
"Mbak, sudah siap?" tanya Riana pada Bunga.
Bunga mengangguk. Ia lalu mengambil Zidan dan menggendongnya.
"Ri, belum terlambat kalau kau mau mengurungkan niatmu. Kau tidak perlu berkorban untukku. Pekerjaanmu ini bukankah sangat kau idam-idamkan?"kata Bunga.
"Mbak pikir setelah mbak pergi apa hidup Ri bisa tenang. Ri justru takut kak Kendra akan terus mendesak Ri. Jadi lebih baik Ri pergi mbak. Jadi Ri melakukan ini untuk diri Ri juga. Mbak Bunga nggak perlu merasa Ri berkorban untuk mbak. Masalah pekerjaan, Ri punya keyakinan. Asalkan kita mau berusaha pasti kita akan mendapatkannya."
Bunga tersenyum haru mendengar tekad Riana.
"Ayo mbak. Nanti kita terlambat." Riana menyeret koper Bunga. Sedangkan ia hanya membawa tas karena koper dan sebagian pakaiannya ada di rumah Bunga.
Mereka turun dan menunggu taksi yang mereka pesan.
"Mbak Riana?" seorang pria datang menghampiri mereka.
"Iya. Saya!"
"Saya taksi online yang mbak pesan.!"
"Oh iya."
"Mari. Mobil saya terparkir di sana."
Riana dan Bunga mengikuti pria itu. Mereka lalu masuk ke dalam mobil yang ditunjuk oleh si sopir.
Baru saja mereka masuk dan duduk, dari kursi belakang mereka ada dua pria yang menodongkan senjata.
"Berikan ponsel kalian."
Riana dan Bunga gemetar ketakutan. Mareka menurut dan memberikan ponselnya pada kedua pria itu.
"Jalan!" perintah si pria pada sopir taksi online. "Ke stasiun!"
Taksi yang mereka tumpangi berjalan menuju stasiun. Sesampainya di stasiun taksi itu berhenti.
Sebuah mobil lain datang, ada dua pria turun dan membuka pintu taksi online.
"Keluar dan ikut kami!" kata keduanya pada Bunga dan Riana. Bunga mendekap erat Zidan. Mereka pindah ke mobil tersebut.
"Siapa kalian?"Bunga memberanikan diri bertanya namun tidak mendapatkan jawaban.
__ADS_1
"Percuma mbak. Mereka tidak akan mungkin memberitahu. Apa ini ulah kak Kendra mbak?"
"Bukan Ri, mas Kendra bukan orang seperti itu."
"Seberapa dalam kau mengenal kak Kendra mbak?"
Bunga diam.
Ya seberapa dalam aku mengenal pria yang selama ini menjadi suamiku. Bahakan sekarang saja aku sudah merasa asing dengan perubahan sikapnya. Cinta yang selalu ia ucapkan, seperti embun yang lenyap saat mentari tiba. Seberapa dalam aku mengenalmu mas.
Bunga termenung memikirkan suaminya. Sementara Riana, gadis itu memejamkan matanya.
Mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman sebuah rumah yang sangat besar.
Bunga dan Riana turun dari mobil dan melangkah masuk ke rumah mengikuti orang yang membawa mereka.
"Kalian tunggu di sini. Sebentar lagi tuan kami akan datang dan menemui kalian."
Bunga dan Riana di tinggalkan di sebuah ruangan yang luas dan mewah. Rian menghempaskan tubuhnya di sofa mewah yang ada di tengah ruangan itu. Bunga meletakkan Zidan agar anak itu bisa tidur dengan nyaman.
"Ri.. kita sholat dulu. Sepertinya sudah subuh."
"Dimana kita wudhu mbak."
Mereka lalu melakukan sholat bergantian.
Setalah itu mereka duduk menunggu orang yang dipanggil tuan oleh penculik mereka tadi.
"Selamat datang. Semoga tidak mengagetkan kalian!" sebuah suara bariton memenuhi ruangan itu membuat Riana dan Bunga menoleh.
"Tuan Firmandana! Nyonya Dea!" gumam Bunga.
"Apa kabar Bunga?" Nyonya Dea memeluk Bunga. Setelah itu pandangannya berpindah ke Riana. Ia mengalami gadis itu
"Eh cucu oma pulsa banget tidurnya." Nyonya Dea membelai pipi Zidan.
"Tuan, Nyonya apa maksud semua ini?" tanya Bunga tidak mengertj.
"Tidak ada maksud apa-apa. Kami hanya ingin menolongmu." jawab Tuan Firmandana. "Bunga! Faldi sudah menjelaskan masalah yang menimpa kalian. Dan sebagai orang tua, kami ingin membantu Faldi untuk bertanggung jawab. Ya kami tahu, kalian saat itu terpengaruh obat, tapi tetap saja Faldi harus bertanggungjawab."
"Maksud tuan?"
__ADS_1
"Begini. Kami akan membantu dan mendukungmu apapun pilihanmu. Jika kamu ingin memperbaiki hubunganmu dengan Kendra, kami akan bantu begitu pula sebaliknya. Kalau kamu ingin meninggalkan Kendra, kami juga akan membantumu. Sekarang tentukan pilihanmu!"
"Tuan. Saya tidak tahu apa hubungan kami masih bisa diperbaiki atau tidak. Mungkin dengan berjauhan kami bisa berpikir jernih dan mengambil keputusan yang benar. Jadi sementara ini saya ingin menenangkan diri dan menjauh dari mas Kendra. Apakah saya akan berpisah atau tetap melanjutkan pernikahan kami, saya belum bisa memutuskannya sekarang."
"Kau benar. Jangan terburu-buru memutuskan berpisah saat hati sedang emosi. Beri waktu bagi dirimu dan Kendra untuk berpikir. Mungkin dengan berpisah, Kendra bisa sadar seberapa berartinya dirimu baginya. Namun jika memang ia sudah tidak ada rasa padamu, maka kalian bisa memutuskan yang terbaik buat kalian."
"Untuk itu. Aku akan membantumu sembunyi. Sama seperti saat dia menyembunyikamu dari kami, maka sekarang kami yang akan menyembunyikanmu dari Kendra." kata Tuan Firmandana. "Dan kamu, Riana ya. Kinerjamu cukup baik dan kamu juga kompeten. Jadi tetaplah bekerja. Karena kedepannya anak saya Faldi yang akan memimpin perusahaan ini pasti membutuhkan orang-orang sepertimu."
"Tapi tuan. Jika saya masih di sini maka kak Kendra.. " kata Riana yang terputus oleh ucapan tuan Firmandana.
"Justru di situ ujian Kendra. Apakah ia akan tetap menikahimu setelah Bunga pergi, atau dia justru akan menyesal karena kehilangan Bunga. Kita akan tahu nilai sebenarnya seorang Kendra."
"Tapi saya tidak mau menikah dengannya." kata Riana.
"Lalu apalagi yang kamu takutkan. Kamu tinggal menolaknya kan. Dan satu lagi. Jangan kembali ke apartement itu. Aku sudah menyiapkan tempat untukmu."
"Baiklah. Untuk saat ini pembicaraan kita sampai di sini. Setelah makan pagi, kau pergi lah bekerja lagi. Jangan sampai Kendra curiga jika kamu tahu keberadaan Bunga. Kita lihat apa yang akan dia lakukan."
"Baik tuan!" kata Riana.
Maafkan aku Bunga. Apa yang terjadi padamu ini karena ulah anakku Gerry. Aku berjanji akan menebus penderitaanmu ini. Dan untuk Gerry, bagaimanapun ia darah daging ku. Aku tidak mungkin mempermalukan dirinya dengan memberitahumu. Apalagi sekarang ia memiliki seorang istri. Yang bisa ku lakukan hanya menjauhkanmu dari jangkauannya.
...***...
Kendra yang memang memutuskan tidur terpisah, tidak menyadari kalau Bunga tidak berada di kamarnya. Dan hari ini, ia bangun pagi dan bermaksud ke apartement Riana lagi. Kendra benar-benar sudah dibutakan oleh obsesinya terhadap Riana.
Semalam aku menahan diri untuk tidak membuka pintumu dengan kunci yang ada padaku. Tapi pagi ini, aku tidak akan menahannya lagi jika kamu masih menolak bertemu denganku Ri.
Kendra mempercepat laju mobilnya karena takut Riana keburu berangkat kerja. Ia langsung menunjukkan unit Riana begitu sampai di apartement. Kendra menekan bel dan menunggu. Karena tidak juga ada respon dari Riana, akhirnya Kendra membuka pintu dengan Cardkey yang ia miliki.
Kendra masuk. Ia melihat apartement itu sepi. Kendra memeriksa ke dalam. Ia tidak menemukan tanda kalau apartement itu berpenghuni.
Dia pasti sudah pindah lagi. Riana sampai kapan kamu akan menghindariku. Kemanapun kau pergi, aku pasti bisa menemukanmu.
Kendra keluar dari apartement dan menuju perusahaan Gerry. Ia akan menunggu Riana seperti kemarin. Lama ia menunggu namun Riana tidak ia lihat datang ke kantor. Kendra tidak tahu jika tuan Firmandana memberi Riana akses masuk melalui pintu khusus yang hanya diketahui oleh orang orang tertentu di perusahaan. Kendra sebenarnya tahu karena ia pernah kerja disitu. Namun Kendra tidak berfikir kalau Riana akan melewati jalan itu.
Sial. Apa hari ini ia tidak kerja?
Karena usahanya gagal. Kendra kembali ke kantornya. Namun ia masih bertekad akan menemui Riana esok hari.
...🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1
Bonus visual Riana yang membuat Kendra sangat terobsesi.