
Faldi langsung membuka jasnya begitu masuk ke dalam rumah. Ia juga mengendorkan dasinya. Melihat itu Bunga gugup. Pikirannya sudah menerawang kemana-mana.
"Ayo!" Fakdi mengulur kan tangannya.
"Aku.. aku.. mau makan dulu." jawab Bunga dengan terbata-bata.
Fadli terkekeh. Ia mendekat lalu menyentil. kening Bunga membuat wanita itu memekik.
"Justru itu. Aku mengajakmu makan. Aku juga lapar karena tadi pagi juga belum sempat menghabiskan makananku. Memangnya kamu pikir aku mengajakmu kemana?" goda Faldi.
ih lagi-lagi otakku mengkhianatiku. batin Bunga
"A.. a.. aku tidak berpikir apa-apa. Jangan asal bicara deh." Bunga mendahului Faldi berjalan ke ruang makan. Ia masih bisa mendengar tawa Faldi dari ruang makan.
Sial. Sial. Sial. Kenapa aku selalu berpikir yang aneh aneh sih...
Bunga mengetuk keningnya berulang ulang sampai sebuah tangan menghentikannya.
"Kening ini bukan hanya milikmu, tapi juga milikku sekarang. Jadi jangan kau sakiti seenak dirimu." Faldi menurunkan tangan Bunga lalu mengecup lembut kening Bunga. Bunga memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut bibir Faldi.
Saking menghayati kecupan itu, ia masih memejamkan mata meski bibir Faldi sudah tidak lagi menempel. di keningnya.
Huff
Faldi meniup mata Bunga.
"Kenapa masih terpejam? Mau nambah di bagian wajah yang lainkah?" gofa Faldi.
Bunga membuka matanya. Ia mendorong tubuh Faldi menjauh.
"Aku akan memanaskan sayurnya dulu." Bunga bergegas membawa sayur yang ada di meja makan ke dapur.
Aish... memalukan. batin Bunga.
Ia lalu menuang sayur ke panci dan menyalakan kompor. Bunga berdiri menunggu di sisi kompor. Ia kaget saat sepasang tangan melingkar di perutnya.
"Fal!" desis Bunga lirih.
"Kau tahu Bunga. Bertahun-tahun aku memimpikan hal ini. Memelukmu saat kamu memasak.encium bau harum dari tubuhmu yang bercampur bau peluh karena panasnya dapur."
Bunga diam. membiarkan Faldi mengeluarkan isi hatinya. Faldi lalu menyibak rambut yang menutupi leher putih Bunga.
"Aku juga selalu menghayalkan hal ini Bunga." Faldi mencium ceruk leher Bunga membuat Bunga melenguh.
Mendengar lenguhan Bunga, Faldi memutar tubuh wanita itu. Kini mereka berhadapan. Ia menatap ke dalam mata Bunga pun Bunga juga demikian.
Perlahan wajah Faldi mendekat dan ia mulai mendaratkan ciuman di bibir Bunga. Kali ini ciuman itu terasa berbeda dari ciuman perpisahan waktu itu. Tidak ada paksaan dan ketakutan yang Bunga rasakan. Ia hanya merasakan cinta. Ya.. cintanya Faldi pada dirinya.
"Gak! Sayurnya sudah hangat." kata Bunga gugup saat tautan bibir mereka. lepas. "Aku lapar." bisiknya lagi.
Faldi terkekeh. Ia mengacak rambut Bunga.
__ADS_1
"Ayo makan." Faldi. membawa sayur hangat itu ke meja makan. Ia juga menarik kursi dan mempersilahkan Bunga duduk.
Faldi lalu mengambil. tempat duduknya.
Saat Faldi akan mengambil makanan, Bunga mencegahnya.
"Ijinkan aku melayanimu!" pinta Bunga sambil mengambilkan makanan untuk Faldi.
"Tentu sayank. Aku mengijinkanmu melayani ku di semua tempat bukan hanya di meja makan. Kamu boleh melayaniku di tempat lain." Faldi mengedipkan sebelah matanya.
Blush. Wajah Bunga memerah. Ia sadar dirinya telah salah memilih kata-kata.
"Sudahlah. Cepat makan. Keburu dingin makannya." ucap Bunga untuk. mengusir kegugupan nya. Faldi mulai makan tapi pandangnya tetap terarah ke Bunga membuat wanita itu salah tingkah.
"Fal! Bukankah makananmu adanya di depanmu bukan di depanku. Kenapa matamu terus melihat ke sini?" tanya Bunga kesal.
"Karena makanan favoritku ada di kamu."
Lagi-lagi Bunga dibuat tersipu oleh kata-kata Faldi.
Sejak. kapan Faldi jadi suka menggombal begini... membuat jantungku melompat-lompat saja.
"Bunga!"
"Ya"
"Kamu tahu tidak ada ikan yang selalu mengajariku bersyukur."
"Benarkah? Ikan apa?"
"Kok bisa?"
"Iya. Ikan Teri. Terimakasih telah menerimaku sebagai suamimu."
Bunga langsung tersedak.
Ya Allah. Ku kira ia bicara serius.
Faldi menyodorkan minuman kepada Bunga. Bunga langsung meminumnya.
"Bagaimana?" tanya Faldi
"Aku tidak apa-apa."
Mereka palu melanjutkan makan dengan tenang.
Selesai makan, Bunga bermaksud mencuci piring tapi di cegah oleh Faldi.
"Biar aku saja."
"Fal, nggak papa. Ini pekerjaan wanita."
__ADS_1
"Tapi bukan pekerjaan wanitaku." Faldi mengangkat piring-piring kotor itu ke tempat cuci miring. Ia lalau menggulung lengan kemejanya dan memasang celemek. Bunga berdiri di samping Faldi.
"Fal, kalau semua kamu yang mengerjakan, aku bisa bosan karena tidak melakukan apa-apa."
"Kamu duduk saja sana. Istirahat. Setelah ini aku akan memberimu pekerjaan sehingga kamu tidak akan bosan lagi."
Mata Bunga berbinar. Ia mengira Faldi akan mengijinkannya kembali bekerja di kantor.
"Apa kau akan mengijinkan ku bekerja lagi? "
"Aku masih sanggup menghidupimu. Tidak ada alasan bagimu untuk bekerja. " Faldi menaruh piring terakhir ke tempatnya. Ia lalu melepaskan celemek yang ia pakai.
"Terus apa kerjaan yang akan kau berikan padaku?" tanya Bunga tidak sabar.
Faldi mendekat ke Bunga.
"Kau.ingin tahu?"
Bunga mengangguk dengan semangat.
Faldi tersenyum. Ia menarik tangan Bunga hingga tubuh nya menempel padanya. Dan dengan cepat ia mengakat Bunga lalu membopopongnya ke kamar.
"Eh!" pekik Bunga kaget saat Faldi menggendongnya.
"Fal!""
"Bukankah kau ingin tahu? Aku akan memberitahumu sekaligus memintamu melakukan pekerjaan itu"
Faldi menutup pintu dengan kakinya saat ia sudah berada di dalam kamar Bunga. Dengan. elmbiy ia meletakkan Bunga di atas ranjang. Ia lalu berbaring di sebelah Bunga dengan satu tangan menopang kepalanya. Bunga diam tidak berani menduga apa yang akan Faldi lakukan. Ia takut salah lagi dan membuatnya malu.
Namun berbaring bersebelahan begini membuat dirinya gugup.
"Kau gugup?" bisik Faldi sambil memegang tangan Bunga yang terasa dingin dan kaku.
"Fal.. aku... "
Faldi yang tahu apa yang ingin Bunga ucapkan langsung membekali. mulut Bunga dengan bibirnya. Ia tidak ingin mendengar Bunga berkata kalau dirinya tidak pantas buat Faldi.
"Jangn fikirkan yang lain sayank.. fikirkan saja aku. Fikirkan bagaimana membahagiakan aku. Bukankah kau ingin minta maaf karena sudah sering melukaiku? Sekarang saatnya kau menghapus luka itu dari hatiku. Jangan pikirkan yang lain. Aku mohon! Kita nikmati kebersamaan kita ya!" Faldi membelai wajah Bunga. Mata Bunga berkaca-kaca. Perlahan ia mengangguk.
Faldi tersenyum. Ia kembali melakukan apa yang selama ini hanya bisa dia hayalkan. Sentuhannya begitu lembut penuh perasaan seolah Faldi sedang menyalurkan semua rasa cintanya yang sudah lama ia simpan.
Tubuh Bunga bergetar. Sentuhan Faldi. bagai memberikan aliran listrik ke seluruh pembuluh darahnya. Ia merasakan sesasi yang selama ini belum pernah ia rasakan yang membuatnya benar-benar melupakan yang lain. Keraguan nya, ketakutannya serta perasaan menjadi wanita yang digilir tiga pria, sirna. Dalam fikirannya hanya ada Faldi, Faldi dan Faldi.
Kenapa rasanya beda. Apa karena cintanya yang sangat besar dan juga karena sesungguhnya dialah yang aku cintai dengan sebenar-benarnya cinta. batin Bunga.
"Sayank, kenapa ada darah?" tanya Faldi saat merasakan tangannya basah dan ketika ia lihat ada noda darah di jari-jarinya.
"Oh.. mungkin tamuku datang." Bunga mendorong tubuh Faldi. Ia lalu bangkit dan turun dari ranjang berjalan ke kamar mandi.
"Yahh!" Faldi merebahkan tubuhnya dengan lemas.
__ADS_1
...💕💕💕...
Sabar ya Fal. Nanti juga indah pada waktunya. Kerja saja dulu karena Bunganya lagi libur...