Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Perubahan Sikap


__ADS_3

Kondisi Gerry telah membaik dan ia sudah diijinkan meninggalkan rumah sakit. Setiap hari, setiap ada kesempatan, Gerry selalu memberi semangat pada Faldi untuk kembali mendapatkan Bunga.


Meski tanpa hasutan Gerry, Faldi juga masih punya keinginan untuk mendapatkan Bunga. Tapi ia tidak mau melukai Kendra.


Gerry diam diam membuat rencana untuk membantu adiknya. Ia ingin memisahkan Kendra dan Bunga demi Faldi. Demi menebus kesalahannya yang telah merenggut kebahagiaan Faldi. Kecelakaan yang menimpanya telah menyadarkan Gerry untuk tidak lagi menyakiti Faldi.


Berita tentang kecelakaan Gerry sampai kepada tuan Firmandana. Berdua dengan Ny Dea, istrinya, mereka terbang ke Indonesia untuk melihat kondisi putranya itu.


"Kamu sudah pernah mengalami kecelakaan hingga lumpuh. Masih saja tidak hati-hati." omel Ny Dea dengan nada cemas.


"Ma, Gerry tidak apa-apa!"


"Iya, kali ini kamu selamat lagi. Tapi kedepannya kamu harus hati-hati. Keberuntungan itu tidak akan terus terusan datang!"


"Ma! Kok malah nyumpahin anaknya sih!" terus tuan Firmandana. "Ger, sebenarnya tujuan papa pulang selain untuk menjengukmu juga ada maksud lain. Kamu dan Bunga sudah lama bercerai dan usiamu juga sudah lebih dari cukup. Kapan kamu akan berumah tangga lagi?" tanya tuan Firmandana serius.


Gerry tidak kaget dengan pertanyaan itu karena cepat atau lambat pasti kedua orangtuanya akan memintanya menikah lagi.


"Gerry tidak tahu pa. Saat ini Gerry tidak punya rencana untuk itu."


"Kamu punya kekasih?"


Gerry menggeleng.


Bagaimana bisa punya kekasih kalau aku tidak bisa melupakan Bunga.


"Baiklah. Sebenarnya papa bukan orang yang suka mengatur urusan jodoh atau pasangan anak anak papa. Tapi kalau kamu ijinkan, papa akan mencarikanmu calon istri. Bagaimana?"


"Gerry nurut saja apa kemauan mama dan papa." kata Gerry. Ia benar-benar pasrah. Baginya tidak mungkin menikah karena cinta. Karena orang yang ia cintai tak mungkin ia dapatkan. Jadi apa susahnya menerima perjodohan dari papanya.


"Bang!" Faldi yang saat itu juga hadir tidak percaya dengan ucapan Gerry.


Gerry hanya menatap adiknya dengan senyuman.


"Ok. Kalau kamu sudah setuju, papa akan mengatur pertemuan dengan keluarga gadis itu."


"Cepat sekali. Memang papa sudah punya calon?" tanya Faldi.

__ADS_1


"Ada. Sebelum Gerry menikahi Bunga, papa sudah ada niat menjodohkan gadis itu dengan Gerry. Dia gadis baik dan waktu itu tidak keberatan dengan kondisi Gerry yang lumpuh. Tapi Bunga datang lebih dulu."


Faldi dan Gerry diam. Mereka penasaran dengan gadis yang dipuji papanya sebagai gadis baik itu, karena jarang jarang papanya memuji orang lain.


Sore harinya, di rumah Kendra.


"Bu, ada tamu mencari tuan Kendra." kata pembantu rumah tangga pada Bunga.


Bunga keluar dan melihat Faldi berdiri di teras.


"Kau mau apa?" tanya Bunga gugup.


"Suamimu ada?"


"Belum pulang. Mungkin sebentar lagi." Bunga berdiri agak jauh dari Faldi. Ia masih ingat kejadian beberapa hari lalu saat Faldi tiba tiba menciumnya.


"Kenapa berdirinya jauh, sini dekat ke aku!" kata Faldi sambil mengerling menggoda Bunga. Bunga makin menjauh.


Sebuah klakson mobil berbunyi dan pak Ujang berlari membuka pintu gerbang. Mobil Kendra masuk. Pria itu turun dari mobil dan langsung menuju teras.


"Bang! Maaf aku datang tanpa memberitahu."


"Tidak apa apa."


Kendra mendekat ke Bunga. Bunga menjabat tangan Kendra dan menciumnya. Kendra membalas dengan mengecup kening Bunga. Bunga lalu masuk sambil membawa tas dan jas Kendra. Faldi tersenyum kecut melihat adegan mesra itu.


"Ada perlu apa?"


"Nggak begitu penting sih Bang. Aku hanya mau berpamitan. Cuti belajar ku sudah habis dan aku akan kembali ke Singapura untuk melanjutkan kuliahku. Oh ya ada salam dari mama dan papa. Saat ini mereka ada di Indonesia dan berharap bisa bertemu dengan keluarga kecil mu.' kata Faldi.


Keluarga kecilku. Apa tuan Firmandana ingin melihat Zidan. batin Kendra.


" Bang, mama dam papa mengundang kalian makan malam besok sekalian akan memperkenalkan calon istri bang Gerry."


"Apa? Gerry mau menikah?" Kendra tak percaya.


"Iya. Papa menjodohkan bang Gerry dengan gadis pilihannya dan bang Gerry menerimanya."

__ADS_1


Benarkah? Semudah itukah dia melepaskan Bunga setelah ancaman dan tekadnya yang berapi api itu. Atau dia sedang memainkan sebuah trik. batin Kendra penuh rasa curiga.


"Baiklah Bang, aku sudah berpamitan dan menyampaikan pesan papa. Aku pamit dulu." Faldi lantas berjalan menuju mobilnya. Pria muda itu masuk dan mulai melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Kendra meninggalkan tanda tanya besar di benak Kendra.


Permainan apa yang coba mereka mainkan. Bukankah kemarin kemarin mereka berdua masih ngotot ingin merebut Bunga, tapi sekarang kenapa mereka malah adem ayem. Gerry akan menikah dan Faldi malah balik ke Singapura.


"Mas, tamunya sudah pulang?" tanya Bunga.


"Iya. Barusan."


"O"


"Kenapa? Kamu sedih karena dia tidak pamit padamu?" Kendra menyalah artikan komentar pendek Bunga.


"Kok mas Ken ngomongnya begitu sih?" Siapa juga yang sedih." jawab Bunga kesal. Ia masuk tanpa memperdulikan Kendra.


Kendra menatap punggung Bunga tanpa keinginan untuk menghiburnya. Ia membiarkan wanita itu pergi dengan kekesalannya. Pikiran Kendra masih fokus pada perubahan sikap dia kakak beradik saingannya itu. Situasi ini benar benar membuat Kendra tidak tenang.


Malam harinya, Bunga yang masih kesal dengan perkataan Kendra sengaja tidur dengan membelakangi suaminya itu.


"Kau belum tidur kan? Aku tahu kau hanya pura-pura tidur."


Bunga diam. Kendra memeluk Bunga, dia mulai menciumi tengkuk Bunga.


"Sayang!" suara Kendra mulai terdengar berat karena sudah dipengaruhi gairah.


Bunga tak bergeming. Ia tahu Kendra pasti akan membujuknya dengan kata-kata manis seperti biasanya.


Tapi hal diluar dugaan terjadi. Kendra menghentikan aktivitasnya. Ia menjauh dari tubuh Bunga.


"Kau enggan melayani ku setelah bertemu dengannya?" suara Kendra penuh amarah. "Kau sudah mulai tidak setia. Hatimu sudah mendua Bunga." Kendra bangkit dan meninggalkan Bunga.


Bunga syok mendengar perkataan Kendra. Ia diam bukan karena Faldi. Ia diam karena ingin Kendra memanjakannya dengan kata kata manis.


Bukan aku, tapi kau yang mulai goyah mas. batin Bunga getir.


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2