Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Bahagia Selamanya


__ADS_3

Hari-hari Bunga disibukkan dengan merawat si kembar. Ia sebenarnya kewalahan namun ia melewatinya dengan bahagia. Menatap buah cintanya dengan Faldi membuatnya lupa akan rasa capek yang terasa.


"Sayang, apa perlu baby siter? Ku lihat kau kurang istirahat. Berat badanmu turun drastis lo! Aku bisa merasakannya. Dulu segini sekarang.....aw."  Faldi mengaduh saat Bunga mencubitnya.


"Mesum!" semprot Bunga.


Faldi malah terkekeh sambil memeluknya sambil berbisik, "Pakai babysiter ya! Suamimu juga butuh


diurus." Faldi mencium leher Bunga.


Bunga sadar. Sejak bayi kembarnya lahir, perhatiannya pada Faldi sedikit banyak juga berkurang.


"Kamu cemburu pada anakmu sendiri?" tanya Bunga sambil memegang kepala Faldi.


"Bukan begitu. Aku laki-laki normal sayang dan aku masih hot-hotnya." Faldi kembali menyusuri leher


Bunga dengan bibirnya. "Sekarang aku juga sedang hot nih." Tangan Faldi mulai bergerilya, "Kita main sebentar yuk! mumpung si kembar sedang tidur."


"Kalau mereka bangun?" tanya Bunga.


"Makanya sayang, pakai babysitter nggak papa. Bukan berarti full di rawat mereka nggak, mereka hanya


bekerja saat aku membutuhkanmu. Biar kita mainnya tenang." Faldi yang sudah tidak sabar semakin aktif mengeksplor tubuh Bunga.


"Aku sudah nggak sabar, yank." Ia mengangkat dan menggendong Bunga menuju ranjang mereka. Segera


Faldi menuntaskan hasratnya namun saat hampir mencapai puncak, mereka dikagetkan oleh tangis anak mereka.


"Yank!" bisik Bunga.


"Tanggung, anggap saja musik." jawab Faldi sambil nyengir kuda. Ia terus saja melanjutkan aktifitasnya sampai akhirnya ia mencapai pelepasannya.


Bunga segera memakai pakaiannya dan berlari ke box bayi yang ada di sebelah ranjang mereka.Ia mengangkat anaknya lalu menenangkan bayi itu.

__ADS_1


"Dia kenapa?" Faldi mendekat dan ikut mengelus kepala anaknya.


"Nggak tahu. Mungkin lapar." Bunga membawa bayinya duduk ke ranjang, "Yank, tolong ambilkan air hangat dan kapas."


Faldi yang mengerti untuk apa kedua benda itu, segera melakukan yang Bunga minta. Ia mengambil air hangat dan kapas lalu membawanya ke dekat Bunga.


"Sini biar aku yang bersihkan!" Faldi menyodorkan kapas yang sudah ia basahi dengan air hangat. Perlahan ia mengusap benda kenyal berwarna coklat itu. Matanya tak berkedip. Ia menelan ludah. "Kalau saja ia bukan anakku, rasanya nggak rela aku berbagi dengannya." gumam Faldi.


Bunga tertawa lirih mendengar keluhan suami kecilnya itu. Tangannya menjewer lembut telinga Faldi,"Papa


nggak boleh serakah ya.."


Faldi tersenyum, ia lalu mendekatkan wajahnya pada si bayi yang sekarang sedang menghisap asi Bunga.


"Aku meminjamkan harta kesayangku padamu. Kelak kalau kau besar jangan pernah melawanku. Kau harus


berterima kasih pada papamu ini." selorohnya membuat Bunga tertawa.


"Yank soal baby sitter?" tanya Faldi. Bunga berpikir sejenak dan akhirnya ia mengangguk.


"Apa?"


"Tidak boleh lebih muda dari aku, dan juga tidak boleh lebih cantik dari aku. Cari yang usianya 40 tahun


lebih."


Faldi memandangnya, "Jadi selama ini kau tidak mau menggunakan jasa baby sitter karena takut aku tergoda


ya? Sayank, dalam hatiku hanya kamu. Nggak mungkin aku berpaling. Kecuali..."


"Kecuali apa?" semprot Bunga.


"Kecuali ada kembaranmu." Faldi tergelak. Bunga kesal

__ADS_1


"FALDI!!!" ia melempar bantal ke arah Faldi yang sudah berlari ke kamar mandi sambil tertawa.


Bunga tersenyum melihat tingkah suami kecilnya itu. Ya, usia mereka memang terpaut lima tahun, namun Faldi selalu bisa menunjukkan sikap dewasanya sampai Bunga tidak merasakan kalau memiliki suami yang lebih muda.


Kilasan perjalanan cinta mereka berkelebat dalam benaknya. Betapa ia harus menunggu lama untuk bisa bersama dengan Faldi dalam kebahagiaan seperti ini. Tak henti-hentinya ia bersyukur dalam hati sambil menatap mata bening bauh hatinya yang sedang tenang menyusu. Sedangkan anaknya yang satunya masih lelap di boxnya.


"Matamu bening sebening cinta papamu." Bunga mengelus pipi bayinya.


"Benarkah?" teguran Faldi membuatnya menoleh. Bunga terpana melihat pesona suaminya yang tampak sangat seksi dengan rambut basah dan handuk melilit tubuhnya sebatas pinggang.


"Kenapa bengong?" tanya Faldi.


"Kau luar biasa." puji Bunga tanpa perlu merasa malu lagi. Karena pria mempesona itu adalah suaminya.


"Apaku yang luar biasa? Inikah?" Faldi menunjuk bagian tubuhnya. Wajah Bunga memerah. Ia teringat bahwa apa yang ditunjuk Faldi selalu membuatnya histeris merasakan nikmat yang amat sangat.


Faldi mendekat, "Ini milikmu. Selamanya akan selalu menjadi milkikmu. Terima kasih sudah mau menjadi istriku." Faldi lalu mengecup kening Bunga.


"Aku yang mestinya bersyukur memiliki suami sepertimu. Terima kasih Fal. Terima kasih mau menerimaku." Bunga menyandarkan kepalanya di dada Faldi yang terasa dingin.


"Semoga kita akan selalu bahagian seperti ini, selamanya." Faldi mengelus rambut Bunga.


"Aamiin." Jawab Bunga.


"Dah tidur tuh. Taruh lagi di boxnya! Dan ganti aku yang icipin itu.." bisik Faldi mesum.


"Kan tadi udah."


"Mau nambah. Katanya pengen bahagia selamanya. Kita harus sering enak-enakan kalau mau bahagia" rayu Faldi.


Bunga tertawa. Ia berdiri dan kembali menaruh bayinya di box. Belum sempat ia berbalik, Faldi sudah memeluknya dari belakang dan mengangkat tubuhnya.


Bahagia terus ya Bunga, Faldi.

__ADS_1


...Tamat...


__ADS_2