
Sudah seminggu sejak pernyataan yang bisa dianggap lamaran Faldi pada Bunga, namun Bunga masih belum bisa memutuskan akan menjawab apa. Pagi itu saat Bunga ada di kantornya Faldi datang.
"Sibuk?!" tanya Faldi mengagetkan Bunga. Faldi memang sudah biasa keluar masuk ruangan Bunga.
"Kamu Fal. Iya. Aku ingin memperluas jaringan bisnis mas Kendra ke luar negeri. Masih menentukan negara mana dulu yang akan ku jajaki."
"Ini bisnismu. Bukan bisnis bang Kendra. Kenapa kau masih menyebutnya bisnis bang Kendra."
"Dia pemiliknya. Apa salahnya aku menyebutnya sebagai bisnis mas Kendra." jawab Bunga dengan masih berkonsentrasi pada aktivitasnya.
"Jika begitu, kapan kamu bisa melupakannya?" tanya Faldi dengan menghela nafas.
Bunga mendongak dan melihat Faldi, "Apa kau bisa melupakan aku?" tanya Bunga. "Jika kau saja tidak bisa melupakan aku, mengapa kau minta aku melupakan mas Kendra."
"Ck. Sudah! Aku datang bukan untuk. membicarakan masalah kita. Sebenarnya aku datang untuk mengajakmu ke Jepang. Aku ingin menemui pengusaha besar di sana untuk menjalin kerjasama. Kebetulan kau juga ingin melebarkan bisnismu, jadi kenapa nggak sekalian saja?"
Bunga tidak menjawab. Ia memikirkan ajakan Faldi.
"Sudah jangan terlalu banyak berpikir. Ajak Riana Martin dan Zidan. Kita sekalian liburan bareng. Aku tunggu kabar darimu. Kabar baik tentunya." Faldi pergi setelah mengatakan harapannya.
"Ck. Masih saja suka memaksa." gumam Bunga bernada kesal tapi anehnya bibirnya malah tersenyum.
Bunga lalu menghubungi Riana untuk bersiap berangkat ke Jepang.
...***...
"Lisa! Kau harus belajar mengurus perusahaan mulai dari sekarang!" Kendra berkata dengan nada kesal. karena Lisa sangat susah diarahkan.
"Akun tidak mau paman! Ada paman, untuk apa aku capek-capek mengurus perusahaan." Lisa menjawab sambil mamainkan ponselnya.
"Lisa!" Kendra menekan suaranya. "Tidak selamanya paman ada. Kau lihat sendiri kedua orang tuamu kan? Jadi jangan selalu bergantung pada orang lain. Kau harus mengandalkan dirimu sendiri. Tugas paman adalah membimbingmu. Sekarang waktunya kau belajar!"
"Ok. Fine! Lisa akan belajar. Tapi ada syaratnya." Lisa menatap Kendra.
"Lisa, paman nggak suka bercanda." Kendra melengos.
"Kalau paman nggak mau yang sudah. Jangan paksa Lisa lagi." Lisa kembali memainkan ponselnya.
"Baik. Apa syaratnya?"
Lisa tersenyum. Ia berdiri dan mendekatkan wajahnya ke wajah Kendra hingga ia bisa merasakan nafas Kendra.
"Nikahin Lisa. Baru Lisa mau mengurus perusahaan papa!" katanya dengan menatap manik mata hitam Kendra.
__ADS_1
"Kau gila!" bentak Kendra.
"Paman benar. Aku memang gila. Dari awal aku memang sudah gila." Lisa masih bicara dari jarak dekat.
Kendra memundurkan tubuhnya, "Lisa! Aku beritahu ya. Aku nggak mungkin menikahimu. Jadi hentikan kegilaanmu ini!" Kata Kendra lalu meninggalkan Lisa.
Lisa tertawa.
Paman tidak tahu ya, semakin paman menolak, Lisa semakin suka.
Kendra berjalan sambil menekuk wajahnya.
"Tuan!" asisten Kendra memanggil.
"Asisten Tama, ada apa?"
"Ada pengusaha dari Indonesia yang mengirim proposal kerjasama. Apa tuan ingin melihatnya?"
"Hm!" Kendra mengangguk.
"Baik. Akan saya kirim ke email Tuan." kata asisten Tama.
"Kirim juga ke email Lisa. Bilang padanya untuk mempelajari proposal itu. Katakan juga jika aku yang menyuruhnya! Dia ada di ruanganku."
Asisten Tama mengetik pintu lalu masuk.
"Nona, Tuan meminta anda memeriksa sebuah proposal. Saya sudah mengirimnya ke email nona."
"Ya!" jawab Lisa pendek. Ia lalu membuka email melalui ponselnya. Lisa membaca nama perusahaan itu. "Firmandana Group." gumam Lisa. "Seperti apa Firmandana Group itu sehingga berani menawarkan kerjasama."
Lisa lalu googling mencari info tentang Firmandana Group. Matanya membulat saat ada foto Faldi pada hasil pencariannya. "Om!!" desisnya. Lisa tersenyum riang. Ia bangkit dari duduknya dan bergegas keluar.
"Asisten Tama! Kau melihat pamanku?" tanya Lisa.
"Tuan tadi ke arah sana." asisten Tama menunjuk tempat ia bertemu Kendra.
Lisa memacu langkahnya menuju arah yang ditunjuk asisten Tama.
"Diaman dia? Apa dia keluar?" Lisa celingukan mencari keberadaan Kendra. Karena sampai ke luar gedung ia tidak. menemukan Kendra. Lisa akan menelpon Kendra saat matanya melihat sosok itu sedang duduk di kursi taman sambil. menatap ponselnya.
Lisa berjalan berjingkat mendekati Kendra.
"Paman!" ia sengaja mengagetkan Kendra.
__ADS_1
Kendra menghela nafas saat tahu siapa yang mendatanginya.
"Jika kau ingin mengajukan syaratmu itu lagi, lupakanlah. Paman tidak mau bicara denganmu." Kata Kendra sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku. Mata Lisa sempat melirik ponsel Kendra dan ia tahu Kendra sedang melihat fotto seorang wanita.
"Siapa dia?" Lisa berdiri di depan Kendra. Matanya menatap tajam. ke arah Kendra.
"Istriku." jawab Kendra lirih.
Lisa mengggigit bibir bawahnya. "Paman! Jangan membohongiku. Aku sudah mengenal paman dan hidup bersama paman selama lima tahun. Jika paman punya istri, kenapa paman tak sekalipun mendatanginya? Atau apa dia sudah meninggal?"
"Tutup mulutmu! Jangan bicara omong kosong seperti itu. Dia masih hidup." wajah Kendra menggelap.
Lisa duduk di sebelah Kendra. "Paman. Maukah paman cerita? Jika benar paman sudah beristri, Lisa akan mundur."
Kendra menoleh dan melihat mata Lisa. Gadis itu nampak bersungguh-sungguh.
"Ceritanya panjang. Yang jelas, aku tidak. bisa bersamanya lagi karena aku sudah merelakannya untuk orang lain."
"Apa??? " Lisa tersentak hingga ia berdiri.
"Tidak perlu sekaget itu." Kendra menarik tangan Lisa untuk kembali duduk.
"Paman sudah gila ya? Dari yang aku lihat, paman sangat mencintainya. Tapi malah merelakannya untuk orang lain."
"Dia cinta pertamanya. Mereka berpisah karena aku. Jadi aku hanya ingin mengembalikan kebahagiaan mereka saja." Lisa akhirnya mengerti duduk masalahnya.
"Tidak apa apa paman. Jangan sedih. Ada Lisa yang akan menghibur paman."
"Ck. Kau ini! Kau itu pantasnya jadi anakku. Lihat dandanannmu itu!"
Lisa menatap dirinya sendiri.
"Kenapa? Aku cantik dan modis?"
"Seperti abege!" balas Kendra sambil. berdiri lantas berjalan kembali ke dalam gedung kantornya.
Jadi dia tidak memandangku karena tampilanku yang seperti abege. Baiklah paman, aku akan membuat diriku pantas bersanding denganmu.
"Ah.. aku jadi lupa. Bukankah aku mencarinya untuk memberitahu bahwa orang yang mengirim proposal adalah si om." Lisa menepuk keningnya.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1