
"Bagaimana Fal? Kamu jadi berangkat pagi ini? Kamu tidak ingin bertemu calon istri abangmu?" tanya tuan Firmandana saat melihat Faldi berkemas untuk kembali ke Singapura.
"Iya, Fal. Bantu abang memberi menilai gadis itu!" kata Gerry.
"Memang penilaian Faldi akan mempengaruhi keputusanmu Bang? Nggak kan?" balas Faldi.
Gerry tersenyum Dia tahu Faldi kurang setuju dengan perjodohan ini. Hubungannya dengan Faldi sempat renggang karena Bunga. Tapi Faldi tetaplah Faldi. Dia terlalu baik untuk terus membenci abangnya.
"Kalian tidak perlu mengantarku. Aku akan berangkat sekarang." Faldi mengambil tangan mama dan papanya lalu mencium kedua tangan orang tuanya itu. Namanya memeluk sebentar anak bungsunya.
"Ma! Nanti kita juga bertemu lagi. Mama dan papa kan balik ke Singapura juga, kan?"
"Iya. Tapi sedikit lebih lama. Bahkan papa punya rencana kita tukar tempat. Gerry yang akan mengurus perusahaan di sana dan papa kembali ke Indonesia. Dan kamu! Kamu nanti yang bantu papa jika sudah lulus. Jadi baik-baiklah belajar!"
"Siap, bos!" Faldi menjawab dengan memberi hormat layaknya anak buah pasukan.
"Bang, semoga pilihanmu tepat." Faldi menjabat tangan Gerry dan memeluk abangnya.
Gerry merangkul erat adik semata wayangnya itu.
Aku janji Fal. Aku akan mengembalikan kebahagiaanmu. Kata Gerry dalam hati.
Faldi berangkat ke bandara diantar supir pribadi keluarga Firmandana.
Malam harinya, sesuai undangan tuan Firmandana, Kendra bersiap pergi menghadiri makan malam. Hubungannya dengan Bunga belum membaik. Kekesalannya dan rasa curiga masih bercokol di hati Kendra.
"Masih lama dandannya. Kamu berias buat siapa? Dia sudah berangkat ke Singapura." Kendra mendengus kesal saat Bunga tidak juga selesai merias diri.
"Aku berhias untuk menjaga harga diri suamiku. Bukan untuk pria lain. Kalau aku lecek, orang akan berpikir suamiku tidak becus merawat diriku." sahut Bunga tak kalah ketusnya.
"Cih! Alasan."
Bunga tak menghiraukan ucapan sinis Kendra. Pikirannya tertuju pada Zidan.
"Mas. Haruskah Zidan ikut juga?"
"Tuan Firmandana mengundang kita kau pikir ingin bertemu denganmu. Dia ingin melihat cucunya."
"Bisakah kita menolaknya?"
"Terlambat! Aku sudah terlanjur berjanji akan datang. Dan jika kita tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan Tuan Firmandana lakukan demi bisa melihat cucunya. Kau pikir dia orang yang bisa ditolak begitu saja." nada suara Kendra masih saja sinis.
Tidak. Ini tidak boleh berlanjut. Jika aku tetap egois ingin mas Kendra yang minta maaf dulu, maka situasi ini tidak membaik.
Mendapati pemikiran demikian, Bunganya mendekat ke Kendra yang sedang memainkan ponsel sambil duduk di sofa kamar. Bunga mengambil ponsel itu lalu mendudukan dirinya dipangkuan Kendra. Tangannya memegang wajah Kendra. Kendra terkejut dengan sikap Bunga. Belum sempat Kendra mencerna perilaku mendadak Bunga itu, bibirnya sudah di sergap oleh Bunga dengan ganas.
"Jangan marah lagi ya. Aku istrimu dan akan tetap jadi istrimu." rayu Bunga. Ia kembali mencium Kendra. Kali ini dengan sangat lembut. Kendra bereaksi. Ia membalas ciuman Bunga.
__ADS_1
"Mas.. sudah ah. Nanti telat lo!" Bunga mendoronb dada Kendra. Ia lalu bangkit dari pangkuan suaminya.
"Kita lanjutkan nanti malam saja!" sambil berkata Bunga mengerlingkan matanya dengan mesra kepada Kendra.
Rahang Kendra mengeras menahan sebuah rasa yang mulai bangkit dalam tubuhnya.
Sekarang kau bisa lolos. Tapi nanti malam, kuhabisi tanpa ampun.
Di restoran, tuan Firmandana dan keluarganya sudah menunggu kehadiran tamunya di ruang VVIP.
"Kenapa banyak kursi, Pa? Bukankah kita hanya mengundang keluarga dari gadis yang akan papa jodohkan denganku?"
"Tidak. Papa mengundang pasangan lain. Pasangan yang saat ini sedang berbahagia dengan putra kecil mereka. Papa ingin kamu mencontoh pasangan ini dan segera beri papa seorang cucu nanti setelah menikah."
"Iya Ger. Keluarga kita butuh penerus."
Gerry hanya tersenyum.
"Assalamualaikum.Selamat malam tuan Firmandana!"
Tamu yang mereka tunggu datang. Seorang pria seusia tuan Firmandana datang beserta istri dan anak gadisnya. Gerry memperhatikan penampilan pria itu. Ia memakai baju koko sederhana dengan bawahan kain sarung. Istri dan anaknya mengenakan gamis longgar dan hijab.
Jadi gadis seperti ini yang ayah inginkan untuk menjadi istri ku. Cantik juga. Tapi penampilannya itu bukan seleraku banget.
"Ustadz Rahmad. Mari silahkan duduk!"
Mata Gerry masih menatap lekat gadis yang sekarang duduk di harapannya.
Wajahnya polos tanpa make up. Tapi cantik. Kalau dikasih make up, pasti lebih cantik. Lumayan lah bisa buat bersenang senang saat malam tiba.
"Ustadz, inilah putra yang saya ceritakan kepada ustadz. Gerry!" Tuan Firmandana memberi isyarat agar Gerry menyalami ustadz Rahmad. Gerry melakukan apa yang papanya minta. Ia menyalami ustadz Rahman dan mencium punggung tangannya.
"Dan ini putri saya, Almira."
Gadis yang disebut namanya itu berdiri. Menangkup kan kedua tangan di dada dan membungkuk hormat kepada kedua orang tua Gerry dan Gerry sendiri.
"Saya langsung saja ya ustdaz. Seperti yang pernah saya sampaikan dulu, saya ingin mengikat hubungan dengan ustadz melalui perkawinan kedua anak kita. Saya sudah menyampaikan niat saya ini kepada Gerry dan dia menyetujuinya. Jadi bagaimana jawaban ustadz Rahmad?"
"Bagaimana Ra?" ustdaz Rahmad bertanya pada putrinya.
"Almira ikut kata abah saja!"
Wow suaranya merdu banget. batin Gerry.
"Baiklah tuan Firmandana. Karena anak saya sudah menyerahkan keputusannya pada saya, maka saya menerima niat baik keluarga tuan."
"Alhamdulillah." kata Tuan Firmandana dan Ny. Dea bersamaan. Perempuan itu berseri-seri menatap calon menantu pilihan suaminya. Cantik dan masih sangat muda. Mungkin hanya selisih dua tahun dengan anak bungsunya.
__ADS_1
Perbincangan mereka beralih ke penentuan tanggal lamaran dan pernikahan. Selama perbincangan berlangsung, mata Gerry terus menatap Almira kata seolah ingin menelan gadis itu.
"Assalamu'alaikum!" suara Kendra mengejutkan Gerry. Spontan mata Gerry beralih ke pasangan yang baru datang.
"Waalaikumsalam. Mari. Silahkan duduk Ken."
Kendra masuk sambil merangkul Bunga dipinggang. Ia melepaskan tangannya dari Bunga saat menyalami tuan Firmandana dan ustadz Rahmad. Ny. Dea segera membawa Bunga duduk di sebelah nya. Ia sangat ingin melihat Zidan, cucunya.
"Ustadz. Ini anak angkat saya, Kendra."
Kendra mengangguk hormat. Dia sedikit bingung dikenalkan sebagai anak angkat. Tapi dia tidak memusingkan hal itu. Ia membiarkan saja apapun yang dilakukan tuan Firmandana.
"Ini istrinya, Bunga, dan anaknya yang juga cucu saya." sambung tuan Firmandana.
Sekarang Kendra paham mengapa tuan Firmandana menyebutnya anak angkat. Tujuannya tak lain agar bisa mengenalkan Zidan sebagai cucunya. Tuan Firmandana masih memegang janjinya untuk tidak memberitahu Gerry bahwa Zidan adalah anaknya.
"Ini?" tanya Kendra sambil menatap penuh tanya pada tuan Firmandana.
"Calon istri Gerry. Namanya Almira."
Kendra melihat Almira. Dia tahu gadis ini bukan tipe Gerry meski tidak bisa dipungkiri, wajahnya cantik. Polos dan cantik.
Setelah semua tamu datang, makan malam dimulai. Para pelayan datang menyiapkan hidangan. Mereka kemudian larut dalam nikmatnya makan malam.
...***...
Bunga membaringkan Zidan di ranjangnya. Anak itu sudah tidur selama perjalanan pulang dari restoran.
Bunga membuka dressnya dan akan mengganti dengan piyama saat Kendra masuk.
"Mas!" Bunga kaget dan reflek menganggap kembali dressnya menutupi dadanya.
Kendra tersenyum mesum. Ia mendekat dan menarik dress yang Bunga pegang.
"Bukankah kau bilang kalau malam ini kita akan melanjutkan yang tertunda tadi." Kendra memegang tangan Bunga. Dengan sekali sentak, tubuh Bunga sudah menempel erat pada tubuh Kendra.
Tangan Kendra mulai berselancar ditubuh Bunga begitu pun bibirnya. Bunga mengimbangi permainan suaminya. Ia tidak ingin suaminya salah paham dan marah lagi.
Kali ini permainan terasa lebih nikmat dari malam malam sebelumnya.
...🌹🌹🌹🌹...
**Dah baikan... tapi apa masalah Kendra dan Bunga sudah selesai....
Pantengin terus ya....
Jangan lupa like, vote dan comennya**.
__ADS_1