
Dua hari kemudian, Riko datang ke rumah Kendra. Ia membawa sesuatu yaang dibungkus amplop berwarna coklat.
Riko tidak masuk ke dalam rumah, dan hanya berbincang dengan Kendra di halaman lalu pergi.
Bunga mengawasi mereka dari dalam.
"Kenapa mas Riko tidak masuk, Mas Ken?" tanya Bunga saat Kendra melangkah ke dalam.
Kendra menghentikan langkahnya, ia menatap Bunga.
Mas Ken. Manis sekali panggilanmu. batin Kendra.
"Dia hanya datang untuk menyerahkan ini." Kendra menunjukkan amplop coklat itu kepada Bunga.
Kendra kemudian duduk di sofa, Bunga mengikutinya.
Kendra membuka amplop itu dan isinya adalah dua buah buku nikah. Satu berwarna hijau dan satunya merah. Kendra memberikan kedua buku itu kepada Bunga.
"Simpanlah!"
"Ini?" Bunga memandangi kedua Buku nikah itu.
"Bukankah ini yang kamu inginkan untuk anakmu?" tanya Kendra.
Bunga tidak menjawab, ia membuka buku nikah itu. Tertera namanya dan nama Kendra. Juga foto mereka berdua.
"Mas, bagaimana kamu melakukannya?"
"Riko yang melakukannya, bukan aku. Aku mana bisa."
"Tapi ini asli kan?"
"Asli. Hanya proses mendapatkannya yang palsu. Tapi setelah anak ini lahir, aku akan membuat yang palsu itu jadi asli." jawab Kendra sambil menatap mata Bunga yang juga sedang menatapnya. Mata mereka saling mengunci.
Kenapa hatiku berdebar debar. Apakah kebersamaan kami sudah menumbuhkan perasaan di hatiku. batin Bunga.
Bunga mengalihkan pandangannya sambil menggeleng.
"Kamu kenapa?"
__ADS_1
"Aku nggak papa, hanya agak pusing."
Kendra mengelus kepala Bunga dan sedikit memberi tekanan di beberapa bagian tertentu seperti memberi pijatan.
"Apa sudah enakan?"
Bunga gugup. Ia hanya bisa mengangguk.
"Mas, soal perceraian ku. Bagaimana agar Gerry mau menceraikanku?"
"Kirimin saja ia surat perceraian. Nanti aku akan minta bantuan Riko. Minggu depan ia akan ke Jakarta. Ia bisa mengeposkan suratnya dari Jakarta."
"Berarti kita memberi alamat donk agar dia bisa memberikan balasan. Kalau tidak bagaimana kita tahu dia menceraikan aku atau tidak?"
Kendra menggaruk kepalanya. Dia berpikir.
"Bunga, apa kamu masih tidak bersedia bertemu dengannya?"
"Sebenarnya iya. Tapi masalah perceraian, aku memang harus menemuinya kan?"
"Oh, tunggu! Kita hubungi kedua orang tuanya saja. Jelaskan masalahnya. Jika kamu bilang perceraian ini jalan satu satunya agar tidak terjadi perpecahan antara dua saudara, maka mereka pasti akan mendukungmu. Dengan dukungan mereka, mudah bagimu untuk meminta cerai dari Gerry."
"Mas Kendra masih menyimpan nomor HP mereka?"
"Mas, tapi aku takut."
"Kamu tidak salah, tidak seharusnya kamu takut. Aku hubungi mereka sekarang ya? Aku akan menelpon ayahnya saja. Karena pria lebih mengutamakan pikiran daripada perasaan, jadi lebih mudah diajak bicara."
Kendra lalu menekan nomor Tuan Firmandana. Mungkin karena di ponsel tuan Firmandana no Kendra tidak di kenal, panggilan itu diabaikan.
Berkali-kali Kendra mencoba menghubungi Tuan Firmandana, baru pada panggilan ke lima Tuan Firmandana menjawabnya.
"Hallo, ini siapa?" suara yang berat dan penuh wibawa khas Tuan Firmandana terdengar dari ponsel yang sengaja di loud oleh Kendra.
Kendra memberi isyarat agar Bunga bicara.
Dengan gugup Bunga menjawab sapaan Tuan Firmandana.
"Tuan, ini saya Bunga."
__ADS_1
"Bunga, kamu dimana? Beritahu saya, biar saya menjemputmu!" nada suara Tuan Firmandana terdengar bersemangat.
"Maaf Tuan, saya menghubungi Tuan untuk memohon bantuan."
"Bantuan apa? Katakan saja. Saya pasti membantumu."
"Tuan pasti sudah tahu masalah antara saya, Bang Gerry dan Faldi. Tuan bantu saya agar bisa bercerai dari Bang Gerry. Meski pernikahan kami hanya sah secara agama, namun kata talak darinya sangat penting buat saya agar bisa melanjutkan hidup."
"Bunga, kenapa kamu ingin bercerai dari Gerry?"
"Karena saya tidak bisa hidup di antara mereka berdua, Tuan. Selamanya kisah saya dan Faldi akan mempengaruhi pernikahan saya dan Gerry. Jadi alangkah lebih baiknya jika saya menghilang dari kehidupan mereka. Biar kami bertiga bisa memulai hidup kami yang baru. Dan agar tidak terjadi keretakan antara dua saudara. Saya harap Tuan mendukung keputusan saya ini. Dan saya mohon bantuan dari Tuan."
Tidak ada jawaban dari Tuan Firmandana, karena beliau sedang memikirkan ucapan Bunga.
"Baiklah jika itu keputusanmu, tapi sebelumnya bolehkan aku bertanya?"
"Silahkan Tuan!"
"Apa saat ini kamu sedang mengandung anak Gerry?"
Bunga tidak menjawab, ia menatap Kendra. Kendra mengangguk memberi isyarat agar dia jujur.
"Tidak!" jawab Bunga yang membuat Kendra kaget. "Jika saya mengandung anak Gerry, saya tidak akan meminta cerai darinya." lanjut Bunga.
"Baiklah. Aku akan meminta Gerry menjatuhkan talak padamu."
"Tuan, tolong jangan memberitahu Gerry jika saya menghubungi anda. Saya melakukan ini semata mata demi kebaikan keluarga Tuan, dan terima kasih atas bantuan Tuan."
Bunga lalu mengakhiri panggilannya.
"Kenapa kamu bohong?" tanya Kendra.
"Kalau aku jujur, apa Tuan Firmandana akan membiarkan aku bercerai? Bagaimanapun ini cucunya, dia pasti akan mempertahankannya."
"Tapi dia anak Gerry, Bunga. Kamu tidak boleh menghapus pertalian darah diantara mereka."
"Aku akan jujur pada anakku, nanti kalau dia sudah besar. Aku akan ceritakan semuanya. Biar dia sendiri yang menentukan sikap." kata Bunga tegas. Ia lalu berdiri meninggalkan Kendra.
Kendra menghela nafas.
__ADS_1
"Gadis ini ternyata keras kepala." gumam Kendra.
...🌹🌹🌹...