
Malam harinya Bunga menyampaikan keinginannya untuk pulang kepada suaminya.
"Jangan sekarang ya! Nanti kalau mas ada waktu kita pulang bareng. Mas juga ingin bertemu dan minta maaf serta restu dari mereka."
"Benar mas?"
"Iya sayang!" Kata Kendra lalu mengecup bibir Bunga.
"Mas!" Bunga mendorong tubuh Kendra saat merasakan ciuman suaminya sudah mulai menuntut, "Bunga lagi dapat. Ingat kan Mas?"
"Iya. Mas hanya ingin melakukan pemanasan saja. Sisanya nanti mas selesaikan sendiri." Kendra kembali menjelajahi wajah dan leher Bunga.
"Mas, kalau begini kamu juga menyiksaku." desah Bunga.
Kendra justru terkekeh mendengar protes Bunga itu.
"Baiklah sayang. Maafkan mas ya!" Kendra menghentikan aksi nya.
Ia lalu menoleh ke ponsel Bunga saat benda pipih itu bergetar dan bercahaya.
"Ada pesan masuk tuh!" Kendra memberitahu Bunga sambil menunjuk ponsel nya.
"Mas baca saja! Bunga ngantuk." Bunga lalu menarik selimut menutupi tubuhnya.
Kendra membuka ponsel Bunga. Ia membaca pesan dari nomor yang tidak di kenal.
__ADS_1
Lagi-lagi pesan itu berupa foto Faldi yang sedang ngegym dengan memamerkan tubuhnya yang sangat bagus dengan caption persiapan memuaskan dirimu sayang.
Kendra menggertakkan rahangnya.
"Sayang. Kalau aku mengganti nomor ponselmu boleh nggak?"
"Ganti saja mas. Kalau itu yang terbaik buat kenyamanan kita." sahut Bunga.
Kendra lalu mencoba membalas pesan itu tapi pending. Ia menaruh kembali ponsel Bunga di atas nakas. Dan merebahkan tubuhnya disisi Bunga. Ia memeluk tubuh Bunga dan mulai terlelap.
"Pagi mbak!" sapa Riana saat Bunga masuk ke dapur. Gadis ini sangat rajin. Pagi pagi pasti sudah di dapur. Begitu pikir Bunga.
"Ini teh buat mbak Bunga. Untuk kopi mas Kendra, mbak Bunga siapin sendiri. Karena hanya istri yang harus menyajikan kopi buat suaminya." kata Riana.
Ia lalu membuatkan kopi Kendra.
"Oh ya mbak. Ada titipan undangan buat mas Kendra." Riana menyodorkan sebuah undangan pada Bunga.
Bunga mengamati undangan pernikahan itu. Ia lalu kembali ke kamarnya sambil membawa kopi dan undangan.
"Mas. Sudah sholat?" tanya Bunga melihat Kendra sudah ada di kamarnya lagi. Bunga menaruh kopi di meja yang ada di kamar dan ia duduk di sofa.
Kendra ikut duduk lalu menyesap kopinya.
"Itu undangan apa?" tanya Kendra melihat undangan tergeletak di meja.
__ADS_1
"Tadi Riana yang ngasih. Katanya titipan buat mas Ken."
Kendra mengambil undangan itu dan membacanya. Undangan pernikahan Gerry yang akan dilangsungkan seminggu lagi.
"Seminggu lagi Gerry akan menikah sayang! Kita diundang."
"Mas saja yang datang. Bunga malas pergi ke acara yang banyak orangnya."
Sebenarnya Bunga merasa enggan karena nanti pasti akan bertemu dengan orang orang yang dulu mengenalnya sebagai tunangan Gerry.
"Kamu harus ikut!" kata Kendra yang tidak bisa dibantah oleh Bunga.
"Nanti Bunga kesepian di sana mas. Nggak ada yang Bunga kenal. Mas Kendra pasti akan menyapa teman atau kenalan mas. Lalu aku akan sendirian."
"Ada Riana. Dia juga diundang kan? Nanti kita berangkat bareng. Dia bisa menemanimu di sana. Lagi pula tuan dan nyonya Firmandana ingin Zidan juga hadir pastinya."
Bunga diam. Dia tidak bisa beralasan lagi. Kemudian ia keluar menuju dapur untuk membantu bibi membuat sarapan.
Seharian pikiran Bunga tidak tenang membayangkan apa yang akan ia alami di hari pernikahan Gerry nanti. Entah kenapa, Bunga merasakan was-was di hatinya. Ia ragu untuk pergi ke sana. Ia bertekad untuk membujuk suaminya agar mengijinkan dirinya tidak ikut serta.
...🌺🌺🌺...
Apa yang akan dialami Bunga? Akan otor up besok yaa....
Jangan lupa jejaknya. ---
__ADS_1