
Kendra kembali nyamperin Riana ke kantor. Kali ini ia masuk karena saat paginya kembali tidak bisa menjumpai Riana di depan gerbang.
Kendra menuju meja resepsionis.
"Ada yang bisa kami bantu Pak?"
"Saya ingin bertemu dengan ibu Riana."
"Baik. Silahkan bapak tunggu! Saya akan menghubungi beliau." Resepsionis itu lalu menghubungi Riana via telpon.
"Maaf, pak. Bu Riana sedang mengikuti meeting, jadi belum bisa menemui bapak."
"Jam berapa meetingnya selesai?" tanya Kendra.
"Saya kurang tahu pak. Meeting tidak bisa diprediksi kapan selesainya."
Kendra meninggalnya resepsionis itu dengan kesal. Ia lalu duduk di kursi yang ada di lobi menunggu Riana. Berkali-kali ia mencoba mengubungi ponsel Riana namun tidak aktif.
"Pak Kendra!" seseorang menyapanya.
Kendra menoleh. Ia tersenyum saat mengenali pria yang menyapanya itu. Dia adalah mantan staffnya dulu saat bekerja di perusahaan ini.
"Bapak apa kabar?"
"Baik." jawab Kendra sambil memandang lekat pria itu. "Jul, apa kamu bisa menolongku?"
"Tergantung pak. Kalau sulit mungkin saya tidak mampu." jawab pria yang ia panggil Jul itu jujur.
"Nggak sulit kok. Kamu tahu Riana kan?"
"Bu Riana sekretaris baru itu ya pak?"
"Betul. Bisa nggak kamu membawanya menemuiku. Aku menunggumu di kantin. Tapi jangan bilang kalau aku yang ingin bertemu dengannya. Kamu ajak saja dia ke kantin nanti aku akan menemuinya di sana."
"Eemmm gimana ya pak. Soalnya saya nggak akrab sama Bu Riana. Tapi saya tahu siapa yang akrab dengannya. Saya akan berusaha minta tolong dia deh pak."
"Jangan terlalu kentara!Gini, kamu pura pura saja mentraktir teman-temanmu makan siang. Terus ajak Riana juga. Dengan begitu ia tidak akan curiga." Kendra laku mengeluarkan 10 lembar uang seratus ribuan dan memberikannya pada Jul. "Untuk modalmu. Jangan lupa. Jam makan siang di kantin perusahaan."
"Baik Pak. Saya akan bantu bapak." Jul lalu masuk setelah memberi hormat pada Kendra.
__ADS_1
Kendra bangkit dari kursinya dan keluar. Ia menuju mobil dan kembali ke perusahaannya.
Riana kita akan bertemu nanti saat makan siang.
Kendra menyunggingkan senyum jahatnya.
Sementara itu Jul melancarkan aksinya. Ia mengajak beberapa teman dekatnya untuk makan siang bersama di kantin. Salah satu teman dekat Jul kebetulan juga akrab dengan Riana. Jul meminta agar Riana juga diajak.
Di mansion tuan Firmandana, Bunga sedang bersiap untuk melakukan perjalanan jauh bersama Zidan dan seorang wanita yang dipekerjakan oleh Tuan Firmandana untuk menemani dan melayani Bunga selama ia mengasingkan diri dari Kendra.
"Kau sudah siap Bunga?" tanya Ny. Dea.
Bunga mengangguk. Ia sebenarnya gugup karena ini pertama kalinya ia akan pergi jauh ke luar negeri. Ya.. Bunga dikirim ke Filipina oleh Tuan Firmandana.
"Kamu tidak usah takut. Di sana nanti ada keluarga kami yang akan membantumu. Lagipula ada Sarah yang menemanimu. Dia bisa diandalkan."
"Iya nyonya."
"Kalau kamu di sana ingin bekerja. Keluarga kami akan membantumu. Jadi jangan sungkan."
"Terimakasih nyonya. Saya tidak akan melupakan kebaikan Tuan dan Nyonya."
Bunga mengangguk. Ia lalu pamit karena harus berangkat. Dengan menggendong Zidan, Bunga keluar dari mansion itu dan naik ke mobil yang telah disiapkan.
Selamat tinggal Indonesia. Selamat tinggal Mas Kendra. Semoga dengan kepergianku bisa membuka mata hati mas lagi. Bisa mengembalikan mas seperti dulu lagi. Kalau ternyata tidak. Ku harap mas bahagia dengan pilihan mas. Aku menunggumu mas. Jika dalam tiga bulan kamu tidak juga mencariku, maka aku akan meminta cerai.
Bunga mengusap air mata yang mulai menetes.
"Maa.. " Zidan memandang Bunga sambil memanggilnya. Balita itu seolah tahu jika mamanya sedang bersedih. Tangannya terjulur ke pipi Bunga menepuk air mata yang ada di pipi Bunga.
Jam makan siang tiba, Kendra bergegas menuju perusahaan Gerry yang sekarang sudah dikelola oleh Tuan Firmandana sendiri sambil menunggu kepulangan Faldi yang baru diwisuda. Kendra langsung ke kantin perusahaan. Ia melihat Jul dan teman-temannya sedang makan, tapi ia tidak melihat Riana.
Mata Kendra memeriksa sekitar mencari Riana. Ia tersenyum jahat saat matanya menangkap sosok Riana yang sedang berjalan menuju kantin dari arah lain.
Kendra mengayun langkahnya mendekat ke Riana. Saat dekat ia menarik tangan Riana.
"Kak!" Riana terpekik kaget. Kendra menggelandang Riana menuju lorong sepi di perusahaan itu. Kendra masih hafal tempat-tempat di perusahaan itu.
"Kenapa menghindariku?" tanya Kendra dengan marah. Ia mendorong tubuh Riana hingga ke dinding dan mengungkungnya dengan kedua tangan. Matanya menatap tajam penuh amarah.
__ADS_1
"Aku nggak mau ketemu kak Kendra. Kak Kendra sudah berubah."
"Kau yang membuatku berubah." geram Kendra sambil tangannya mengelus pipi Riana. Riana menepis tangan Kendra. Namun Kendra langsung menangkap tangan mungil Riana dan mengunci kedua tangan Riana di belakang tubuh gadis itu.
"Sakit kak! Lepaskan!Atau aku akan berteriak!" ancam Riana.
"Teriaklah! Karena tidak akan ada yang mendengar. Tempat ini terlalu sepi. Tidak ada CCTV juga. Kau tidak tahu aku mengenal baik perusahaan ini. Dan jika kau teriak aku tidak akan sungkan lagi. " Kendra berbisik dekat di telinga Riana. Riana bergidik ngeri karena pipi Kendra sengaja ditempelkan ke pipinya saat ia berbisik.
"Kak. Ingatlah mbak Bunga. Kasihan mbak Bunga." suara Riana bergetar. Ia tahu semakin ia bersikap kasar, Kendra akan semakin menggila. Riana memutuskan untuk membujuk Kendra dengan sikap yang lebih lembut.
"Jangan sebut dia!" Kendra kesal. Ia lalu menghimpit Riana. "RI, menikahlah denganku. Kamu sudah membuatku jadi seperti ini. Aku bisa gila jika terus menahannya. Tubuhmu itu selalu membayangiku setiap malam." Kendra menyibak rambut panjang Riana lalu membenamkan kepalanya di ceruk leher Riana.
"Kak, kau punya istri. Kau tidak perlu menahannya. Kau bisa melampiaskan pada istrimu." balas Riana. Ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Kendra. Ia risih karena Kendra mulai menciumi lehernya. Riana ingin menggerakkan kakinya agar bisa menendang Kendra, tapi pria itu sudah mengantisipasi hal itu. Ia menghimpit hingga Riana tidak leluasa bergerak. Bahkan untuk menggeser kakinya saja susah.
"Baiklah. Riana menyerah. Kak Kendra menginginkan tubuh Riana kan? Riana akan berikan. Tapi dengan dua syarat."
"Apa?" Kendra mengangkat kepalanya dari leher Riana.
"Syarat pertama. Kita hanya akan melakukannya sekali. Kakak tidak boleh minta lagi. Syarat kedua. Kakak harus minta maaf pada mbak Bunga. Kakak tidak boleh lagi memandang jijik pada mbak Bunga, karena apa? Karena apa yang akan kita lakukan nanti jauh lebih menjijikan daripada yang mbak Bunga lakuin. Mbak Bunga saat itu dalam keadaan tidak sadar. Tapi kita berdua dalam keadaan sadar."
"Aku tidak mau. Aku ingin menikahimu dan memilikimu." Kendra menarik tubuh Riana hingga mmenempel pada tubuhnya.
"Kalau begitu sampai mati aku tidak akan menikah denganmu kak."
"Jadi kamu lebih rela menyerahkan tubuhmu daripada menikah denganku?"
"Ya. Agar kak Kendra sadar bahwa kakak lebih menjijikan daripada mbak Bunga."
Kendra melepaskan Riana. Ia memandang gadis itu.
"Aku mencintaimu Ri."
"Kak, yang kakak rasakan ini bukan cinta. Kakak hanya butuh pengalihan saat kakak kecewa dengan apa yang menimpa rumah tangga kakak. Cobalah kakak berpikir dengan tenang, Riana yakin masih ada mbak Bunga jauh di lubuk hati kakak. Singkirkan sakit itu kak! Singkirkan ego kakak!"
Kendra diam. Ia lalu menarik nafas dengan berat.
"Baiklah. Aku terima tawaran dan syaratmu. Nanti malam aku menunggumu di rumahku. Jika kau memang ingin aku melakukan apa yang kau katakan. Datanglah dan penuhi janjimu!" Kendra pergi meninggalkan Riana yang mematung.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1