
Sejak penandatangan perjanjian kerjasama, hari-hari Kendra kian sibuk. Dia sering pulang malam. Waktu untuk berdua dengan Bunga juga jadi berkurang. Setiap malam, Kendra selalu menyibukkan diri di ruang kerjanya.
Bunga memahami kesibukan suaminya. Ia mendukung segala hal yang dilakukan Kendra, karena semua itu juga demi dirinya.
Malam itu, seperti biasa Kendra sedang berkutat dengan laptop dan rencana rencana produksi yang ia buat.
"Mas! Kamu nggak istirahat? Setiap hari pulang malam. Terus di rumah masih kerja. Mas perhatikan juga dong tubuh mas!" kata Bunga sambil membawakan secangkir kopi ke ruang kerja Kendra.
"Waktunya mepet sayang! Mas harus segera menyelesaikannya. Kalau sampai batas waktu yang ditentukan dan Mas tidak bisa memenuhi permintaan, Mas akan kena sanksi nanti dari pihak klien."
Bunga berdiri di belakang Kendra. Dia memijat pundak suaminya.
"Iya, Mas! Tapi jaga kondisi mas juga. Kalau mas sakit, malah kerjaan nggak selesai kan?!" kata Bunga membujuk Kendra, "istirahat yuk. Tidur!"
Kendra memegang tangan Bunga yang ada di pundaknya. Ia memutar kursinya hingga menghadap Bunga. Ditariknya pinggang Bunga hingga wanita itu duduk di pangkuannya.
"Kenapa? Apa istriku ini lagi pengen?" goda Kendra.
"Mas! Aku beneran mengkuatirkan kesehatanmu. Kamu malah mikir yang macam-macam." sungut Bunga.
"Baiklah!" kata Kendra.
Kendra lalau menggendong tubuh Bunga.
"Sayang! Bawakan ponselku dong!"
Tangan Bunga menyambar ponsel Kendra.
__ADS_1
Kendra membawa tubuh Bunga ke kamar. Dengan perlahan ia membaringkan Bunga. Bunga meletakkan ponsel Kendra di atas ranjang di sebelahnya.
Kendra segera memulai aksinya.
"Mas, aku memintamu istirahat bukan untuk ini," kata Bunga.
"Tapi aku ingin begini, gimana dong?" kata Kendra sambil terus menciumi Bunga.
"Kamu nggak capek apa?" desis Bunga dengan nafas yang sudah mulai tidak teratur.
Kendra tidak menjawabnya. Ia meneruskan kegiatan malamnya itu. Saat tubuh mereka hendak menyatu, ponsel Kendra berdering.
"Mas ponselmu!" kata Bunga.
"Biarkan saja. Nanggung," kata Kendra.
Kendra masih terus menghentak di atas tubuh Bunga dan Bunga mengeluarkan desahan dan suara suara khasnya.
Sementara di seberang telepon, Gerry sedang menempelkan telinganya di ponsel. Ia mendengarkan semua desahan Bunga dan erangan Kendra.
Gerry murka. Mukanya merah padam karena amarah yang luar biasa. Ia melempar ponselnya hingga benda pipih itu berubah bentuk.
"Kurang ajar!!! Bangs*t!!"
Teriak Gerry. Ia mengamuk dan membanting benda apapun yang ia temui di ruang kerjanya.
"Aku akan membalasmu Kendra. Tunggu saja!" geram Gerry.
__ADS_1
"Kendra kep*r*t." kembali Gerry mengumpat Kendra.
Desahan Bunga terus terngiang di telinganya.
"Bunga.. Bunga sayang!" rintih Gerry. Tubuhnya seketika lemas dan merosot terduduk di lantai.
Tangannya menjambak rambutnya berulang ulang.
"Bunga! Kembalilah padaku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Maafkan aku," kembali Gerry merintih.
Hatinya sangat sakit membayangkan Kendra menjamah tubuh Bunga dan Bunga justru menikmatinya.
Gerry merintih sedih, namun tiba tiba ia tertawa aneh.
"Bodoh. Kenapa aku begitu bodoh. Aku tahu rumahnya. Jika aku menginginkan Bunga, besok saat Kendra kerja aku bisa memiliki Bunga kembali."
Senyum jahat tersungging di bibir Gerry.
"Bunga sayang! Besok aku akan mengobati rinduku padamu. Kamu juga merindukan aku kan sayang?" gumam Gerry. Ia kemudian tertawa lagi.
Di tempat lain, di sebuah hotel. Faldi sedang berbaring memandangi foto Bunga yang dikirim Gerry.
"Aku tidak percaya begitu saja dengan Bang Gerry. Aku akan mencari sendiri Bunga. Jika bang Gerry bisa mendapatkan fotonya, berarti Bunga ada di Jakarta. Besok aku akan mengawasi bang Gerry. Siapa tahu, dengan begitu secara tidak sadar dia akan membawaku menemui Bunga."
Faldi lalu mematikan ponselnya dan beranjak tidur.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1