Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Tak Acuh


__ADS_3

Keesokan harinya, sehabis sholat, Bunga sengaja tidur lagi. Ia baru bangun ketika jam sudah menunjukkan pukul 06.00.


'Mama!" Zidan mengetuk pintu kamar Bunga. Bunga bangkit dan membukanya.


"Iya sayang!" Bunga melihat Zidan berdiri di depan pintu sambil mengucek matanya.


"Ma, anterin Zidan pulang. Zidan harus sekolah. Biasanya tante Riana yang anterin Zidan sekolah."


Deg


Perkataan Zidan menohok Bunga. Ya, selama ini Bunga selalu mengandalkan Riana untuk mengurus Zidan. Hingga anak itu lebih dekat ke Riana daripada Bunga. Bahkan Bunga tega meninggalkan Zidan di bawah asuhan Riana hanya demi bisa hidup bersama Kendra di Jepang. Bunga merasa sangat bersalah pada Zidan.


"Sayang. Zidan nggak perlu pulang ke rumah Tante Riana. Di sini rumah Zidan. Dan mulai sekarang, mama yang akan mengurusi keperluan Zidan. Mama juga akan mengantar dan menjemput Zidan sekolah." Bunga mengelus kepala Zidan. "Sekarang Zidan mandi ya! Apa mama mandiin?"


"Nggak ma. Zidan bisa mandi sendiri. Zidan dah besar." Zidan lalu berlari ke kamarnya untuk mandi. Bunga tersenyum menyusul Zidan. Ia mengambil koper yang kemarin Martin bawa saat mengantar Zidan. Bunga mengeluarkan seragam Zidan. Tapi ia bingung, seragam apa yang harus dipakai Zidan hari ini. Bunga lalu menghubungi Riana untuk bertanya. Riana menjelaskan semuanya kepada Bunga.


"Mama! Zidan sudah selesai mandinya!" pria kecil tambun itu berdiri di dekat Bunga dengan memakai handuk di pinggangnya.


"Harumnya.. ini seragam Zidan untuk hari ini. Mama bantu pakaikan ya!"


Zidan menggeleng. "Zidan bisa pakai sendiri ma. Mama tungu di luara saja." Zidan menarik Bunga agar keluar dari kamarnya. Ia laku menutup pintu kamarnya.


Ya Allah. Kemana saja aku selama ini. Anakku sudah bisa bersikap mandiri tanpa aku ketahui. Dan aku kehilangan masa kanak-kanaknya yang lucu.


"Zidan! Mama tunggu di ruang makan ya!" Bunga berteriak dari luar kamar Zidan.


Eh.. kok aku tidak melihatnya. Apa dia sudah berangkat kerja atau sedang jogging. batin Bunga saat tidak mendapati bayangan Faldi pagi ini.


Bunga berjalan ke dapur hendak memasak sarapan kesukaan Zidan. Saat melewati meja makan, ia dikejutkan dengan hidangan yang sudah siap makan di sana. Bunga mendekat. Ada secarik kertas tertempel di meja itu. Pesan dari Faldi.


Aku berangkat kerja. Ada meeting penting hari ini. Aku sudah menyiapkan sarapan kesukaanmu dan juga Zidan. Kalau sudah dingin, tinggal kamu hangatkan saja. Ini nomer telpon supirku. Jika kamu ingin bepergian dan membutuhkan mobil, kamu bisa menghubunginya. Kartu yang ada bersama kertas ini untukmu. Gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu. Faldi.


Bunga melihat hidangan yang dimasak Faldi. Faldi memasak makanan kesukaanya dan juga kesukaan Zidan.


Masih hangat. Nggak perlu dipanasi lagi.


"Mama!" Zidan tiba di ruang makan. Bunga takjub. Pria kecilnya memang sudah mampu mengurusi dirinya sendiri. Anak itu telah berpakaian dengan rapi bahkan juga sudah memakai sepatu dan menenteng tasnya.


Maafkan mama nak. Mama terlalu sibuk mengejar kebahagiaan mama hingga melupakanmu. Riana terimakasih kau sudah mendidik anakku dengan baik.


Bunga memeluk Zidan dengan erat.


"Ayo sarapan!" ajak Bunga.


Zidan menaruh tasnya di kursi. Ia lalu duduk di kursi yang lain. Matanya berbinar melihat makanan kesukaannya.


Zidan segera mengambil piring dan menyendok makanan itu lalu menaruhnya di atas piringnya.


Zidan menengadahkan tangan dan memejamkan mata membaca doa lalu dengan lahap menyantap makanannya.


Bunga tersenyum. Ia juga berdoa dan ikut makan.


"Hmm... masakan papa memang enak." puji Zidan. Bintang tersedak karena kaget mendengar ucapan Zidan.


"Bagaimana Zidan tahu ini masakan papa?"


"Papa sering masak buat Zidan. Jadi Zidan hafal rasanya." jawab anak itu.


"Enak masakan papa apa mama?"

__ADS_1


"Zidan nggak tahu. Zidan nggak pernah makan masakan mama. Sudah lama." jawab Zidan jujur.


Hati Bunga bagai teriris mendengar jawaban jujur Zidan.


"Ma! Zidan sudah selesai. Ayo.. kita ke sekolah."


"Ok. Mama ganti baju sebentar." Bunga bergegas ke kamarnya. Tadi ia sudah mandi saat akan sholat subuh. Ia hanya mencuci muka lalu merias dirinya sekedar saja dan memakai baju yang pantas untuk mengantar Zidan sekolah.


Bunga memesan taksi online. Ia tidak mengubungi sopir Faldi juga tidak membawa kartu yang diberikan Faldi.


"Ayo kita berangkat!" Bunga menggandeng Zidan saat taksi yang ia pesan tiba. Setelah mengantar Zidan, ia menuju rumah Riana. Setibanya di rumah Riana, Bunga terkejut saat melihat Riana berkemas.


"Kamu mau pindah Ri?"


" Iyaa mbak. Ini rumah mas Kendra. Sekarang ia sudah bukan suami mbak. lagi. Jadi nggak enak kalau masih tinggal di sini. Kak Martin sudah menemukan tempat tinggal baru. Jadi hari ini kami mulai pindahan pelan-pelan mbak. Nyicil biar nggak terlalu capek."


Bunga diam. Ia. membantu Riana berkemas.


"Kak Martin juga sudah mengundurkan diri sebagai direktur di perusahaan mas Kendra."


"Kenapa? Pekerjaan Martin kan tidak ada hubungannya dengan status pernikahan kami, Ri?"


"Sebelum.menyetujui pengunduran diri kak Martin, mas Kendra juga berkata hal yang sama. Tapi masalahnya, Kak Martin ingin fokus mengurus cabang perusahaan ayahnya yang ada di sini. Selama ini ia mondar-mandir antara perusahaan ayahnya dan milik mas Kendra."


"Jadi dia sudah menyetujui pengunduran diri Martin." desah Bunga.


"Iya. Dan pagi ini mas Kendra akan terbang ke Jepang."


Bunga diam.


"Mbak! Apa kau tidak ingin bertemu dengannya untuk terkahir kalinya?"


"Bersama Faldi?"


Bunga menghela nafas.


"Aku tidak tahu. Semua begitu mendadak."


"Mbak, ikuti saja kata hatimu. Jangan. kau lawan."


Bunga mengangguk. Ia kembali sibuk membantu Riana. Bunga baru pulang dari rumah Riana saat harus menjemput Zidan. Dengan taksi online, Bunga menjemput Zidan ke sekolahnya.


"Ma, kita ke papa yuk! Zidan mau tunjukin gambar Zidan ini. Tadi bu guru memujinya. Zidan ingin tunjukin pada papa." kata Zidan antusias.


"Zidan bisa tunjukkin saat papa pulang kerja nanti ya! Sekarang kita langsung pulang saja."


"Nggak mau. Tante Riana selalu membawa Zidan ke kantor papa kalau Zidan dapat nilai bagus. Nanti papa akan memberi Zidan hadiah."


"Bagaimana kalau mama saja yang ngasih Zidan hadiah? Jadi kita nggak perlu ke kantor papa."


"Nggak mau. Zidan maunya bertemu papa seperti biasanya!!" rengek Zidan. Pria kecil itu mulai menangis.


"Iya.. iya.. kita ke papa. Tapi Zidan harus diam ya!"


Zidan mengangguk dan menghentikan tangisnya.


"Pak apa bisa putar arah?"


Sopir itu mengangguk. Ia meminta Bunga mengubah alamat tujuan di aplikasi"

__ADS_1


"Papa!" seru Zidan dengan gembira saat tiba di ruangan Faldi. "Pa lihat ini gambar Zidan. Kata bu guru ini bagus." idan dengan bangga menunjukan gambar yang ia buat.


"Bagus banget. Boleh untuk papa?Nanti papa bingkai dan taruh di kantor papa seperti gambarmu yang lain." Zidan mengangguk dengan senang.


"Papa! Zidan lapar." bisik Zidan membuat Faldi tertawa. Bunga menoleh.


"Ayo kita makan! Papa juga lapar." Faldi bangkit dari duduknya. Ia menggandeng tangan Zidan dan membawanya keluar ruangan.


What. Dia tidak mengajakku. batin Bunga kesal.


Bunga mengikuti kedua pria itu dari belakang.


"Silahkan!" kata Faldi sambil membuka. pintu depan mobil.


"Aku duduk di belakang saja." jawab Bunga.


"Mmm maksudku, silahkan masuk Zidan."


Blush


Merah muka Bunga. Ia merasa sangat malu karena sudah ke ge eran. Ia mengira Faldi membukakan pintu untuknya. Tapi ternyata untuk Zidan.


"Makasih Pa." Zidan naik ke. mobil. Dengan pelan Faldi menutup pintu. Ia berjalan memutar lalu masuk dan duduk di belakang kemudi.


"Pa.. ke tempat biasa kita makan ya! Zidan mau mancing."


"Siap bos."


Apa saja yang mereka lakukan selama satu bulan ini hingga membuat mereka sangat dekat.


Mobil Faldi berhenti di sebuah rumah makan yang menyediakan arena memancing juga.


Faldi langsung memesan makanan yang biasa ia dan Zidan pesan. Ikan bakar. Ia kemudian menyodorkan kertas dan bolpen ke Bunga meminta Bunga menulis sendiri makanan yang ingin ia makan.


"Aku nggak lapar!." tolak Bunga kesal. Tanpa berkata kata Faldi mengambil. kertas itu dan menyerahkannya kepada pelayan. Ia lalu menyewa alat pancing dan membeli umpan. Sambil. menunggu makan selesai dimasak, Fadli dan Zidan sibuk memancing.


Kenapa dia tak acuh sekali. Biasanya dia sangat perhatian.


Bunga memperhatikan Faldi. Faldi merasa ada seseorang yang sedang mengamatinya. Ia menoleh. Bunga tersentak saat pandangan mereka bertemu, ia langsung berpaling malu ketahuan menatap Faldi diam-diam. Faldi mengulum senyum.


*Bunga. Maaf jika aku harus cuek begini. Aku tahu kamu masih belum bisa menerima pernikahan ini. Bayangan bang Kendra pasti masih ada dalam benakmu. Aku akan menunggumu. Aku tahu dan yakin, sebenarnya kamu mencintaiku. Aku sangat mengenalmu Bunga. Aku hanya harus sabar menunggu kabut di hatimu sirna dan kau bisa lagi melihat cinta kita.


Huhuhuhu 😭😭😭 Author salut sama kesabaran mu Fal.


...💞💞💞💞...


Kamus.


Kita sering mendengar kata "Acuh" dan "Bergeming"


Bagi yang belum tahu dalam KBBI


Acuh berarti peduli


dan


Bergeming berarti diam tak bergerak.


jangan lupa tinggalin jejak ya.

__ADS_1


__ADS_2