
Bunga duduk dan menangis di dalam mobil
"Sayang! Kamu nggak apa-apa?"
Bunga menatap suaminya masih dengan linangan air mata.
"Maafkan aku mas! Aku istri yang nggak guna. Aku bodoh. Aku nggak setia." Bunga meracau mengutuk kebodohannya karena membiarkan Faldi menciumnya.
"Kau bicara begini apa karena Faldi telah menciummu tadi?"
"Mas Ken melihatnya?" Bunga menatap suaminya dengan penuh penyesalan, "Mas, maaf. Aku tidak tahun kalau dia akan melakukannya."
"Iya. Aku tahu. Sudahlah, kita langsung pulang apa kamu ingin pergi ke suatu tempat?"
"Pulang saja mas. Kasihan Zidan kalau terlalu lama ditinggal."
"Baiklah."
Kendra menyalakan mesin mobilnya dan melajukan benda bergerak itu kelurahan dari halaman rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Kendra melirik istrinya yang lebih banyak diam.
Dia masih begitu kuat mempengaruhimu Bunga. Apa benar kau bahagia bersamaku. Atau semua yang kau lakukan hanyalah bentuk pengabdianmu sebagai istri.
"Sayang. Aku langsung balik ke kantor ya?" Kendra berkata saat menurunkan Bunga di depan gerbang rumah mereka. Bunga mengangguk. Dia langsung mengetuk pintu gerbang tanpa mengucap sepatah katapun pada Kendra.
Kendra menunggu hingga Bunga masuk dengan aman baru beranjak dari depan rumahnya.
Dia tidak menuju kantor melainkan kembali ke rumah sakit.
Aku harus menghentikan semua ini.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Kendra langsung masuk ke kamar Gerry. Ia melihat Faldi duduk di sofa.
"Fal!"
"Bang! Abang datang lagi?" Ucap Faldi melihat Kendra masuk dan duduk di depannya.
"Bang. Terima kasih ya. Untuk membawa Bunga ke mari sehingga aku bisa menyampaikan semua isi hatiku yang lama ku pendam padanya."
"Hmm," gumam Kendra.
"Abang tahu kalau Bunga sudah punya anak?"
Kendra mengangguk.
"Ya.. dia menunjukkan foto anaknya padaku bang. Dia juga bilang kalau sekarang dia sudah menikah lagi." Faldi tersenyum, "Dia pikir dengan mengatakan begitu, aku bisa melepasnya. Tapi tidak, aku tetap akan menunggunya. Bahkan kalau perlu aku akan membuatnya meninggalkan suaminya. Karena aku tahu, dia masih mencintaiku. Terbukti dia tidak menolak ciumanku. Bahkan dia menikmatinya." Faldi berkata sambil mengusap bibirnya
Kendra panas mendengar semua ucapan Faldi.
"Apa bang? Bang Kendra berkata apa?" Faldi bertanya meminta kepastian dari apa yang ia dengar.
"Aku tidak akan membiarkan kamu merebut Bunga. Mungkin kamu masih ada di hatinya. Tapi saat ini, ada nama lain yang juga sudah bersemayam di lubuk hatinya."
"Bang Kendra jangan bercanda ah."
"Aku tidak sedang bercanda Faldi. Aku datang untuk mengingatkanmu agar menjauh dari Bunga. Sebelum kamu membuatnya terluka lagi."
"Kenapa bang? Apa bang Kendra masih mendukung Bunga kembali sama bang Gerry?"
"Tidak! Aku memintamu menjauhi Bunga karena aku punya hak untuk itu. Jauhi Bunga, Fal. Jauhi istriku. Karena sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkannya dan tidak akan membiarkan pria manapun merebutnya!" Kendra berkata dengan tegas sambil menatap tajam ke arah Faldi yang terkejut dengan pengakuan Kendra. Faldi tidak pernah menduga jika Kendra lah suami Bunga.
__ADS_1
"Bang Kendra jangan bohong!!" sergah Faldi tak percaya.
"Aku tidak bohong. Apa perlu aku tunjukan buku nikah kami agar kau percaya? Fal! Asal kau tahu, akulah yang membawa Bunga pergi tiga tahun yang lalu. Kami berdua pergi jauh dan hidup bersama selama tiga tahun ini. Kami saling mencintai. Jadi lupakan Bunga. Jangan berharap bisa bersama lagi dengan Bunga. Karena itu tidak mungkin." Kendra bangkit dan berjalan meninggalkan Faldi.
"Aku tidak percaya kata katamu Bang. Aku ingin mendengar dari bibir Bunga sindiri!!" teriak Faldi yang masih bisa di dengar oleh Kendra.
Terserah. Aku sudah mengingatkanmu.
Faldi duduk dengan gelisah. Tangnya berkali kali menjabak rambutnya.
"Kau masih punya harapan. Beda dengan aku!" Gerry yang sedari tadi sudah sadar dan mendengarkan percakapan antara Faldi dan Kendra berkomentar.
"Bang. Kau sudah sadar?" Faldi mendekat ke Gerry.
"Kau masih punya harapan. Asal kau mau berusaha, aku yakin Bunga akan kembali padamu karena dia pernah dan masih mencintaimu. Beda denganku. Bunga tidak pernah mencintaiku. Dia hanya melihatku sebagai dirimu."
"Bang, kau baru sadar. Jangan banyak bicara. Aku akan memanggil dokter." Faldi memencet tombol yang ada di atas bed pasien. Tak berapa lama perawat datang.
"Pasien sadar. Bisa panggilkan dokter?"
Perawat itu mengangguk dan berlalu. Ia kembali dengan dokter yang merawat Gerry.
Saat dokter sedang sibuk memeriksa kondisi Gerry, Faldi duduk kembali di sofa sambil memikirkan perkataan Gerry.
*Kau benar bang. Kali ini aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku hanya akan menyerah jika sudah berusaha dan gagal.
...🌹🌹🌹*...
**Waduh, apa yang akan dilakukan Faldi untuk kembali mendapatkan Bunga ya.. dan bagaimana usaha Kendra untuk menjaga keutuhan rumah tangganya.
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya..... tebarin dah dimana mana. Vote like atau coment**.