan Sarah, orang yang ditunjuk tuan Firmandana untuk mendampingi Bunga selama di Filipina.


"Mbak!" Riana memanggil Bunga sambil. melambaikan tangannya. Mereka lalu berpelukan. "RI kangen sama mbak."


"Mbak juga Ri!" balas Bunga.


"Hem!" deheman Martin menyadarkan Bunga dan Riana yang masih berpelukan.


"Ri! Kenalin, Martin. Dia masih sepupuan sama Faldi."


Martin tersenyum manis sambil menjabat tangan lembut Riana.


"Martin!"


"Riana." Menerima tangan Martin. "Ayo mbak. Kita langsung ke rumah yang aku ceritakan itu!" ajak Riana.


"Apakah mahal Ri?"


"Enggak. Itu rumah dari perusahaan Riana. Bisa dibilang fasilitas kantor. Mbak tempatin saja. Kalau aku yang menempati, kejauhan. Aku lebih nyaman di hotel saja." kata Riana beralasan. Faldi mewanti-wanti agar Bunga tidak tahu jika dialah yang memberikan rumah itu.


Satu jam kemudian mereka sampai ke tempat yang dituju.


"Selamat siang non!" sapa Mang Asep.


"Siang mang Asep!" Riana membalas dengan ramah. "Mbak ini mang Asep. Dia yang merawat rumah ini. Kedepannya, ia akan membantu mbak jika mbak memerlukan apa-apa."


"Saya siap melayani nona.. ?"


"Bunga mang. Nama saya Bunga." Bunga tersenyum manis.


"Bagus juga tempat ini. Mungil tapi asri. Desainnya bagus, interiornya juga unik. Benar-benar berkelas." puji Martin. "Ada dua kamar ya? Pas lah. Aku bisa tinggal di salah satunya."


"Apa?! Tidak! Kamu tidak bisa tinggal di sini." kata Riana tegas.


"Eh kenapa kamu yang keberatan? Bunga saja tidak berkomentar." Martin berkata kesal.


"Riana benar. Kamu tidak bisa tinggal di sini. Bukankah kamu bilang kamu punya apartemen. Kenapa nggak tinggal di sana saja?"


"Ha. Bener tuh!" sergah Riana senang karena Bunga sependapat dengan dirinya.


"Tapi itu terlalu jauh dengan tempat ini Bunga." keluh Martin.


"Memangnya harus dekat gitu? Lagian mau ngapain juga kalau dekat. Ingat, mbak Bunga punya suami." Riana berkata sambil mendelik ke arah Martin.


"Cih. Cerewet!"


"Biarin yang penting cantik." Riana nggak mau kalah.


"Idih. Yang kayak gini cantik, terus jeleknya kayak apa?"


"Ya kayak kamulah! Cowok kok rambutnya panjang. Kenapa nggak sekalian pake rok aja."ledek Riana yang kesal dikatain jelek.

__ADS_1


"Sudah, sudah." Bunga melerai, "Kalian ini kenapa sih? Baru juga ketemu dah berantem."


"Sepupumu tuh! Cerewet sok ngatur!" mata Martin menatap tajam Riana.


"Teman kakak yang keganjenan. Mau dekat-dekat istri orang." Riana menjulurkan lidahnya.


Mata Martin melotot, rahangnya mengeras. Ia benar-benar marah dan kesal dengan sikap Riana.


Ditengah suasana tegang itu, ponsel Riana berdering. Faldi menghubunginya


"Iya, Pak? Saya sedang mengantar mbak Bunga ke rumahnya."


"Siapa?" bisik Bunga.


Riana menutup ponselnya dengan tangan lalu menjawab Bunga. "Pak Faldi."


Mendengar nama Faldi mata Martin berbinar, ia merampas ponsel dari tangan Riana


"Eh!" Rian kaget saat ponselnya berpindah tangan.


"Hai Bro. Ini aku, Martin. Kamu jemput aku ke sini ya. Sebelum singa betina yang ada di sini mencakar habis tubuhku." Kata Martin sambil terus menghindarkan diri dari Riana yang berusaha mengambil kembali ponselnya, " Cepetan bro! Singanya dah ngamuk lagi nih." selesai bicara Martin menyerahkan ponsel Riana kepada pemiliknya.


"Cih. Harus di desinfektan nih. Kena virus gondrong."Riana mengambil tisu basah anti bacteri dan mengelap ponselnya. Martin benar benar gondok dibuatnya.


"Kau kira aku pria penyakitan, hah!" Martin mendekat ke Riana dengan mata melotot. Ia mencengkeram lengan Riana.


"Apa?! Kau kira aku takut?! "Riana membalas tatapan Martin dengan mata besarnya yang membola. Martin terpaku. Mata bola Riana sangat indah. Pandangan Martin yang semula menakutkan lama-lama meredup.


Gadis ini cantik. Bisik batin Martin.


Riana mengibaskan lengannya seolah membersihkan bekas tangan Martin. Martin meninggalkan Riana. Ia berdiri di depan menunggu Faldi.


Sebuah mobil berhenti. Faldi turun. Martin menyambutnya dengan pelukan.


"Bapak sudah datang." Riana muncul dari dalam rumah. Faldi mengangguk.


"Tentu saja dia datang. Dia tidak akan rela sepupunya yang tampan ini jadi korban kebuasan singa betina."


Riana mendengus kesal karena ia tahu kata-kata Martin ditujukan padanya.


"Apa kau sudah memberitahu bang Kendra kalau Bunga sudah balik ke Jakarta?"


"Belum Pak."


"Beritahulah dia, sekalian kamu share lokasi rumah ini. Biar dia bisa menemukan Bunga dengan mudah."


"Baik, Pak!" Riana segera melaksanakan perintah Faldi. Ia lalu masuk ke rumah meninggalkan Martin dan Faldi di teras.


"Kendra itu suami Bunga? Apa dia Kendra yang sama yang dulu bekerja pada Gerry?" tanya Martin. Faldi mengangguk.


"Buat apa memberitahunya. Saat di Filipina saja dia nggak pernah menghubungi Bunga."

__ADS_1


"Martin. Itu bukan urusan kita. Jika ada pasangan yang bermasalah, tugas kita membantu agar mereka kembali bersatu, bukan malah memperburuknya. Aku hanya menunjukkan jalan. Perkara selanjutnya terserah mereka berdua."


"Kenapa kau begitu peduli pada Bunga?"


Faldi diam. Ia tidak mungkin berkata jujur pada Martin.


"Itu bukan urusanmu." jawabnya pendek.


"Kau jatuh cinta pada Bunga ya?"


Faldi sedikit kaget mendengar pertanyaan Martin.


Sejelas itukah perasaanku pada Bunga hingga Martin bisa dengan mudah menebaknya.


"Itu juga bukan urusanmu." Faldi enggan menjawab pertanyaan Martin.


"Kamu nggak asik Bro. Semua bukan urusanku. Aku kan hanya sekedar tanya." gerutu Martin.


"Ayo pulang! Kamu tinggal sama aku saja."


"Sebentar aku ambil koper dulu di dalam." Martin bergegas masuk untuk mengambil koper. Di dalam rumah ia bertemu Riana.


"Bosmu mau pulang tuh." kata Martin pada Riana.


Riana keluar, "Bapak mau kembali ke kantor?" tanya Riana.


"Iya. Tapi aku akan mengantar Martin pulang dulu. Kamu bisa disini untuk menemani Bunga. Nggak usah buru buru ke kantor."


"Terima kasih pak."


"Sampaikan pada Bunga, aku pamit. Bilang kalau dia merindukan aku, telpon saja. Aku pasti datang." pesan Martin pada Riana. Riana melengos tidak senang.


Martin terkekeh


Martin dan Faldi meninggalkan rumah Bunga.


"Senang sekali kau menggoda Riana?" gumam Faldi saat mereka berada di dalam mobil.


"Dia kalau marah lucu."


"Awas jatuh cinta." Kata Faldi.


"Ah nggak mungkin. Dia galak macam singa. Bukan tipeku." elak Martin.


Faldi hanya tersenyum.


Kamu nggak tahu bro, dia sudah masuk ke hatimu tanpa kamu sadari. batin Faldi.


Di kantornya, Kendra menerima pesan dari Riana. Hatinya bergetar mendapat pesan kalau Bunga sudah kembali ke Jakarta. Kendra menyambar kunci mobilnya. Bergegas ia ke parkiran dan sejurus kemudian ia sudah meluncur di jalanan menuju alamat yang ditunjukkan Riana.


"Bunga, sayang. Aku datang." gumam Kendra.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


Jangan lupa like dan koment nya


__ADS_2