
Keesokan paginya sepeninggal Kendra, Bunga merenungi semua ucapan Kendra termasuk permintaannya untung menemui Faldi.
"Apakah aku punya keberanian untuk menemuinya? Aku takut melukainya." gumam Bunga.
Berkaki-kali Bunga menghela nafas berat. Mengingat kebersamaannya dengan Faldi dulu yang meski singkat namun sangat membekas. Ia belum sempat mengutarakan perasaannya saat Faldi menghilang.
"Saat itu aku ingin memberitahumu kalau aku mencintaimu, namun aku tidak menemukanmu. Selama tiga tahun kamu menghilang dan aku? Aku hidup dalam penantian dan kerinduan. Mungkin rasa senang yang sangat saat melihat Gerry yang mirip denganmu sehingga aku kurang teliti bahwa ada perbedaan yang besar di antara kalian. Mampukah aku menemuimu dengan kebodohanku inj?"
Cerita Kendra tentang keteguhan Faldi yang akan terus menunggunya membuat Bunga semakin sedih.
"Mas Kendra benar, harus aku yang menghentikan tekad konyolmu itu. Sekarang aku sudah bersuami, dan tidak mungkin aku bersamamu lagi." Bunga kembali bergumam, kali ini buliran bening menetes dari matanya.
"Baiklah demi kebahagiaan semua aku harus mampu melakukannya," Bunga lalu mengambil ponsel dan menghubungi Kendra. Ia minta untuk di jemput dan diantar ke rumah sakit.
Bunga beranjak ke kamar. Ia mengganti bajunya dengan celana jeans dan blouse berwarna putih. Dia sedang menguncir rambutnya saat sebuah tangan kekar memeluknya.
"Kau yakin sayang?" tanya Kendra yang sudah tiba.
"Cepat sekali. Mas terbang ya?"
"Mana bisa aku terbang. Aku hanya terbang saat bersamamu sayang." Kendra mencium leher bunga dan menerima tanda merah di sana membuat Bunga mendesah.
"Mass!" rintihan Bunga saat tangan Kendra sudah mulai menjalar ke dadanya dari arah belakang.
"Yang..mau ya? Sebentar saja!" bisik Kendra.
"Aku sudah siap nih mas."
"Nanti aku bantu bersiap deh." Kendra langsung mengangkat tubuh Bunga ke arah ranjang dan menindihnya.
Aku harus melakukannya agar kau terus mengingatku saat bertemu dengannya sayang. Maafkan aku.
Kendra mulai dengan aksinya. Permintaannya yang katanya sebentar ternyata hanyalah kata-kata semata. Mereka menghabiskan waktu hampir satu jam.
"Tuh kan. Mana ada sebantar." Gerutu Bunga sambil membungkus tubuhnya dengan selimut lalu melangkah ke kamar mandi.
"Yank.. Bareng ya?" Kendra bangkit menyusul Bunga. Namun Bunga sudah terlebih dulu mengunci pintu kamar mandi.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Bunga terus diam. Ia benar benar tegang.
"Kamu tidak apa-apa? Kalu belum siap kita pulang saja."
"Mas, tapi aku tidak mau ketemu Gerry."
"Gampang. Nanti aku akan meminta Faldi keluar dari kamar Gerry. Kalian bisa bicara di taman atau di kafe."
"Kamu ini suami paling ajaib yang pernah kutahu. Mana ada suami yang menyuruh istrinya menemui mantan kekasihnya. Jangan-jangan mas Kendra sudah bosan ya sama Bunga?"
Kendra tertawa sedih.
"Andai kau bisa merasakan seperti apa hatiku saat ini, kau tidak akan mengucapkan kata-kata itu. Aku melakukannya demi rumah tangga kita juga."
"Maaf mas." Bunga menyadari kesalahannya. Dia lalu memegang tangan Kendra, "Aku mencintaimu, mas."
Kendra melirik istrinya itu lalu mengangkat jemari Bunga ke bibirnya. Ia mengecup lama jari itu.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu. Jadi jangan pernah bilang kalau aku bosan denganmu. Karena sampai kapanpun itu tidak akan terjadi."
Mobil yang mereka tumpangi tiba di halaman rumah sakit.
"Ayo turun!" ajak Kendra dengan suara lembutnya.
Bunga mengangguk dan membuka pintu mobil laku turun.
Dengan digandeng Kendra ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
"Mas kita ke kafe saja."
Kendra mengangguk dan mereka berjalan ke arah kafe.
"Duduklah! Aku akan memanggil Faldi ke mari." Kendra melangkah meninggalkan Bunga.
Bunga menunggu dengan gelisah. Dia menghabiskan minumannya untuk meredakan getaran di dadanya. Bunga menatap keluar jendela, mengalihkan pikirannya ke bunga bunga yang ada di luar sana.
"Bunga!" Faldi datang dan menyapa Bunga.
Bunga memejamkan mata. Jantungnya berdegup dengan kencang
"Bunga!" Faldi duduk di sebelah Bunga dan memeluk wanita itu dengan erat.
Bunga memejamkan mata. Dia tidak menolak pelukan Faldi namun juga tidak membalasnya.
Dari jauh Kendra melihat adegan itu. Tangannya mengepal.
"Bunga. Aku berpikir tidak akan bertemu denganmu lagi. Bunga sekarang kamu sudah bukan istri dari abangku kan?" Ada binar bahagia di wajah Faldi saat mengatakan hal itu. Tangannya menangkup pipi Bunga.
Cup
Faldi memberikan ciuman mendadak di bibir Bunga. Bunga terbelalak. Ia lalu melepaskan wajahnya dari tangkupan tangan Faldi.
"Jangan begini!" Bunga bersuara dengan putus asa.
Tangan yang tadi memegang wajah Bunga kini menggenggam tangan Bunga.
Semua adegan itu tak luput dari mata Kendra.
Bunga kenapa kau biarkan dia menciummu. Apakah cintamu masih begitu besar padanya.
Kendra beranjak dari tempatnya menuju kamar Gerry.
"Faldi. Lepaskan. Ini tempat umum." Bunga menarik tangannya. " Duduklah di kursi depanku. Aku tidak nyaman jika kamu duduk di sebelah ku begini."
Faldi tidak menanggapi perkataan Bunga. Dia malah menaruh tangannya di atas meja dan menopang wajahnya dengan tangan itu. Wajah Faldi menghadap Bunga sambil tersenyum.
Bunga melirik lalu kembali mengalihkan pandangannya ke tangannya yang dia pangku.
Mata itu masih sama. Mengintimidasi. batin Bunga.
"Kenapa kau diam?" tangan kiri Faldi memainkan rambut Bunga.
"Kemarin kamu berbincang dengan mas Kendra ya?"
__ADS_1
Faldi mengangguk.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Bunga. Bunga merutuki kebodohannya. Ia menanyakan sesuatu yang ia sudah tahu jawabannya.
Faldi tersenyum. Ia mengangkat kepalanya.
Faldi memegang bahu Bunga dan memutarnya sehingga kini mereka berhadapan.
"Aku bilang ke bang Kendra kalau aku akan selalu mencintaimu. Tak peduli apapun. Aku akan tetap menunggumu." Faldi menowel hidung mancung Bunga.
"Hentikan itu!"
"Oh. Maaf. Kamu tidak suka ya aku towel."
"Bukan itu. Maksudku hentikan kekonyolanmu itu."
"Kekonyolan?"
"Iya. Tekadmu untuk terus menungguku bagiku adalah sebuah kekonyolan. Kau melakukan hal yang sia-sia. Aku tidak mungkin bersamamu. Karena aku sudah bersuami dan punya anak."
Faldi tergelak."Bercandamu tidak lucu sayang." Faldi memencet hidung Bunga.
"Aku tidak bercanda. Aku serius. Aku sudah menikah. Aku meminta cerai pada Gerry agar aku bisa menikah lagi. Aku menemukan seseorang yang mau menerima keadaanku. Dia sangat menyayangi dan mencintaiku. Dan kami sudah punya anak." Bunga mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pada Faldi foto dirinya yang sedang menggendong Zidan saat masih bayi. Ini anakku."
Faldi menatap tak percaya.
"Jadi kumohon. Lupakan aku. Aku mencintai keluargaku Fal. Aku mencintai anak dan suamiku. Mungkin pertemuan kita dulu adalah jalan yang dirancang Allah agar aku bisa bertemu suamiku sekarang. Kamu masih muda Fal. Aku yakin kamu akan menemukan gadis yang jauh lebih baik dari aku." Bunga berkata sambil menahan air matanya sekuat tenaga.
"Basi. Kata-katamu basi Bunga. Aku tahu kamu menolak ku karena masih menyimpan perasaan tidak enak dengan Bang Gerry kan? Dan anak itu anak Bang Gerry kan? Aku nggak masalah dengan kehadirannya. Kita bisa hidup bersama jauh dari bang Gerry jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak. Dan kalau penyebabnya adalah kamu tidak ingin meretakkan hubungan saudara, hubungan kami memang sudah retak Bunga. Aku bersatu atau tidak denganmu, hubungan kami sudah tidak baik. Jadi buat apa mengkhawatirkan sesuatu yang sudah terjadi."
"Tidak Fal. Bukan begitu! Aku beneran...
Faldi menyambar bibir Bunga dan menyecapnya lama. Bunga meronta tapi Faldi tak membiarkan wanita itu lepas dari kekuasaannya.
Ia melepaskan bibir Bunga saat wanita itu hampir kehabisan oksigen.
" Jangan lagi memintaku melupakanmu. Karena itu tidak mungkin kulakukan." Faldi hendak mencium Bunga lagi namun tangan Bunga menutupi bibirnya. Mata Bunga berkaca-kaca. Ia lalu berdiri dan menampar Faldi.
"Sadarlah. Aku istri orang!" Bunga lalu mendorong meja sehingga memberinya celah untuk keluar.
Bunga berlari sambil menangis. Ia mengusap bibirnya berkali kali dengan lengan bajunya.
"Ampuni aku mas. Ampuni aku." rintihan Bunga dalam isaknya.
Bunga melihat suaminya berjalan dari kejauhan. Ia mempercepat larinya dan menghambur ke pelukan pria itu.
"Bawa aku pulang, mas!"
Kendra mengelus bahu Bunga dan membimbingnya ke luar menuju mobil mereka.
...🌹🌹🌹...
**Melupakan memang tak semudah mengucapkan.
Ayuuuukkkk jempolnya yaaa**
__ADS_1