
Faldi dengan lembut dan hati-hati merebahkan tubuh Bunga ke ranjang din ruang istirahat pribadinya. Ia ikut berbaring di sisi Bunga dengan posisi miring dan salah satu tangan menyangga kepalanya. Ia memandangi Bunga sambil tangannya mengelus perut Bunga.
Bunga sudah sangat gugup. Jatungnya berdebar memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Beberapa saat menunggu, namun Faldi tidak melakukan apa-apa. Ia masih menatapnya sambil terus mengusap perutnya.
"Kenapa kamu terus memandangiku seperti itu?" gumam Bunga lirih sambil menoleh ke arah Faldi.
Faldi tersenyum, "Terus aku harus apa?" ia balik bertanya menggoda Bunga.
"Menyebalkan." gerutu Bunga sambil. memalingkan wajahnya. Faldi terkekeh melihat Bunga kesal.
"Nyonya Faldi." bisiknya lembut, "Katakan apa yang harus aku lakukan. Suami kecilmu ini butuh bimbingan." Faldi kian gencar menggoda Bunga. Wajah Bunga sudah semerah tomat. Ia sangat kesal.
"Tau ah." Bunga memunggungi Faldi. Faldi tertawa. Tangannya kini mengelus lengan Bunga dan saat sampai di pergelangan, ia menurunkan ke pinggang Bunga lalu menggelitiknya.
"Faldi!Geli ah!" pekik Bunga sambil mengubah posisinya karena menghindari gelitikan Faldi. Bunga kembali tidur terlentang. Faldi mengelus wajahnya.
"Terimakasih karena datang malam ini. Dan maaf, mungkin belakangan aku mengabaikanmu dan Zidan." kata Faldi. Tangannya masih menyusuri wajah Bunga, dari alis, mata, hidung dan berhenti di bibir Bunga. Faldi megusap lembut bibir Bunga membuat bibir itu sedikit terbuka. Faldi mendekatkan wajahnya dan dengan rakus namun lembut mel**at bibir manis itu.
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." ucap Faldi.
"Aku tahu." Bunga mengelus rahang Faldi, "Aku juga mencintaimu."
Faldi kembali membenamkan bibirnya ******* bibir Bunga. Bunga menerima sentuhan Faldi dengan segenap perasaannya Rasa cintanya yang ia pendam dalam-dalam, kini membuncah keluar. Ia merasakan kebahagian yang belum pernah ia rasakan. Ia tahu darimana asal kebahagiaan itu. Karena yang sekarang sedang berada di atasnya adalah Faldi, pria yang sangat ia cintai.
"Sayang, bukain dong." bisik Faldi. Bunga melakukan apa yang Faldi minta. Dengan cekatan ia membuka kemeja Faldi.
Bunga memejamkan mata merasakan sentuhan kulit dada Faldi pada tubuhnya polosnya.
Ia pasti capek seharian kerja. Malam ini biar aku yang memanjakannya. batin Bunga.
Bunga lalu mendorong tubuh Faldi dan bertukar posisinya.
"Biarkan aku memanjakanmu Tuan Faldi." kata Bunga dengan suara seksi nan menggoda. Ia lalu membuka ikat pinggang dan mulai melucuti pakaian bawah Faldi.
Faldi pasrah dengan apa yang dilakukan Bunga. Sejujurnya ia memang capek.
Bunga menindih Faldi dan mulai. menciuminya. Faldi melenguh saat Bunga memainkan bulatan coklat di dadanya.
"Kau nakal Nyonya." desisnya di sela sela erangan yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Bunga duduk di atas Faldi dan mulai. memainkan perannya. Berkali-kali ia menegang dan jatuh lemas di dada Faldi, namun ia tidak juga berhenti. Tekadnya untuk memuaskan suami kecilnya sudah bulat. Tubuh Faldi mulai menegang dan Bunga melihat itu. Ia mempercepat ritmenya. Tangan Faldi mencengkeram kedua bukit kenyalnya saat ia mengerang melepaskan jutaan benih ke dalam rahimnya. Bersamaan dengan itu, Bunga terkulai lemas di dadanya.
"Hahaha.. nyonya Faldi luar biasa." Faldi memeluk Bunga.
"Tuan Faldi yang hebat, aku sampai lemas begini." balas Bunga.
"Benarkah? Itu belum seberapa." Faldi mendekap tubuh Bunga dan memutarnya. Kini mereka berganti posisi " Sekarang kau akan tahu kehebatan tuan Faldi yang sebenarnya."
"Eh bukankah tadi sudah.." Bunga tidak. bisa melanjutkan ucapannya karena bibirnya sudah di bungkam Faldi. Kini ganti Faldi yang memainkan perannya. Malam ini, Faldi menunjukan pada Bunga seberapa hebat dirinya.
Bunga mengerjab saat ada tetesan air mengenai wajahnya. Ia membuka mata dan melihat Faldi berada di dekatnya. Pria itu sudah mandi dan rambutnya basah. Teteskan air dari rambut Faldi yang tadi mengenai wajah Bunga dan membangunkannya.
"Selamat malam menjelang pagi Nyonya." sapa Faldi sambil mengulas senyum termanisnya
"Jam berapa?" tanya Bunga dengan suara serak.
"Sebentar lagi subuh. Bangunlah dan mandi. Kita pulang. Karena kau tidak akan bisa sholat di sini. Tidak ada mukena."
Bunga mengangguk.
"Tuan Faldi, bisa bantu ambilin handuk. "
Selesai membersihkan diri, mereka memutuskan untuk pulang.
"Sayang, Zidane dimana?" tanya Faldi saat sarapan dan tidak melihat Zidan.
"Semalam aku menitipkannya ke rumah Riana." jawab Bunga sambil mengambilkan makanan untuk Faldi.
Selesai sarapan, Faldi pamit untuk. kembali bekerja.
"Lembur lagi?" tanya Bunga sebelum Faldi berangkat.
Faldi mengangguk. Bunga cemberut.
Faldi membelai pipi Bunga.
"Tapi aku akan pulang. Tidak menginap di kantor lagi." Faldi menenangkan Bunga.
Bunga tersenyum. "Aku akan menunggumu. Jangan terlalu malam. Jaga kesehatanmu!"
__ADS_1
Faldi mengecup kening Bunga dan melangkah keluar diikuti Bunga.
Faldi mambaca laporan tentang kenaikan hasil penjualan produknya di pasaran dengan mata berbinar. Kini permintaan dari para distributor mulai besar lagi seperti sedia kala. Ia bernafas lega. Kerja kerasnya selama beberapa minggu ini membuahkan hasil.
"Untuk peluncuran product berikutnya, lebih baik aku konsultasi dengan Martin. Idenyalah yang berhasil mendongkrak kembali penjualan di pasaran." gumam Faldi lalu menghubungi Martin dan membuat janji temu. Martin meminta Faldi singgah ke rumahnya sepulang kerja saja. Karena ia tidak mau meninggalkan Riana yang sedang hamil tua, menunggu saat - saat melahirkan.
"Bagaimana menurutmu? Ini beberapa konsep yang ditawarkan devisi pemasaran. Mana yang bagus? "
Martin sedikit bingung. Bukannya ia tidak menguasai tehnik pemasaran namun ia merasa bersalah kalau terus membohongi Faldi
"Fal, ada yang ingin aku sampaikan. Tapi kuharap kamu bisa menerimanya dengan pikiran jernih karena sungguh niat orang ini baik."
"Kamu bicara apa sih? Membuatku bingung saja." tanya Faldi penasaran.
"Ide itu sebenarnya bukan berasal dari aku melainkan dari Bunga. Ia meminta aku menyampaikan padamu dan juga melarang ku mengatakan kalau itu ide dia. Dia takut membuatmu marah karena mencampuri urusan perusahaanmu. Ia hanya ingin menolongmu karena ia tidak bisa melihatmu tertekan. Ia sangat mencintaimu Fal." dengan hati-hati dan memilih kata kata yang tepat, Martin menjelaskan kepada Faldi.
Faldi diam. Ia ingat malam saat Bunga datang dan membantunya menyelesaikan pekerjaannya. Malam itu, saran yang di berikan Bunga selalu pas dengan ide Martin. Kini Faldi tahu alasannya.
"Fal! Jangan marah. Ia tidak salah." tegur Martin saat melihat Faldi diam tanpa berkomentar. "Kau tidak merasa dia menyepelekanmu kan? Kalau ada perasaan semacam itu, buanglah jauh-jauh. Ingat perjuanganmu untuk bisa bersama dengannya. Jadi jangan jadikan masalah kecil ini merusak hubungan kalian yang mulai membaik."
Faldi masih diam mencerna perkataan Martin. "Sejujurnya aku malu Tin. Setelah mengetahui ini, apa yang harus aku lakukan. Selama ini aku selalu percaya diri mengatakan kalau kesulitan di perusahaan sudah terselesaikan dan memintanya tidak khawatir. Tapi ternyata, justru dialah yang telah membantuku. Aku harus bagaimana Tin?" Faldi gusar.
"Jadi kau tidak marah?"
"Ya enggak lah. Gila apa, sudah di tolong masih marah."
Martin tersenyum lega.
"Sementara kau bisa berpura-pura tidak tahu dulu. Jika waktunya tepat kau bisa mengutarakan terima kasihmu padanya."
Faldi mengangguk. Saat itulah ponselnya bergetar Ia mengambil dan membukanya. Ada pesan dari Bunga
Faldi tersenyum membaca pesan Bunga yang berbunyi:
Tuan Faldi, cepat pulang. Istrimu butuh nafkah darimu.
Di rumahnya, setelah melihat pesannya dibaca oleh Faldi, Bunga mendekap ponselnya. Mukanya merah. Entah apa yang membuatnya berani mengirim. pesan semacam itu. Yang jelas, ia ingin selalu berdekatan dengan Faldi.
...💕💕💕...
__ADS_1