Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Selamat datang Zidan.


__ADS_3

Kendra tampak panik. Sudah sejak subuh Bunga mengeluh perutnya sakit.


"Kita ke rumah sakit ya!"


Bunga mengangguk sambil. meringis menahan sakit.


Kendra mengambil beberapa pakaian Bunga dan memasukkannya ke dalam tas. Ia kemudian memapah Bunga ke mobil. Kendra melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


"Sus.. tolong istri saya.!" kata Kendra kepada seorang perawat.


"Silahkan baringkan istri bapak di sini."


Kendra membantu Bunga berbaring di ranjang lalu bersama perawat dia mendorong ranjang itu ke ruang bersalin.


Kendra ikut masuk atas permintaan Bunga.


"Mas.. sakiit!" Bunga mengerang.


"Sabar. Sebentar lagi dokter datang."


Seorang dokter wanita fatang. Ia langsung memeriksa Bunga lewat bagian bawah tubuhnya. Ia memasukkan tangannya ke sana. Kendra merasa ngilu melihat itu.


"Sudah waktunya. Bu ikuti hitungan saya baru mengejan ya" kata dokter itu.


Proses Bunga melahirkan berjalan sekitar dua puluh menit. Setiap Bunga merasakan sakit ia selalu mencengkram tangan atau bagian tubuh Kendra yang lain. Bahkan ia sempat menarik kemeja Kendra hingga kancingnya terlepas.


Perjuangan hidup mati Bunga berakhir tatkala suara tangis bayi yang nyaring terdengar.


"Selamat Pak. Seorang pangeran." dokter itu mengangkat bayi Bunga. Memutuskan tali pusar dan menaruhnya di dada Bunga untuk melakukan proses inisiasi menyusu dini.

__ADS_1


"Buka saja bajunya Bu. Biarkan ia mencari dan menyusu."


Bunga membuka baju bagian atasnya dengan bantuan perawat. Ia lupa jika masih ada Kendra di sana. Muka Kendra merah saat melihat bagian atas tubuh Bunga. Ia segera menutup matanya.


"Mas lihat. Dia merambat di dadaku."kata Bunga penuh rasa bahagia saat bayinya berhasil menemukan ****** susunya dan mulai menyusu.


Kendra tidak merespon. Ia masih saja memejamkan matanya. Perilaku Kendra itu membuat perawat yang ada di situ geli.


"Pak, jangan ditutup matanya. Nggak papa kok lihat, toh punya istri sendiri." goda si perawat.


Kini giliran Bunga yang kaget. Ia baru sadar kalau dadanya terbuka dan Kendra melihatnya. Kendra memang suaminya di buku nikah. Tapi mereka belum benar benar menikah. Dan sekarang, dia malah membiarkan Kendra melihat dadanya.


"Eh. Aku keluar dulu. Aku haus." Kendra bergegas keluar dari ruang bersalin. Meninggalkan Bunga yang mukanya merah karena malu.


"Kalian ini pasangan yang imut. Masak sudah punya bayi masih malu malu." goda perawat itu lagi. "Sini bu, saatnya dedek bayinya di bersihkan. Begitu juga dengan ibunya. Setelah itu kalian akan dipindahkan ke kamar perawatan."


Setelah bayi dan ibunya dibersihkan kemudian mereka dipindahkan ke kamar.


"Dia tampan!" ucap Kendra.


"Mas, Terima kasih." ucap Bunga.


Kendra hanya tersenyum mendengar ucapan Terima kasih Bunga. Ia lalu menggendong bayi itu sambil membawanya ke dekat Bunga.


"Kamu sudah menyiapkan namanya?"


Bunga menggeleng. "Mas Kendra saja yang memberinya nama."


"Bunga ada sesuatu yang belum aku sampaikan padamu."

__ADS_1


"Soal apa?"


"Sebelumnya aku minta maaf karena aku melakukannya tanpa meminta persetujuan darimu. Tapi aku tidak setuju saat kamu bilang ke Tuan Firmandana bahwa kamu tidak hamil. Bunga kita dilarang memutus nasab seorang anak. Bagaimanapun ia adalah anak Gerry. Jadi aku memberitahu Tuan Firmandana bahwa kamu memang sedang mengandung anak Gerry. Tapi beliau sangat bijak. Beliau bersedia membantu proses perceraian kalian hanya dengan satu syarat"


"Apa itu?"


"Beliau ingin anak ini memakai nama Firmandana di belakang namanya sebagai bukti ia adalah keturunan dari Firmandana."


"Dan mas Kendra menyetujuinya?"


Kendra mengangguk.


"Mas bagaimana kalau dia mengambil anakku?"


"Beliau tidak akan melakukan itu. Beliau sudah berjanji. Beliau malah sudah menyiapkan segala sesuatunya buat anakmu. Dan membiarkan dia tetap berada dalam pengasuhanmu hingga dia dewasa."


Bunga diam.


"Apa Gerry juga tahu?"


"Aku tidak tahu. Tapi aku memohon pada Tuan Firmandana agar tidak memberitahu Gerry dulu hingga kalian bercerai."


"Jadi Mas Kendra mau memberinya nama siapa?"


"Zidan Putra Firmandana!" kata Kendra lalu mengecup pipi bayi mungil itu.


...🌹🌹🌹🌹...


**Selamat datang Zidan.....

__ADS_1


Jangan lupa kasih like n komen ya**...


__ADS_2